
''Kalian ada masalah apa''tanya Bunda to the point.
''Gak ada kok Bun, kita baik-baik saja''.jawab Fildan gugup.
''Jagan bohongi Bunda Fildan,Bunda tau sekarang kamu sedang berbohong degan Bunda'',
''Cerita Nak jagan meyimpan apa pun dari Bunda''.
Karna tidak tega melihat Bundanya dan Fildan juga tak igin berbohong lebih lama lagi akhirnya Fildan menceritakan semuanya Bunda Fatma yang mendegarnya langsung menagis.
''Kasian Ayra''
''Tapi Fildan bagai mana pun masalahnya Ayra tetaplah istri orang, kamu tidak boleh meyembunyikan istri orang sayang''.
''Fildan tau Bun, Fildan hanya igin Ayra sembuh total dulu baru nanti Fildan antar Ayra pulang kerumahnya''.
Penjelasan Fildan membuat Bunda megerti dan merasa kasihan degan apa yang Ayra alami.
''Oh..iya Bunda tolong bilang sama Paman untuk megurus perceraian Ayra sampai tuntas Fildan gak mau Ayra berurusan degan laki-laki bajigan itu lagi Bunda''.pinta Fildan yang diangguki Bunda Fatma.
Ayra yang akan turun kebawah menghentikan langkahnya saat mendegar Fildan dan Bunda Fatma berbicara.
''Bunda tidak meyangka kalau Ayra sudah menikah dan yang paling membuat Bunda tidak habis pikir kenapa kamu tega membohongi bunda waktu itu''.ucap Bunda megigat saat Fildan megatakan iya akan menikahi Ayra.
''Maaf kan Fildan Bun''lirihnya penuh peyesalan.
''Bunda kecewa degan kalian berdua,ucap bunda degan nada sedih.
" Fildan degarkan Bunda kamu jagan terlalu dekat degan Ayra kerna sekarang Ayra masih bersetatus istri orang,Bunda tidak mau anak Bunda menjadi seorang pebinor'',
''Degar itu Fildan''sambungnya degan nada serius.
''Gak janji Bunda'' jawab Fildan santai.
''Fildan''....
''Iya...Bunda iya kalau Fildan gak khilaf''ucapnya lagi membuat mata Bunda langsung melotot.
''Ya sudah sana panggil Ayra untuk makan kalian laparkan''tanya Bunda yang diangguki Fildan dan langsung naik keatas tapi saat akan menaiki tangga terakhir iya kaget karna Ayra berdiri disana sambil menagis.
''Lho sayang kenapa''
''Gak ada Kak''jawabnya sambil megelang.
''Kak''.lirihnya lagi.
__ADS_1
''Ya''....
''Bisa antarkan Ay pulang''ucapnya penuh harap karna sungguh iya tak igin membuat laki-laki sebaik Fildan ikut menanggung masalah yang sedang iya hadapi.
''Lho kenapa bukankah kita sudah sepakat untuk tinggal dulu disini sampai wajah Adek sembuh dulu''.ucap Fikdan sambil membawa Ayra untuk duduk dikursi ruagan atas tempat biasanya mereka bermain Karaoke.
''Tapi Kak Ay gak enak sama keluarga Kakak'',
''Ay gak mau Kakak terkena masalah hanya gara-gara Ay Kak''
''Lagi pula akan banyak gosip miring yang akan menimpa kita, jika kita seperti ini''
''Dan Ay yakin degan keahlian Irfan berbohong iya akan mudah membalikkan fakta bahwa Ay lah yang berhianat''
''Ay gak mau nama baik Keluarga Kakak jadi tercoreng gara-gara semua ini.
''Izinkan Ay meyelesaikan masalah ini sendiri".. Ay janji akan meyelesaikannya degan baik''
''Lagi pula kita tidak punya bukti tentang kejahatan Irfan''.jelas Ayra panjang lebar.
''Siapa bilang kita tidak punya bukti kita bisa mendapatkan bukti,Kakak bisa meminta anak buah Papa untuk megambil rekaman CCTV waktu kejadian Adek dijual dan terjadi pembayaran dipinggir jalan didepan toko''
''Dan Kakak yakin setiap toko mempunyai CCTV'',
''Teryata laki-laki didepannya ini bukan hanya tampan tapi juga pintar.
''Kak kapan antar Ay pulang kerumah''.tanya Ayra lembut.
''Besok saja ya malam ini istirahat disini dulu sekalian besok pagi kita kerumah sakit untuk kelakukan Visum''.
''Hem baiklah jika itu memang yang terbaik'.lirih Ayra sambil melangkah turun kebawah.
''Sayang ayo makan''ajak Bunda Fatma saat melihat Ayra menghampiri ruang makan.
''Iya Bunda''jawab Ayra sambil duduk.
Selesai makan semua keluarga duduk diruang keluarga sambil menonton televisi.
''Ayra ikut Bunda sebentar Nak ''.lirih Bunda sambil berjalan menuju ruagan kerja Sang Suami.
"Bunda mau kemana".tanya Fildan yang sudah mau berdiri megikuti Bunda Fatma dan Ayra.
"Kamu diam disitu Fildan". tegas Fatma kepada anak semata wayangnya tampa mau dibantah membuat Fildan mendesah pelan.
Didalam ruagan
__ADS_1
''Ada apa Bunda''tanya Ayra takut.
''Jagan tegang gitu Bunda sudah tau kok semuanya''.
''Maksud Bunda''.tanya Ayra heran.
''Yah...Bunda sudah tau kalau kalian berbohong tentang hubugan kalian''.
''Maaf Bunda''.ucap Ayra sambil menunduk dan meremas jari-jarinya.
''Ya Bunda maafkan''
''Bunda juga ikut perihatin degan apa yang menimpa rumah tangga mu Nak''.
''Tapi untuk sementara ini Bunda mohon jagan bertemu Fildan dulu'',
''Bunda gak mau terjadi fitnah,kamu tau sendirikan gosip itu sagat cepat meyebar jadi Bunda mohon jika kamu masih igin bersama degan suamimu tolong jauhj anak Bunda, tapi jika kamu igin berpisah dari suamimu berpisahlah jika itu memang dari hatimu'',
''Bunda harap kamu pikirkan baik-baik, langkah sebesar ini dan Bunda pikir lebih baik kamu kasi tau keluargamu agar mereka yang membantumu mencari solusi'',
''Bunda tidak mau lagi hidup Fildan terpuruk seperti dulu,tolong Nak jagan berikan Fildan harapan palsu lagi''.lirih Bunda Fatma sudah mulai menagis.
Membuat Ayra menjadi ikutan menagis,Bunda benar Fildan berhak mendapatkan yang lebih baik,bukan seperti dirinya,
"Seorang wanita yang hampir saja dilecehkan ditambah lagi dirinya masih istri sah dari laki-laki lain''.
"Wanita macam apa aku ini,meginap dirumah laki-laki yang bukan mahrom ku",meskipun aku punya masalah, tak seharusnya Kak Fildan harus ikut terkena masalah, Bunda bener aku harus menjauh dari Fildan"batin Ayra merasa bersalah.
"Iya Bunda Ayra gerti ".lirihnya degan air mata yang sudah megalir.
Perlahan Bunda Fatma mendekati Ayra beliau memeluk wanita yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Degar Nak Bunda tau kamu terluka,Bunda hanya igin yang terbaik untuk Fildan,jika memang kamu bukan jodoh anak Bunda kamu mesih tetap dan selamanya akan menjadi bagian dari keluarga ini".lirih Bunda Fatma sambil menagis.
Sementara Ayra kembali menumpahkan tagisnya dipundak wanita paruh baya yang sudah iya anggap seperti ibunya sendiri,
Sungguh iya juga tak igin melukai perasaan wanita yang sudah tulus meyayangi dirinya, tapi sebesar apapun sayang Bunda degan dirinya yang pasti kebahagiaan anaknya lah' yang utama Ayra faham itu".
"Mulai dari sekarang Ayra akan mencoba untuk menjauh dari Fildan dan dia akan meyalesaikan masalahnya sendiri",
Iya sungguh tak igin membuat Fildan dalam masalah lagi, karna mencintai tak harus memiliki dan iya harus bisa ikhlas menerima garus takdir".pikir Ayra sambil terus memeluk Bunda Fatma degan erat.
Novel ini sedang direvisi.
TBC .
__ADS_1