
Setelah berbincang degan Bunda Fatma, Ayra memutuskan untuk pulang malam ini juga mumpung masih belum terlalu malam.
''Kak Ay pulang dulu ya''.ucanya saat iya sudah keluar dari ruagan kerja Papa Fildan.
''Lho Dek kok pulang'',
''Bukannya besok pagi ya''.tanya Fildan degan wajah binggung dan langsung berdiri dari duduknya.
''Fildan biarkan Ayra pulang sekarang, lebih cepat lebih baik Nak'',
''Igat Fildan Ayra masih istri orang''.sambung Papa Zainal degan wajah datarnya.
''Tapi Pa''..
''Fildan jagan membantah Papa''.ucapnya tegas
tanpa bisa dibantah.
''Pa Fildan gak akan membiarkan Ayra menderita lagi''..Fildan gak bisa Pa''...lirihnya degan wajah sendu.
Sementara Ayra disituasi yang seperti ini iya sungguh jadi serba salah,disisi lain iya juga mencintai Fildan, tapi yang dikatakan Bunda benar adanya bagai mana pun kondisi rumah tangganya sekarang iya tetaplah Istri orang.
''Fildan apa kamu meragukan kemampuan keluarga Salman'',
''Keluarga Ayra bukan orang sembaragan masalah seperti ini bagi mereka hanyalah butiran debu yang akan hilang hanya degan satu kali tiupan agin''.
''Dan Ayra tidak baik kamu bersembunyi dari masalah,Om mohon bijaklah dalam bertindak dan selesaikan masalah secepatnya karna masalah jika dibiarkan berlarut-larut akan bertambah menjadi besar'',
''Jujurlah kepada keluargamu,karna jika sekali saja kamu berbohong akan ada lagi kebohogan yang lain yang akan meyusul''.nasehat Papa Zainal bijak.
''Iya Om makasih nasehatnya kalau begitu Ay pamit dulu''...
''Kakak anter",Fildan meyela cepat
''Fildan biar supir yang antar''..
"Apa kamu mau jika dituduh menjedi perusak rumah tangga orang,berduaan degan istri orang itu juga tidak bisa dibenarkan Fildan. biarkan Ayra meyelesaikan masalahnya degan suaminya dulu biarkan dia memikirkan apa yang terbaik untuk hidupnya'',
''Berpisah degan suaminya atau memperbaiki hubugan rumah tangganya''.nasehat Zainal lagi.
''Pa''...panggil Fildan degan mata yang sudah memerah karna igin menagis'iya sungguh tak sanggup jika harus melihat wanita yang dicintainya menderita lagi,lagi pula iya benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah lagi degan Ayra iya bisa gila jika itu sampai terjadi lagi.
''Ay permisi Bunda''.ucap Ayra sambil meyalami tagan kedua orang tua Fildan kemudian degan cepat iya berlari keluar sungguh Ayra sudah tidak tahan lagi untuk tidak meneteskan air mata.
''Hiks...hiks....Ibu Ayra rindu''.disaat-saat yang seperti ini setiap anak.akan merindukan dekapan sang Ibu tercinta tapi bagi Ayra yang sudah tidak mempunyai Ibu iya hanya bisa merindukannya saja sambil menagis,
__ADS_1
''Fildan''.sanggah Zainal saat Fildan akan berlari untuk megejar Ayra.
''Pa''...lirihnya sudah menagis.
''Masuk kamar Fildan''.bentak Zainal degan lantang membuat Fildan mendesah dan berbalik masuk kedalam kamar.
Sedangkan Bunda Fatma hanya diam dan meyerahkan semuanya degan sang suami,mungkin ini lah yang terbaik,dari pada Fildan harus kecewa lagi, iya sungguh tidak bisa melihat kehancuran anak semata wayangnya.
Sementara Ayra yang berada diluar rumah berlari keluar dari gerbang rumah sambil terus menagis. panggilan dari sang supir pribadi Fildan pun tak iya perdulikan''
Ayra terus berlari hingga sampai kejalan raya saat sampai dijalan iya baru meyadari jika dirinya tidak membawa apapun,binggung itu yang Ayra rasakan. bagai mana cara dirinya untuk pulang sementara iya tidak mempunyai uang bahkan Ponsel pun iya tidak punya.
''Hiks...hiks...gue harus pulang pakai apa''?.. lirihnya masih terus menagis.
Dirumah Fildan
''Maaf Tuan Nona Ayra pergi degan berjalan kaki saat saya igin megantarkannya iya tidak perduli dan terus berlari''jelas sang sopir kepada tuan Zainal.
''Duh gimana dong Mas''...bagai mana kalau terjadi sesuatu degan Ayra,apa tadi kita terlalu keterlaluan''.ucap Bunda Fatma kawatir.
''Tenang Sayang semuanya akan baik-baik saja''.ucap Zainal menenangkan sang istri.
Tampa mereka ketahui saat sang supir megadu pada kedua orang tuanya bahwa Ayra pulang sendiri, Fildan sudah meyelinap pergi keluar rumah,iya tidak bisa membayangkan jika seorang gadis berjalan sendirian disaat hari sudah malam,Ayra harus pulang pakai apa sementara dirinya sama sekali tidak memegang uang atau pun ponsel.
Iya sungguh tak perduli lagi andai kedua orang tuanya tau iya melakukan hal ini iya sudah siap menerima apapun hukuman yang akan diberikan oleh Sang Papa.
Degan cepat Fildan berlari keluar pagar dan meyusuri jalanan diarea perumahan Elit tempatnya tinggal.
Tapi sudah jauh iya berjalan sama sekali iya belum menemukan Ayra.
''Kamu dimana Sayang''.lirihnya sambil berjalan setegah berlari.
Sementara Ayra sekarang sedang duduk ditaman tidak jauh dari tempat Fildan berdiri.
Sayup-sayup terdegar suara tagisan seseorang membuat Fildan berjalan memasuki area taman yang hanya diterangi lampu-lampu yang redup.
''Grep...Fildan langsung memeluk Ayra dari belakang.
Karna kaget dan megira yang sedang memdekapnya adalah orang jahat degan cepat Ayra langsung memelintir tagan Fildan membuat laki-laki itu menjerit kesakitan.
''Aw....Sayang...tolong lepas ini sakit sekali''.lirihnya sambil merigis.
''Kak Fildan''.ucap Ayra sambil melepaskan cekalan tagannya.
''Kenapa Kakak ada disini'' sambungnya lagi.
__ADS_1
''Mau meyusul belahan jiwa Kakak yang mau pergi''.lirihnya meledek sekaligus terseyum miris.
Sungguh saat ini hatinya serba salah pertama iya harus memperjuangkan cintanya yang kedua iya harus mematuhi kedua orang tuanya.
Pilihan mana yang harus diambil semua ini membuat kepala Fildan rasanya mau pecah.
''Jagan main-main Kak''.
''Apa selama ini Kakak pernah becanda untuk Cinta Kakak''.
''Kak plis biarkan Ay pergi lepaskan Ay Kak''.tegas Ayra sambil berusaha menahan air matanya.
''Dek..haruskan Kakak kehilagan mu untuk yang kedua kalinya lagi''?...
Ayra terdiam karna dia sendiri juga tidak tau jawabannya.
''Dek plis jagan jauhi Kakak lagi''Kakak gak bisa Dek ayo kita berjuang bersama-sama untuk bisa bersatu Dek''.lirih Fildan degan mata yang sudah megembun sungguh laki-laki ini akan menunjukkan sisi lemahnya hanya didepan Ayra dan kedua orang tuanya tapi didepan orang lain Fildan tetaplah Fildan manusia kaku dan pendiam.
Ayra masih terdiam iya masih igat permohonan Bunda Fatma padanya untuk tidak memberikan Fildan harapan palsu lagi,dan mungkin inilah saatnya untuk iya menjauhi Fildan alangkah baiknya iya meyelesaikan masalahnya sendiri agar tidak ada orang lain yang tersakiti.
''Maaf Kak Ay harus pulang''.ucapnya megalihkan pembicaraan dan berjalan menjauhi Fildan.
Degan cepat Fildan menarik tagan Ayra.
''Izinkan Kakak megantarkan mu El''...ini sudah malam akan sagat berbahaya jika kamu pulang sendiri, ditambah lagi kamu tidak membawa apapun''.mohon Fildan terus memegang tagan Ayra.
''Ayo''..ajaknya sambil menarik tagan Ayra untuk mencari taxsi karna memang tadi dirinya tidak membawa motor ataupun mobil.
Degan terpaksa Ayra hanya megikiti.langkah Fildan karna Fildan tidak mau melepaskan tagannya.
****
''Lebih baik Kakak langsung pulang saja karna sekarang sudah sagat malam, lagi pula akan banyak orang yang berprasangka buruk pada kita nanti''pinta Ayra saat mereka telah sampai didepan gerbang rumah keluarga Salman.
''Ok baiklah sekarang masuklah dulu,setelah Adek masuk Kakak akan langsung pulang''.Ayra hanya meganguk iya sudah malas berdebat degan Fildan laki-laki ini dari dulu jika sudah megiginkan sesuatu susah untuk dibantah jika belum iya dapatkan.
''Lho Non Ayra''...sapa pak Satpam penjaga rumah Ayra heran melihat anak dari majikannya pulang hampir tegah malam.
''Pak tolong buka pagernya Ay mau masuk''.. panggil Ayra dari luar karna memang pagar rumahnya sudah dikunci.
''Eh...iya...Non...maaf''....
''Ayah ada Pak''..tanya Ayra setelah Pak satpam yang bernama Anto berhasil membuka pagar.
''Ada Non tapi mungkin Tuan sudah tidur''.
__ADS_1
''Kalau Kak Arkhan''.
TBC.