Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (65) After Halal


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gue menggeliat, merasakan sebuah tepukan pelan di pundakku. Sedikit memaksakan diri untuk membuka kedua kelopak mata gue meski berat, lalu berguman tidak jelas. Karena masih mengantuk, gue kemudian membenarkan selimut gue yang sedikit agak melorot.


"Sayang, bangun dong! Kok malah benerin selimut," decak suara seseorang.


"Nanti, lima menit lagi," balas gue kemudian.


Beberapa detik kemudian, gue langsung tersadar dan membuka kelopak mata dengan spontan. Sayang?


"Ayo, bangun, sayang! Mandi terus kita salat shubuh."


Gue tidak bisa menahan rasa terkejut saat menemukan Aro berada di dalam kamar gue, detik berikutnya gue langsung menjerit dengan spontan, "Aaaaa... kamu kenapa ada di sini, Ar?" pekik gue shock, gue kemudian langsung menarik selimut hingga menutupi batas hidung.


"Loh, kok kenapa? Ini kan kamar kita, emang aku harusnya ada di mana, kalau nggak di sini?"


Hah, kamar kita? Kedua mata gue langsung mengelilingi seisi ruangan yang terlihat seperti hotel. Hah, hotel? Kok hotel sih, apa gue dan Aro kemarin habis mabuk dan akhirnya berakhir di hotel seperti yang ada di dalam novel-novel dewasa itu? Tapi, gue sama Aro sama-sama tidak suka dengan alkohol, rasa-rasanya tidak mungkin deh kalau kita sampai khilaf untuk minum-minum. Tunggu, apa jangan-jangan kita dijebak? ******! Dengan perasaan sedikit takut-takut, gue mengintip ke dalam selimut. Dan betapa terkejutnya gue setelahnya. Gue... gue udah... astaga, gue bukan gadis lagi?


"Ar," panggil gue dengan pandangan kedua mata kosong. Sumpah demi apa pun, gue masih shock.


"Hmm," respon Aro seadanya.


"Kita... kita... semalem... melakukannya?"


Kening Aro mengernyit tanpa bisa dicegah.


"Melakukan 'itu' lho, Ar, yang... yang..." gue bingung sendiri dengan kalimat yang gue ucapkan, "semalam kita mabuk, ya?" tanya gue kemudian.


Aro menatap gue datar. "Kamu lupa aku siapa kamu, ya, Gi?"


Gue menggeleng kuat. Ya, kali, gue lupa, masa punya pacar ganteng begini dilupain?


"Ya, inget dong, Ar, kamu itu pacar aku."


"Pacar?" decak Aro terlihat seperti tidak percaya.


Gue melongo, memangnya ada yang salah dengan ucapan gue?


"Aku ini suami kamu, Anggita!"


Hah, suami?


Detik berikutnya, gue hanya mampu mencengir malu-malu, saat bayangan suara lantang Aro saat mengucapkan ijab qobul kemarin. Kedua pipi gue mendadak memanas, duh, kok gue bisa lupa kalau udah ganti status.


"Hehe, maaf, sayang, aku kan tadi masih setengah ngantuk, setengah sadar," cengir gue sambil mencekram ujung selimut kuat-kuat.


Aro berdecak samar. "Ya udah, buruan bangun, mandi! Terus salat subuh, abis itu kita sarapan dan siap-siap untuk acara resepsi."


"Hehe, iya, iya."


"Jangan cuma iya-iya aja dong, sayang. Bangun beneran! Ayo buruan, nanti kamu dimarahin Ibu."


"Aku gimana ke kamar mandinya, Ar, kalau kamu masih di sini. Kamu nggak kepikiran buat keluar dulu gitu?"


"Enggak ada! Jangan kamu pikir aku nggak tahu, ya, akal bulus kamu biar bisa tidur lagi. Ayo, bangun!"


"Ar," rengek gue manja.


Dengan wajah datarnya, Aro menggeleng dengan tegas. "Bangun!" tegasnya kemudian, tak ingin dibantah sama sekali.


Bibir gue maju beberapa senti. "Kamu ini galak banget sih," protes gue kesal.


"Kata Ibu, kamu kalau nggak digalakin susah bangunnya. Ya udah, aku galakin kamu lah," balas Aro.


Gue berdecak. "Tapi kita ini pengantin baru loh, masa nggak ada manis-manisnya dikit gitu?"


"Nanti, kalau kamu abis mandi. Aku manis-manisin kamu sampai tua."


Gue mendengkus tak percaya. "Mukanya nggak meyakinkan banget gitu."


Kali ini Aro kembali berdecak sambil menatap gue gemas. "Mandi, Anggita! Kenapa malah ngobrol sih?"


Gue kembali mendengkus sekali lagi, lalu membungkus tubuh gue menggunakan selimut dan turun dari ranjang, melirik Aro sinis lalu berjalan menuju kamar mandi dengan sedikit kesulitan. Membuat Aro terkekeh geli saat melihat gue.


"Perlu bantuan? Aku gendong mungkin, biar cepet sampai."


Gue langsung menoleh ke arah Aro. "Nggak usah!" ketus gue galak.


"Ugh! Galaknya istrinya aku, jadi takut. Masa pengantin baru judes begitu, nggak ada manis-manisnya." Aro terkikik geli saat menggoda gue.


"Nanti abis mandi," jawab gue ikut-ikutan.

__ADS_1


"Oke, aku tungguin."


Gue langsung tersentak kaget dan kembali masuk ke dalam kamar mandi, saat menyadari kalau Aro ternyata memanggil room service untuk mengganti sprei kami. Gue mengintip dari kamar mandi, setelah pekerjaan pegawai room service selesai mengganti sprei kami, baru gue keluar.


"Kamu ini lho, Ar, masa subuh-subuh begini panggil pegawai room service?" protes gue sambil berdecak tak percaya.


"Kan butuhnya sekarang, masa iya panggilnya nanti. Kamu sudah wudu sekalian?" tanya Aro sambil menoleh ke arah gue.


Gue mengangguk sebagai tanda jawaban, lalu membongkar isi koper gue untuk mencari baju ganti.


"Ya udah, aku wudu dulu kalau gitu."


"Eh, tunggu, tunggu!"


Aro menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Kenapa?"


"Nanti kalau kamu selesai wudu, jangan keluar dulu, ya, aku mau ganti baju. Nanti keluarnya tunggu aku panggil."


Aro berdecak, mengabaikan kalimat gue dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Namun tiba-tiba ia keluar lagi dan berkata, "Lihat nanti, ya."


"Aro!! Nyebelin kamu!!"


"Aku juga mencintai kamu!" balas Aro tidak nyambung.


"Bodo amat!" teriak gue sambil melempar celana piyamaku, namun beberapa detik kemudian gue berlari dan memungut celana gue barusan.


######


"Capek," keluh gue sambil membanting tubuh gue di atas ranjang.


Hari ini waktu sudah menunjukkan 23.43 WIB, dan acara resepsi kami baru selesai sekitar sepuluh menit yang lalu. Gila! Rasanya capek luar biasa, badan gue rasanya mau rontok saking ngerasa capeknya.


"Sayang, jangan langsung rebahan dong! Ayo, bangun! Itu diapus dulu make-upnya, terus mandi ganti baju. Abis ini tidur deh sepuas kamu."


Aro menarik tangan gue pelan, membuat gue akhirnya duduk di tepi ranjang.


"Ayo, bersih-bersih dulu dong! Nggak boleh males, ah."


"Tapi aku masih capek, Ar. Astagfirullah! Rasanya aku mau pingsan, saking capeknya."


"Iya, nanti aku pijitin, sayang. Sekarang bersih-bersih dulu!"


"Bantuin," rengek gue manja.


Kedua mata gue melebar spontan. "Emang kamu bisa?"


"Ya, dibisa-bisain, dari pada nanti makin lama kita istirahatnya."


"Uh, so sweetnya suami aku."


"Jadi dibantuin enggak?"


Gue menggeleng. "Nggak usah! Sana kamu mandi dulu, gantian! Aku mau ganti baju sama apus make-up dulu."


"Yakin?"


"Yakin, Mas Aroku tersayang."


"Ya udah, aku mandi dulu. Nanti kalau perlu bantuan panggil aku!"


"Iya."


Aro mengangguk paham lalu bergegas masuk ke dalam mandi. Sedangkan gue, melepas beberapa aksesoris yang menempel pada tubuh gue. Tak lama setelahnya, Aro keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di atas pinggang.


"Masih belum selesai?" tanya Aro sambil menggosok rambutnya yang basah.


Gue menggeleng. "Belum, sedikit lagi," jawab gue sambil menggosok wajahku menggunakan kapas yang sudah gue basahi menggunakan Cleansing Water untuk menghapus sisa make-up.


"Perlu aku bantuin?" tawar Aro.


"Enggak perlu. Sana kamu pakai baju! Nanti keburu dingin, terus masuk angin aku yang diomelin Mama kamu."


"Enggaklah, kan kamu menantu kesayangannya."


"Iya, kan menantu Mama cuma aku."


"Nah, iya, itu."


"Ya udah, aku langsung mau mandi dulu, ya," kata gue langsung berdiri.


"Eh, kok cepet, tadi katanya belum selesai?"

__ADS_1


"Kan aku bilang sebentar lagi. Ya, berarti cuma sebentar dong."


"Kamu malu, ya, gara-gara aku mau ganti baju, makanya kamu cepet-cepet kabur?"


"A.apa sih, nggak lucu," ketus gue.


"Iiih, lucu tahu. Cie cie, pipinya merah. Berarti bener dong?"


"Enggak!" pekik gue sebal, "kamu nggak usah godain aku dong, Ar!"


"Biarin, godain istri sendiri ini. Bukan istri orang," balas Aro tak mau kalah.


Gue mendengkus lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. "Tahu ah, aku ngambek."


"Apaan, ngambek kok bilang-bilang," cibir Aro mengejek gue.


"Iya, lah, wajib, kan kamu nggak pekaan, jadi aku harus bilang-bilang. Dari pada kamu nggak ngerti," balas gue sambil menjulurkan lidah gue.


Aro langsung terdiam dengan ekspresi datarnya, sedangkan gue langsung bersorak kegirangan. Baru setelahnya, gue menutup pintu kamar mandi.


"Awas kamu, yang! Nanti aku bales!"


Gue kembali membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepala gue. "Nggak takut, tuh," balas gue sambil kembali menjulurkan lidah gue.


"Aku samperin nih!" ancam Aro.


"Enggak takut," ejek gue langsung menutup pintu kamar mandi.


Saat aku keluar dari kamar mandi, Aro sudah tertidur pulas di atas ranjang dengan setengah badan menyender pada bantal dan kepala yang agak tertekuk. Tanpa sadar gue tersenyum melihatnya. Perasaan tak menyangka sekaligus bahagia tiba-tiba gue rasakan. Jujur, sampai detik ini, gue seperti merasa tidak percaya kalau Aro, si pria nyebelin dan cuek ini, kini telah resmi jadi suami gue, dan gue telah resmi jadi istinya.


"Aku ganteng banget, ya, yang, sampai kamu lupa ganti baju dulu dan milih mandangin wajah aku?"


Gue langsung mendengkus kesal, saat menyadari Aro yang tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menatap gue dengan senyum tipisnya.


"Cih, pede!" decak gue kesal dan mengambil piyama gue dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Ganti di sini aja kenapa sih, kenapa pake ke kamar mandi segala?" protes Aro saat gue hendak masuk ke kamar mandi.


"Suka-suka aku dong," balas gue kemudian.


"Hei, hei, kamu lupa lagi?"


Gue menghentikan langkah kaki gue dan berbalik menatap Aro heran. "Lupa apaan?"


Aro tidak langsung menjawabnya. Ia turun dari ranjang dan menghampiri gue. "Aku ini suami kamu."


"Terus?"


"Sekarang kita suami-istri."


Gue kemudian langsung tertawa garing. "Haha, lucu sekali suamiku."


"Dengerin dulu dong! Aku belum selesai bicara tahu. Mulai sekarang dan seterusnya, kamu nggak bisa melakukan segala sesuatu sesuka hati kamu, sayang, pun sebaliknya, aku pun demikian. Aku juga nggak bisa melakukan segala sesuatu sesuka hati aku, inget! Aku suami kamu, kepala rumah tangga dan calon Ayah dari anak-anak kamu. Paham?"


Dengan ekspresi sedikit cemberut, gue akhirnya mengangguk. "Iya, paham."


"Ya udah, ganti di sini aja."


"Aro!" rengek gue memasang wajah memelas gue.


Lalu Aro terbahak puas."Enggak, enggak, bercanda, sayang. Ya udah, sana masuk! Aku tunggu di luar."


"Nyebelin!"


Aro terbahak, lalu menahan lengan gue lalu membalikkan badan gue. "Sini, sini, cium dulu, biar nggak ngambek lagi," ucap Aro lalu memberikan beberapa ciuman di wajah gue. Mulai dari pucuk rambutku, dahi, lalu turun ke hidung, beralih ke kedua pipi gue dan yang terakhir di bibir gue.


Seketika tubuh gue lemas. Mungkin kalau Aro tidak merangkul pinggangku, gue yakin sembilan puluh persen, gue pasti jatuh ambruk di lantai.


"I love you istriku."


"I love you more, suamiku!"


**End


yeayyyy, kelar. fuiihh, perjuangan sekali nulis ini ya Allah. oke, oke, kali ini aku akan nulis cuap-cuap super panjang.


Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan dan juga kesehatan untuk melanjutkan cerita yang nyaris ingin ku buang draf mau pun catatannya. jujur, perlu keberanian cukup besar untuk melanjutkan ini cerita. apa lagi aku sempat kehilangan draf awal, sampai akhirnya aku harus nulis ulang, rencana mau kubikin konsep ulang jg sih, tapi gagal, dan akhirnya kulanjutkan secara spontan. sempet kuajukan kontrak di sini dan mengalami penolakan yang sangat menyakitkan, sampai akhirnya diterima. terima kasih semua. utk kedua orang tua saya, saudara, teman-teman dan kalian yang mau membaca. fufu, aku terharu sangat dengan apresiasi kalian selama ini. Ahhh, pengen peluk kalian satu-satu πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­ tapi karena berat diongkos, jadi aku ngucapin makasih, makasih dan makasih aja ya buat klian. buat poin dan koinnya terima kasih. gk pernh nyangka ada yang mau nyumbangin koin ke saya. serius. huaaaa, aku terharu. sking terharuny bingung mau ngetik apaan lagi.


fufu, aku pasti akan sangat-sangatttt merindukan klian. komentar kalian, karakter kalian, huaa, gk mau pisah. tapi, memang setiap awalan pasti ada akhirannya. (apaan deh lu, thor. gajenya jan kumat) iya, iya, gk lagi.


oke, utk bahas proyek nulis selanjutnya, aku juga bingung mau bilang apa. sebenarnya aku ada 3 judul yang masih on going, aku juga lagi ngumpulin materi dan bahan riset utk next projek. yg mana dulu yg bakl aku kerjain, yg jelas jhitanku dulu sih 😝😝😝 utk nulis mungkin yg sekuel itu, nyicil2 kali ya. trs utk yg pengen sekuel ini. liat nanti deh, kalau pengen aku pasti bakalan tiba-tiba update, cuma klo udh males. ikhasin aja ya πŸ˜‚haha, oke, oke, kita sudahi saja cuap-cuapnya kli ini. sekli lagi terima kasih utk kalian semuanya tanpa terkecuali. selamat thun baru dan semoga bberapa target list klian semua terpenuhi dan tidak hanya menjadi wacana saja. terima kasih klian semua.

__ADS_1


jangan rindu, ya, aku juga males kalau harus copas kata-kata Dilan πŸ˜›πŸ˜œπŸ˜πŸ˜‹


Kami segenap keluarga Jatuh Cinta Dadakan mengucapkan Terima kasih dan Selamat Tahun baru 2020 πŸ€—πŸ˜πŸ˜—πŸ˜™πŸ˜˜πŸ˜šβ€πŸ’‹πŸ’“πŸ’šπŸ’•πŸ’–πŸ’›πŸ’œπŸ’“πŸ’—πŸ’˜πŸ’πŸ’žπŸ’ŸπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹πŸŽ‡πŸŽ‰πŸŽŠπŸŽ†


__ADS_2