
######
"Lama banget sih," gerutu Aro sambil melirik alrojinya.
Gue tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Sabar dong, Ar. Bentar lagi giliran kita."
Aro berdecak, berdiri lalu berjalan mondar-mandir demi mengusir bosan, lalu kembali duduk lagi. Lagi-lagi gue hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Aro sepertinya terlalu antusias dengan kehamilan gue, ya meski kebanyakan suami demikian, tapi menurut gue Aro sedikit kesulitan mengontrol diri. Apa cuma perasaan gue saja?
"Ibu Anggita Rahmawati," panggil seorang perawat.
Kami secara otomatis langsung berdiri dan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, mari silahkan duduk!" sambut sang dokter, mempersilahkan kami duduk dengan ramah.
Dokter wanita paruh baya ini tersenyum. Ia tampak cantik dan anggun dengan jilbab orangenya.
"Mau periksa kandungan?" tanyanya ramah.
Aro mengangguk.
"Sudah ke bidan terlebih dulu sebelumnya? Atau rumah sakit lain misalnya?"
"Belum dok, baru tes pake testpack aja," jawab gue.
"Oh, berarti belum dapet buku KIA, ya."
Gue mengangguk, membenarkan. Mendadak jantung gue terasa berdebar-debar.
Dokter yang kuketahui bernama Rita, dari nametag-nya itu kemudian memanggil perawat. "Sus, siapin buku KIA, ya. Sama ditensi dulu ibunya."
"Baik dok."
"Udah telat berapa minggu kalau boleh tahu?"
"Kebetulan siklus haid saya kurang teratur sih, dok."
"Oh, mau usg langsung saja?"
Gue mengangguk setuju. Perawat yang mentensi gue kini mulai melepas alatnya.
"90/10 dok."
Dokter Rita sedikit terkejut. "Loh, kok rendah. Emang biasanya suka rendah? Normalnya berapa biasanya?"
"100/110 sih paling, dok."
Dokter Rita mangguk-mangguk. "Berarti pusing sekarang?"
Gue meringis. "Sedikit. Cuma kadang agak lumayan."
"Kalau normalnya segitu, 90 termasuk rendah, ya, dan efeknya biasanya pusing. Tapi nggak papa, nggak usah khawatir bisa dibantu makan sayuran hijau, seperti sawi, brokoli dan bayam. Kalau nggak terlalu suka brokolinya disayur atau bosen disayur, bisa digoreng crispy. Bisa juga buat cemilan buat selingan,eski sebenernya lebih bagus disayur. Terus selain itu bisa ditambah makan buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, daging merah, ayam, seafood, telur, dan susu juga bagus," kata dokter Rita menjelaskan, kemudian menyuruhku berbaring di atas brankar.
"Bajunya bisa agak dinaikkan sedikit," intruksinya kemudian, "Sus, bisa dibantu ibunya."
"Ya, dok."
Perawat itu langsung mengoleskan gel pada alat usg sebelum diarahkan ke permukaan perutku.
"Oh, udah keliatan," ucap dokter Rita sambil menunjuk layar monitor, gue sedikit melongok ke arah layar.
Gue nggak tahu ini efek hormon kehamilan atau apa. Yang jelas begitu melihat ke arah layar dan menemukan setitik kecil berbentu mirip seperti kacang itu, perasaan gue mendadak terharu. Bahkan gue tidak bisa menahan linangan air mata gue.
"Masih kecil, masih kayak kacang ya. Masuk 8 minggu itu, udah ada detaknya juga," kata dokter Rita menjelaskan, beliau tampak terkejut saat menoleh ke arahku. Ia terkekeh sebentar lalu maklum. "Sus, tisu, Sus."
Beliau kemudian membantu mengelap linangan air mataku. Gue meminta maaf karena sungkan sambil menerima tisu tersebut.
"Enggak papa. Udah biasa. Langsung dibersihkan sekalian perut ibunya, Sus."
"Baik dok."
Aro menggenggam telapak tangan gue sambil tersenyum dan mengangguk. Gue tidak terlalu yakin dengan apa yang ia rasakan, tapi menurut penglihatan gue kedua matanya tampak memerah meski tidak begitu ketara.
Dokter Rita kembali ke tempat duduknya, lalu gue turun dari brankar dibantu Aro dan kami kembali ikut duduk di hadapan dokter Rita.
Beliau tampak mulai sibuk menulis di atas buku KIA. "Selain pusing tadi ada keluhan lain? Misal mual atau muntah?"
"Beberapa hari yang lalu sempet muntah, dok, tapi kalau hari ini mual aja. Tapi sering," jawab Aro cepat.
Dokter Rita mangguk-mangguk paham lalu kembali menulis. "Sempet dikira masuk angin biasa, ya?"
Gue mengangguk. Sedang Aro menggeleng.
"Saya sudah curiga dari awal."
Dokter Rita tertawa. "Wah, suaminya ternyata peka, ya, udah punya firasat. Udah minta yang aneh-aneh ya si ibu?" guraunya kemudian.
Kali ini gue ikut tertawa. Tidak tahu saja betapa payah dan tidak pekanya Aro dulu, sekarang sih sudah lebih baik.
"Ini ada resep vitamin dan penambah darah juga. Bisa ditebus di apotik nanti."
"Istri saya mualnya agak parah hari ini, dok."
"Iya, ini sudah sama obat anti mual juga. Meski terasa mual dan nggak nyaman, jangan enggak makan, ya. Tetep harus diusahakan makan sedikit-sedikit biar ada tenaga, nanti kasian dedeknya juga.
Kami mengangguk paham, Aro menerima buku KIA dan juga selembar resep yang harus kami tebus, tak lupa sambil mengucapkan terima kasih. Setelahnya kami berpamitan dan keluar dari ruangan.
"Jadi mau makan apa nanti?" tanya Aro begitu kita keluar dari ruangan.
Gue menghela napas sedih. Entah kenapa perasaan gue masih sedikit trauma dengan makanan. Bukan apa-apa, rasanya gue nggak sanggup jika harus kembali merasakan mual menyerang.
"Pikirin nanti deh."
"Kok nanti-nanti terus? Kamu dari tadi belum makan lho, baru makan roti."
"Ya, enggak papa, yang penting udah keisi."
__ADS_1
"Ya, harus yang bergizi juga dong. Kan sekarang nggak cuma buat kamu tapi buat dedek bayinya juga."
Gue memasang wajah cemberut. "Aku masih trauma, Ar, takut mual."
"Ya, kan ini nanti minum obat anti mual. Kan kata dokternya meski mual tetep harus makan, enggak boleh sampai nekat dan nggak makan kan?"
Gue mengangguk patuh. "Iya," jawab gue pasrah.
"Iya, apa? Jangan iya-iya aja dong," decak Aro terlihat mulai kesal kembali. Ia kemudian merogoh ponselnya sambil menggerutu, "Siapa juga ini."
"Kenapa?"
"..."
"Masih di RS."
"...."
"Enggak, udah tinggal tebus obat vitamin."
"...."
Aro berdecak kesal. Seharian ini perasaan dia sering banget berdecak.
"Enggak bisa, gue izin sehari, Gan. Bukan setengah hari, istri gue lagi butuh gue. Plis, ngertiin gue meski lo nggak ngerasain apa yang gue rasain. Bisa?"
"...."
Aro kembali berdecak. "Ya udah, iya gue mampir abis dari sini."
"...."
"Bodo amat," tutup Aro terlihat kesal.
Gue mengernyit heran. Gue rasa Aro lumayan sensitif seharian ini.
"Kenapa?" tanya gue hati-hati.
"Gani minta aku dateng ke Resto nih, mampir sebentar nggak papa, ya?"
Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Ya, enggak papa. Atau kalau mau kamu ke Resto sendiri terus biar aku naik taksi juga nggak--"
"Enak aja," potong Aro cepat.
"Hah?" Gue melongo.
"Kamu pikir aku sepayah itu jadi suami? Bisa dihujat netizen aku kalau ngebiarin istrinya yang lagi begini kondisinya pulang naik taksi sendirian." Aro menggeleng tegas, "aku nggak tertarik buat bahan hujatan mereka," imbuhnya kemudian.
Mendengar responnya, gue hanya mampu tertawa dan geleng-geleng kepala. Ada-ada aja si Aro ini. Gue kemudian meraba perut rata gue. Astagfirullah, Nak, Papamu kok kelakuannya begini amat semenjak ada kamu.
######
"Thanks ya, Gi udah mau diajak mampir ke sini dulu. Dapur lagi riweh, butuh suami lo. Gimana kondisi lo sekarang? Baik-baik kan?" sambut Mas Gani begitu kami tiba di Restorannya.
"Titip istri gue bentar, ya, jangan dimodusin," kata Aro pada Mas Gani, ia kemudian beralih padaku, "kamu sama Gani dulu, ya. Aku ke dapur dulu, kalau pengen sesuatu bilang ke dia aja. Jangan sungkan! Minta sesuatu yang nyeleneh kalau perlu, meski kamu nggak pengen-pengen banget juga boleh." Ia menepuk pundakku pelan dan langsung melesat ke dapur tanpa mengganti pakaiannya.
"Sialan, untung gue butuh keringetnya," umpat Mas Gani sambil menggerutu.
Gue melongo. "Hah? Maksudnya gimana, Mas?"
Gani meringis sambil menggeleng. "Enggak, nggak papa. Naik ke ruangan aku, yuk! Di atas ada Gavin loh."
Gue mengangguk antusias. Saat kami hendak menaiki anak tangga, Aro tiba-tiba muncul dan memanggilku.
"Yang, pesen makan dulu baru naik, ya. Atau suruh Gani panggil waiters naik bawa buku menu."
Setelah mengatakan itu Aro langsung bergegas ke dapur. Kalau dilihat dari ekspresinya, gue tebak keadaan dapur cukup sibuk dan ada beberapa hal yang membuatnya kesal.
"Dia emang super galak kalau di dapur, Gi. Enggak sesuai dengan yang dimaksud sedikit aja bisa ngamuk hampir seluruh staf dapur. Prinsip Aro emang work team, satu salah, yang lain kena. Apa lagi kalau lagi sensi, semua kena. Gue aja juga bisa kena damprat dia. Paling cuma dapur rumah kalian aja sih yang jinak. Iya kan?" Mas Gani terkekeh geli menceritakan cara kerja Aro, "naik ke atas dulu, gih! Aku turun dulu ambil buku menu. Nggak papa. Santai, nggak banyak yang tahu kamu mantan aku," kekehnya sekali lagi, dan kali ini sambil berbisik, seolah takut ada yang mendengar.
Astaga, model yang beginian ternyata pernah jadi mantan gue.
Gue kemudian hanya bisa geleng-geleng kepala lalu naik ke lantai atas dan masuk ke ruangan Mas Gani.
"Gavin!" seruku memanggil Gavin yang tampak sedang tengkurap di atas kasur berukuran kecil. Rupanya ruangan Mas Gani sudah disulap menjadi ruang kerja dan juga tempat istirahat sekaligus tempat bermain Gavin.
Gue langsung menghampiri dan memangkunya. Menciumi pipi gembilnya secara bergantian.
"Tiap hari ke sini, Mbak?" tanyaku pada Mbak Ajeng, pengasuh Gavin.
"Seringnya iya, Mbak, cuma kadang kalau Ibu nggak praktek ya di rumah aja. Tapi kadang tetep di rumah sih kalau Bapak ke sini terus si Ibu dapet telfon dari RS mendadak, soalnya seringnya Bapak juga langsung pulang kalau Ibu dapet telfon dari RS dan harus pergi."
Gue tersenyum sambil ber'oh'ria, lalu mengajak Gavin mengobrol meski gue tahu tidak akan ada jawaban dari Gavin.
"Mbaknya sendiri, tumben ikut? Mbaknya istrinya Mas Chef kan?"
Gue mengulum senyum dan mengangguk, membenarkan. "Iya, saya istrinya Aro, Chef di sini. Kebetulan tadi pas Mas Gani telfon kita masih di RS, dari pada harus pulangin saya ke apartemen mending saya ngikut dulu ke sini. Begitu."
"Oh, Mbaknya lagi sakit? Mukanya juga agak pucet."
Gue menggeleng. "Alhamdulillah sehat, Mbak, abis cek kandungan."
"Oalah, udah isi to, tak kirain belum. Ya ampun, selamat, Mbak." Dengan wajah tulusnya Mbak Ajeng memberiku selamat dan mengajakku berjabat tangan, "udah berapa minggu?"
"Udah masuk delapan minggu."
Tak lama setelahnya, Mas Gani masuk ke dalam kamar sambil membawa buku menu dan buku nota.
"Gavinnya kasih Ajeng dulu, Gi. Nih, kamu pilih makan dulu. Takut kena damprat suami kamu yang lagi kebakaran jenggot di dapur."
Gue menyerahkan Gavin pada Mbak Ajeng dan menerima buku menu dan buku nota yang Mas Gani sodorkan.
"Mau pesen apa tinggal kamu tulis sendiri, ya. Nanti biar diambil waiters."
Gue mendengkus samar. Mas Gani sendiri sudah kembali ke meja kerjanya setelah tadi sempat mencium dahi Gavin.
__ADS_1
"Masa pengunjung disuruh nulis pesanannya sendiri sih, Mas. Nggak oke banget pelayanannya," protesku bercanda sambil membolak-balik buku menu, mencari sesuatu yang menarik perhatianku.
Mas Gani tertawa. "Yee, minta makan gratis aja pake segala mau protes," balasnya tidak terima, "tuh, kasih dia buku notanya, biar dia yang nyatet pesenan kamu. Kamu juga bisa pesen sekalian, Jeng."
"Enggak, Pak, saya masih kenyang," kata Mbak Ajeng.
"Ya udah pesen minum kalau gitu."
"Iya, Pak, makasih."
"Jadi mau pesen apa, Mbak?"
Gue menggaruk-garuk kepala gue bingung, karena masih belum ada yang menarik perhatianku pada menu tersebut.
"Pesen apa aja, Gi, kalau masih kurang boleh pesen dari Resto lain, tapi bayar sendiri yang dari Resto lain."
"Bingung nih, Mas," aku gue jujur.
"Menu spesial hari ini apa, Ras?"
"Chicken salad with peanut sauce."
Secara tiba-tiba Mas Gani tertawa. "Itu mirip gado-gado dikasih suwiran ayam, Gi. Namanya aja yang sok di Inggrisin, emang kadang suka belagu itu suami kamu. Tapi tenang, resep buatan suami kamu nggak perlu diragukan sih dan jelas beda dari gado-gado yang suka keliling atau mangkal itu. Dijamin enak dan bikin ketagihan," ujarnya kemudian.
Gue ikut tertawa dan mengangguk paham. "Ya udah, saya mau yang itu."
"Baik. Minumnya, Mbak?"
"Air putih hangat aja, Mbak."
Sekali lagi Mas Gani terbahak. "Ya elah, Gi, masa cuma pesen air putih anget sih, yang lain dong."
"Cari aman, Mas. Udah itu aja, Mbak. Mbak Ajeng mau apa?"
"Enggak usah, Mbak," tolak Mbak Ajeng.
"Ya udah, itu aja, Mbak."
"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Mbak."
Raut wajah Mas Gani berubah penasaran. "Kenapa? Pilih-pilih ya anak kalian?" tanyanya setelah waiters pergi.
"Hari ini aja aku cuma makan roti tawar."
Mas Gani mangguk-mangguk paham. "Ya, semoga aja besok-besok udah nggak kayak gue, ya. Ah, nggak bisa bayangin betapa serba salahnya Aro nanti. Soalnya gue tahu rasanya morning sick itu nggak enak."
"Aamiin. Semoga aja, ya, Mas."
######
Aro datang tepat setelah makananku habis. "Gimana? Bisa makan?"
Gue mengangguk lalu menangkat piring kosong gue, hendak menjawab namun keburu dijawab Mas Gani.
"Pertanyaan lo, Ar, segede itu ya kali nggak bisa makan. Bikin anak aja bisa," selorohnya kemudian.
Mbak Ajeng tampak tertawa, sedang gue dan Aro hanya memasang wajah datar kami.
"Nggak lucu, Gan," ucap Aro lalu menghampiriku.
Gue kemudian langsung memamerkan piring kosong gue. "Bersih dong."
"Enggak mual?" tanya Aro. Gue menggeleng cepat.
"Alhamdulillah, makasih sayang," bisiknya sambil meraba perutku, sebuah kecupan ringan pucuk rambutku.
Hal ini tentu tidak lepas dari ledekan Mas Gani, meski ia tidak meledek kami dan justru menggoda pengasuhnya.
"Jeng, adegan dilakukan oleh profesional bersertifikat halal oleh KUA, kamu jomblo mending tutup mata. Takutnya baper."
Mbak Ajeng memasang wajah cemberutnya. "Iiih, Bapak ini lho malah ngeledek saya."
"Ya, gimana di antara kita semua yang jomblo cuma kamu sama Gavin. Masa iya saya mau ngeledek anak sendiri, bisa diamuk Emaknya nanti saya."
"Terserah Bapak aja deh."
Gue dan Mas Gani tertawa melihat pengasuh Gavin yang tampak kesal dengan bosnya sendiri.
"Udah beres belum? Pulang sekarang, yuk! Ngantuk nih," ajakku sambil menguap.
Aro mengangguk.
"Buru-buru amat, tidur di sini aja. Tuh, ngelonin Gavin, buat latihan juga lumayan," canda Mas Gani, namun Aro jelas meresponnya dengan serius. Buktinya kedua bola matanya tampak melotot setelah Mas Gani mengucapkan kalimat tersebut.
"Jatah gue itu, masa mau dibagi sama anak lo," balas Aro.
Mas Gani tertawa. "Siang-siang kelonan, panas. Inget waktu dong!"
"Sirik aja lo nggak bisa begitu setiap saat."
"Sialan," umpat Mas Gani tersinggung, "istri gue wanita karier yang super sibuk, ya. Jangan lo sama--"
"Mas Gani ngeledek aku?" potongku pura-pura memasang wajah tersinggung.
Dengan wajah yang sedikit panik, ia menggeleng. "Ya, enggak dong, Mantan. Masa mantan terindag mau diled--"
"Gue lempar sepatu gue ya lo, lama-lama, Gan," potong Aro dengan emosi, tanpa banyak bicara apalagi berpamitan terlebih dahulu, ia langsung mengajak gue pulang begitu saja. "Yuk, langsung pulang aja."
"Mbak Ajeng, Mas Gani kita pamit duluan. Makasih buat sarapannya," teriakku karena Aro sudah mengajakku keluar ruangan.
Tbc,
Mohon dibantu utk ke dokternya obgym-nya ya🤭🙈🙉 kalau kurang tepat atau gimana gitu. Ok, udh segini aja dulu, besok disambung lagi. Mon maaf, up nya akhir-akhir ini malam terus🤪🥰😍🥰😋
See you bubay
__ADS_1