
Mike yang merasa percuma seketika menarik bantal yang Nindy pegang, dan otomatis membuat Nindy terhuyung ke depan dan menindih tubuh Mike yang sedang terlentang.
Brukkk....
Mata Nindy terbelalak dengan sempurna kala tubuhnya dan Mike bersentuhan secara intim.
"Aaaa........ Apa yang kau lakukan.....!!! Awas aku mau berdiri!" Teriak Nindy, namun Mike justru memeluk wanita itu hingga Nindy masih berada di atasnya.
"Sialan...! Lepaskan aku..... Aku mau berdiri..!!"
"Sssttt...... Bisakah kau tidak teriak-teriak?!"
"Tidak bisa! Aku tidak mau berdekatan denganmu! Lepaskan aku"
Bukannya melepaskan Mike malah membalikkan tubuh mereka hingga kini dirinya yang berada di atas tubuh Nindy dan mengukung gadis cantik itu.
"Brengsekk.....! Kau sudah keterlaluan!" Hardik Nindy saat Mike membalikkan tubuhnya begitu saja, dengan sekuat tenaga ia memberontak dari tubuh kekar lelaki tersebut.
Mike cepat-cepat menjepit kedua lengan Nindy agar dia tidak bisa memberontak.
Dan kini keduanya sama-sama diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Nindy menatap Mike dengan tatapan tajam sedangkan Mike menatap wajah Nindy dengan intens.
Hening....
Hening...
Hening...
Beberapa detik mereka terdiam sampai akhirnya Mike berucap.
"Kenapa kau selalu berkata kasar padaku?"
Mendengar itu tenggorokan Nindy seakan tercekat, mulutnya seperti sulit untuk terbuka.
"Kau membenciku?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Apa alasanmu membenciku?"
Merasa tidak tahan dengan tatapan Mike Nindy lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Aku tidak membencimu!"
"Lalu?"
"Aku hanya tidak suka melihat wajahmu, sikap mu juga sombong saat pertama kali kita bertemu" Jelas Nindy pada Mike.
Mike membisu, lalu perlahan ia memegang dagu Nindy agar wanita itu bersisitatap dengannya.
Tapi dengan cepat Nindy menepis lengan Mike secara kasar.
"Lepas! Lagipula untuk apa kau menanyakan hal itu?! Itu tidak penting!"
"Sekarang lebih kau berdiri dan lepaskan aku!"
Mike pun tidak berkata apa-apa lagi, ia bangkit begitupun dengan Nindy.
"Nanti sore aku jemput" Ujar Mike pada nindy.
Nindy menoleh dan mengangkat satu alisnya.
"Untuk apa? Aku bisa pulang sendiri"
"Aku akan mengantarmu ke rumah Tuan Albert, mobilmu ada disana kan? Aku juga mau mengambil pekerjaan Tuan Albert di rumahnya"
"Yahh baiklah, terserah kau saja"
***
Di dalam pesawat kini Albert tengah merajuk pada Dara, ia kesal lantaran pesawat yang mereka naiki begitu lama sampai di tujuan.
"Sudah ku bilang sebaiknya kita naik jet saja agar cepat sampai disana" Ucap Albert dengan nada ketus.
__ADS_1
Dara yang melihat Albert marah padanya terus memeluk lelaki itu sambil mengusap ngusap dada bidang Albert mencoba menenangkan amarah sang suami.
"Ya maaf, lagipula memakai jet itu biaya lebih mahal Al" Ucap Dara.
"Hahh..... Kau ini, sepulang dari sana aku pasti membelinya agar kau berhenti mengira jika suamimu ini miskin" Kata Albert penuh keyakinan.
Mendengar itu dara tertawa geli, entah kenapa ucapan Albert terdengar lucu di telinganya.
"Hei kenapa kau malah tertawa?"
"Hahaha.... Tidak apa-apa, hanya saja aku suka melihat mu merajuk seperti ini"
"Oh begitu ya, baiklah aku akan merajuk terus" Kata Albert dengan asal.
"Jangan.... Aku hanya bercanda"
Tapi Albert masih tetap diam sembari melipat tangannya di atas dada.
"Al.... Aku hanya bercanda, maafkan aku"
"Ada syaratnya jika kau ingin aku maafkan"
Dara memutar bola mata malas, jika sudah begini ia tau apa yang harus ia lakukan.
Dara langsung menangkup wajah Albert dan mencium bibir lelaki itu.
Albert tersenyum dan memperdalam ciuman mereka.
Namun sayang, seorang pramugari datang hendak menyerahkan makanan yang mereka pesan.
Dengan cepat keduanya melepas ciuman itu dan tersenyum kaku pada sang pramugari.
"Ma-maaf Tuan dan Nyonya, saya hanya ingin menyerahkan pesanan kalian"
"I-iya tidak apa-apa, terimakasih" ucap Dara setelah mengambil pesanan itu, sedangkan Albert hanya bersikap acuh dan tak peduli.
__ADS_1