Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Spesial Part : Pov Author


__ADS_3

######


Randu lupa kapan terakhir kalinya ia merasakan hatinya berbunga-bunga. Selama beberapa tahun terakhir fokusnya memang hanya kepada sang adik semata wayang, karena kedua orangtuanya telah tiada. Apalagi dengan profesinya sebagai dokter, membuatnya semakin tidak memikirkan urusan hati. Yang ada di benaknya hanya mencari uang untuk biaya kuliah dan kebutuhan lainnya.


Randu terlalu menyayangi Hana, adiknya, sehingga ia masih enggan untuk mencari pasangan hidup sebelum kehidupan sang adik mapan. Hal ini sering kali menimbulkan perasaan bersalah pada diri Hana. Ia merasa seperti begitu membebani sang kakak.


Tapi pertemuannya dengan Anggita kemarin benar-benar merubah segalanya. Ia kembali menginginkan sebuah relationship, dan mulai berani memikirkan masa depannya sendiri. Tidak lagi memfokuskan masa depan Hana yang kini akan memulai bekerja dan juga kuliah lagi di Bandung. Menurutnya, ini waktu yang tepat baginya untuk membuka hati kembali. Setelah hubungannya dengan dokter spesialis patologi klinis berakhir kandas sejak empat tahun yang lalu.


"Han, menurut kamu tetangga kamu yang tadi cantik enggak?"


"Maksud Mas Randu, Mbak Anggi tadi?"


Randu langsung mengangguk, membenarkan.


Hana mengangguk. "Cantik."


"Kalau jadi Mbak ipar-mu kamu mau enggak?"


Mendengar pertanyaan sang kakak, Hana langsung menertawakannya. "Kayak Mbak Anggi-nya mau aja sama Mas Randu aja. Hana sih ragu kalau Mbak Anggi mau," ledeknya kemudian.


Randu langsung memasang wajah cemberut, kala mendengar ledekan sang adik. Mentalnya mendadak down, padahal sebelumnya ia begitu optimis ingin mendekati Anggita.


"Kalau mau doain kakak itu yang baik dong, masa jelek begitu," rajuk Randu dengan wajah kesalnya.


Hal ini tentu saja disambut gelak tawa sang adik. "Lagian belum tentu Mbak Angginya masih available loh, Mas. Biasanya yang cantik sih udah taken. Dan menurut aku kayaknya Mbak Anggi minimal udah punya pacar atau jangan-jangan malah udah punya suami."


"Tapi feeling Mas masih available kok."


"Sok tau," cibir Hana.


"Mau taruhan?"


"Enggak," tolak Hana mentah-mentah.


"Dih, cemen," ledek Randu mengompori. Tapi diabaikan Hana begitu saja, bahkan perempuan berjilbab itu kini malah melenggang menuju dapur begitu saja, tanpa memperdulikan wajah kesal sang kakak.


Randu kemudian berdiri dan menyusul Hana. "Apa Mas pindah ke Bandung nemenin kamu ya?"


"Biar apa?"


"Biar cepet menangin hati calon kakak iparmu lah," balas Randu dengan percaya dirinya.


"Jangan aneh-aneh deh, Mas. Udah deh, Mas Randu mending balik ke Jakarta sekarang aja, dari pada makin ngelantur nggak jelas begini."


"Ah, kamu mah nggak asik, enggak ngedukung Masnya yang pengen dapet calon istri. Kemarin katanya suruh nyari cepet-cepet, eh, giliran nemu kandidat yang cocok responnya malah begini," protes Randu semakin cemberut.

__ADS_1


Hana menghela napas panjang. Bukan maksud ia menghalang-halangi niat baik sang kakak. Ia hanya tidak ingin kakaknya ini terlalu berekspektasi tinggi namun pada akhirnya akan kecewa. Ia sangat menyayangi sang kakak. Terlebih lagi hanya Randu lah yang ia miliki saat ini. Ia tidak ingin kakak tersayang ini kembali terluka seperti empat tahun yang lalu.


"Enggak begitu maksudnya, Mas. Hana cuma pengen Mas Randu lebih hati-hati, cari tahu dulu status Mbak Anggi baru pasang niat buat dapetin. Bukannya udah halu tinggi-tinggi, eh, tahunya udah jadi suami orang. Nanti siapa yang kecewa? Mas Randu sendiri lho."


"Ya, kamu jangan begitu dong doainnya. Ucapan itu adalah doa lho," balas Randu sambil memasang wajah sedihnya.


Hana menghela napas. "Bukannya ngedoain yang jelek, Mas, tapi buat antisipasi aja. Biar kuat iman nantinya."


"Tapi kan kalau kamunya begitu Mas jadinya harus mikir-mikir lagi."


"Kan emang tujuannya itu, Mas. Biar Mas Randu mikir-mikir dulu sebelum bertindak."


Randu menoleh ke arah Hana sewot. "Kamu pikir Mas kalau mau ambil keputusan tanpa mikir dulu gitu?"


"Kadang iya, kadang cuma mikirin aku doang. Itu nggak baik buat Mas Randu loh," balas Hana sesuai fakta.


Kalau sudah dalam mode ini, Randu tidak bisa berbuat banyak. Meski usia mereka terpaut cukup jauh, adiknya ini justru sering kali lebih dewasa. Yah, benar terkadang keadaan sekitar bisa jadi penentu sikap seseorang. Kehidupan yang mereka jalani dulu cukup sulit sebelum Randu mendapat gelar dokter bahkan gelar spesialisnya. Harta warisan yang ditinggalkan kedua orangtuanya bisa dibilang hanya cukup untuk biaya pendidikan keduanya, karena untuk biaya kuliah kedokteran sendiri cukup mahal.


Karena malas berdebat dengan Hana, Randu akhirnya kembali ke ruang tengah, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari dapur. Sebenarnya, awalnya Hana menolak untuk tinggal di apartemen, menurutnya lebih baik ia tinggal di kostan saja. Tapi berhubung Randu memaksanya, ia jadi tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana pun juga kuliah S2 masih ditanggung oleh sang kakak setengahnya, setengahnya lagi ia bayar sendiri. Itu pun hasil dari bertengkar satu minggu. Bagi Randu pendidikan adalah yang utama, kalau adiknya ingin sekolah tinggi ia tidak akan melarang, bahkan akan mendukungnya secara penuh. Salah satunya dengan menyewakan apartemen untuknya.


Randu kemudian mengeluarkan ponselnya dan memilih memainkan game sambil rebahan di sofa.


"Jadi Mas Randu balik ke Jakarta kapan?"


"Liat nanti," balas Randu cuek.


Kali ini Randu menurunkan ponselnya. "Kamu ngusir Mas?"


"Astagfirullah, nggak boleh su'udzon! Hana cuma tanya lho. Maksudnya kan besok harus masuk kerja, nggak sebaiknya nanti sore aja?"


"Masalah itu gampang. Nanti deh abis ketemu Anggi."


"Mas!!" seru Hana mulai kesal.


"Kenapa sih?" balas Randu tak kalah kesal.


"Jangan naksir Mbak Anggi dulu deh, sebelum tahu status Mbak Anggi dengan pasti. Oke?"


"Iya."


"Bener loh?"


"Iya, adekku sayang. Ngomong-ngomong gimana hubungan kamu sama yang itu?"


Mendadak Randu tidak berselera lagi untuk bermain game, karena sebenarnya bermain game memang bukanlah hobinya. Ia hanya memainkan game saat sedang bingung hendak ngapain. Ia kemudian meletakkan ponselnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.

__ADS_1


"Siapa?" Kening Hana mengerut bingung. Tak paham arah pembicaraan sang kakak.


"Yang ngajak kamu foto pas wisuda kemarin."


"Astaga, maksud Mas Randu Fahmi?"


Randu mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jawaban. Karena memang ia tidak begitu ingat dengan nama pria, yang sepertinya menaruh perasaan dengan adiknya.


"Iya, kali."


"Ya emang Mas Randu ngarep aku sama Fahmi ada hubungan apa? Jangan ngaco deh, kami ini cuma temenan, Mas."


"Ya, enggak papa loh, Han. Awalnya temenan lama-lama juga jadi demenan. Mas setuju aja kok kalau kamu sama dia, kalau mau pacaran dulu boleh, mau langsung nikah apalagi. Mas dukung seratus persen."


"Apaan sih? Ngaco! Enggak ada, kita cuma temenan nggak lebih."


"Tapi kayaknya dia nganggepnya lebih loh, Han."


"Kebiasaan sok tahunya."


"Mas ini cowok loh, jadi Mas tahu. Emang kamu enggak ngerasa?"


Dengan wajah polosnya, Hana menggeleng.


"Kita cuma temenan, Mas, serius."


Meski ingin menjitak kepala sang adik, kali ini Randu mencoba untuk bersabar. Ia bahkan langsung menganggukinya begitu saja.


"Tapi sekarang Mas tanya, dia suka ngechat kamu nggak?"


"Nggak ada hubungannya, Mas."


"Jawab aja. Sehari chat berapa kali?"


Mendadak Hana sewot. "Apaan? Emangnya Hana sekurang kerjaan itu ngitungin chat orang berapa kali. Enggak, ya, Hana sibuk."


"Kan, apa juga Mas bilang. Itu salah satu bukti kalau dia naksir kamu. Kamu-nya aja yang nggak peka."


Hana geleng-geleng kepala, lalu berdiri. "Terserah kamu, Mas."


"Kok terserah?" Randu menerjap bingung menatap punggung Hana yang kian menjauhinya. Sedang Hana memilih mengabaikannya begitu saja.


Tbc


spesial part ini buat ngeganti karena kmren gk up, ya. doain nnti malem bisa up lagi. okeh?๐Ÿ˜‰

__ADS_1


see you bubay,๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜โค๏ธ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜


__ADS_2