
#####
"Kata Bang Riki lo lagi galau, ya? Kenapa?"
Gue sedikit kaget saat mendengar suara Vinzi tiba-tiba menyapa gendang telinga. Dan bukannya merasa bersalah, Vinzi malah nyengir sebelum akhirnya duduk di sebelah gue.
"Hehe, kaget ya?"
"Iya lah, gila aja lo. Jadi tamu kok nggak ada sopan-sopannya. Ucap salam dulu dong!" sembur gue galak sembari menggeser tubuh gue agak menjauh darinya.
"Masa gitu aja kaget? Gue nggak lagi ngagetin juga," elaknya tak ingin disalahkan.
Gue hanya membalasnya dengan dengkusan tak percaya.
"Jadi, kali ini galau karena apa?" tanya Vinzi masih penasaran.
Gue menghela napas pendek, menatap Vinzi tak yakin. Haruskah gue cerita sama dia?
"Cerita aja! Sumpah gue penasaran," desak Vinzi tak sabaran.
"Gue... gue kayaknya lagi jatuh cinta deh."
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik....
Vinzi hanya mengedipkan bulu mata sekali, baru kemudian mengangguk dan bertanya, "Sama?"
"Lo nggak kenal sih. Cuma tahu orangnya yang mana," ujar gue sedikit malu saat mengatakannya.
"Gue nggak kenal, tapi tamu orangnya?" beo Vinzi, yang langsung gue jawab dengan anggukan yakin.
Gue mengigit bibir bawah gue takut-takut. "Lo inget insiden pas gue pingsan-"
"Pura-pura," koreksi Vinzi.
Gue berdecak. "Iya, pokoknya insiden itu. Lo inget kan?"
"Ya inget lah, gila aja lo. Pura-pura pingsan gara-gara salah masuk toilet cowok, terus bikin lo harus masuk rumah sakit dan dirawat selama tiga hari. Nggak bakalan lupa gue sama hal memalukan beginian. Bakal gue kenang sepanjang masa... lalu," cerocos Vinzi panjang lebar.
Tanpa sungkan gue langsung memukul kepalanya dengan bantal sofa dan langsung memakinya, "Kampret lo!"
Vinzi tertawa kecil. "Jadi siapa nih orang yang nggak gue kenal tapi gue tahu itu?" tanyanya penasaran.
"Cowok yang bawa gue ke RS."
Kedua mata Vinzi membulat secara sempurna. "Serius lo?"
Gue hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Demi apa?" pekik Vinzi heboh. Seperti masih tidak percaya.
"Demi... kian."
"Gila! Sinetron banget kisah cinta lo," komentarnya sebelum mengangkat kedua kakinya untuk naik ke atas sofa dan menyilangkan kedua kaki setelahnya. "Itu cowok yang gendong lo ala-ala bridal itu kan? Yang lari-larian pas bawa lo, bikin heboh selobby? Yang nyuekin juga pas gue tanya?"
"Iya," jawab gue mulai malas dengan sikap berlebihannya itu.
"Lo baper cuma gara-gara itu?" tanyanya masih tak percaya.
"Ya enggak lah. Gila aja lo! Gue udah beberapa kali ketemu dia sebelum itu. Terus doi sohibnya Bang Riki, sama sohibnya...." Gue menghentikan kalimat gue sambil menatap Vinzi tak yakin.
"Sohibnya?"
"Mas Gani."
__ADS_1
"Siapa tuh? Kayak pernah denger."
"Mantan gue. Sohibnya Bang Riki juga."
"Astaga!"
"Kenapa?" tanya gue sewot.
Vinzi memasang wajah cengengesan sebelum akhirnya mengeleng. "Enggak."
"Mau ngeledek lo?"
"Astaghfirulah, su'udzon aja lo! Gue cuma kaget. Nggak ada maksud lain," protes Vinzi tak terima.
Gue jelas tidak langsung percaya. Kalau melihat dari ekspresinya yang terlihat jelas ingin meledek gue.
"Serah deh. Lo ngapain ke sini?" ketus gue. Menatap Vinzi penuh selidik.
Ini perempuan emang jarang main ke rumah gue, makanya gue curiga pas dia ke rumah.
"Ngajakin lo main. Keluar, yuk! Nggak bosen apa ngerem di rumah mulu?"
"Males. Lagi kere."
"Tenang! Gue yang bayarin, pake duit Bang Riki."
"Abis tidur sama Abang gue, lo?"
"Kalau iya, kenapa?"
"Udah bosen idup lo?" Gue melotot ke arahnya. Yang hanya dibalas senyum cengengesan darinya.
"Canda doang, elah. Serius amat sih lo. Nggak seru!"
"Bodo."
Gue kembali memberikan tatapan heran gue. "Motor lo kenapa? Mogok?"
Vinzi menggeleng. "Enggak."
"Terus?"
"Lagi ngambek sama panasnya ibukota."
Gue menerjap bingung. "Siapa?"
"Gue."
"Kemayu. Biasanya juga diterpa panas, hujan sama banjir juga biasa aja. Kenapa sekarang sok-sokan."
"Hari spesial. Gue lagi dapet misi khusus dari Abang lo. Kalau sampai hari ini gue gagal ngajakin lo keluar buat happy-happy, doi bakalan minta gue jadi pacarnya. Lo tega--"
"Kaga," potong gue cepat. "Oke. Gue ganti baju dulu. Kita pergi nonton terus shopping."
Vinzi tersenyum sambil mengangguk setuju. Sementara gue langsung berlari kecil ke kamar gue yang ada di lantai atas.
****
"Mau ngapain dulu nih? Nonton? Makan? Apa shopping?"
"Terserah," jawab gue pendek.
Saat ini kita udah sampai di salah satu mall yang ada di Jakarta.
"Jangan kayak cewek ngambek gitu deh, Gi. Buruan lo bilang mau ngapain dulu. Biar gue nggak s--"
"Gue lagi males ngapa-ngapain, Zi, tolonglah! Ngertiin gue dikit," potong gue memasang wajah nelangsa biar dikasiani sedikit.
__ADS_1
"Njiir, mukanya biasa aja dong," protes Vinzi sambil berdecak.
Gue langsung mendengkus. "Kalau muka gue biasa aja, ya mana mungkin lo bakal iba, Maemunah!"
Vinzi ikut mendengkus. "Bisa ae lu jawabnya, Monaroh!" balasnya tak kalah snewen.
Gue menatapnya sebentar, lalu mengajaknya mampir ke salah satu restoran yang ada di mall ini.
"Badget berapa juta?"
"Huh? Badget buat apa?" tanya Vinzi bingung.
"Buat bahagiain gue lah. Ya kali, buat ngajakin lo kawin."
"Buset, lo sensi banget sih. Gue jadi ngerasa serem jalan sama lo." Vinzi bergidik ngeri sambil menggelengkan kepalanya.
Membuat gue melayangkan kepalan tangan ke wajahnya.
"Astaga!" decak Vinzi pasrah.
Gue memilih mengabaikannya saat Vinzi menghentikan langkah kakinya sembari menatap horor. Berjalan mendahuluinya dengan santai, tak berselang lama Vinzi sudah berdiri di samping gue dengan muka cemberutnya.
Gue tersenyum penuh kemenangan. "Makanya, jangan macem-macem lo sama gue. Nyaho kan lo, sekarang."
Vinzi menatap gue sengit. "Kalau bukan temen udah gue jambak ya, rambut lo," ketusnya galak.
Gue tertawa. "Ternyata ada gunanya juga ya, gue jadi temen lo," canda gue kemudian.
"Gak lucu!"
"Gue juga nggak lagi nge--" Gue menghentikan kalimat gue secara mendadak, saat menemukan sesosok pria yang membuat hari-hari gue kacau beberapa hari terakhir. Tanpa berpikir panjang pun, gue langsung berlari menghampirinya, mengabaikan teriakan Vinzi yang memanggil-manggil nama gue kayak di hutan.
Ck. Itu perempuan kebiasaan banget deh.
"Aro!" panggil gue. Gue sentuh lengannya, membuat pria itu langsung berbalik dan ..... *****! Gue salah orang.
"Maaf?" tanya pria itu, yang sebenarnya tidak memiliki sedikit pun kemiripan dengan Aro. Tapi kenapa gue tadi ngira itu dia? Apa gue tadi sedang berhalusinasi?
"Mbak?" panggil Mas-mas itu, membuyarkan lamunan gue.
Gue tersentak, secara spontan melepaskan tangan pria itu dengan cepat. Kemudian buru-buru meminta maaf. Astagfirullah, gue!
"Sorry. Sepertinya saya salah orang."
Pria itu tersenyum, menampakkan lesung pipinya yang membuatnya bertambah manis. Berbeda jauh dengan pria yang membuat gue uring-uringan, akhir-akhir ini.
"Tidak papa. Sepertinya memang karena wajah saya terlalu pasaran."
Gue hanya meringis canggung sebagai respon spontan. "Kalau begitu saya duluan. Permisi," pamitnya sopan.
Suaranya boleh juga, lembut. Tipekal pria yang tidak suka menaikkan nada tinggi saat bicara dengan lawan bicara dan suka mendengarkan. Oh, oke. Sepertinya jiwa sok tahu gue kambuh.
"Siapa tadi? Ganteng juga. Temennya Bang Riki?"
Vinzi sudah menyusul gue, dan sekarang kami sedang berjalan beriringan menuju restoran cepat saji. Nafasnya sudah tidak terdengar ngos-ngosan seperti tadi.
Gue menggeleng. "Nggak tahu. Enggak kenal juga." Gue mengangkat kedua bahu.
"Nggak kenal kenapa pegang-pegangan tangan kayak tadi?"
"Karena gue pikir itu Aro, ternyata bukan. Cuma halusinasi gue aja."
Vinzi menerjapkan kedua matanya. "Lo beneran naksir sama temen Abang lo yang ini?" tanyanya terlihat serius.
"Enggak tahu, ah. Pusing gue. Udah ayok kita cari tempat makan, udah kelaperan nih gue," kata gue mengabaikan pertanyaannya dan memilih berjalan duluan.
Tbc,
__ADS_1