Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Nasehat Daddy Gio


__ADS_3

.


.


"Oh, itu. Kirain apa? Aku nggak marah honey, malah aku datang kesini niatnya mau gendong kamu biar cepet sampai disana." balas Arka.


Allen membulatkan matanya, ia terkekeh dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Ucapan Arka membuat wajah Allen memerah seketika, sungguh ia merasa malu.


"Kamu ini apa-apaan sih, mas. Aku kan masih sanggup berjalan kesana dengan cepat." kilah Allen tersipu malu.


"Habisnya kamu lama sih, sebentar lagi aku kan mau berangkat." ucap Arka jujur.


"Iya deh, maaf. Tadi aku..." jawab Allen terhenti. Ia segera menghentikan ucapannya, hampir saja ia keceplosan.


Arka yang penasaran mencoba mengorek apa yang akan di ucapkan oleh istri keduanya.


"Aku apa sih, honey? Jangan buat aku penasaran deh."


"Em.. Itu mas, tadi aku lihat-lihat pemandangan di sekitar sini. Ternyata pemandangannya bagus juga ya mas, cocok nih di jadikan tempat untuk foto genik." balas Allen sambil nyengir kuda, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, jika tadi Allen sekilas melihat Renita pada suaminya. Karena mungkin saja yang di lihatnya, belum tentu benar.


"Ish.. Kamu ini, foto gejik bukan disini tempatnya tau." umpat Arka.


"Aku bercanda mas, jangan marah gitu dong. Nanti ketampanan kamu hilang terbawa angin loh..." sergah Allen sambil mencubit hidung mancung suaminya.


"Mana bisa begitu. Kalo tampan aku hilang, bisa-bisa kamu berpaling ke lain hati dong?"


Allen merasa tersudutkan dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya, sebisa mungkin dirinya mengelak dari ucapan Arka.


"Mana mungkin aku berpaling. Nanti yang ada kamu ngamuk-ngamuk tidak jelas padaku lagi." ucap Allen jujur.


"Pastilah. Kamu kan milikku, sampai kapan pun ya tetap milikku. Laki-laki mana pun tidak boleh merebutmu, apalagi berharap untuk memilikimu. Jika itu terjadi maka tiada ampun lagi dariku!" balas Arka penuh penekanan.


"Iya aku hanya milikmu, tapi kamu bukan hanya milikku. Tapi juga mba Reni, aku pun juga di paksa ikhlas berbagi suami dengannya!" sergah Allen dengan rasa sakit di hatinya seolah ingin meledak saat itu, namun sekuat hati Allen menahannya.


Pelupuk mata Allen berkaca, namun ia mencoba untuk tidak menumpahkannya saat itu.


"Stt... Jangan gitu dong, honey. Itu kan sudah menjadi keputusanku, kamu juga tau kan keputusanku tidak dapat di ganggu gugat?" jawab Arka. "Dan kamu juga beruntung loh, karena aku menikahi kamu. Bukan seperti kebanyakan orang yang hanya memanfaatkan keadaan!" balas Arka tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Allen mencerna setiap kata yang keluar dari bibir suaminya, ia tidak mau mengatakan hal seperti itu lagi. Allen juga sadar diri apa yang di ucapkan oleh Arka semuanya memang benar. Allen pikir sekarang bukan waktunya untuk berdebat, karena suaminya harus segera pergi.


Allen menarik nafas panjangnya, kemudian ia mencoba mengeluarkannya secara perlahan. Allen berharap jika semua yang di lakukannya dapat mengurangi rasa emosinya yang kini mengisi ruang hatinya.


"Sudahlah mas, kita tidak usah membahas itu lagi. Sekarang sudah waktunya untuk kamu pergi, takutnya kamu akan terlambat." titah Allen.


"Baiklah aku akan pergi, tapi kamu jangan marah padaku ya." pinta Arka tulus pada Allen.


"Iya, aku akan mencoba." balas Allen sambil menyunggingkan senyum mirisnya.


"Ya, sudah ayo kita kesana, kasihan mommy dan daddy sudah lama menunggu kita dari tadi." titah Arka.


"Iya..." jawab Allen singkat.


"Apa perlu aku gendong, supaya kamu tidak kecapean!" ucap Arka.


Allen menggelengkan kepalanya cepat, sambil berkata, "Tidak mau.." ucapnya.


Saat Arka hendak menggendong tubuh Allen, dengan cepat Allen menghindar dari pria tampan di hadapannya. Lalu Allen mendorong tubuh suaminya supaya berjalan duluan, sedangkan ia membuntuti di belakangnya.


Pasangan suami istri itu berjalan menuju ke arah kedua orang tua Arka berada. Ros dan Gio yang melihat kedatangan orang-orang terkasihnya mencoba bertanya pada Allen, mengapa dirinya lama di belakang. Mereka khawatir jika Allen kenapa-napa.


Dengan cepat Allen menjawab pertanyaan mommy mertuanya ia tidak mau mereka mencemaskan keadaanya.


"Aku baik-baik saja mom. Aku juga nggak apa-apa, mommy tidak usah cemas begitu."


"Baiklah jika kamu baik-baik saja."


Arka berpamitan lalu menyalami kedua orang tuanya, juga memeluk mereka berdua secara bergantian. Mommy dan daddy nya memberi nasehat pada putra tercintanya, sebelum Arka pergi. Arka mendengarkan nasehat dari kedua orang tuanya dengan baik.


Sementara Allen masih diam mematung tak jauh dari keberadaan suami dan kedua mertuanya. Allen memperhatikan pria yang telah memperistrinya, ternyata ia sangat menyayangi kedua orang tuanya.


Seketika rasa sedih hinggap di relung hatinya yang terdalam, karena suaminya akan meninggalkan dirinya selama beberapa hari ke depan. Air matanya meluncur bebas di pipinya yang mulus, meski sekuat hati di tahannya. Namun ternyata Allen masih tidak sanggup.


Arka menghampiri istri keduanya, ia mengusap air mata Allen. Arka merasa ambigu, apakah Allen sedih karena ucapan yang keluar dari bibirnya. Begitulah pikir Arka, tapi dari pada mengulur waktu lebih lama lagi Arka mencoba menenangkan Allen. Meski ia enggan bertanya pada Allen saat ini, menurutnya ini bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan apa yang Allen rasakan.


"Honey, sudah jangan menangis lagi. Aku minta maaf padamu ya, aku pamit pergi dulu. Nanti setelah aku sampai disana, aku akan segera memberi kabar padamu." ucap Arka pelan.

__ADS_1


Arka memeluk tubuh istrinya dengan mesra, mengarahkan wajah Allen untuk menatapnya. Arka juga mencium pucuk kepala Allen, lalu ia membisikan kata-kata azimatnya pada Allen.


"Aku benar-benar minta maaf, jika ucapanku tadi melukai hatimu, honey. Kita bahas masalah ini setelah aku pulang nanti ya, kamu harus janji padaku jangan nangis lagi. Hapuslah air matamu, untukku. Iya.. lakukan itu, hanya untukku. Kamu tidak boleh menangis lagi." bisik Arka tepat di telinga Allen.


Allen melepas pelukan sang suami, lalu ia membalas ucapan suaminya dengan menganggukan kepala. Ia juga berusaha untuk tidak menangis lagi di depan suaminya, meskipun di hatinya entah apa yang di rasakannya.


"Honey, aku pamit pergi dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran, aku tidak mau kamu dan calon buah hati kita kenapa-napa. Jaga diri baik baik ya, selama aku tidak bisa menjagamu!" pamit Arka sambil mengusap sisa air mata di pipi istrinya.


"Iya mas Arka, kamu juga selalu jaga diri baik-baik ya. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu padamu." balas Allen pelan.


"Juga kalo perlu jaga hati kamu, Ka'. Jangan sampai ada Allen-Allen yang lain di luaran sana. Cukup hanya satu Allen!" sindir Gio pada putranya.


Arka tersenyum jengkel dengan ucapan daddynya, ia tidak menyangka daddynya mengucapkan kata-kata seperti itu disaat yang tidak tepat seperti ini.


"Ish.. Daddy apaan sih! Disaat seperti ini, masih saja daddy berbicara seperti itu." kesalnya.


"Biarin. Daddy hanya tidak mau kamu melangkah ke jalan yang salah lagi, karena daddy tahu bagaimana kamu orangnya. Daddy tidak mau ada hati yang kamu lukai lagi!" ucap Gio lantang.


"Denger tuh nak, apa yang di ucapkan daddy memang benar!" imbuh Ros.


"Iya, baiklah. Aku dengar mom, dad. Aku nggak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, beneran!" jawab Arka sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


Meski Arka lumayan kesal dengan ucapan daddy nya, tapi Arka juga tidak berani marah pada pria di depannya. Karena apa yang di ucapkan Gio, semua adalah benar. Arka hanya memasang sedikit wajah jengkelnya pada sang ayah, ia juga mengerucutkan bibirnya.


Allen tersenyum manis, saat melihat wajah suaminya jengkel. Entah mengapa rasanya Allen ingin tertawa terbahak-bahak, namun ia sadar jika sekarang bukan saat yang tepat untuk dirinya tertawa. Juga ia masih kesal dengan ucapan suaminya tadi.


.


.


***BERSAMBUNG***....


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya ya. Happy Realing...🙏🏻


__ADS_2