
Malam hari Mike sudah bersiap untuk menemui Nindy di apartemen nya.
Walaupun memang niat utamanya adalah untuk memberikan berkas yang Dara perintahkan padanya untuk Nindy, namun niat terselubung Mike lebih ia utamakan yaitu untuk mengakhiri rasa rindu pada gadis tersebut.
Mike sudah rapi dengan kemeja dan celana jeans yang terlihat santai.
Ia pun beberapa kali melihat ke arah cermin untuk memastikan penampilannya, Mike juga menyemprotkan sebuah parfum untuk menambah kesegarannya.
Setelah dirasa semuanya siap, Mike akhirnya pergi ke apartemen Nindy.
Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, jalanan masih terlihat ramai dan dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan.
Di perempatan jalan mobil Mike berhenti tepat di depan toko kue.
Ia berniat membawakan kue untuk bertamu ke apartemen Nindy.
Di sana Mike membeli kue coklat, stoberi, dan juga vanila. Mike sendiri bingung apa kesukaan gadis itu, jadi ia memutuskan untuk memilih kue dengan rasa yang umum.
"Mbak saya pesan kue ini, ini, dan ini" Ucap Mike menujukkan ke arah kue yang berada di dalam etalase.
"Baik Mas" Pelayan itu pun mengambil makanan yang Mike tunjuk.
Selepas membeli kue Mike kembali melajukan mobilnya.
Beberapa menit berlalu akhirnya mobil Mike pun sampai di gedung apartemen dimana Nindy tinggal.
Dengan perasaan gugup Mike berjalan masuk ke arah gedung itu dan mencari pintu apartemen Nindy.
Mike begitu ingat di lantai berapa Nindy tinggal dan nomor berapa apartemen Nindy berada.
Dan kini Mike pun sudah berdiri tepat di pintu apartemen Nindy.
__ADS_1
Jari telunjuk Mike langsung menekan bell pintu dua kali.
Tak lama pintu terbuka dan menampakkan wanita yang selama ini ia tunggu-tunggu.
"Mike? Kau disini?" Nindy dibuat terkejut dengan kehadirannya, ia bahkan hampir tak percaya jika yang menekan bell adalah Mike.
"I-iya" Jawab Mike gugup.
"Kalau begitu masuklah" Nindy membuka pintu dengan lebar untuk Mike, pria itu pun mengangguk dan masuk ke dalam apartemen Nindy.
Seperti sebelumnya, Mike mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berada didalam sana.
Sama halnya dengan Nindy yang mengambil minuman untuk Mike di dapur.
Lima menit kemudian Nindy keluar dan menaruh secangkir minuman di atas meja.
"Terimakasih, maaf merepotkan mu" Ujar Mike.
"Tidak masalah" Balas Nindy.
"Ada apa Mike? Apa kau ada perlu denganku?" Tanya Nindy.
"Emm.. Iya, sebenarnya aku disuruh Nona dara untuk memberikan berkas perusahaan padamu" Mike menunjukkan berkasnya yang ia genggam.
"Eh, kenapa nona dara tidak menyuruhku untuk datang mengambilnya saja?"
"Nona dara bilang beliau tidak enak jika harus menyuruhmu untuk datang kesana. Ini ambilah" Nindy pun mengambil berkas itu dari tangan Mike.
"Terimakasih Mike"
"Ya, sama-sama"
__ADS_1
Suasana pun hening kembali, Nindy hanya menatap berkas di tangannya dengan tatapan yang menerawang entah kemana.
"Emm...Aku ingin minum teh nya" Ucap Mike membuat lamunan Nindy buyar seketika.
"Oh iya, silahkan"
Mike pun mengambil gelas tersebut dan menyesap teh hangat yang Nindy suguhkan.
Diam-diam Mike memperhatikan wajah Nindy yang muram, wanita disamping ini terlihat tidak seperti biasanya. Nindy seperti orang yang sedang banyak pikiran.
"Kau sepertinya punya masalah" Seru Mike.
"Hah?" Nindy menoleh saat mendengar perkataan Mike.
"Wajahmu begitu muram, apa kau punya masalah? Ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa membantu" Tawar Mike pada Nindy.
Nindy nampak berpikir, ada helaan nafas berat yang seakan sulit untuk ia keluarkan.
Pertanyaan Mike membuat Nindy memikirkan kembali kejadian dua hari yang lalu.
"Sejujurnya aku sedang bingung sekarang"
Mike mengangkat satu alisnya, ia begitu penasaran tentang apa yang sedang Nindy pikirkan.
"Bingung kenapa?" Tanya Mike.
"Ayahku sudah mengetahui perihal putusnya hubunganku dengan Kendrick, dan ayah sangat kecewa mengetahui jika hubungan kami berakhir karena Kendrick berselingkuh dariku. ayah menjadi semakin takut jika aku memilih pasangan yang tidak benar lagi" Ucap Nindy bercerita.
Mike mendengarkan perkataan Nindy dengan seksama.
"Lalu?"
__ADS_1
Nindy diam sebentar, sampai akhirnya wanita itu pun berkata kembali.
"Ayah ingin menjodohkan aku dengan anak sahabatnya"