
Kini hari yang di tunggu-tunggu oleh sepasang pengantin baru pun tiba, dimana hari ini adalah hari Dara dan Albert pergi untuk melaksanakan bulan madu.
Pukul tujuh pagi Dara, Albert, Mike dan Nindy sudah tiba di bandara sejak beberapa menit yang lalu.
Tiga puluh menit lagi pesawat yang akan Dara dan Albert tumpangi akan segera terbang. Kini Dara dan juga Albert sedang berpamitan pada kedua asistennya.
"Mike, Nindy, kami berangkat dulu ya. Jika ada apa-apa segera hubungi kami" Ucap Dara.
"Baik Nona, semoga kalian sampai di tujuan dengan selamat" Kata Nindy disana.
"Iya Nona, semoga liburan kalian menyenangkan" Ucap Mike yang melanjutkan ucapan Nindy.
"Terimakasih, kalian tenang saja nanti akan aku belikan oleh-oleh untuk kalian berdua"
Keduanya hanya tersenyum mendengar perkataan Dara meski dilubuk hatinya mereka memang senang karna akan mendapat buah tangan saat bulan madu boss nya ini selesai.
"Sayang ayo kita masuk, sebentar lagi pesawat akan segera take-off " Seru Albert pada istrinya.
"Ya sudah, kami berangkat dulu ya"
Nindy dan Mike mengangguk dan menunggu disana sampai pesawat yang Dara dan Albert naiki terbang.
Orang-orang yang juga mengantar kepergian kerabatnya mulai pergi dari area itu.
Begitu pun kedua manusia es yang sama-sama pergi meninggalkan bandara.
Kini kedua manusia tersebut sudah berada di dalam satu mobil yang sebelumnya mereka tumpangi bersama sang majikan.
"Mike bisa kau antar aku ke apartemen sebelum kembali ke kantor? Ada berkas yang harus aku bawa di sana" Tanya Nindy yang memecahkan keheningan diantara mereka.
__ADS_1
Mike melihat jam tangannya, sudah hampir jam delapan. Ia menimang nimang permintaan Nindy, lagipula sekarang ia yang mengurus urusan perusahaan, tidak akan ada yang memarahinya jika datang terlambat.
"Baiklah, dimana apartemen mu?"
"Lurus saja, nanti akan aku tunjukkan"
Sekitar tiga puluh menit lebih akhirnya mobil Mike sampai di sebuah apartemen yang cukup berkelas, ia membiarkan Nindy keluar dari mobil, namun wanita itu justru terdiam saat akan keluar dari mobilnya.
Menyadari hal itu Mike pun bertanya.
"Ada apa?"
"Kau tidak ikut turun?"
Mike memandang Nindy dengan tatapan tak percaya.
Perempuan itu mengajaknya ke dalam apartemen?
"Jika kau tidak bosan disini ya sudah aku tidak akan memaksamu" Setelah berkata seperti itu Nindy pun keluar meninggalkan Mike yang mematung di tempat.
Beberapa detik kemudian ia tersadar dan segera menyusul Nindy sebelum perempuan tersebut hilang dari pandangannya.
Keduanya masuk ke dalam gedung apartemen dan menaiki lift, Nindy menekan tombol 8 disana.
Tak lama lift terbuka, Mike terus mengikuti kemana Nindy berjalan. Sampai keduanya tiba di salah satu pintu bernomor 165.
"Masuklah dan tunggu di sofa" Ujar Nindy berlalu ke dalam kamarnya.
Mike tidak menghiraukan ucapan Nindy, ia justru memilih untuk melihat-lihat setiap sudut yang berada di apartemen milik gadis itu.
__ADS_1
Ia melihat banyak foto Nindy bersama keluarganya, namun saat wanita itu masih kecil. Tidak ada foto Nindy bersama keluarga saat ia sudah dewasa atau remaja.
Ada foto ibunya yang diletakkan di atas dinding. Fotonya pun bahkan sangat jadul dan lusuh, masih terlihat buram layaknya foto pada zaman dulu.
Mike terus berjalan hingga ia berada di depan pintu yang tadi Nindy masuki.
Ia mengintip kamar itu sedikit, tidak ada orang disana yang mana membuat Mike masuk begitu saja.
Matanya langsung tertuju pada sebuah kasur besar di kamar tersebut, seketika rasa malas dan ingin tidurnya muncul secara tiba-tiba.
Tanpa memikirkan apapun Mike membanting tubuhnya di atas kasur empuk berwarna putih bersih.
Ia memposisikan badannya dengan tengkurap, matanya ikut terpejam kala tubuhnya disuguhkan oleh kenikmatan sebuah kasur.
"Aaaa.......!!!!!"
"Dasar sialan...!! Apa yang kau lakukan di kamarku....?!! Pergii..... "
Mendengar teriakan Nindy Mike langsung membalikkan badannya menjadi terlentang, ia dibuat terkejut saat Nindy sudah berdiri di depannya sembari memukul-mukul Mike dengan sebuah bantal.
"Sudah ku bilang tunggu sofa!! Kenapa kau malah masuk ke kamarku, sialann.....!"
"Nindy hentikan!"
"Stop!"
Nindy terus memukul Mike walaupun pria itu sudah menyuruhnya berhenti bahkan meminta ampun. Tetapi telinga Nindy seakan sudah tertutup akan permohonan Mike.
Mike yang merasa percuma seketika menarik bantal yang Nindy pegang, dan otomatis membuat Nindy terhuyung ke depan dan menindih tubuh Mike yang sedang terlentang.
__ADS_1
Dan selanjutnya.......