
.
.
"Ma, aku sungguh minta maaf pada mama ya. Bukan maksudku menyakiti hati mama. Tapi Reni kesal mendengar ocehan mama, sudah Reni jatuh tertimpa tangga pula. Sudah tahu aku lagi kena masalah, bukannya mama bantuin gimana caranya keluar dari masalah ini, eh.. Mama malah ngomel-ngomel terus. Kan aku jadi makin kesal." ucap Reni penuh penekanan.
"Mama tahu Ren, tapi disini yang bersalah itu kamu. Andai kamu tidak melakukan kesalahan seperti ini, mana mungkin mama akan ngoceh terus!"
"Iya ma, aku tahu. Aku memang bodoh, tapi..." ucap Reni terputus, ia enggan menyelesaikan ucapannya.
"Ya, sudahlah terserah padamu saja. Lagian mama mau ngomong apa juga kamu tidak akan mendengarkan. Satu nasehat mama, jangan kembali lagi melakukan kesalahan yang sama. Mama juga minta maaf, karena mama nggak bisa menemani kamu di luar negri karena kamu kan tahu sendiri alasannya."
"Iya ma, aku tahu. Aku juga bisa jaga diri baik-baik kok, mama tenang saja." balas Reni meyakinkan.
"Baiklah, kita selesaikan ini semua. Setelah itu kamu tidur, besok pagi jangan sampai terlambat." titah Diana.
"Yes, ma." balas Reni cepat.
Malam kian larut, Diana pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara Renita, ia merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang empuk miliknya. Tanpa di sadari Reni membuka galeri foto yang berada di layar ponselnya, ia memandangi foto-foto kebersamaannya bersama Arka beberapa tahun belakangan.
Entah mengapa hatinya terasa sedih bila mengingat semua kenangan hidupnya yang begitu indah bersama sang suami. Tapi mungkin seandainya Arka tahu kebusukannya di belakang, pria itu akan menjatuhkan talak pada Reni.
"Mas, aku minta maaf padamu ya. Aku memang bodoh seperti apa yang di ucapkan mama padaku, karena aku memang selingkuh dengan Nando tanpa sepengetahuan kamu. Awalnya aku hanya ingin menyenangkan diriku sendiri, tapi bodohnya aku, aku sama sekali tidak pernah memikirkan resiko yang akan aku dapatkan."
"Andai aku sedikit peduli terhadap perasaan kamu, mungkin aku tidak akan menelan pil pahit seperti ini. Aku akan terima apapun keputusan kamu nanti! Tapi aku sangat berharap jika kamu tidak akan menceraikan aku! Hiks... Hiks..." tangis Reni pecah, hatinya sungguh sakit saat mengingat pengkhianatan yang di lakukannya pada sang suami.
Tapi Reni bisa apa, ia hanya pasrah dengan keadaan. Reni tidak bisa berbuat banyak, masih untung karena kekasih gelapnya mau menolongnya dan membawa dirinya pergi jauh dari kehiduapnnya di kota metropolitan yang membelenggu dirinya.
Reni mencoba memejamkan matanya, berharap jika keajaiban akan datang menjemput kehidupannya yang akan mendatang. Mungkin karena lelah, Reni dengan mudahnya tertidur dengan sangat nyenyak.
Esok harinya Diana membangunkan putrinya, ia tidak mau kepergian Reni terlambat. Diana pula yang hendak mengantarkan Reni sampai ke bandara. Diana bergegas ke kamar putrinya yang ternyata sudah tidak terkunci.
"Ren, sudah siang nak!" panggil Diana dengan nada yang lumayan kencang.
"Iya ma, Reni sudah bangun. Ini sedang bersiap-siap." jawab Reni setengah berteriak.
__ADS_1
"Baiklah, mama tunggy kamu di bawah ya. Kalo kamu sudah siap, langsung menyusul mama ya."
"Iya ma.." jawab Reni.
Diana melangkahkan kakinya ke lantai utama, ia bersiap-siap sambil menanti kedatangan Reni ke lantai utama. Tak lama berselang Reni turun, ia berwajah sembab. Wajar saja karena pagi ini, Reni menangis lagi. Diana memperhatikan putrinya, ia mencecar pertanyaan pada Reni.
"Ren, sebelum kamu pergi, mama mau bertanya satu kali lagi padamu. Apa kamu yakin mau pergi ke luar negri?" tanya Diana ragu.
"Iya ma. Aku akan tetap pergi, apapun nanti keputusannya dari Arka, aku akan terima!" jawab Reni meyakinkan sang mama, meski di hatinya masih merasa ragu.
Diana menarik nafas kasarnya, ia seolah tidak rela jika putri semata wayangnya akan pergi yang lumayan lama meninggalkan dirinya di rumah seorang diri. Sementara suaminya bekerja di luar negri, sampai kini juga belum kembali lagi.
Naluri seorang ibu membawa langkah Diana, untuk segera mendekap hangat putrinya. Meski hatinya juga merasa tersakiti oleh pengkhianatan putrinya, namun sebagai seorang ibu, Diana tetap ibu kandung dari Reni. Ia sama sekali tidak berhak untuk membenci Reni, atau bahkan cucunya yang kini sadang di kandung putrinya.
Diana menangis sejadi-jadinya, begitu juga dengan Reni. Ia tak henti-hentinya meluapkan rasa penyesalannya yang begitu mendalam pada sang mama.
"Sudahlah nak, kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu perbuat. Menyesal kini sudah tiada lagi artinya, Ren." nasehatnya pada Renita.
"Iya ma. Terima kasih banyak karena mama selalu ada menemani aku ya." balas Reni.
"Iya mama.." jawab Reni tegas. "Ya sudah ayo kita berangkat sekarang, sebelum terlambat ma." imbuh Reni.
"Baiklah nak" jawab Diana.
🍂🍃🍂
Sesampainya Reni dan mamanya di bandara, mereka berpelukan lagi, Reni berpamitan untuk segera pergi pada sang mama. Air matanya kini meluncur bebas lagi di pipinya. Karena Reni tidak mau larut dalam kesedihan, dirinya segera masuk ke dalam jet pribadi milik Nando.
Meski Diana tidak sepenuhnya rela, namun ia melepaskan putri tercintanya untuk pergi. Ia yakin Renita mampu untuk menjalani kehidupan yang sedang di rasakannya saat ini.
Renita duduk di kursi belakang di temani orang suruhan Nando di sampingnya. Mata Reni memandang ke arah kaca jet itu, ia memandang ke arah sang mama yang berada di bawah yang sedang melambaikan tangan padanya, sebagai tanda perpisahan.
Kali ini Reni menyimpan air matanya, ia tidak mau kepergiannya membawa luka yang semakin mendalam. Yang di inginkan oleh Reni, hanyalah hidup bahagia tanpa di bayang-bayangi rasa benci dari suaminya, jika Arka sampai tahu kebusukan dirinya.
Tanpa di sadari jika wanita di sampingnya memperhatikan dirinya dari tadi, wanita itu menegur Reni.
__ADS_1
"Jika anda memang belum yakin, kita bisa menunda untuk pergi nyonya Renita." ucap wanita tersebut.
"Enggak.. Aku nggak apa-apa, kita lanjutkan saja perjalanan ini." kilah Reni cepat.
"Apa anda yakin?!" tanyanya lagi, kerena masih ragu.
Reni menganggukan kepalanya dengan cepat, ia tidak mau kepergiannya di tunda. Atau bahkan bisa saja ia gagal untuk pergi ke luar negri.
"Aku sangat yakin!" jawab Reni tegas.
"Baiklah, jika anda yakin." imbuhnya lagi.
Mereka semua bersiap untuk memasang segala pengaman yang di perlukan, setelah semuanya dirasa siap dan terpasang sempurna, wanita tersebut menyuruh sang pilot untuk segera lepas landas.
"Kita terbang, sekarang." titahnya pada sang pilot.
"Baiklah nona, segera laksanakan." jawab cepat sang pilot.
Jet meluncur dan tertang tinggi meninggalkan landasan, Renita memandangi kota kelahirannya yang akan segera di tinggalkan olehnya. Entah sampai kapan, ia juga tidak tahu.
Yang jelas untuk saat ini, ia mencoba untuk menenangkan pikirannya beberapa saat. Ia juga sama sekali tidak memikirkan keberadaan suaminya, yang entah sedang baik-baik saja atau bahkan sebalikmya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah ia bisa menjalani hidupnya tanpa di bayang-bayangi rasa bersalah. Meski kepergiannya akan menimbulkan masalah yang sangat besar.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan komen, like, vote, serta favorit ya. Happy Realing.. Terima kasih...
__ADS_1