
''Krek''.
Pintu kamar terbuka Ayra yang mendengar langkah kaki semakin mendekatinya semakin bergetar takut. bahkan wanita itu kini sudah memucat degan air mata yang tidak bisa berhenti menetes.
"Plak".
"Aaawww..ibu tolongin Ayra Bu..hiks..hiks...tolong jagan gangu Ayra".lirihnya semakin meringkuk. namun kedua tagannya iya gunakan untuk memeluk perutnya sebagai tanda perlindungan kepada buah hatinya.saat merasakan tepukan dipundaknya.
"Kamu kenapa"?.
Ayra langsung menoleh sesaat mendengar suara yang sagat iya harapkan.
"Aa".Ayra langsung berdiri dan memeluk suaminya.terserah jika Fildan igin menolaknya.namun laki-laki itu hanya diam terpaku.tidak membalas tidak juga melarang.
Jujur hati seorang Fildan sagat hancur dan sedih melihat kehancuran istrinya.perlahan tagannya terulur dan mengusap lembut punggung wanita yang ada didekapannya sekarang.
''Aa dari mana Ay takut A''?..lirihnya masih tetap memeluk erat tubuh suaminya.
Fildan tak menjawab namun air matanya menetes tanpa bisa iya tahan.
''Jagan pernah tinggalin Ay sendirian A,jika Aa sudah membenci Ay lebih baik Ay pergi Aa''.
Fildan semakin mengeratkan pelukannya,jujur hati suami mana yang tidak hancur saat melihat istrinya rapuh seperti ini,jujur hati kecilnya percaya jika istrinya tidak meleweng,namun entah kenapa iya selalu igat akan kata-kata Irfan membuat hatinya sakit dan hancur berkeping-keping.
__ADS_1
''Aa dari mana''?..lagi-lagi pertanyaan itu kembali terlontar dari istrinya.
''Aa dari rumah Bunda''.
Fildan masih igat bagai mana kemarahan Bundanya, saat tau iya membawa Ayra kerumah ini.dan akhirnya Fildan kembali kerumah ini,namun karna jalanan kota yang macat .ya jadi lah begini,Al hasil Fildan sampainya tengah malam.
*****
Hari berganti hari dan sekarang kehamilan Ayra sudah menginjak tujuh bulan.sejak kejadian itu Fildan tak lagi pernah meninggalkannya dimalam hari,meski pun lembur dikantor Ayra tidak begitu takut lagi. karna Fildan sudah memperkerjakan seorang Art.jadi Ayra punya temen dirumah jika Fildan pulang malam.
Meskipun sampai sekarang mereka masih tidur terpisah,namun Ayra sudah merasa terbiasa dengan sikap suaminya itu.paling tidak Fildan sudah tidak secuek dulu lagi.kerna sekarang Fildan lebih bisa diajak bicara.
"Bik Aa Fildan mana"?..tanya wanita hamil itu sambil melangkah memasuki dapur.
"Tuan ada diteras depan nyonya".
"Sama-sama Nyonya".
Setelah mengetahui keberadaan suaminya Ayra langsung melangkah untuk menemui suaminya itu.
Terlihat Fildan sedang asik dengan hobi barunya,yaitu memelihara Ayam,burung dan bebek.laki-laki itu sagat menikmatinya terlihat wajah Fildan lebih rilek dari biasanya. namun sudah tidak seperti dulu lagi.Fildan yang somplak hangat dan penyayang Kini sudah hilang.tinggal Fildan yang dingin dan irit bicara.
"Aa sedang apa"?.tanya Ayra sambil mendaratkan bokongnya dikursi tepat disebelah suaminya.
__ADS_1
"Hem...engak ada".jawabnya singkat.
Sudah menjadi hal biasa suami Ayra ini irit bicara,sejak terjadi kesalah pahaman itu.namun Ayra sudah tidak terlalu perduli lagi paling tidak sekarang sudah tidak separah dulu.
"Aa Ay bisa minta Ayamnya satu ngak"?.entah kenapa setelah melihat banyaknya Ayam milik suaminya,membuat Ayra megiginkan opor ayam kampung,hinga membuat liur wanita itu igin menetes.
"Untuk apa"?.tanya Fildan sambil menoleh kearah istrinya sebentar,dengan dahi mengeryit binggung.
"Pengen Ay potong Aa,Ay kepengen makan opor Ayam kampung".
"Nanti Aa belikan".
Ayra langsung sedih, padahal dirinya sagat igin memakan opor Ayam kampung namun Ayamnya,ayam yang dipelihara suaminya sendiri.
"Maaf Den kalau saya lancangy tapi setau saya kalau istri ngidam itu kalau ngak keturutan ntar anaknya bisa ileran Den".ucap laki-laki paruh baya yang selalu membantu Fildan menjaga ternaknya.
🌹🌹🌹🌹
Yah Fildan pelit Amat minta ayam doang.
jagan lupa like vote komen and hadiahnya agar outhor semangat ngetiknya.
Makasih.
__ADS_1
Bay..bay...
Tbc.