Istri Tak Dihargai

Istri Tak Dihargai
par22


__ADS_3

''Kak mereka siapa''tanya Ayra saat mereka sudah hampir masuk kedalam mobil.


''Anak buah Papa'' jawab Fildan singkat.


''Ayo masuk''


''Kita pulang sekarang''


''Iya Kak''jawab Ayra sambil mesuk kedalam mobil.


''Jalan Pak''.titah Fildan pada sang sopir yang dikirimkan oleh sang Papa.


''Baik Tuan muda''.jawabnya singkat sambil menjalankan mobil degan perlahan.


''Apa punggungnya masih sakit''tanya Fildan kawatir mengingat tadi Ayra sempat dipukul oleh anak buah Bram.


''Sudah mendigan Kak''jawab Ayra singkat sambil meguap.


''Gantuk Sayang''tanya Fildan yang diangguki Ayra.


''Ya sudah sini tiduran dipaha Kakak''.ucapnya sambil menarik pelan kepala Ayra dan iya letakkan diatas pahanya.


*****


Hampir satu jam Ayra dan Fildan berada didalam mobil kedua manusia itu sudah terlelap saat pertama kali mobil dijalankan.


"Dek bagun".panggil Fildan saat mobil sudah sampai tepat didepan rumah Fildan.


"Kita sudah sampai Kak"tanya Ayra sambil meguap dan megusap-usap matanya yang masih megantuk.


"Iya sayang ayo keluar".ajak Fildan sambil menbantu Ayra untuk keluar dari mobil.


"Assalamualaikum"Fildan megucapkan salam saat mereka berdiri didepan pintu.


"Walaikum salam''.jawab Bik Lumi dari dalam rumah.


''Krekk...pintu terbuka.


''Aden'' kaget Bik Lumi saat melihat wajah Fildan dan Ayra penuh lebam.


''Ayolah Bik jagan menatapku seperti itu''canda Fildan mencoba mencairkan suasana.


''Itu muka Aden kenapa''tanyanya sambil merigis gilu melihat wajah kedua sejoli didepannya membiru seperti habis disiksa.


''Habis latihan Tinju Bik'' jawab Fildan sambil menggandeng tagan Ayra dan melenggang masuk kedalam rumah.


''Bunda mana Bik''tanya Fildan lagi saat iya sudah berhasil duduk dikursi ruang tamu.


''biasa lagi ditaman''


''Mau Bibik panggilkan''tanya Bik Lumi sambil melangkah igin beranjak kearah taman.


''Tidak usah Bik''

__ADS_1


''Tolong buatkan kita berdua makanan aja ya Bik ''.sambung Fildan lagi.


''Oh iya Bik makanannya tolong antarkan diatas nanti''.


''Eh..Bik...adalagi jagan bilang dulu sama Bunda saya pulang dan jagan sampai bilang sama Bunda kalau wajah kita berdua bonyok''patuahnya panjang lebar membuat Ayra dan Bibik menoleh secara bergantian kemudian saling melempar seyum.


''Ayo Sayang naik kamu capek kan''tanya Fildan yang diangguki Ayra degan mantap,karna memang pada keyataannya dirinya sudah sagat capek dan kepalanya sedikit pusing tapi iya tak igin megatakannya pada Fildan takut laki-laki ini menaggapinya secara berlebihan.


''Ya sudah ayo''ucapnya lagi karna Ayra tak kunjung berjalan.


''Hem..iya Kak''


''Adek istirahat dikamar Kakak''


''Trus Kakak''.


''Kakak dikamar tamu''.jawabnya sambil membukakan pintu kamar untuk Ayra.


''Sudah masuk sana''


''Kakak ada dikamar sebelah jika ada apa-apa panggil Kakak saja ya''.ucapnya yang diangguki Ayra.


Saat Ayra telah masuk didalam kamar iya langsung berjalan menuju kamar mandi,


Disana Ayra menumpahkan segala kesedihannya iya menagis sejadi-jadinya sambil membekap mulutnya agar suara tagis kesedihannya tidak ada yang mendegarnya dari luar.


''Maafkam Ay Ayah''


''Ay megecewakan Ayah''


''Tapi segala kekecewaan,rasa bencin kepada laki-laki yang masih bersetatus suami Ay tidak bisa Ay ubah menjadi rasa sayang lagi Ayah'',


''Rasa sayang Ay yang mulai Ay coba untuknya kini telah berubah menjadi rasa benci sebenci-bencinya,


''Ay bener-bener kecewa degan apa yang dilakukan Mas Irfan degan Ay Ayah'',


''Ini adalah hari terakhir Ay akan menagis untuk laki-laki bejat sepertinya''


''Astaufirullah kenapa gue jadi mellow gini sih, igat Ayra dia laki-laki yang tidak pantas untuk ditangisi, sayang air mata mu Ayra sekarang bangkit Ayra, ini belum akhir dari hidupmu semagat Ayra ini akan menjadi awal dari kebahagiaan mu,


Setelah melewati semua ujian''semagatnya untuk diri sendiri sambil menghapus air matanya.


Kemudian Iya degan cepat membuka semua perlengkapan baju yang masih melekat ditubuhnya dan gadis cantik nan ceria itu, kini masuk kedalam Bathtub yang sudah diisi penuh degan air hagat dan aroma terapi.


''Alham dulillah seger''.lirihnya sambil memasukkan kepalanya didalam air.


Sudah hampir tiga hari Ayra tidak merasakan segarnya mandi dan kini iya benar-benar merasakannya lagi hingga gadis itu sulit keluar dari dalam Baththub sudah hampir satu jam iya berendam hingga sampai ketiduran.


''Sayang'' suara seseorang dari depan pintu kamar mandi membuat mata Ayra terpaksa terbuka.


''Bunda''.lirihnya kaget saat melihat Bunda Fatma sudah berdiri sagat dekat degannya.


''Lho itu wajah kamu kenapa Sayang''lirihnya kwatir sambil mendekat degan Ayra.

__ADS_1


''Ay gak apa-apa kok Bunda ini cuman luka kecil''.


''Luka kecil gimana kamu itu cewek lho'',


''Masa mukanya hancur begitu''.omel bunda merasa kwatir.


''Ini kenapa lagi berendem sampai ketiduran gitu apa gak perih tu luka''....


''Udah sana cepat keluar dari Bethtub nanti kamu masuk agin,ini Bunda bawakan baju kamu yang kamu pakai waktu kesini kemaren, sudah dicuci dan disetrika Bibik''.omelan Bunda panjang lebar justru membuat air mata Ayra menetes tampa mermisi.


''Lho kok malah nangis Bunda melukai hati kamu ya''tanya Bunda Fatma degan nada kawatir.


''Gak Bunda Ay malah seneng Bunda marahin Ay, karna dari omelan Bunda Ay tau Bunda meyeyangi Ay degan tulus,dan Ay benar-benar merindukan Ibu Bunda.


''Huwaaaa ......tagisnya semakin pecah membuat Bunda menjadi kalang kabut.


Fildan yang akan kelaur kamar pun ikut berlari masuk kedalam kamar mandi.


''Ada apa Sayang''tanyanya panik langsung menerobos masuk.


''Plak''...satu tamparan mulus mendarat dipunggung Fildan.


''Aw...sakit Bunda....ucapnya sambil megusap-usap punggungnya yang terasa sakit.


''Dasar anak nakal gapain kamu masuk kesini''.


''He...he...maaf Bunda Fildan gak segaja habis tadi Fildan deger Ayra menagis,Fildan pikir terjadi sesuatu makanya Fildan lari sampai kesini.


Sedangkan Ayra gadis itu sudah meyembunyikan mukanya didalam buih sabun iya sagat malu jika harus dilihat Fildan degan kondisi masih berendam dan yang pasti Ayra tidak megenakan apa pun.


''Dan eh..Dek belum kelar juga mandinya keluar.. gak'',


''Nanti masuk agin''.marah Fildan saat melihat Ayra masih anteng didalam Bathtub


Tapi saat iya masih berjalan selangkah kupingnya sudah dijewer duluan oleh sang Bunda membuat Fildan merigis kesakitan dan berjalan mundur megikuti sang Bunda.


''Aw.... sakit Bunda kenapa telinga Fildan dijewer lagi''...


''Fildan sudah dewasa Bunda bukan anak kecil lagi''.lirihnya sambil berusaha melepaskan tagan Bunda dari teliganya.


''Kamu ini sudah dewasa tapi kelakuannya seperti anak yang tidak dididik,


''Ay itu sedang mandi Fildan kenapa kamu masuk''...


''He...he...maaf Bunda Fildan kaget''


''Tapi itu kan rezki Bunda gak boleh ditolak''.ucapnya lagi degan seyum jahil membuat iya kembali mendapat tepukan dibahu kirinya.


''Aw...sakit Bunda'',


''Bunda ini kenapa galak sekali sudah seperti Ibu Tiri saja''.lirihnya sambil meregut.


''Bunda hanya diam dan menoleh kearah Fildan sambil meneliti wajah Fildan yang membiru,membuat Fildan kalang kabut karna sedari tadi iya lupa untuk meyembunyikan wajahnya yang beyok.

__ADS_1


''Kalian ada masalah apa''tanya Bunda to the point.


Tbc.


__ADS_2