
######
Hari ini adalah hari spesial bagi Bang Riki. Kenapa gue bilang spesial, karena hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Yaitu, halalin Vinzi. Alhamdulillah, setelah acara lamaran berjalan lancar, sebulan setelahnya ijab qobul langsung diselenggarakan. Kedua pihak keluarga memang sengaja tidak ingin menunda-nunda lebih lama. Yah, kalian sendiri tahu lah penyebabnya.
Ijab qobul dan resepsi diadakan di Bandung, di sebuah hotel, tidak di rumah Vinzi. Sebenarnya, bisa saja sih acara diadakan di rumah Vinzi, toh, halaman rumahnya cukup luas, tapi setelah dirundingin mereka sepakat memutuskan untuk menyelenggarakan acara di hotel saja.
Gue tersenyum senang saat melihat Vinzi sedang dirias dengan sangat cantiknya. Perasaan iri tiba-tiba menghampiriku. Susahnya jadi cewek, begini ya, gampang banget iri dan baper.
Pacar Kokiku:
Yang, bisa ke kamar Riki sebentar?
Gue mengerutkan dahi heran, saat membaca chat yang Aro kirimkan. Tanpa ada niatan untuk membalas, gue kemudian langsung berdiri dan bergegas menuju kamar Bang Riki, yang sebenarnya tepat ada di sebelah kamarku dan Vinzi.
"Eh, mau ke mana?" tanya Vinzi, "ini lo sebentar lagi dirias, Gi."
"Bentar, pacar gue manggil nih. Gue cuma ke sebelah kok, kalau Mbak MUA-nya sudah nyampe, suruh ketok aja pintu kamar sebelah," kataku lalu membuka pintu.
"Jangan lama-lama!" teriak Vinzi kemudian.
Gue hanya menjawabnya dengan acungan jempol saja. Lalu keluar dari kamar menuju kamar sebelah. Tanpa mengetuk pintu dahulu, gue langsung masuk ke dalam kamar. Di dalam gue mendapati Bang Riki sedang melakukan push-up.
"Lah, lo lagi ngapain, Bang?" tanya gue spontan.
Gue kemudian menoleh ke arah Aro yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Daritadi malah begitu, yang, bukannya siap-siap," jawab Aro sambil berjalan menghampiri gue, merangkul gue sebentar, lalu mengecup pelipis gue sedetik, kemudian ia mengancingkan kancing di lengan kemejanya.
Penampilan Aro sudah setengah siap, kemeja putih panjang dan celana bahan berwarna krim miliknya, sudah melekat di tubuh atletisnya, meski masih memakai sandal hotel dan belum memakai sepatu pantofel-nya. Setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang Bang Riki, si pemeran utama hari ini yang masih mengenakan celana kolor dan kaos putih polosnya.
Gue berdecak sebal lalu mengambil bantal dan memukul Bang Riki.
"Lo jadi mau ijab qobul nggak sih, Bang?" amuk gue kesal.
"Jadi lah. Ini gue juga lagi persiapan, Wat."
"Persiapan apaan? Ini bentar lagi lo harus ijab qobul, Bang. Vinzi udah dandan cantik, lah elo, masih butek, dekil begini. Udah mandi belum si lo?" omel gue sambil berkecak pinggang.
Sumpah, gue itu enggak ngerti sama jalan pikirannya saat ini.
__ADS_1
Aro terkekeh. "Yang, Riki nggak sejelek itu lagi. Kamu jangan berlebihan dong, pedes banget deh omongan kamu. Santai aja. Riki lagi deg-degan untuk persiapan ijab qobul, dia butuh kegiatan yang bikin dia rilex."
Dengan tak tahu dirinya, Bang Riki malah mengacungkan jempolnya sambil mangguk-mangguk setuju.
"Emang paling terbaik lo jadi adek ipar gue," kata Bang Riki kembali mengatur posisi untuk kembali push-up. Namun langsung gue cegah.
"Apaan sih, Wat?" protes Bang Riki snewen.
"Bangun! Mandi sana!"
"Enak aja, gue udah mandi," balas Bang Riki tidak terima.
"Mandi lagi! Kalau mau cari kegiatan buat ngilangin gugup, kan bisa pake cara lain," kata gue sebal.
Heran aja gitu, masa mau ijab qobul malah nyari keringet gitu, nanti kalau bau asem gimana? Gue benar-benar nggak ngerti. Kok mau-maunya Vinzi sama Bang Riki, pake jurus manjur dari Mbah dukun mana sih, ini Abang gue?
"Tapi gugup gue ilang pake cara ini, Wat."
"Bodo amat," balas gue galak. Dengan tidak berperasaan gue menarik Bang Riki menuju kamar mandi.
"Kamu sadis banget sih," ringis Aro setelah gue keluar dari kamar mandi. "Riki, gitu-gitu juga Abang kamu, Kakak kamu, yang. Masa kam--"
"Ssst." Gue langsung menempelkan jari telunjuk gue di bibir Aro, untuk menyuruhnya diam. "kamu aku kasih tugas penting."
"Lebih penting dari pada tugas negara."
"Apa? Jagain kamu gitu, biar nggak dilirik yang--akkh!! Kok aku dicubit sih?" protes Aro setelah mendapat cubitan pedas dariku.
"Kamu kurang peka menentukan tempat dan situasi kalau mau gombal. Orang lagi genting begini malah, ngegombal," gerutu gue kesal. "lagian kerasukan setan apa sih mendadak ngegombal begini."
"Cuek salah, belajar ngegombal salah."
"Ssst, diem!" selaku sekali lagi. "aku mau ngasih tahu tugas kamu, nih. Kalau sampai kamu gagal, itu berarti kita putus."
"Loh, loh, loh? Kok gitu? Enggak adil dong," protes Aro tidak terima.
Wow. Peningkatan luar biasa, Aro baru saja merajuk. Seorang Aro merajuk cuma gara-gara gue ancem, mau gue putusin? Kok rasa-rasanya agak serem, ya. Apakah ini termasuk salah satu tanda akhir zaman?
"Dengerin! Tugas kamu jagain Bang--"
__ADS_1
"Riki sudah besar, sayang. Nggak perlu dijagain, justru yang perlu dijagain itu kamu."
"Kok aku?"
"Iya, lah." Gue nggak terlalu mendengar kalimat apa yang Aro ucapkan, karena yang terdengar di telingaku hanya berupa gumanan tak jelas.
"Ngomong apa kamu barusan?"
Aro menoleh ke arahku sambil memakai jam tangannya. "Enggak ada. Emang kamu denger aku ngomong apa?"
"Ya, mana aku tahu, orang nggak kedengeran," balas gue sewot.
"Berarti ya, emang aku nggak ngomong apa-apa kan? Kan kamu sendiri juga nggak denger."
Astagfirullah!
Sabar, Anggita, sabar! Lo harus inget, dia calon imam rumah tanggamu di masa depan, calon Bapak dari anak-anakmu, dan yang paling penting dia anak tunggal, warisan bokapnya banyak.
Gue berdecak kesal, lalu memalingkan wajahku ke arah lain. Menghindari tatapan mata dari Aro.
"Terserah kamu, Ar," ketus gue kadung jengkel.
Tiba-tiba gue merasakan tubuh Aro semakin mendekat dan tahu-tahu memeluk gue dari belakang. Sumpah, gue kaget, cuy.
"Apaan sih?" protes gue, sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungannya, namun gagal.
"Peluk kamu. Kata kamu tadi terserah aku. Ya, udah terserah aku dong mau peluk kamu atau mau gimana."
Astagfirullah. Ya, enggak gini-gini amat, duh Gusti. Bisaan banget ini spesies modusnya. Kan gue sebagai perempuan tulen, yang lemah iman enggak bisa nolak, yang ada minta nambah ini mah.
Cup
Gue langsung melongok ke arah Aro yang kini tersenyum sok manis menatap gue. Apa-apaan ini kulkas dua pintu, main cium-cium aja. Mana cuma di jidat doang lagi, emang dasar, ya. Kulkas dua pintu. Payah.
"Kenapa eks--"
"ASTAGFIRULLAH!!" jerit seseorang yang suaranya terdengar familiar di telingaku. Baik gue maupun Aro langsung melepaskan diri dan saling menjauh. Lalu kami menegok ke asal suara dengan takut-takut. Di depan pintu sudah ada Ibu dengan dengan kedua melotot tajam ke arah gue, baru setelahnya, beliau berjalan agak cepat dan mendekatiku dan menjewer telingaku.
"Pagi-pagi cah wedok wes di kamar wong lanang. Peluk-pelukan sisan. Mau Ayah sama Ibu ijabin sekalian sehabis Abangmu? Anak gadis kok kelakuan kayak gitu," omel Ibu.
__ADS_1
Gue kemudian mengusap telinga gue yang terasa panas. Gila, terakhir gue dijewer begini kapan, ya, kok rasanya masih sama pedesnya perasaan. Tanpa membiarkan gue memberi pembelaan, Ibu kemudian langsung menyeretku keluar kamar, setelah Ibu sempat pamit dulu pada calon anak menantu. ****, mana nadanya lembut banget lagi waktu pamitnya. ****, apes bener ya, nasib gue? Tisu mana, tisu?!
Tbc,