
#####
Aku merasa Anggita seperti menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya, apalagi dengan ekspresinya sekarang. Aku semakin curiga dibuatnya.
"Kenapa? Muntah lagi?" tanyaku kemudian, mencoba menyembunyikan kecurigaanku.
Anggita menggeleng.
"Mual?"
Anggita kembali menggeleng dan kali ini sambari memasang senyum canggungnya.
"Terus?" desakku agar Anggita jujur.
"Nggak papa kok. Kenapa nyari aku?" tanya Anggita.
"Enggak, cuma mau ngasih tahu kalau sarapan sudah siap."
"Iya, nanti aku nyusul. Kamu duluan aja, aku masih mau cuci muka dulu."
Gue menyipitkan mataku heran sesaat. Kami sudah tinggal bersama cukup lama, jadi aku tahu betul wajah Anggita saat baru bangun tidur dan belum mencuci muka. Keduanya jelas berbeda, dan aku yakin kalau Anggita sudah mencuci wajahnya. Lalu kenapa dia berbohong?
Aku semakin terheran-heran saat melihat Anggita buru-buru menutup pintu kamar mandi. Kenapa sih? Batinku penasaran.
Aku mencoba mengabaikan rasa penasaran dan hendak kembali ke dapur. Namun, langkahku tiba-tiba terhenti, aku menoleh ke arah meja rias Anggi lalu berjalan menghampirinya. Entah dapat dorongan dari mana, aku tiba-tiba penasaran dan membuka laci meja. Mencari keberadaan testpack yang kubelikan kemarin, namun tidak ada. Perasaan kemarin ditaruh sini. Kenapa tidak ada? Apa sesuatu yang disembunyikan Anggita tadi adalah testpack?
"Nyari apaan, Ar?"
Aku menoleh ke asal suara dan menemukan Anggita sudah keluar dari kamar mandi. Aku kemudian tersenyum dan menggeleng, lalu memilih untuk mengajaknya untuk segera sarapan.
"Enggak. Yuk, sarapan dulu," ajakku sambil merangkul pundak Anggita.
"Yakin nggak mau ke dokter aja?"
Anggita menggeleng. "Enggak usah. Aku nggak papa kok."
Aku mengangguk, mencoba memahaminya. Meski sebenarnya Anggita tipekal yang perlu dipaksa untuk urusan pergi ke rumah sakit atau pun dokter. Tapi kali ini aku mencoba untuk tidak memaksanya.
Apa lagi melihat Anggita yang tampak menikmati sarapannya dengan cukup lahap. Membuatku berpikir kalau memang sepertinya belum perlu ke dokter.
"Jadi nanti aku pergi ke acara Hasan sendiri?" tanyaku di sela sarapan kami.
Anggita menghentikan kunyahannya dan menatapku. "Menurut kamu gimana?" tanyanya malah berbalik bertanya.
"Ya, terserah kamu. Cuma kalau rasanya masih kurang enak badan ya, enggak usah. Takutnya malah kenapa-kenapa di sana kan repot."
__ADS_1
"Kamu dateng sendiri nggak masalah?"
Aku mengangguk tidak masalah. "Kamu-nya sendiri nggak masalah aku tinggal?"
Anggita mengangguk sebagai tanda jawaban, lalu kembali sibuk mengunyah.
"Ya, udah nanti aku dateng sebentar terus langsung pulang, ya. Nggak enak juga soalnya kalau nggak mau dateng."
"Iya, nggak papa. Aku udah enakan kok."
######
Akhirnya aku benar-benar pergi ke acara lamaran Hasan seorang diri. Sebenarnya kalau acara lamarannya tidak diadakan di Restoran Gani, aku mungkin akan absen untuk hadir. Tapi berhubung acaranya diselenggarakan di sana, otomatis aku harus datang, minimal untuk mengecek bagian konsumsi.
"Sendirian aja lo, Anggi nggak ikut?" tanya Gani sambil menepuk pundak, lalu duduk di sebelahku.
Aku menggeleng. "Lagi nggak enak badan. Jadi gue suruh istirahat di rumah."
"Sakit?"
"Masuk angin kayaknya, emang beberapa hari ini suka mual gitu, tadi pagi malah sampai muntah. Tapi mau gue ajak ke dokter nggak mau. Susah emang."
Gani ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Oh, kalau sampai muntah gitu mending diperiksain, Ar, takutnya kenapa-kenapa. Atau jangan-jangan hamil." Ia terkekeh sambil mencomot hidangan dari meja.
Membuatku tiba-tiba teringat dengan keanehan Anggita beberapa hari terakhir.
Dengan wajah semangatnya, Gani mengangguk. "Meski kebanyakan orang tahunya gue yang aneh-aneh, tapi tetep aja Anya juga kayak gitu kok. Misalnya, dia itu nggak bisa tidur kalau nggak peluk gue. Malah waktu gue ngambek, pas gue belum tahu dia hamil, dia makein baju gue di guling terus dia peluk. Kan aneh tuh? Emang ajaib kan emaknya anak gue. Ah, cinta mati gue sama dia," ceritanya panjang lebar, "tuh, liat body bini gue! Dulu sempet bohay tuh waktu hamil si Gavin, eh, begitu bocahnya gedean dikit sexy lagi. Ah, makin cinta mati deh gue."
Tanpa sadar aku menoleh ke arah Gani menunjuk. Di sana ada Anya, sedang berbincang dengan salah satu staf sambil menyuapi Gavin yang ada di pangkuannya. Memang benar apa yang diucapan Gani barusan, kalau secara bentuk tubuh Anya memang oke. Apalagi kalau diingat-ingat Anya memang sempat mengalami kenaikan berat badan lumayan ketara saat hamil, tapi begitu melahirkan tak lama setelahnya ia kembali ke bentuk tubuh sebelum hamil. Mungkin karena dia dokter kali, ya, jadi tahu diet aman buat ibu menyusui tanpa mengurangi kwalitas air susu. Mungkin saja, ya, aku sendiri juga tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Udah nggak usah gitu banget ngeliatinnya. Yang ini nggak bakalan gue kasih ke lo."
Aku melongo dan menatap wajah Gani dengan tatapan bingung.
Maksudnya?
Gani tidak menjelaskan apa-apa, ia hanya tertawa. Tapi kali ini aku langsung tersadar. "Sialan," umpat gue kesal, "gue juga nggak tertarik sama janda, ya, apalagi dua kali dan udah punya buntut," balasku kesal.
Kali ini Gani yang mengumpat, "Sialan. Bini gue dulu emang janda, ya, tapi janda kualitas super dong. Lagian jangan salah, Ar, janda itu lebih menggoda. Ngerti nggak lo?"
Aku menatap Gani datar. "Enggak."
"Ah, emang sialan lo. Udah jadi suami orang kelakuan masih gitu-gitu aja. Dicerai baru tahu lo, jadi duda lo, ntar dapetnya janda. ******!"
Karena kesal gue langsung melempari wajah Gani menggunakan tisu bekas. "Mulut lo, Ar! Dijaga sedikit nggak bisa?"
__ADS_1
"Enggak," balas Gani tak mau kalah.
Astaga, padahal niatnya tadi aku mau curhat. Kalau sudah begini lebih baik aku pulang saja.
Aku kemudian berdiri. "Tahu lah, mau balik gue."
"Buru-buru amat, mentang-mentang udah ada bini yang nunggu di rumah," ejek Gani.
Aku tidak peduli. Gani itu sedikit mirip dengan Riki, kalau aku ladenin makin menjadi. Sekarang aku heran, dulu kenapa aku bisa berteman dengan mereka berdua sih? Bahkan kami masih berteman cukup akrab setelah masing-masing dari kami sudah menikah dan punya anak.
######
Saat aku pulang, Anggita sedang tidur di sofa. Aku ingin membangunkannya, namun tidak tega. Akhirnya, aku memutuskan untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Setelah berganti pakaian, aku kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahku. Langkahku terhenti saat melihat bungkus testpack yang kubeli kemarin ada di keranjang sampah. Jadi, Anggita benar-benar sudah mencobanya? Senyumku langsung terbit, aku kemudian langsung mencari keberadaan testpacknya. Namun tidak kutemukan, padahal aku sudah mencarinya di mana-mana.
"Diumpetin di mana sih?" gumanku kebingungan.
Astaga, aku penasaran dengan hasilnya. Kira-kira positif atau negatif ya?
Eh, tunggu! Kalau hasilnya negatif udah pasti hasilnya dibuang tidak mungkin disimpan. Berhubung di tempat sampah tidak ada, kemungkinan besar Anggita hamil?
Astaga, aku akan jadi Ayah?
Aku kemudian keluar kamar, ingin membangunkan Anggita dan menanyakan perihal testpacknya tapi tidak tega. Anggita terlihat begitu pulas tidurnya, masa aku tega membangunkannya.
Aku perlahan menghampirinya, berjongkok di sisi Anggita lalu membelai rambutnya. Hal ini ternyata membuat tidur Anggi terusik, ia menggeliat sesaat sebelum akhirnya membuka mata.
"Udah pulang?" tanya Anggita sambil mengucek mata dan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
Aku mengangguk, kemudian duduk di sisi kirinya.
"Udah enakan?" tanyaku.
Anggita mengangguk, lalu merangkul lengan dan menyandarkan kepalanya pada pundakku. "Ngantuk," gumannya kemudian.
Aku tersenyum saat mendapati kedua mata Anggita kembali terpejam. Rambutnya kembali kuusap lembut.
"Kamu nggak mau ngasih aku kabar apa gitu?"
"Kabar apa?" Anggita malah bertanya dengan wajah bingungnya.
Aku pura-pura memasang wajah seolah-olah tidak tahu. "Kali aja ada hubungannya sama kelakuan aneh kamu beberapa hari ini."
"Enggak ada. Nggak usah aneh-aneh," balas Anggita santai.
Tubuhku menegang. Kenapa Anggita tidak mau mengaku?
__ADS_1
Tbc,
😭😭😭😭😭😭 Huaaa, mon maap kemarin gagal up lagi. Jadi, ceritanya kemarin aku agak flu gitu, trs obat flu yg aku minum efeknya bikin aku tidur super pules. Akhirnya, ya, aku kebanyakan molor gitu kemarin🤣🤣🤣 syuyah sekali mau bikin part ini karena ujung-ujungnya saya ketiduran. Mon maap ya, karena secara gk langsung udh php😂 semoga hari ini bisa kuganti ya. Aamiin. see you next part🥰😘😍