Istri Tak Dihargai

Istri Tak Dihargai
Melamar


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Tak terasa hari-hari pun berlalu begitu cepat, Dara dan Albert kini sudah kembali menjalani kehidupan seperti biasa, hubungan mereka pun bahkan sudah tersebar luas ke seluruh media massa.


Tak heran memang jika pembisnis tersebut kian menjadi perbincangan di kalangan pengusaha lainnya. Tak jarang mereka selalu memamerkan kemesraan dimanapun walau sebenarnya Albert lah yang membuat kemesraan mereka terlihat orang banyak.


Tak dipungkiri juga jika lelaki itu tak bisa jauh dari Dara, Albert juga sering meminta wanita itu untuk datang ke kantornya hanya sekedar menemaninya makan siang atau jika Dara tidak bisa Albert lah yang datang ke perusahaan sang kekasih. Dan itulah yang membuat desas-desus para karyawan terdengar dan menyebar.


Dan malam ini adalah malam spesial untuk Albert, lelaki itu telah menyiapkan sebuah kencan makan malam dengan Dara di sebuah restoran outdoor yang telah ia sewa.


"Semuanya sudah siap Tuan, tinggal menunggu Nona Dara datang kesini" Imbuh Mike pada atasannya tersebut.


"Apa benar-benar sudah selesai? Aku tak mau ada yang kurang sedikitpun" Ucap Albert penuh penekanan.


"Saya yakin semuanya sudah selesai Tuan"


Dan kini lelaki yang sudah memakai setelan jas yang rapi itu nampak gugup menunggu kedatangan sang pujaan hati, ia ingin malam ini adalah malam yang sangat berkesan bagi Dara dan dirinya.


Drt Drt Drt


Suara ponsel Albert bergetar di balik saku celana, ia pun lantas mengambil benda pipih tersebut, bibirnya terseyum saat melihat bahwa Dara lah yang menelpon. Ia lalu mengangkat sambungan teleponnya.


Albert: Hallo sayang kau sudah sampai?


Dara: Sudah, aku didepan. Kau dimana?


Albert: Kau berjalanlah terus mengikuti karpet merah itu, karpet itu akan menunjukkan dimana aku berada.


Dara: Baiklah, aku matikan telponnya ya.


Albert: Oke.


Dengan langkah pelan Dara pun melangkah mengikuti karpet berwarna merah yang di taburi mawar tersebut, sebenarnya ia tidak tau kenapa Albert mengajaknya ke tempat seperti ini. Pria itu hanya mengatakan jika ini adalah malam yang penting baginya.

__ADS_1


Setelah beberapa langkah kakinya tiba-tiba berhenti saat melihat suatu tempat yang begitu indah dan menakjubkan, semua restoran outdoor yang didekor khusus dan membuat dara sendiri tercengang.


"Ya ampun, ini indah sekali"


Dara terus berjalan hingga ia melihat seorang lelaki tampan bertubuh tegap yang berdiri tak jauh dari sana, ia tersenyum saat melihat Albert yang juga memandang dirinya dengan memegang seikat bunga di tangan.


Wanita itu mendekat dan tersenyum malu, kini ia tahu apa alasan Albert mengajaknya ke tempat ini, pria itu mengadakan kencan romantis untuk dirinya.


Saat mereka sudah berhadap-hadapan dalam jarak dekat Albert langsung menyodorkan seikat bunga itu pada Dara.


"Ini untukmu sayang"


"Terimakasih Al" Dara mengambil bunga tersebut.


"Mari kita duduk disana" Albert menuntun Dara menuju meja yang tak jauh dari situ.


Ia menarik kursi untuk Dara agar wanita itu tak kesusahan. Dara tersenyum melihat keromantisan Albert.


"Al, apa kau menyewa tempat ini untuk kita?" Tanya Dara yang tak melihat siapaun kecuali mereka berdua.


"Memangnya ada apa Al? Tumben sekali"


"Kau akan tau nanti sayang, sekarang kita makan makanannya terlebih dahulu ya" Dara pun mengangguk, mereka berdua lalu makan sembari mengobrol dan sesekali tertawa. Hal ini membuat Dara teringat akan peristiwa di Paris beberapa tahun lalu.


"Apa kau suka dengan ini semua?" tanya Albert di sela-sela makannya.


"Tentu, ini sangat indah. Aku tak menyangka jika kau membuat kejutan seperti ini" ungkap Dara.


"Syukurlah jika kau suka, sebenarnya aku sudah merencanakan hal ini dari waktu itu. Dan aku harap kau tak kecewa"


"Sama sekali tidak, aku justru senang. Kenapa kau tak memberitahu ku Al jika kita akan berkencan?"


"Kalau aku memberitahu mu itu namanya bukan kejutan sayang"

__ADS_1


"Hahaha kau benar" gelak tawa pun terdengar dari dua insan tersebut.


Seusai makan malam tiba-tiba beberapa lampu disana menyala dan membuat Dara terkejut saat itu juga.


Lampu-lampu itu membentuk huruf yang bertuliskan "Will You Marry Me?"


Sontak saja Dara menoleh ke arah Albert, pria itu beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah Dara dan bertekuk lutut.


Ia mengambil sebuah kotak berwarna merah dari saku celananya, dan membuka benda itu dihadapannya Dara.


Sedangkan Dara memandang tak percaya dengan ini semua.


"Dara, terimakasih sudah hadir dalam hidupku. Terimakasih sudah mengubah hari-hari ku menjadi lebih berarti, terimakasih sudah mau menerima ku kembali dan membuka hatimu lagi"


"Aku mencintaimu Dara"


"sangat mencintaimu"


"Will you marry me?"


Dara menutup mulut dengan kedua lengannya, air matanya pun lolos begitu saja. Jadi ini yang Albert maksud dengan malam yang berkesan?


Albert melamarnya!


Sedetik kemudian dara tersenyum penuh haru, ia pun lantas menganggukkan kepalanya.


"Yes, i will"


Senyum Albert mengembang dengan sempurna, ia pun mengambil cincin tersebut dan menyematkannya di jari manis Dara.


Mereka pun berpelukan dengan begitu erat, tangis Dara pecah saat itu juga.


"Terimakasih sayang, terimakasih kau sudah menerima lamaran ku"

__ADS_1


"Aku mencintaimu Al"


"Aku lebih mencintai dirimu, sayang"


__ADS_2