
Seusai sarapan Albert mencari keberadaan Dara di rumah itu, ia ingin pamit pulang pada Dara walaupun sebenarnya ia sangat ingin berada disini. Tapi Albert juga tau diri, ia tidak mau merepotkan wanita itu.
"Nindy apa kau tau dimana Dara?" Tanya Albert pada Nindy yang sedang mengerjakan laporan kerjanya di ruang keluarga.
"Sepertinya Nona berada di ruang kerja, Tuan"
"Apa kau bisa beritahu aku dimana ruang kerjanya?"
"Ruang kerjanya ada di lantai dua sebelah kanan, Tuan" Jawab Nindy.
"Baiklah, Terima kasih"
"Sama-sama Tuan"
Albert pun berjalan ke arah yang tadi Nindy sebutkan, ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan beberapa saat kemudian suara Dara yang menyuruhnya masuk pun terdengar.
Albert masuk kedalam ruang kerja itu, ia melihat Dara yang baru selesai menelpon seseorang.
Wanita itu menoleh dan nampak terkejut saat mengetahui jika Albert yang mengetuk pintu, karna Dara kira orang yang mengetuk pintu tadi adalah Nindy.
"Al, kau disini? Ada apa?" Tanya Dara sembari mendekat ke arah Albert.
"A-aku... Aku hanya ingin berpamitan padamu, aku rasa aku akan pulang sekarang. Terimakasih atas bantuanmu, maaf jika aku merepotkan" Jelas Albert.
Dara seketika menjadi sedih mendengar Albert yang ingin pamit pulang dari rumahnya, padahal ia sudah berencana untuk tidak masuk kerja karna ingin berbicara banyak hal dengan Albert hari ini.
"Kenapa cepat sekali? Apa kau tidak nyaman berada di rumahku?" Ucap Dara yang merasa tersinggung.
Albert terkesiap dengan pertanyaan Dara, kenapa Dara bertanya yang tidak-tidak seperti ini? bahkan Dara bertanya seolah tidak ingin dirinya pergi.
"Bukan begitu maksudku, tapi... Bukankah kemarin kau sendiri yang mengusir ku dari sini?" Lirih Albert dengan lesu.
Dara terkejut mendengarnya, tenyata Albert masih berpikir tentang kejadian semalam. Padahal ia sendiri pun tidak mau mengingat-ingat itu lagi.
Dara menarik kedua lengan Albert pada genggamannya, membuat pria itu menatap heran pada Dara.
__ADS_1
"Al, aku sudah tau semuanya"
Albert mengernyit dahinya, ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Dara.
"Tau semua? Tentang apa?" Tanyanya lagi.
"Tentang kejadian dua tahun lalu"
Albert membelalakkan matanya lebar-lebar, dari mana dara tau tentang kejadian dua tahun lalu? Apa dari Mike?
"Maafkan aku Al, seharusnya aku mendengarkan alasanmu terlebih dahulu waktu itu. Maaf telah membuatmu berjuang sendirian" Ucap Dara yang sudah berderai air mata, tak dipungkiri lagi jika ia cukup menyesal dengan tindakannya sendiri.
Albert melepaskan genggaman Dara, lalu menangkupkan pipi Dara dengan kedua lengannya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Dara, maafkan aku yang tidak bisa tegas pada hubungan kita" Albert menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik wanita itu.
"Maafkan aku Dara, kau sudah berjuang untuk anak kita dulu. Maafkan lelaki brengs*k ini"
Dara menggeleng, ia tak membenarkan ucapan lelaki tersebut.
"Apa kau akan memberiku kesempatan lagi?"
Dara menatap kesungguhan di mata Albert, tatapan itu tak pernah membohongi dirinya. Dan sekarang pun Dara tetap percaya dengan apa yang sorot mata lelaki itu tunjukkan.
"Jika kau bersungguh-sungguh... Aku... Aku akan memberimu kesempatan"
Bruk
Albert langsung memeluk Dara dengan erat, mereka sama-sama menangis dalam suasana kebahagiaan.
"Aku bersungguh-sungguh! Aku benar-benar bersungguh-sungguh Dara. Aku akan membayar semua rasa sakit yang kau alami dengan kebahagiaan"
Dara membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Terimakasih Al, tolong jangan tinggalkan aku lagi"
__ADS_1
Albert merenggangkan pelukan mereka, ia kembali menangkup pipi Dara dengan lembut.
"Aku tidak akan meninggalkan mu lagi, sudah cukup selama ini aku hidup sengsara tanpa mu. Kita akan mulai semua dari awal, apa kau mau?"
Dara tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban.
Hingga tidak ada yang tau siapa yang memulai duluan, kini bibir mereka sudah saling menyatu satu sama lain.
Melepas kerinduan yang teramat dalam, Albert menekan tengkuk dara membuat ciuman mereka semakin dalam lagi.
Lidah mereka pun saling membelit satu sama lain, Dara yang notabene nya seorang pemalu saat ini ia justru begitu rakus ******* bibir Albert.
Mata mereka pun ikut terpejam mengikuti syahdunya suasana menggelora ini, Dara menarik-narik rambut Albert hingga berantakan, menyalurkan nikmat yang tengah ia rasakan dengan begitu hebatnya.
Ini ciuman pertama kali semenjak dua tahun lalu, rasanya sangat-sangat membuat mereka melayang jauh ke atas nirwana.
Disaat tangan Albert yang mulai ikut bergerak aktif di tubuh Dara membuat wanita itu terpaksa menghentikan ciuman panas mereka.
"Al, aku tidak mau bertindak lebih. Sekarang aku bukanlah wanita sewaan mu yang bisa kau pakai kapanpun kau mau" Lirih Dara dengan sendu.
"Sstt... Jangan berkata seperti itu sayang, kita akan melakukannya saat kita menikah"
Dara melebarkan matanya, mulutnya pun ikut terbuka sedikit saat mendengar kata-kata Albert.
"Me-menikah?"
"Ya sayang, aku akan ingin menikahimu. Secepatnya!"
Mata Dara berbinar seketika, ia tidak menyangka Albert akan berkata seperti ini padanya.
"K-kau serius?"
"Tentu aku serius, aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi sayang. Aku tidak mau!"
Dara tersenyum bahagia, ia langsung memeluk tubuh lelaki itu kembali.
__ADS_1
"Aku juga Al, aku tidak mau kehilangan dirimu lagi"