
.
.
Allen menjawab panggilan dari Hendra sahabat suaminya, meski ia sebenarnya enggan melakukan itu.
π"Hallo, ada apa Ndra?"
π"Kenapa kamu lama banget sih, Len. Menjawab telepon dariku."
π"Iya, maaf. Soalnya aku sedang mengerjakan tugas yang di berikan mas Arka. Memangnya ada apa sih?"
π"Aku minta kita ketemuan. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu. Aku mohon kamu jangan menolak, aku akan menjemputmu sekarang juga!"
π"Tapi...."
TUUUTTTT...
Saat Allen hendak mengatakan jika ia keberatan dengan permintaan Hendra, tiba-tiba panggilan di putus sepihak oleh Hendra. Allen kesal, ia mengumpati sahabat suaminya. Entah apa yang ingin di ucapkan oleh pria itu kepadanya.
"Ish... Aku belum selesai berbicara, kenapa telfonnya sudah di matiin! Memangnya apa yang akan di katakan sih? Nanti kalo mas Arka tahu aku pergi bersamanya bagaimana, pasti ia akan marah besar padaku. Dan memicu pertengkaran lagi. Tapi....? Huh.. Aku harus bagaimana ini?" kesal Allen mengumpati sahabat suaminya.
Disaat kebingungan melanda hati Allen, dari depan rumah mertuanya ada suara mobil yang membunyikan klakson dengan keras beberapa kali. Allen kesal, karena suara bising dari klakson tersebut. Meski malas Allen menghampiri mobil Sport berwarna silver tersebut.
Namun saat Allen hendak memaki pria yang membuatnya kesal, tiba-tiba tangan Allen sudah di tarik dari dalam mobil. Allen bahkan tidak sempat mengucapkan pesan dan sepatah kata pun pada orang-orang yang bekerja di rumah mommy Ros.
"Kamu ini apaan sih, Ndra? Aku belum siap, aku bahkan tidak membawa ponsel serta tas milikku. Kenapa kamu main kabur dan membawa aku pergi begitu saja! Nanti kalo mas Arka salah paham bagaimana? Pasti kami berdua akan berantem, deh!" umpat Allen pada Hendra, ia meluapkan amarahnya pada sahabat suaminya.
"Iya, aku minta maaf. Aku memang salah padamu, Len. Aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar, tapi aku hanya ingin memberitahu kamu. Ini tentang Renita, aku juga tidak mungkin menemui kamu di dalam rumah kan? Takutnya orang berburuk sangka pada kita berdua." ucap Hendra penuh sesal, ia menggigit bibir bawahnya.
Hendra memandangi wanita cantik dengan hidung bangir di sebelahnya, ia tersenyum kecut pada wanita itu. Hendra sama sekali tidak menyangka, jika Allen berani memaki dirinya. Meski Hendra juga sadar diri, jika memang dirinya yang bersalah.
Namun Allen yang sudah kesal, hanya diam saja bahkan ia tidak merespon apa yang di katakan oleh sahabat dari suaminya, berbeda dengan biasanya.
__ADS_1
Hendra tahu Allen melakukan itu karena kesalahan yang di perbuatnya, andaikan dirinya tidak memaksa Allen untuk pergi, mungkin wanita di sebelahnya tidak akan marah seperti itu padanya.
Ia tahu pasti jika Allen melakukan semua itu, karena Alen patuh pada suaminya. Sehingga kemana pun Allen pergi, ia harus meminta izin pada suaminya terlebih dahulu.
Tidak butuh waktu yang lama, Hendra memarkirkan mobilnya di halaman sebuah kafe. Ia memilih kafe dengan nuansa klasik dan sedikit terbuka, tujuannya agar mereka lebih rilex serta tidak menimbulkan kesalah pahaman jika siapa pun melihat mereka berdua.
"Ayo kita turun. Aku akan menjelaskannya padamu di dalam, aku mohon padamu jangan ngambek gitu dong!" ucap Hendra dengan perasaan bersalah.
"Apa kamu akan menelfon suami kamu dengan ponselku? Berkata kamu sedang ada urusan penting denganku. Ini ponselku..." imbuh Hendra sambil menyodorkan ponsel miliknya.
"Tidak perlu. Nanti yang ada mas Arka malah semakin mencurigai aku lagi! Dikiranya aku bermain gila denganmu!" ucap Allen terjeda. "Sudah kita turun saja! Kamu jelaskan di dalam saja, tidak enak di lihat orang. Takutnya mereka berprasangka buruk pada kita!" imbuh Allen memberi saran.
"Oke, baiklah. Kita turun sekarang." titah Hendra.
Ia turun dari mobilnya dan di susul oleh Allen. Meski dalam hati Allen ada rasa sangat penasaran dengan apa yang ingin di ucapkan oleh Hendra.
Hendra mengajak Allen duduk di dekat pintu masuk utama kafe tersebut, dan siapapun pasti akan melihat keberadaan mereka berdua. Bahkan dari halaman parkir sekali pun, mereka akan terlihat dengan jelas.
Mereka duduk dengan tetap berjaga jarak, agar orang tidak berpikiran macam-macam pada mereka berdua. Hendra memesan minuman vanila latte untuk Allen dan juga untuk dirinya.
"Len, maaf jika aku memaksamu dan membuatmu tidak nyaman. Tapi apakah kamu sudah tahu berita tentang Renita?" ucap Hendra mencairkan keheningan.
Allen menggelengkan kepalanya perlahan dan hanya berkata "Tidak.." jawab Allen sekilas.
"Sungguh?" tanya Hendra tak percaya. "Baiklah akan aku katakan padamu, aku tidak mau mengulur waktu lagi. Aku tahu kamu masih banyak pekerjaan." imbuhnya dengan semangat.
"Iya. Katakansecepatnya." jawab Allen cepat.
"Menurut cerita dari salah satu karyawanku yang bernama Aira. Ia bilang padaku, saat dirinya beserta suaminya pergi berbulan madu ke kota Lion di Paris. Beberapa minggu yang lalu, ia melihat keberadaan Renita disana sedang bersama seorang wanita yang tinggal tidak jauh dari tempat Aira menginap."
"Tapi ia tidak tahu pasti, di rumah siapa Renita tinggal. Menurut ceritanya, Aira hanya satu kali melihat Reni. Tapi saat Aira ingin menegur Reni, ia sudah di tarik tangannya terlebih dahulu oleh suaminya untuk segera masuk ke dalam mobil. Karena saat itu mereka memang akan menikmati pemandangan di kota tersebut, dan jelasnya waktu memang sudah senja." jelas Hendra panjang lebar.
"Lalu, apa kamu sudah memberitahu hal ini pada mas Arka?" tanya Allen penasaran.
__ADS_1
Hendra menggelengkan kepalanya perlahan, lalu ia menjawab pertanyaan wanita di sampingnya.
"Belum..!" jawabnya lemah.
"Kenapa? Bukannya harusnya sebagai sahabat kamu memberitahukan hal ini pada mas Arka? Kenapa malah aku yang kamu beritahu terlebih dahulu!" dengus Allen kesal.
"Aku masih ragu, Len. Karena aku juga belum menyelidiki secara langsung, dan belum tahu pasti jika itu beneran Renita atau bukan. Makanya aku memberitahu hal ini padamu terlebih dahulu. Jika memang semua itu benar adanya, barulah aku akan memberitahu suami kamu!" ucap Hendra jujur.
"Iya.. Tapi kenapa kamu tidak memberitahu mas Arka dan kalian menyelidikinya bersama-sama?" ucap Allen memberi saran.
"Menurutku Arka jangan sampai tahu hal ini terlebih dahulu, sampai aku berhasil mengetahui kebenarannya." jawab Hendra dengan berat hati.
"Tapi.. Kenapa..?" tanya Allen penasaran.
"Jawabannya kamu pasti tahu, Len.! Aku mohon sama kamu, jangan sampai kamu beri tahu Arka tentang masalah ini. Aku tidak mau dia berpikiran yang negatif tentangku." ujar Hendra sambil memikirkan apa yang pernah menimpanya saat sedang berkumpul bersama Arka dan Johan, yang ternyata malah memicu kesalah pahaman. pada saat Allen baru saja keluar dari rumah sakit.
"Tapi aku tidak yakin..." jawab Allen ragu.
"Kamu harus janji padaku, Len. Aku mohon!" ucap Hendra memohon sambil merapatkan kedua tangannya di dada.
Allen memikirkan sejenak apa yang di katakan oleh Hendra, tanpa ia sadari jika ada seorang pria yang dari tadi memperhatikan dirinya. Dan sial baginya, ternyata tanpa sepengetahuan Allen sedari tadi suaminya tengah mengawasi keberadaan Allen dan Hendra.
Terlihat wajah Arka yang sangat marah, ia menahan amarah saat istri keduanya ternyata sedang berduaan dengan sahabatnya. Yang membuat Arka kesal yaitu, saat ia menghubungi ponsel Allen berkali-kali namun telepon darinya tidak di jawab oleh istri keduanya.
.
.
Bersambung...
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya yaππ». Happy Realingπ.