Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
kl


__ADS_3

.


.


Ros menjawab pernyataan suaminya dengan senyum mengembang di wajahnya. Suaminya berhasil membuat dirinya menjadi malu, sekaligus bahagia. Karena di usia yang tidak lagi muda, mereka berdua masih sangat romantis. Bahkan tidak berbeda jauh dari pasangan muda kebanyakan.


"Iya dad, tentu saja. Malah mommy rasa dengan adanya pekerjaan, membuat kami berdua happy. Meski mommy harus sedikit mengabaikan istri kamu, Allen." jawab Ros jujur.


Sontak Allen membulatkan matanya, bingung dengan apa yang mommy mertuanya ucapkan. Begitu juga dengan Arka, ia bingung dengan ucapan sang mommy.


"Maksud mommy..?" ucap Arka dan Allen bersamaan.


"Maksudnya, mommy kan setiap hari harus bolak-balik ke kantor, jadi mommy belum bisa menemani Allen di rumah setiap waktu." jelas mommy.


"Oo... Kalo itu nggak masalah bagi Allen, mom. Mommy tenang saja aku baik-baik saja kok mom, meski kadang aku merasa kesepian jika di rumah sebesar ini, dan hanya di temani para pekerja,mom." balas Allen sedih, meski ia untuk tersenyum.


"Iya nak, mommy tahu. Tapi sebentar lagi kan ada yang menemani kamu, nanti mommy janji deh setelah anak kamu lahir kedunia mommy akan risegn dari kantor." ucap Ros pelan.


"Terus daddy harus ke kantor sendirian tiap hari gitu?" keluh Gio keberatan.


"Mau tak mau. Ya, daddy memang harus begitu." jawab Ros seraya tersenyum kecut.


Arka tidak mau kedua orang tuanya berdebat, ia menengahi mereka berdua. "Sudahlah dad, nanti biar mommy yang memutuskan bagaimana baiknya. Lagian memang sudah waktunya untuk kalian berdua istirahat di rumah." ucap Arka memberi pengertian.


"Memangnya kamu bisa mengerjakan semuanya sendiri, dari urusan kantor induk sampai cabang?. Terus kan masih banyak lagi pekerjaan yang harus kamu handle di waktu yang bersamaan, memangnya pundak kamu kuat memikul beban yang sangat berat?" tanya Gio tidak yakin.


"Siapa bilang, aku sendiri yang akan mengerjakan semuanya." jawab Arka cepat.


"Lalu, siapa yang akan kamu mintai tolong?" cecar Gio penasaran.


"Nanti kan kalo anak kami sudah lahir, aku bisa minta Allen untuk membantuku. Jadi semua pekerjaanku dapat terurus semua." jawab Arka sambil memicingkan mata pada Allen.


"Hah.. Kenapa mesti aku?" tanya Allen tak mengerti.


"Karena kamu istriku.." jawab Arka penuh keyakinan.


Mendengar pernyataan putranya, membuat Gio tersenyum meledek pada Arka. Meski ia juga setuju dengan apa yang di ucapkan Arka.


"Huft.. Kirain bisa sendiri. Taunya minta bantuan Allen juga!" sindir Gio.


"Memangnya kenapa? Nggak ada yang salah kan?"


"Memang nggak ada yang salah, Ka'." jelas Gio.

__ADS_1


Karena suasana mulai tidak kondusif, Allen melerai kedua pria yang duduk tak jauh darinya. Allen tidak mau malam mereka terbuang percuma, untuk perdebatan yang tidak begitu penting.


"Sudah-sudah, kenapa malah jadi berdebat sih. Lagian sudah malam, lebih baik mas Arka istirahat. Besok pagi kan mesti ke bandara." ucap Allen memberi pengertian.


"Iya juga ya. Ya udah, ayo honey kita tidur. Lagian kalo aku masih berdebat dengan daddy nggak akan kelar sampai besok pagi." ajak Arka pada istrinya, sambil menyindir daddynya. "Oya mom, besok jangan lupa temani Allen ke dokter ya! Kita berdua istirahat dulu. Good night.." Arka mengingatkan sang mommy.


"Baiklah nak, mommy tidak lupa kok." jawab Ros semangat.


"Iya lah, terserah padamu saja, Arka." jawab Gio, dalam hatinya membenarkan apa yang di ucapkan oleh putranya.


"Good night juga nak." jawab kedua orang tua Arka kompak.


Arka menggandeng mesra lengan Allen, mereka naik ke lantai atas menuju ke kamar Arka. Sementara kedua orang tua Arka hanya menatap kepergian putra dan menantunya dengan perasaan terharu sekaligus bahagia.


"Mommy sangat bahagia dad, jika kehidupan putra kita selamanya seperti ini. Kenapa tidak dari dulu, Arka menikah bersama Allen." bisik Ros pada suaminya.


Mendengar istrinya berucap seperti itu, membuat Gio mengelus punggung istrinya. Lalu Gio memberi sedikit nasehat pada istri tercintanya.


"Semua sudah di takdirkan mom, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan menjalani kehidupan ini untuk lebih baik. Selebihnya Tuhan lah yang berkuasa, jika Ia menghendaki, maka segalanya yang tadinya tidak mungkin, akan menjadi mungkin, begitu juga sebaliknya." ucap Gio pelan.


"Benar juga apa yang daddy ucapkan." balas Ros sambil menganggukan kepalanya.


"Tentu saja benar, ya sudah ayo kita tidur. Ini sudah malam, besok kan kita harus mengantar Arka ke bandara, setelah itu mommy temani Allen periksa kehamilan." titah Gio pada sang istri.


Mereka berdua akhirnya pergi menuju ke kamar mereka, dan beristirahat. Begitu juga dengan Arka dan Allen, mereka berdua juga kini beristrirahat di kamarnya. Arka memeluk tubuh ramping istrinya yang tidur miring menghadap padanya, kedua bola matanya belum bisa terpejam. Matanya memandang wajah cantik Allen, rasa tidak rela berkecamuk di hati Arka, saat esok hari dirinya harus pergi meninggalkan istri keduanya.


Meski kepergiannya hanya tiga hari, tapi Arka sama sekali tidak bisa membayangkan kehidupannya tanpa adanya Allen disisinya. Bagi Arka berjauhan dari Allen membuat hidupnya bagaikan membawa beban yang sangat berat, hidupnya terasa hampa.


Tangan Arka terulur untuk mengelus wajah cantik Allen, yang kini sudah terlelap dalam tidurnya. Ia juga mengecup mesra pucuk kepala istri keduanya, tangannya mengusap perut Allen. Meski kehamilan Allen masuk bulan ketiga, namun tubuhnya yang ramping seolah menonjolkan bagian perutnya.


"Anak ayah, baik-baik di rahim bunda ya nak. Besok ayah akan pergi selama tiga hari, selama itu pula kamu jangan nakal ya. Ayah sayang sama kamu, nak." bisik Arka pelan sambil mengecup perut istri keduanya.


Setelah dirinya berbincang pada calon buah hatinya, Arka merasa ngantuk, seketika matanya terpejam. Tangan kekarnya memeluk tubuh Allen yang terlelap dalam tidurnya.


πŸ‚πŸƒπŸ‚


Pagi masih menunjukan pukul 5 pagi, namun keluarga Arka kini telah bangun dari tidur nyenyaknya. Mereka bangun sepagi ini, karena Arka akan segera bergegas ke bandara Soeta.


Arka sudah bersiap pergi, begitu juga dengan Allen. Ia mengenakan dres berwarna silver selutut yang sangat pas di badannya yang masih agak ramping.


"Kamu cantik, honey." goda Arka.


"Ah.. Mas Arka bisa saja." balas Allen tersipu malu.

__ADS_1


Namun saat mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba perut Allen terasa sangat mual. Tidak seperti biasanya perutnya begitu, karena dari awal kehamilan Allen, dirinya memang jarang morning snikers.


Allen berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi, dirinya muntah-muntah tidak jelas.


'Huek.. Huek..'


Terdengar dengan jelas jika Allen muntah-muntah, Arka cemas ia bertanya setengah berteriak namun Allen tidak memberi respon.


"Honey.. Kamu tidak apa-apa?" teriak Arka cemas.


Arka berlari menyusul Allen ke kamar mandi, ia takut terjadi sesuatu pada istri keduanya. Sesampainya di kamar mandi Arka berdiri di belakang Allen, sambil mengusap-usap punggung Allen.


"Apa kamu sakit?" tanya Arka mencemaskan keadaan istrinya.


Allen menggeleng perlahan, lalu ia menjawab pertanyaan suaminya. Allen tidak mau suaminya mencemaskan keadaannya, lalu Arka akan gagal pergi.


"Aku nggak apa-apa mas. Hanya saja entah kenapa perutku terasa mual pagi ini, padahal biasanya aku tidak pernah begini." ucap Allen memberi penjelasan.


"Kamu yakin nggak apa-apa? Atau kita pergi ke dokter sekarang saja, dan aku perginya setelah kamu merasa baikan."


"Nggak perlu mas. Mana bisa begitu? Kan kamu sudah menyuruh mommy untuk menemani aku. Kamu pergi saja, takutnya kamu terlambat."


"Nggak akan terlambat honey, aku perginya kan naik jet pribadi milik daddy." jelas Arka.


"Biar naik jet, tapi kan kamu harus meeting jam 10 nanti mas. Memangnya kamu mau, klien kamu kabur. Gara-gara kamu lama."


"Iya juga sih. Tapi apa kamu yakin akan baik-baik saja?" tanya Arka ragu.


"Iya mas, aku baik-baik saja. Sekarang perutku juga sudah a Sudah ayo kita turun, nggak enak kan mommy dan daddy lama nunggu."


"Oke, honey. Kita turun sekarang." balas Arka, meski dalam hatinya merasa tidak tega untuk meninggalkan Allen, dengan keadaan tidak baik-baik saja seperti sekarang ini.


.


.


Bersambung...


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, supaya author tetap semangat berkaryaπŸ™πŸ».

__ADS_1


__ADS_2