Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (56) Nikah?


__ADS_3

######


"Udah mau pulang?"


Gue langsung tersentak kaget, saat baru keluar dari toilet tiba-tiba menemukan Luki sedang tersenyum manis.


"Astagfirullah! Lo ngagetin, Ki," seru gue sambil memukul pundak Luki kesal.


Luki tertawa, sampai kedua matanya semakin menyipit. Sambil mengusap pundaknya, yang gue pukul tadi.


"Sorry, sorry, nggak maksud gue. Sumpah!" ujar Luki di sela tertawanya.


Gue mendengkus sambil melayangkan telapak tangan gue, berniat memberinya pukulan sekali lagi. Namun, harus kuurungkan niat gue tersebut karena Luki sudah bersiap-siap untuk menghalau pukulan dari gue. Otomatis gue hanya mampu berdecak setelahnya.


Luki mencengir tanpa dosa. "Jadi, udah mau balik?" tanyanya kemudian.


"Udah lah, ya kali gue mau nginep di sini," jawab gue ketus.


Gue bersikap ketus karena dia baru saja mengejutkan gue, bukan karena gue membenci perubahan sikap mendadaknya. Meski gue akui, gue sedikit risih sih, takut ketahuan Aro kan bisa gawat. Masalahnya, gue dan Aro belum benar-benar berdamai, nggak lucu dong kalau kami harus bertengkar kembali? Ugh! Itu terdengar sangat tidak mengenakkan.


"Gue anter," tawar Luki.


Gue langsung menggeleng tegas. "Enggak usah."


"Nggak papa. Santai aja lah, Gi. Gratis kok, kan hari ini gue nggak bawa motor spesial buat lo."


"Gue dijemput."


Luki meringis. "Abang lo, ya?"


Gue menggeleng. "Bukan. Tapi cowok gue."


Wajah Luki langsung berubah pias. Mulutnya terus terbuka dan menutup, seperti ingin berbicara namun terlihat kesusahan. Gue yang memperhatikannya hanya mampu meringis canggung. Serba salah juga kan, gue jadinya.


"Lo... lo udah... punya..."


Gue mengangguk di sela ringisan gue. "Ya, gue udah punya cowok."


"Sejak kapan?"


Pertanyaan bagus. Tapi gue sendiri lupa, kapan gue dan Aro resmi berpacaran. Mampus! Harus gue jawab apaan nih?


Ehem Ehem


Baik gue dan Luki langsung menoleh ke asal suara deheman itu, dan langsung menemukan Aro dengan stelan kemeja garis-garis dan celana jeans-nya tengah berdiri di belakang kami, dengan kedua mata melotot tajam dan tangan yang disilangkan di depan dada. Samar-samar gue mendengar ia mendengkus pelan.


Gue meringis panik dan langsung mendekatinya. "Hei, kok nggak bilang kalau udah nyampe?"


"Kenapa? Aku ganggu?" sindir Aro sambil melirik Luki dengan pandangan tak suka.


"Enggak," jawab gue cepat.


Aro menatap gue datar. Gue meringis lalu memperkenalkan Aro ke Luki.


"Ki, kenalin ini cowok gue," ucap gue sambil melirik Aro, meminta Aro agar memperkenalkan dirinya.


Meski dengan wajah sedikit jutek, Aro kemudian menjulurkan tangannya. "Aro. Calon suami Anggita," ucapnya dingin dan penuh penekanan.


Dengan wajah canggungnya Luki kemudian ikut menjulurkan tangan dan menjabat tangan Aro. "Luki, temennya Anggi." ia kemudian menggaruk kepalanya gelisah, "kalau gitu, gue duluan ya, Gi."


Gue meringis lalu mempersilahkan dia pergi. "Iya, hati-hati, Ki."


"Hmm, gue duluan."


"Siapa barusan?" tanya Aro selepas Luki pergi, kedua matanya menyipit, menatap gue curiga dengan kedua tangan bersedekap.


"Kan barusan udah kenalan," balas gue sok polos.


Aro mendengkus. "Lebih spesifik!"


"Aku bingung mau jawab apa," balas gue frustrasi.


Kedua mata Aro makin menatap gue curiga. "Kerja di bagian mana dia?"


"Marketing."


"Marketing?" beo Aro lengkap dengan dengkusan tak percayanya, "gimana ceritanya staff front office deket sama staff marketing? Dia godain kamu?"


"Luki bukan orang kayak gitu, Ar. Dia orangnya baik kok."


"Baik? Dia baik pasti karena ada maunya, Anggita."


"Ada maunya gimana sih? Kita baru mau akur, ya, Ar. Jangan mancing-mancing keributan."


"Kamu yang mulai," balas Aro tak mau kalah, "cowok tadi pasti naksir kamu kan? Jawab jujur!"


"Kalau iya, memangnya kenapa?" tantang gue kadung kesal.


"Kenapa? Kenapa kamu bilang?"


"Iya emang kenapa? Ada yang salah? Mau dia suka, naksir, ngefans, atau bahkan cinta mati sama aku, itu urusan dia, Ar. Urusan dia dan perasaannya. Aku mau pun kamu nggak bisa ikut campur apa lagi ngelarang. Yang terpenting di sini, aku suka dan cintanya sama kamu, bukan sama dia. Paham?"


Aro berdecak samar. "Nikah aja, yuk!"


Gue langsung melototinya tajam. "Ngajak ribut?"


"Ngajak nikah, sayang. Ngajak ribut gimana sih?" gerutu Aro lalu meraih telapak tangan gue dan digenggamnya, mengintruksi gue agar mengikutinya. Gue hanya pasrah.


"Ya, itu, ngajak nikah sama aja ngajak ribut."

__ADS_1


"Ya, enggaklah. Masa beribadah, cari pahala kok disamain sama cari masalah. Ya, enggak dong, sayang. Beda jauh."


"Tapi aku nggak suka bahasannya, bikin sensi."


"Tapi aku lebih nggak suka sama cowok tadi. Dia kayaknya suka sama kamu deh," balas Aro menggerutu.


"Plis, Ar, nggak usah cemburu berlebihan!"


"Kamu juga cemburu sama mantanku, Anggita, kalau kamu lupa. Kita satu sama," balas Aro sambil mendengkus.


Kali ini gue diam. Benar juga sih, kita sama-sama sedang saling mencemburui.


"Nah, dari pada saling mencemburui tidak jelas begini. Kan, mending kita nikah. Setelah kita menikah semua jelas, aku milikmu, kamu milikku. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan? Coba kamu bayangin!"


Gue langsung melepaskan genggaman tangan Aro dan menatapnya datar. "Kenapa kamu mendadak ngebet nikah sih, Ar? Bukannya kemarin kamu bilang kedua orangtua kita masih sehat, kita juga nggak sedang dikejar apa pun. Kenapa sekarang mendadak berubah begini?" protes gue sebal.


"Ya, itu karena kemarin aku belum ketemu cowok tadi. Sekarang udah, dan aku nggak suka. Sayang, coba kamu bayangin gimana perasaan aku, jauh sama kamu. Tapi kamu sangat dengan cowok sialan tadi. Astaga, kamu tega?"


"Ar, kamu ngerasa berlebihan enggak sih? Menurut aku, sikap kamu sekarang ini sama sekali tidak menggambarkan Aro yang aku kenal."


"Aku hanya takut kehilangan kamu, Anggita. Apa itu sebuah kesalahan? Aku hanya ingin menghabiskan hari-hariku dengan orang yang kucintai, apa itu juga sebuah kesalahan?"


"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya gue.


Aro diam tidak menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya, menghindari wajahku. Lalu kembali melanjutkan jalannya. Gue berdecak sebal dan langsung menyusulnya.


"Jadi, bener kamu meragukan aku?"


"Masuk dulu!" ucap Aro sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.


"Aku bener?" desak gue tak sabaran.


"Masuk dulu, Anggita! Aku tidak suka berantem di tempat umum," kata Aro sambil membuka pintu untuk gue.


Gue mendengkus tak percaya. Lalu masuk ke dalam mobil dengan pasrah.


"Pasang dulu sabuk pengamannya!" intruksi Aro sambil menyalakan mesin mobil.


Meski dengan ekspresi wajah sedikit tidak rela, gue lagi-lagi hanya bisa pasrah.


"Nih," kata Aro tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral untuk gue.


"Aku nggak haus, Ar. Thanks," ucap gue ketus.


Aro mengangguk lalu meletakkan botol air mineralnya kembali ke tempat semula, lalu mulai menjalankan mobilnya.


"Jadi, bener kamu ngeraguin aku, kalau aku bisa setia, Ar? Kamu pikir aku sama gitu sama Jasmine mantan kam--"


Ciiitttttt


Di luar dugaan dan kendali masing-masing, Aro tiba-tiba menginjak rem kuat-kuat, sehingga terdengar bunyi decitan ban bergesek dengan aspal.


"Aku tidak pernah menyamakan kamu dengan perempuan itu, Anggita. Tidak pernah sekali pun," ujar Aro tersinggung.


"Maaf," sesal gue takut-takut.


Aro menghela napas lalu menyandarkan punggungnya di kursi kemudinya. "Enggak, kamu nggak salah. Tidak perlu meminta maaf. Aku yang harusnya minta maaf karena ngerem mendadak. Maaf membuat kamu terkejut."


"Kamu nggak cuma bikin aku terkejut, Ar. Tapi aku hampir pingsan karena ketakutan, tahu," balas gue meneriaki Aro karena kesal.


Seperti biasa, Aro malah memasang wajah tanpa dosanya sembari tersenyum tipis. "Nggak papa, kalau beneran pingsan kan gampang. Nanti tinggal aku kasih napas buatan, live dari bibir aku," kedip Aro genit.


Seketika gue langsung tertawa. Apa tadi katanya? Live?


"Live?"


"Langsung, sayang. Masa nggak ngerti, jangan keseringan nonton drama Korea deh, kalau bikin kamu jadi nggak ngerti bahasa Inggris."


"Kok kamu sekarang ikutan aneh sih? Nggak kayak dulu, cuek-cuek ngegemesin lagi. Ah, nggak seru," keluh gue sambil menggeleng..


Wajah Aro berubah panik. "Tapi kata Gani, aku harus pinter-pinter bikin jokes, nggak boleh cuek lagi, kalau nggak mau kamu kabur," ucap Aro, "Wah, emang sialan itu Bapak satu. Gue dikerjain," gerutunya kemudian.


Gue mengangguk sambil terkikik geli. "Ya, kayaknya kamu dikerjain Mas Gani."


"Tunggu! Aku ada pertanyaan, kenapa kamu selalu manggil Gani pake embel-embel Mas, sedangkan aku enggak sih?"


Gue berdecak gemas. "Tanya itu lagi, kamu itu tua banget, ya, Ar? Masa lupa terus sama alasan yang selalu aku kasih."


"Belum. Tapi seenggaknya udah nggak muda lagi, dan harus segera menikah," cengir Aro sambil menjalankan mobilnya kembali.


"Kode terosss!" sindir gue kesal.


"Coba kamu pikirin manfaatnya meni--"


"Stop!" seru gue makin kesal.


Di luar dugaan gue, Aro tiba-tiba menginjak rem. "Kenapa? Ada kuncing lewatkah? Tapi kok aku nggak lihat, ya?"


Gue melirik Aro sinis. "Aku nggak nyuruh kamu berhentiin mobilnya, tapi nyuruh kamu berhenti bahas soal nikah," seru gue gemas.


Aro menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya. "Oh, salah, ya?"


Gue hanya mampu menepuk dahi gue karena gemas. Astagfirullah, kuatkan hamba ya Allah!


#####


"Aro udah balik?" tanya Vinzi saat gue kembali masuk ke dalam rumah, selepas mengantar Aro hingga gerbang depan.


Gue mengangguk lalu duduk di samping Vinzi. Vinzi kemudian menyodorkan toples berisi keripik singkong. Gue menggeleng sebagai tanda penolakan.

__ADS_1


"Udah clear masalah Aro sama mantannya?"


"Kurang yakin gue. Kayaknya, Aro belum berdamai dengan masa lalunya yang itu," jawab gue sambil menopang kepala.


"Lo udah bujuk?"


Gue kembali menggelengkan kepala. "Nggak berani. Takut. Kalau marah Aro tuh serem. Khas orang-orang pendiem gitu, Zi."


"Lo nggak masalah?"


"Sama?" tanya gue bingung


"Fakta kalau Aro belum berdamai dengan masa lalunya," jawab Vinzi di sela kunyahannya.


"Nggak tahu juga. Menurut lo, Aro masih ada rasa?"


"Bukan masalah masih ada rasa atau enggak, Gi. Maksud gue--"


"Yang, naik ke atas gih!" kata Bang Riki tiba-tiba menyuruh Vinzi.


"Kenapa?"


"Aku mau introgasi adik ipar kamu. Takutnya nanti aku hilang kontrol, terus ngegas. Kasian anak kita. Sana, naik!"


"Tapi aku mau nonton, Bang," rengek Vinzi tidak setuju.


"Di kamar kan bisa."


"Abang nyebelin!" seru Vinzi dengan wajah kesalnya.


"Kita aja yang ngobrol di tempat lain, Bang. Kasian itu si Vinzi."


"Ssst, diem lo!" bisik Bang Riki tiba-tiba, "gue sengaja nyuruh dia naik ke atas biar gue nggak gendong dia nanti, ****! Diem deh lo!"


"Kalian pada ngomongin apa? Kenapa pake bisik-bisik segala?" seru Vinzi emosi.


"Nggak papa, sayang. Yuk, Abang anterin ke kamar," bujuk Bang Riki manis.


Gue mendengkus melihatnya. Dasar Bang Riki!


"Nggak usah," ketus Vinzi judes, lalu meninggalkan ruang tengah, berjalan menaiki anak tangga dengan bibir komat-kamit menggerutu.


"Serem, ya, kakak ipar lo kalau lagi ngambek gitu," bisik Bang Riki sambil geleng-geleng kepala.


"Kakak ipar gue juga, bini lo," balas gue judes.


"Iya, bini gue body-nya sekarang yahut, ya. Baru nyadar gue, pantesan kemarin gue gendong malem-malem waktu itu, paginya gue langsung sakit pinggang. Ah, kapok gue!" keluh Bang Riki sambil geleng-geleng kepala lagi.


"Itu gara-gara lo yang tua," cibir gue mengejeknya.


Bang Riki mengangguk setuju. "Iya, kayaknya gitu. Makanya lo buruan nikah! Gue sama Aro tuaan Aro, kalau gue tua apa lagi Aro."


Sialan. Kenapa jadi gue yang kena?


"Oke, lupain masalah itu. Gue mau introgasi lo dulu. Ambil cemilan, sana, sama minumnya sekalian!"


Gue mendengkus tak percaya, dengan ucapan ngaco Bang Riki. "Mana ada orang mau introgasi butuh cemilan, Bang."


"Ada. Gue. Udah buruan ambilin!" perintah Bang Riki tak ingin dibantah.


"Dari pada ngambilin lo cemilan, mending gue kabur."


"Berani?" tantang Bang Riki sambil tersenyum mengejekku.


Gue berdecak jengkel, merasa kalah dengan ancaman Bang Riki. Dengan wajah tak rela gue pun berdiri dan langsung menuju dapur, mengambil cemilan dan air soda pesanan Bang Riki.


"Pinter, jadi adek itu emang harus nurut sama Abang. Kalau udah nggak mau nurut sama gue, makanya nikah sono!"


"Bodo amat," ketus gue judes.


"Jadi, yang tadi pagi itu siapa?"


"Namanya Luki."


"Temen kerja?"


Gue mengangguk, mengiyakan.


"Dia kerja di bagian apa? Front office juga kayak lo? Eh, enggak mungkin sih. Doi punya mobil, meski bukan sejenis BMW dan sejenisnya. Seenggaknya doi, nggak pakai honda butut."


"Marketing."


"Ah, hati-hati lo. Anak marketing itu mulutnya manis-manis, Gi. Lo jangan gampang tergoyah, ngerti. Tapi, kalau emang tergoyah juga, nggak papa. Namanya jodoh siapa yang tahu, Gi. Gue sih nggak akan maksa lo buat tetep sama Aro. Meski kalau kita bandingkan Toyota yaris sama Fortuner, harusnya sih menang fortuner, ya?"


"Apaan sih? Lo kata gue sematre itu, Bang?"


"Jadi, lo milih Toyota yaris ketimbang Fortuner?"


"Kepo lo, Bang!" balas gue ketus.


"Ah, nggak seru lo, Gi!"


"Suka-suka gue dong," kata gue sambil menjulurkan lidah gue.


**Tbc,


πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„


maafkan atas kegajean Author kalian yang kian menjadi. Doakan semoga Author kalian segera sembuh dari kegajeannya.

__ADS_1


Jangan lupa jaga kesehatan dan see you next part buat yang masih menunggu πŸ˜πŸ˜πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜šπŸ’ƒπŸ€—πŸ˜‰πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜**


__ADS_2