
#####
Gue langsung mematung seketika, saat mendapati tubuh Aro berada tepat di samping Bang Riki. Sesaat, gue seperti lupa bagaimana cara bernapas. Untung saja Vinzi yang berada tepat di samping gue, membisikkan kata-kata agar gue enggak lupa untuk bernapas. Coba kalau enggak, beneran lupa kali, ya. Gue bukannya mau melebih-lebihkan, melihat Aro sedang berdiri sambil menatap gue lurus, benar-benar membuat gue lupa diri. Sampai speechless gue rasanya. Itu beneran Aro?
"Zi, biar kasih waktu biar mereka bicara berdua. Kita juga perlu bicarakan?"
Vinzi mengangguk paham lalu berbisik ke telinga gue, "Gue tinggal, ya. Semoga sukses," ucapnya sebelum meninggalkan gue. Sedangkan gue, hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Vinzi dan juga Bang Riki, suasana mendadak canggung. Aro masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang sama persis seperti tadi sejak masuk ke dalam rumah. Begitun pun juga dengan gue, gue masih sama di posisi semula. Duduk di sofa ruang tengah dengan gerakan gelisah, karena Aro hanya diam saja.
Astaga, situasi macam apa ini ya Tuhan?
"Hai, apa kabar?" sapa Aro dengan nada suara canggung, bahkan sebelah tangannya terlihat melambai dengan kaku, membuat gue ingin tertawa saat melihatnya.
Ck. Dasar kulkas dua pintu.
Gue mengangguk ragu sambil meringis, sebagai tanda jawaban. Melihat sikap Aro sekarang, gue jadi agak-agak paham kenapa Bang Riki sempat melarang gue untuk enggak naksir sama Aro. Ternyata niat baik Bang Riki, beneran baik. Ah, gue jadi merasa bersalah karena sempat ngambek berhari-hari sama dia.
"Silahkan duduk!" kata gue, mempersilahkan Aro untuk duduk.
Kasian juga gue lihatnya. Tegang banget, gila!
Aro mengangguk lalu duduk di samping gue. "Kamu apa kabar?" basa-basinya kemudian.
Basa-basinya beneran basi.
"Sehat," jawab gue seadanya.
Sengaja aja gitu, biar agak puas dikit ngerjain spesies macem Aro, yang sering kali meresahkan kaum Hawa. Gue bener kan, kalau manusia kaku macem Aro begini sering kali bikin uring-uringan kaum kita. Ah, gemes banget gue sama yang beginian.
"Saya..."
"Ya?" desak gue nggak sabaran.
"Saya... saya boleh minta minum? Saya haus."
Hah?
Apa tadi yang gue denger? Bentar, bentar, gue tadi salah dengerkan, kalau si Aro minta minum?
"Apa tadi lo bilang?"
"Saya haus, boleh minta minum?"
Astaga!
Jadi gue nggak salah denger? Yang gue denger tadi beneran? Sialan! Gue udah deg-degan parah, bingung mau nyiapin kata-kata buat nerima pernyataan cintanya secara langsung, eh, dia-nya malah minta minum?
Boleh nggak sih, nanti air minum yang gue ambilin buat Aro, setengahnya gue siram ke wajahnya?
Tolong katakan iya, agar gue nggak terlalu merasa bersalah waktu melakukannya.
Dengan wajah cemberut, gue bangkit berdiri dari sofa. "Mau minum apa?" tanya gue agak ketus.
"Air putih saja, tapi yang dingin, ya."
Dih, minta aja kebanyakan mau-nya. Untung ganteng orangnya, coba kalau enggak. Gue gampar deh, serius. Kesel banget sih gue soalnya.
__ADS_1
"Oke, tunggu bentar, ya," kata gue langsung meninggalkan Aro menuju dapur.
Bibir gue tidak berhenti menggerutu, saat berjalan menuju dapur. Bahkan, saking fokusnya gue menggerutu, gue sampai nggak sadar kalau ternyata di dapur sedang ada Bang Riki dan juga Vinzi. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka lagi tukeran ludah. Double kampret emang Abang gue ini.
"Kalian lagi ngapain?" pekik gue emosi.
Kedua mata gue melotot tajam ke arah Bang Riki dan juga Vinzi secara bergantian. Vinzi menunduk malu dan bersembunyi di belakang lengan Bang Riki, sementara Bang Riki berdecak kesal karena aktifitas enaknya gue ganggu.
"Ngapain sih lo ke sini, ganggu orang aja. Aro ke mana, lo tinggal? Atau lo yang ditinggalin?"
"Aro masih duduk anteng di ruang tengah, gue ke sini mau ambil minum buat dia--"
"Cie, perhatian amat deh lo, Wat," goda Bang Riki sambil tertawa, ketara banget gue diledeknya.
Gue mendengkus kesal karena diledek begitu. Mengingat fakta yang sesungguhnya bukan karena gue perhatian, melainkan karena gue terpaksa. Tolong catat! Terpaksa, ya.
"Mending lo pulang deh, Zi," kata gue sambil melirik Vinzi dengan tatapan tajam. "ini udah malam, nggak baik buat lo. Abang gue, makin malam jiwa-jiwa 'setannya' suka nggak terkendali. Kalau lo masih mau aman, gue saranin pulang, cuma kalau lo emang pengen cari masalah, ya, nanti aja. Cuma lo harus inget, Abang gue itu pria terlalu normal."
Gue mengangkat kedua bahu gue cuek dan melewati mereka. Mendekat ke arah kulkas dan mengambil sebotol air mineral untuk Aro.
"Ingat pesen gue tadi, Zi," kata gue memperingatkan Vinzi sebelum kembali ke ruang tengah.
Gue nggak terlalu perduli lagi sih mereka mau ngapain setelah gue pergi. Bodo amat, urusan mereka sih itu. Toh, mereka sudah sama-sama bukan anak sma yang lagi penasaran akan sesuatu. Udah bisa lah, mikirin resiko dan konsekuensi dari yang mereka lakukan. Eh, kenapa gue mikir begitu? Kayak mereka mau ngapain aja.
Gue kemudian kembali ke ruang tengah dan menyerahkan sebotol air mineral dingin untuk Aro. Aro menerima botol yang gue sodorkan sambil tersenyum super samar, tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih setelahnya. Dan gue hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Tadi kenapa teriak?" tanya Aro setelah selesai meneguk air mineralnya.
Gue meringis sambil menggeleng. "Abis nge-gap Bang Riki sama Vinzi."
"Hah?"
Respon Aro hanya berupa ringisan canggung.
"Terus kita gimana?"
Kening Aro mengernyit heran. "Gimana apanya?" tanyanya heran.
Gue berdecak jengkel. Heranan banget deh ini hamba Allah. Heran gue. Lah, gue jadi ikutan heran.
"Lo ke sini mau ngapain?" tanya gue agak-agak snewen.
"Ketemu kamu."
"Dalam rangka?"
"Ada yang ingin saya bicarakan."
"Tentang?" desak gue nyaris kehilangan kesabaran gue.
Bukannya menjawab, Aro malah garuk-garuk kepala. Membuat gue bertambah gemas. Astagfirullah! Harus gue apain ini orang sih? Gue cekik boleh nggak sih? Eh, jangan! Kalau Aro gue cekik, nanti calon imam gue siapa? Big no!
"Kamu sudah denger dari Riki kan?"
"Tentang?"
"Perasaan saya."
__ADS_1
Gue ber'oh'ria sambil mengangguk.
"Kenapa cuma mengangguk?"
Gue langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tak percaya. Tanya apa Aro tadi barusan?
"Lo tanya apa tadi barusan?"
"Kenapa cuma mengangguk?" ulang Aro, dengan wajah bak balita yang belum punya dosa.
Gila! Ekspresi wajahnya santuy banget, cuy. Bikin gue makin gemes. Yah, emang sengegemesin itu lah Aro. Saking gemesnya, gue sampai pengen nyekek. Baiklah, baiklah, sepertinya gue emang perlu banyak beristigfar.
"Emang gue harus sambil ngapain? Sambil ikut demo di Senayan?" tanya gue jengkel.
"Ya, tidak begitu--"
"Lo kenapa kalau sama gue formal begitu sih?" sela gue memotong ucapannya. "Kenapa nggak kayak--"
"Karena kamu spesial."
Kini giliran Aro yang memotong kalimat gue.
Sial. Iman gue rontok seketika, cuy. Hawa di ruangan kok mendadak panas, ya. Ini juga, Bang Riki sama Vinzi ke mana sih? Kok perasaan nggak nongol-nongol dari dapur.
Gue berdehem, mencoba mengusir rasa gugup yang sedang gue rasakan sekarang. Mana Aro ngaliatin gue-nya gitu banget lagi, kan gue jadi makin salah tingkah.
"Anggita!"
"Ya?"
"Yang dibilang Riki benar. Saya memang suka dan tertarik sama kamu. Kalau ditanya kapan, jujur saya tidak tahu. Karena desiran aneh ini terasa seperti tiba-tiba, atau entah saya yang kurang peka dalam menyadarinya, saya juga tidak tahu. Yang jelas saya tertarik dan suka sama kamu."
Setelah mengatakan itu, suasana menjadi tenang. Aro diam dan larut dalam pikirannya, sedangkan gue sedng menunggu Aro ngasih status kepastian buat gue. Tapi hampir lima berlalu, dan Aro masih sibuk dengan pikirannya. Membuat gue kehilangan sabar.
"Jadi, kita ini apa?"
"Hah?"
Ekspresi tak percaya terlihat jelas di wajah gantengnya.
"Gue suka, lo suka. Terus status hubungan kita ini apa?" tanya gue gemas.
Aro tersenyum super samar. "Kamu mau-nya apa?"
Dengan wajah jutek, gue mengangkat kedua bahu. "Ya, terserah lo. Lo mau-nya gue jadi apa-nya lo."
"Kamu yakin tidak keberatan?"
Mendengar pertanyaannya, mendadak gue jadi was-was. "Emang lo mau jadiin gue apaan?"
"Menantu Mama dan Ibu dari anak-anak saya."
Alamakkkk, adek baper. Gimana ini?
**Tbc,
masih bisa ngusahain update. alhamdulillah. masih ada yang sabar menunggu kan?
__ADS_1
hayo, hayo, katanya yang mau jabanin jam berapa aja saya up-nya, mana2, saya mau liat orangnya. awas kalau nggak nongol. ku tandai kau!! 😂😆**