Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Sahabat Tidak Berperasaan


__ADS_3

.


.


"Apa maksud daddy dengan contoh yang baik? Memangnya Arka tidak baik dimata kalian?" ucap Arka kesal, ia merasa tersinggung.


"Bukan begitu Ka'. Maksud dsddy, kamu kan sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, jadi menurut kami tidak ada salahnya kan, kalo kamu jadi laki-laki yang setia dan bertanggung jawab pada pasangan kamu." jelas Gio panjang lebar.


"Menurut mommy, apa yang di katakan oleh daddy itu benar nak." imbuh Ros membela sang suami. Ia tidak mau putranya berprasangka buruk pada suaminya.


"Aku selalu tanggung jawab pada kedua istriku. Tapi aku sungguh tidak suka memiliki istri yang tidak mau di atur olehku!" ucap Arka tegas tak terbantahkan.


Ucapan Arka sontak membuat Allen jadi takut dan merasa bersalah, namun ia mencoba bersikap tenang kali ini. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, mereka bingung dengan cara pemikiran putranya.


Namun mereka percaya pada Arka, ia tidak akan mungkin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Allen hanya memandangi wajah suaminya yang masih menahan amarah, namun ia sama sekali tidak berani mengatakan apapun pada suaminya.


Sampai akhirnya sang suami mengajaknya ke kamar, karena memang ada yang ingin di katakan pada istri keduanya.


"Honey, ikut aku ke kamar sabentar. Ada yang perlu aku katakan kepadamu." ajak Arka pada Allen, sontak membuat Allen sadar dari lamunannya.


"I..iya mas. A..ada apa..?" ucap Allen terbata.


Namun harus terhenti saat ada orang di luar rumahnya yang mengucapkan salam.


"Siapa sih. Ganggu orang saja?" dengus Arka kesal.


"Kamu tunggu aku disini sebentar, honey. Biar aku yang buka pintunya terlebih dahulu." ucap Arka pelan.


"Iya mas.." jawab Allen.


Arka melangkahkan kakinya membukakan pintu, karena saat itu kedua orang tuanya sudah lebih dahulu pergi ke kamar, mereka akan bersiap-siap untuk pergi.


Arka tersentak kaget saat ia baru saja membuka pintu, tiba-tiba sudah ada Hendra dan Johan sahabatnya sedari kecil. Kedua pria itu memeluk tubuh kekar Arka, secara bergantian.


"Hallo bro, apa kabar?" ucap Johan seraya menjabat tangan Arka.


"Ba..baik. Kenapa kalian kesini nggak ngasih tahu aku dulu?" balas Arka terbata, ia tidak percaya jika kedua sahabatnya kini sudah berada di depannya.


Ia sungguh tidak percaya, kedua sahabatnya sudah berada di rumah orang tuanya. Sebelum Arka menyuruh mereka berdua untuk duduk, Hendra sudah seperti seekor ayam yang kehilangan induknya.


Hendra terlihat gelisah, pandangannya juga mengedar sekeliling mencari keberadaan Allen. Ia mencemaskan keadaan istri kedua Arka.


"Dimana Allen, Arka? Katanya dia dari rumah sakit. Dia sakit apa? Kenapa kamu nggak ngasih tahu kita sih, wah.. nggak setia kawan nih!" cecar Hendra penasaran.

__ADS_1


"Dia ada di dalam, maaf jika aku tidak memberitahu kalian. Aku sibuk dengan pekerjaanku." kilah Arka cepat. "Kalian tahu dari mana Allen dari rumah sakit?" tanya Arka penasaran.


"Dari..." ucap Hendra lagi.


Kali ini ucapan Hendra terhenti saat ia melihat Allen yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka bertiga.


"Siapa... mas..?" ucap Allen terhenti.


"Teman-teman aku, honey.." jawab Arka santai.


Allen menghampiri ketiga pria tersebut, lalu ia memperingatkan sang suami.


"Loh, teman-teman kamu kenapa nggak di suruh duduk sih mas?" ucap Allen spontan.


"Tahu nih suami kamu, Len. Kita jauh-jauh datang kesini malah di biarin nganggur nih. Mana pegel nih kaki aku." sindir Hendra pada Arka.


Sedangkan Johan hanya memandangi kedua sahabat dan istri kedua Arka, ia memang tidak terlalu banyak bicara seperti Hendra sahabatnya.


Allen merasa tidak enak hati, ia menyuruh kedua pria itu duduk di ruang tamu, meski Allen rasa yang seharusnya menyuruh mereka berdua duduk adalah Arka, suaminya.


"Silahkan duduk Hendra dan..." ucap Allen terhenti, ia lupa nama sahabat suaminya yang satunya lagi. Karena memang mereka baru satu kali bertemu, dia acara milik pria tersebut.


"Johan.." ucap Johan memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Sudah lah, jangan lama-lama. Kalian kan sudah pernah bertemu, masa kamu lupa sih, honey. Jangan modus kamu, Jo!" sergah Arka marah.


"Apaan sih kamu, Ka'. Kenapa jadi aku yang di salahkan, kan tadi istri kamu lupa padaku, makanya aku memperkenalkan diri. Memangnya ada yang salah apa?" jawab Jo kesal dengan pernyataan Arka.


Allen merasa tidak enak hati karena suaminya terlihat marah pada Johan, sahabatnya. Ia meminta maaf pada kedua sahabat suaminya, namun malah ucapan dirinya semakin membuat Arka kesal.


"Sudah-sudah, kenapa kalian malah bertengkar sih. Tidak enak di dengar orang tahu, kamu juga sih mas, ada teman datang kenapa tidak di suruh duduk. Kasihan kan mereka." ucap Allen spontan.


"Johan juga tidak salah kok, aku memang lupa padanya karena kita kan memang baru satu kali bertemu dengannya. Itu pun hanya sebentar kan?" imbuh Allen mencoba memberi pengertian pada suaminya.


Ternyata ucapan Allen melukai hati Arka, dalam hati kecil Arka merasakan cemburu bila istri keduanya berdekatan dengan lelaki mana pun, termasuk itu sahabatnya sendiri.


"Allen...!" ucap Arka kesal, ia mengepalkan tangannya, ia menggertakan giginya, menahan amarah.


Allen tidak berani menatap wajah sangar sang suami, ia hanya memilih diam dan menundukan kepalanya. Kedua sahabatnya melihat Allen yang ketakutan.


Allen bahkan meninggalkan ketiga pria itu pergi, ia ngedumel sendiri dalam hatinya.


"Ish.. mas Arka kenapa sih. Kenapa dia marah padaku, aku kan hanya memperingatkan dia saja. Masa iya sih, ada tamu malah tidak di suruh duduk. Itu kan tidak sopan!" gerutu Allen dalam hati.

__ADS_1


Hendra kemudian mendekati Arka, ia merangkul bahu Arka. Kemudian ia memberi sedikit nasehat dan pengertian pada sahabatnya itu.


"Calon ayah yang baik, janganlah marah-marah pada istri kamu yang sedang mengandung anak kamu. Itu tidak baik tahu, kasihan kan dia jadi ketakutan." ucap Hendra pada Arka.


"Kamu jangan merasa cemburu berlebihan pada Allen. Aku tahu pasti, dia tidak mungkin berpaling ke lain hati. Dan kamu juga janganlah berprasangka buruk pada Johan, dia kan sahabat kita dari kecil. Tidak mungkin kan, dia ingin mengambil apa yang kamu punya! Jika dia berani melakukan itu, maka biarkan aku memberinya pelajaran!" nasehat Hendra pada Arka, ia mengerlingkan sebelah matanya pada Johan.


Johan menyadari kesalahannya, meski di hatinya sungguh tidak mempunyai niat apapun. Ia resmi ingin memperkenalkan diri pada istri kedua Arka, namun ternyata niatnya salah di mata sahabatnya.


"Apa yang Hendra ucapkan itu benar, Ka'. Aku sama sekali tidak mempunyai niat apapun pada istri kamu, aku murni ingin memperkenalkan diriku. Kan tadi kamu dengar sendiri, kalo Allen lupa namaku. Makanya aku menjabat tangannya secara respek, dan memperkenalkan diriku padanya." ucap Johan membela diri.


"Jika itu menurut kamu salah, maka aku mohon maafkan aku ya, Ka'. Kita kan sudah lama berteman, masa hanya karena salah paham, kita jadi bertengkar sih." Johan meminta maaf pada sahabatnya.


"Baiklah.. Aku juga minta maaf pada kalian berdua sungguh aku tidak bermaksud begitu pada kalian. Aku hanya—" sergah Arka tulus, namun ucapannya terhenti saat kedua sahabatnya merangkul dirinya.


"Oke deh bro, kami berdua minta maaf padamu." ucap Hendra dan Johan bersamaan.


"Kami hanya ingin memastikan keadaan istri kamu, apa yang menyebabkan dia sampai masuk rumah sakit." ucap Hendra tulus.


"Apa yang di ucapkan Hendra itu benar, Ka'." Johan menimpali Hendra.


"Ceritanya panjang. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, karena masih ada yang mengganggu pikiranku." kilah Arka pada kedua sahabatnya.


"Baiklah, kami mengerti. Kami juga akan siap mendengarkan kapanpun kamu akan memberitahu kami berdua." ucap Johan tulus.


"Baiklah.. Terima kasih karena kalian sudah menjadi sahabat terbaikku!" balas Arka tulus.


"Dia baru menyadari jika kami memang yang terbaik. Ha.. ha.. ha.." sergah Hendra sambil tertawa cekikikan.


"Yah mulai lagi deh.! Huh.. Dasar para sahabat tidak peka dan tidak mempunyai perasaan!" dengus Arka lirih. Namun masih dapat di dengar oleh kedua sahabatnya.


Mereka bertiga hanya tertawa cekikikan, Hendra dan Johan berhasil membuat Arka kesal. Namun mereka kini sudah berbaikan lagi, mereka memang sering begitu. Namun mereka bertiga tidak pernah lama bermusuhan.


.


.


***BERSAMBUNG***....


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk karya author ya, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih dukungan dari para Raeder's semua🙏🏻🙏🏻.


__ADS_2