
''Oh sudah punya suami teryata tapi masih seperti gadis''.Zen berbicara sambil meneliti wajah dan tubuh Ayra membuat Fildan outo kesal bukan main.
''Udah bukan gadis lagi sudah sering dipakai setiap saat''.celetuk Fildan degan nada geram, kemudian menarik tagan istrinya dan berjalan menjauh.meninggalkan Zen yang masih senyam-senyum sendiri.
''Aa sakit Aa''.keluh Ayra karna Fildan menarik tagannya hinga wanita itu harus berjalan degan terseret-seret.
''Bruk''.Fildan melepaskan tagan Ayra degan kasar.
"Aw sakit Aa".Ayra meringgis menahan sakit dipunggungnya akibat Fildan yang membanting tubuhnya dikursi panjang diruagan kerjanya.
"Lebih sakit hati Aa yang melihat Adek menatap laki-laki lain penuh kekaguman".oh astaga kecemburuan membuat Fildan kehilagan akal.
''Apa maksudnya Aa''?.
''Cih...kau sagat suka teryata disentuh laki-laki lain''.
Ayra diam hatinya sagat terluka mendegar apa yang Fildan katakan,perlahan iya berdiri dan melangkah pergi dari ruagan kerjanya.
"Mau kemana kamu"?..
Ayra tidak menjawab iya terus berjalan degan setegah berlari susah payah iya menahan air matanya agar tidak jatuh.iya tidak mau ada yang curiga atau pun berprasangka buruk degannya atau pun degan Fildan.untung saja Arkhan belum datang jika sudah datang pasti Kakaknya itu akan bertanya ini dan itu.
"Sayang"...kemana dia"?..Fildan celigak-celingguk mencari istrinya yang sama sekali sudah tidak terlihat.
Sementara Ayra wanita itu kini sudah duduk dikursi taman sambil meneteskan air mata,berkali-kali iya menghapus air matanya degan kasar.
"Kenapa air mata ini tetap saja menetes".sambil terus megusap air matanya degan kasar.
"Jagan nangis Ayra jagan nangis ini belum seberapa dibandingkan degan Irfan yang selalu melukai hati mu Ayra,kuat Ayra kuat".Ayra berbicara sendiri sambil tetap menghapus air matanya yang terus saja mentes.
''Boleh aku duduk disebelahmu''?..sebelum Ayra memberikan ijin orang yang berbicara degannya langsung saja duduk tanpa permisi.
''kenapa kau menaggis''.
''Bukan urusan mu''?.
''Oh..ya....ampun kau jutek sekali''.
Ayra tidak menjawab.
''Ini''.orang yang duduk disebelah Ayra megulurkan sapu tagan.
''Tidak usah''.
''Kenapa kau menaggis apa dia menyakiti mu''.
''Apa urusanmu''?..
''Jelas aku punya urusan degan masalahmu''.
''Diam lah kau sagat berisik''.Ayra berbicara sambil membalikkan bedan dan.
''Dekk''.
__ADS_1
''Irfan''.lirihnya degan nada ketekutan saat melihat Irfan tersenyum menakutkan sambil menatap Ayra.
''Kau kenapa''?..Irfan bertanya degan wajah dibuat sebaik mungin.
Ayra tidak menjawab dia bangkit dari duduknya dan melangkah igin pergi namun.
''Grep''.
Irfan langsung menarik tagan Ayra dan menarik wanita itu kedalam dekapannya.
''Lepas''.Ayra berbicara sambil meronta-ronta minta dilepas.
Dan
"Bruk"..
"Bajigan".
Fildan langsung menghadiahkan Irfan degan bogam mentahnya.hinga membuat dekapan Irfan pada Ayra terlepas.kemudian laki-laki itu terkekeh sambil membersihkan darah segar yang mangalir dari sudut bibirnya,kemudian berkata''?..
''Kenapa apa kau takut aku akan merebut istrimu,seperti kau merebutnya dari ku''?..
''Diam kau bajigan''.
Lgi-lagi Irfan terkekeh,dan menatap Fildan degan cubiran mengejek.
''Apa kau tau cinta dan benci itu sagat berdekatan''?..sekarang mungkin Ayra sagat mencintaimu tapi besok siapa yang tau"?..
"Jika kau yakin itu tidak mungkin terjadi kenapa kau setakut dan semarah itu".
Fildan tidak menjawab iya malas untuk berdebat degan laki-laki seperti Irfan.iya menarik tagan Ayra kemudian membawa wanita itu pergi dari sana.
"Aa sakit Aa".Fildan tidak perduli iya terus menarik tagan Ayra dan.
"Bruk".
"Aww...sakit Aa".Ayra menjerit kesakitan saat Fildan mendorong tubuhnya masuk kedalan mobil degan kasar.
"Pelan-pelan Aa Ay takut".Ayra sudah menangis sesegukan sambil memasagkan safety belt doi benar-benar takut sekarang.
"Aa pelan Aa Ay takut".Fildan tak bergeming iya hanya diam saja,sorot matanya yang biasanya sayu kini berubah menjadi tajam dan memerah. sungguh laki-laki ini sedang dipenuhi amarah sekarang.
"Kalau Aa gak mau barenti Ay lompat sekarang Aa"?.ancam Ayra berharap laki-laki disebelahnya mau mendegarkan.
Nihil Fildan tetap pada pendiriannya,hingga beberapa saat kemudian mobil yang Fildan kendarai sampai kesuatu tempat yang Ayra sendiri tidak tau tempatnya dimana.
"Kita dimana Aa".lirih Ayra sudah menanggis ketakutan.
Fildan tidak menjawab iya degan cepat membuka pintu mobil dan lagi-lagi menarik tagan Ayra menuju sebuah rumah yang ada ditenggah-tegah hutan.
Seketika itu tubuh Ayra bergetar iya benar-benar takut sekarang.
"Aa lepas Aa Ay takut".
__ADS_1
"Kenapa apa sekarang Adek jijik Aa sentuh"?..
"Bukan begitu Aa".Ayra berbicara sambil berusaha meraih tagan suaminya yang sudah lebih dulu menepis tagannya.
"Lalu".
"Ay cuman takut disini Aa".lirih Ayra degan suara terisak.
"Kenapa Adek mesti takut bukankah selama ini Adek hidup degan laki-laki lain,juga dipelosok kampung,apa selama ini Adek pernah merasakan takut"?...
"Ha..jawab Aa Dek".setelah megatakan itu Fildan terkekeh kemudian berkata.
"Aa yang bodoh Dek mencintai Adek seperti orang gila".Fildan mulai tertawa kuat-kuat mebuat Ayra berinsut mundur.
"Aa mencintai Adek seperti orang bodoh hinga rela menunggu janda Adek bahkan memperjuangkan Adek yang saat itu masih istri orang".
"Aa".Ayra berusaha mendekat tapi degan cepat ditepis Oleh Fildan.
"Bahkan Aa tidak tau apa kah Adek mencintai Aa lagi atau tidak"?..
"Pernah-kah Adek tau bahwa disetiap detak nadi Aa hanya ada nama Adek,disetiap napas Aa hanya ada nama Adek,Ayra...Ayra...dan Ayra...kenapa nama ini sulit untuk Aa lupakan. bahkan Adek meninggalkan Aa selama bertahun-tahun,tapi Aa tetap setia,dan sekarang Adek juga igin menyakitai Aa lagi, degan cara selingkuh degan laki-laki lain atau bahkan akan kembali degan mantan suami Adek".
"Dekk".
Hati Ayra rasanya saakit sekali mendengar apa yang Fildan katakan,sekejam itu kah dirinya kenapa suaminya begitu tega menuduhnya tampa bukti,selama menikah degan Fildan bahkan Ayra tidak pernah dekat degan laki-laki lain,lalu kenapa degan teganya Fildan menuduhnya yang tidak-tidak.
"Ay tau Ay salah Aa,tapi Aa benar-benar tidak tau jika yang duduk disebelah Ay adalah Irfan".Ayra berbicara samabil berjalan mendekati Fildan.
"Cih tidak sengaja mustahil Adek tidak megenal suaranya".
"Tapi beneran Aa Ay berani sumpah".Ayra msih berusaha untuk menyentuh suaminya,untuk saat ini biarlah dirinya yang menggalah,sebab jika mereka sama-sama keras kepala semuanya akan semakin kacau nanti.
"Aa Ay sayang sama Aa, Ay cinta sama Aa,tapi kenapa Aa tidak percaya Aa"?..bahkan Aa tega menuduh Ay yang tidak-tidak".Ayra berbicara sambil tagannya memeluk pinggang suaminya dan megelus-elus perut sispex suaminya.
"Jagan memancing Dek"?..Atau kau akan menyesal nanti".Fildan berbiacara sambil menangkap tagan Ayra.
"Apa Aa tidak megiginkan Ay"?...
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yah babang Fildan cemburunya kebangetan.
Hadiah dong like vote and komen.
Makasih
Bay...bay...😍😍😍
Yuk mampir dinovel outhor yang lain gak kalah seru lho.
Tbc.
__ADS_1