
.
.
🍂🍃🍂
Setelah menyelesaikan semuanya di luar negri, kini saatnya Arka memutuskan untuk segera pulang ke tanah air. Meski hatinya sakit dengan pengkhianatan yang di lakukan oleh istri pertamanya, namun Arka tetap berusaha untuk rela melepaskannya.
Kemarin ia juga menegaskan pada Renita, jika dirinya akan mengembalikan Renita pada kedua orang tuanya. Walau keputusan yang sangat berat, namun inilah jalan yang di pilihnya. Ia sadar, pasti banyak hati yang terluka dengan keputusannya, mungkin begitu juga dangan Allen.
Semenjak kejadian kemarin Arka memang sama sekali belum memberitahu Allen, tentang keadaan yang sesungguhnya telah terjadi. Meski dirinya kemarin menyempatkan diri untuk menelfon istri keduanya, namun Arka memposisikan dirinya seolah ia sedang baik-baik saja.
Arka juga meminta pada Hendra sahabatnya untuk tidak mengatakan hal apapun kepada Allen, ia tidak mau Allen berpikiran yang macam-macam tentang hubungannya dengan Renita. Arka memilih untuk mengatakannya sendiri pada Allen, kini dirinya memandangi ke luar jendela hotel tempatnya menginap, dengan beban pikiran yang berada di dalam otaknya.
"Kita pulang ke tanah air siang ini juga Ndra, aku akan segera menyelesaikan hubunganku dengan Renita disana. Karena semua surat-surat ada di rumah mommy." ucap Arka pada sahabatnya.
"Apa kamu sudah membulatkan keputusan ini, Ka? Kamu tidak akan menyesali semuanya jika kamu melepaskan Renita?" tanya Hendra memastikan jika Arka memang serius dengan ucapannya.
Namun di lain sisi, meski dirinya tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Allen, Hendra bahagia karena suatu hari nanti Allen akan menjadi istri Arka satu-satunya. Itulah keinginan Hendra, walau pun kini pernikahan mereka berdua masih pernikahan siri.
"Iya.. Keputusanku sudah bulat, Ndra. Aku sama sekali tidak menyesali telah menalaknya kemarin. Aku justru menyesal karena telah mengenal bahkan telah menikahi wanita ****** itu." ucap Arka dengan derai air mata membasahi pipinya, bahkan ia tidak malu menangis di depan Hendra.
Melihat sang sahabat menangis pilu, Hendra segera menghampiri dan mengusap bahu Arka. Ia memberikan kekuatan padanya, ia juga memberikan motifasi pada Arka.
"Menangislah, Ka. Jika itu bisa itu bisa mengurangi rasa sakitmu, maka lakukanlah. Bersandarlah di bahuku! Aku yakin kamu tidak pernah menangis seperti ini di hadapan Allen, kan? Tapi yang ada kamu selalu melukai perasaannya, tanpa kamu sadari dia itu wanita yang menyayangi kamu apa adanya!" ucap Hendra, ia memberanikan diri berkata seperti itu agar Arka tidak memperlakukan Allen dengan kasar lagi.
"Aku tahu perasaan kamu, aku juga minta maaf kepadamu, jika aku telah menunjukan siapa jati diri Reni kepadamu yang sesungguhnya!" timpal Hendra menyesali apa yang telah ia lakukan pada Arka.
Sebagai seorang sahabat, Hendra memahami apa yang di ucapkan oleh Arka. Ia tahu pasti betapa hancur dan sakitnya perasaan Arka, atas apa yang di lakukan Renita kepadanya.
"Terima kasih atas nasehat yang kamu berikan kepadaku, Ndra. Apa kamu sudah mengetahuinya ini semua sejak lama?" tanya Arka.
__ADS_1
Hendra menyunggingkan senyum kecut, karena dirinya memang sudah mengetahui kebusukan Renita, lumayan lama. Tapi dirinya memang belum memberitahukan Arka.
Pria itu meminta maaf pada sahabatnya, ia sunggyh tidak ada niatan untuk membuat Arka sedih. Hendra takut dirinya salah, jika ia memberitahu Arka sejak awal.
"Aku minta maaf kepadamu, Ka. Sungguh aku tidak ada niatan untuk membuatmu sakit, aku memang sudah lumayan lama mencurigai Renita. Tapi aku tidak berani mengambil kesimpulan jika dia bermain api di belakangmu, sebelum aku membuktikan kebenarannya!" ucap Hendra jujur, dengan takut ia mengatakannya juga pada Arka.
"Sejak kapan, Ndra? Kenapa juga kamu tidak pernah bercerita padaku!" cecar Arka karena rasa penasaran dalam hatinya.
"Sejak aku tahu, Nando melarikan diri dari penjara!" kilahnya, padahal sebelum itu pun Hendra memang sudah mengetahui kebusukan Renita.
"Lalu.. Kenapa kamu mengaitkan hubungan itu dengan Renita?" tanya Arka tak mengerti juga.
"Karena aku mencium pengkhianatan mereka berdua sejak lama, bahkan sebelum kamu menikahi Allen." balas Hendra dengan jujur, setelah ia memikirkan apakah dirinya akan mengatakan kejujuran pada Arka atau malah menyimpannya di dalam hatinya sendiri. Dengan terpaksa akhirnya ia memberitahukan juga pada Arka, karena dirinya kasihan pada sahabatnya.
"Kalo kamu tahu dari awal, kenapa kamu tidak bilang padaku!" ucap Arka dengan amarah yang terpancing kembali. Hingga ia bangkit dan sudah bersiap untuk menghajar Hendra.
"Sabar.. Ka, aku bisa menjelaskannya kepadamu!" balas Hendra dengan menitahkan Arka duduk di tempatnya semula.
"Jelaskan sekarang juga padaku! Jangan ada lagi yang kamu tutup-tutupi dariku! Itupun jika kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu!" ucap Arka penuh penekanan.
.
.
#POV, Hendra#
Hari ini aku akan menjalankan pekerjaanku di kota Bandung, aku sedang menunggu seorang klien di sebuah Hotel ternama di kota itu. Sebelum klien ku datang, aku menikmati terlebih dahulu pemandangan di hotel tersebut.
Entah mengapa, rasanya aku sangat penasaran untuk mendatangi kolam renang yang berada di dalam hotel tersebut. Meski aku sama sekali tidak ada niatan untuk berenang, karena alasanku tentu saja untuk melakukan pekerjaan.
Aku edarkan pandanganku ke sekeliling kolam renang, sebenarnya banyak pengunjung hotel yang sedang berenang disana. Tapi ada satu pemandangan yang menyilaukan mataku. Dengan jelas di depan mataku, aku melihat Renita yang sedang berduaan dengan mesra bersama seorang pria.
__ADS_1
"Bukannya itu Renita, ya? Tapi dengan siapa dia, bukannya Arka sedang berada di luar kota. Tidak mungkin Renita berduaan dengan pria lain, kan? Dari postur tubuhnya, itu bukan Arka!" monologku pelan, sambil memperhatikan keduanya.
Namun rasa penasaranku mendorongku untuk menghampiri mereka berdua. Aku pun melangkahkan kaki untuk menghampirinya, betapa terkejutnya aku saat pemandangan di hadapanku memperlihatkan Renita sedang bersama pria lain. Aku pun berpura-pura untuk menyapa dirinya, dia pun sampai terlonjak saking kagetnya. Lalu ia segera menghampiriku.
"Hai, Ren. Kamu disini sedang apa? Kenapa kamu berduaan deng.." ucapku, belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku pada Reni, namun wanita itu keburu menarik tanganku, lalu membawaku pergi dari sana.
"Kenapa kamu menarik tanganku? Ada apa?"
"Mau apa kamu menghampiriku? Apa kamu sengaja ingin memata-matai aku, ya!" ucapnya datar.
"Ya ampun Ren, curigaan amat jadi orang. Lagian kurang kerjaan amat aku memata-matai kamu, aku kesini karena ada meeting dengan klien. Tapi aku masih menunggunya datang, jadi ku putuskan untuk melihat-lihat area gedung ini. Tanpa ku duga ternyata aku menemukanmu bersama..." ucapku terhenti lagi, saat jari telunjuknya mendarat di bibirku.
"Sudah tidak perlu kamu lanjutkan lagi ucapanmu. Aku minta sama kamu, ya. Tolong jangan kasih tahu mas Arka, ya. Jika kamu melihatku disini bersama Nando! Please..." ucapnya seraya memohon padaku. Ia pun menoleh ke sekeliling, dirinya terlihat takut dan gugup.
"Jika aku memberitahu Arka, kamu mau apa?!" tantangku padanya.
"Awas!! saja kalo kamu berani memberitahu suamiku! Aku akan memfitnahmu, aku akan mengatakan kepada mas Arka, jika kamu menggodaku!" ancamnya padaku.
"Apa??"
"Terserah kamu mau menuruti keinginanku atau tidak. Jika tidak mau, maka bersiap-siaplah persahabatan kalian akan hancur!!" ancamnya lagi.
"Ba..baiklah.." jawabku cepat. Akhirnya aku menyetujui apa yang dia ucapkan kepadaku, aku tidak mau persahabatan dengan Arka hancur oleh kesalahan yang sama sekali tidak pernah aku perbuat.
Aku hanya merenungi nasib yang mungkin akan menimpaku di lain hari, maka sejak saat itu aku menyimpan semua ini tanpa memberitahu kamu, Ka.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
.
.