Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (58) Quality Time With Abang


__ADS_3

######


"Buat apa kamu beli-beli begituan, Bang? Aku sebentar lagi udah mau hamil tua, kenapa malah beli barang tidak berguna begitu?"


Seruan Vinzi dari lantai atas sampai terdengar dari lantai bawah, gue yang tadinya sedang asik berbagi chat dengan Aro mendadak penasaran dengan kebisingan yang diibuat oleh keduanya. Tanpa berpikir panjang, gue langsung menaruh ponsel di atas meja dan bergegas menaiki anak tangga.


"Nanti juga berguna, sayang. Untuk sekarang mungkin belum, ta--"


Gue langsung menghentikan langkah kakiku saat tiba di anak tangga, lalu samar-samar mendengar suara Bang Riki. Menimang sebentar, sebelum akhirnya gue memutuskan untuk kembali turun ke lantai bawah, pura-pura sibuk dengan ponselku.


"Aku nggak mau denger apa pun alasan lain, pokoknya kami balikin itu ke temen kamu."


Suara Vinzi kembali terdengar dan kali ini terdengar lebih keras, mungkin keduanya sudah tidak di dalam kamar.


"Ya, enggak bisa gitu dong, sayang. Aku udah terlanjur beli," balas Bang Riki.


"Aku nggak mau tahu," seru Vinzi emosi.


Gue menoleh ke arah anak tangga dan menemukan Vinzi dengan wajah kesalnya sedang menuruni anak tangga.


"Kenapa sih?" tanya gue saat Vinzi sudah tiba di ruang tengah.


"Itu Abang lo, berulah terus, udah tahu istrinya bentar lagi hamil tua malah beli-beli barang nggak jelas. Kemarin abis beli kamera dari temennya. Nah, sekarang malah beli sepeda gunung. Buat apaan coba? Kalau kamera aku masih maklum, nggak masalah. Meski gue agak kesel, tapi gue coba maklum. Lah, ini sepeda gunung, Gi. Buat apaan coba? Lo tahu sendiri Abang lo itu pemalesnya kayak apa, ngapain beli sepeda gunung segala coba? Kan gue jadinya kesel."


Respon pertama gue setelah mendengar curhatana Vinzi hanya berusaha ringisan canggung. Jujur, gue agak bingung juga mau menjawab apa. Akhir-akhir ini Vinzi sering sekali marah-marah, entah untuk sesuatu yang membuatnya benar-benar marah atau hanya kesal. Bisa dibilang saat ini moodnya sedang tidak beraturan sekali, dan gue takut kalau salah menjawab.


"Ya, mungkin Bang Riki pengen lebih sehat. Makanya beli sepeda gue--"


"Halah, nggak percaya gue. Bang Riki itu kan pemalesnya kebangetan, apa lagi setelah nikah. Lo nggak perhatiin perutnya yang sekarang? Majuan kan? Ya, itu bukti kalau dia pemales abis," sahut Vinzi cepat, langsung memotong kalimat gue tanpa berpikir. Membuat gue semakin was-was jikalau salah berbicara.


Gue kembali meringis. Padahal rencananya gue mau tanya-tanya sama Vinzi tentang mempertimbangkan ajakan nikah Aro. Tapi kalau begini, sepertinya bukan ide yang bagus juga.


"Sayang, kamu nggak perlu khawatir sama biaya melahirkan kamu nanti. Aku beneran ada uang, dan--"


"Kamu butuh banget itu sepeda?" tanya Vinzi, masih dengan ekspresi kesalnya. Hanya saja kali ini ia sudah bisa sedikit menahan emosinya.


Gue langsung menoleh ke arah Bang Riki. Ia terlihat salah tingkah sambil mengusap bagian belakang kepalanya. Ia berdehem sejenak, lalu menghampiri Vinzi.


"Sayang, dengerin aku!"


"Enggak. Tinggal kamu jawab, kamu butuh banget itu sepeda apa enggak? Jawabannya simple, iya atau enggak," balas Vinzi.


"Belum."


Vinzi langsung melotot tajam. Lalu Bang Riki buru-buru membujuk Vinzi dan berkata, "Aku bantuin temen aku, sayang. Kasian, dia--"


"Bang!!" seru Vinzi meneriaki Bang Riki dengan penuh emosi.


Baik gue dan Bang Riki sama-sama tersentak kaget karena teriakan penuh dengan emosi, yang baru saja Vinzi lontarkan.


"Aku nggak masalah kalau kamu mau bantu temen, nggak masalah sama sekali, aku justru seneng. Tapi, kalau mau bantu temen itu pikir-pikir dulu dong, Bang. Kebutuhan kita itu banyak, kita mau punya anak lho. Kamu ini bisa nggak sih, berhenti main-main dan siapin diri jadi Ayah yang benar? Nggak bisa?"


"Zi, tenang dulu, deh! Lo lagi hamil, jangan emosi--"


"Gue nggak akan emosi kalau kelakuan Abang lo nggak begitu, ya, Gi. Selama ini gue sudah cukup bersabar," balas Vinzi dengan suara lantangnya. Deru napasnya terdengar ngos-ngosan karena emosi.


"Minum dulu," kata gue sambil menyodorkan segelas air mineral punya gue untuknya.


"Nggak mau, gue mau yang dingin. Otak gue perlu didinginkan," balas Vinzi sambil menggeleng tegas.


Gue mengangguk paham, lalu berdiri dari sofa, menuju dapur untuk mengambilkan air dingin untuknya.


"Nih," kata gue sambil menyodorkan segelas air dingin untuk Vinzi.


Vinzi menerimanya dengan senang hati, tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih sebelum meneguk airnya hingga tandas.


"Lo sih, Bang," bisik gue sambil menendang kaki Bang Riki.


"Mana gue tahu kalau dia bakal ngamuk begitu," balas Bang Riki ikut berbisik.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, akhir minggu ini, itu sepeda udah nggak boleh ada di garasi kita. Nggak mau tahu aku," keukeh Vinzi tak ingin dibantah, kedua matanya melirik Bang Riki tajam.


"Terus ditaruh di mana? Masa gudang? Nanti kalau malah--"


"Dijual Bang Riki!!"

__ADS_1


"Tapi..."


"Udah, iya in dulu kenapa sih," bisik gue sambil melototi Bang Riki tak kalah tajam.


Kedua telingaku sudah cukup panas mendengar Vinzi terus-terusan berteriak. Ngeri juga karena melihat Vinzi yang seperti ingin memakan kami hidup-hidup.


"Ya, udah, iya," ucap Bang Riki kemudian.


"Awas kalau sampai nggak kamu tepati, aku potong burung kamu!" ancam Vinzi sebelum meninggalkan kami.


"Buset, Bang. Hampir kena serangan jantung gue denger teriakan Vinzi. Ah, payah banget sih lo jadi laki. Cemen! Masa digituin kincep! Di mana jiwa-jiwa playboy lo itu? Lo gadein?" cibir gue, mengejek Bang Riki dengan sengaja.


"Gue ini contoh suami idaman yang baik, Gi. Yang mau mengalah demi istri."


Gue langsung mendengkus. "Bilang aja lo takut disuruh di luar, makanya nggak berani ngebantah."


"Itu juga masuk daftar alasan gue nggak ngebantah, Wat."


Gue langsung melempari wajah sok iya Bang Riki dengan bantal sofa. "Halah, gaya lo, Bang! Suami takut istri aja, sok-sokan mau jadi contoh suami idaman," cibir gue kemudian.


"Ini nih, kaum-kaum milenial yang nggak ngerti apa-apa, tapi sok tahunya udah ngalahin google. Sini gue kasih tahu! Menikah itu tentang bagaimana kita berusaha untuk menurunkan ego dan lebih menaikkan kesabaran kita, Wat, dan sekarang terbukti. Gue barusan nurunin ego gue, meski gue ingin membantah, dan lebih milih untuk bersabar. Lo tahu kenapa? Karena gue sudah menikah, Wat."


Seketika gue diam.


"Kenapa mendadak diem? Kata-kata gue menginspirasi lo banget, ya? Ya, emang gitu deh, gue. Udah idaman, penuh dengan inspirasi pula. Ah, emang beruntung banget sohib lo itu, Gi."


Gue langsung menoleh dan menatap Bang Riki datar. Ini Abang gue kapan deh, tahu dirinya?


"Bang, lo pernah baca berita seorang suami meninggal dunia paska cek-cok dengan istri?"


Bang Riki mengangguk. "Pernah."


"Pengen masuk berita dan menjadi salah satunya?"


"Anjiiiir, lo mau bunuh gue?"


"Iya."


"Gue sih nggak papa, coba deh lo tanyain Vinzi udah siap menjanda apa belum."


Gue berdecak sambil melayangkan kepalan tangan ke udara, bersiap untuk memukul Bang Riki, namun tidak jadi.


"Ya, abis lo bercanda mulu, Bang. Gue tadi padahal mau tanya serius."


"Katanya jangan terlalu serius, jika pada akhirnya belum siap untuk diajak serius," balas Bang Riki sengaja menggoda gue.


Gue meraih gelas bekas air minum Vinzi dan bersiap untuk melemparkan pada Bang Riki. "Gue lempar juga lama-lama ini gelas, ya, Bang."


Dengan wajah sok polosnya, Bang Riki malah menyengir sembari mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


"Canda doang, Wat. The sense of humor."


Gue berdecak jengkel.


"Jadi, kenapa?"


"Gue... menurut lo kalau gue terima ajakan Aro nikah gimana?"


"Gimana apanya? Bagus sih, seenggaknya gue nggak harus nampung lo lagi."


"Bang Riki!!"


"Seneng deh gue kalau lo ekspresif begitu. Bawaannya bikin happy."


"Abang, plis! Jangan bercanda terus dong, ini gue semakin nggak enak tahu."


"Sama?"


Gue menatap Bang Riki bingung. "Maksudnya?"


"Ya, lo nggak enak sama siapa?"


"Aro."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kasian. Aro pasti udah disuruh untuk nikah, tapi gue belum mau. Kan gue masih merasa tidak enak, Bang. Apa langsung gue iya in, ya, sekarang?"


"Ngawur! Lo mau nikah sama Aro cuma karena kasian? Wah, parah lo, Gi. Nggak termaafkan, gue aduin Ayah, ya, biar lo diomelin. Punya mulut asal mangap aja, mentang-mentang nggak bayar."


"Ya, enggak gitu juga maksud gue, Bang. Gini lho, kalau dipikir-pikir Aro kan udah 30 lebih, udah siap--"


"Lo sendiri?"


Gue menggeleng. "Gue takut, Bang, jujur."


Bang Riki pindah posisi duduk di sebelah gue pas, lalu bertanya, "Apa yang bikin lo takut adek gue sayang? Malam pertamanya?"


"Bang Riki! Bisa nggak sih lo, setengah jam aja nggak bercanda terus? Enggak bisa? Gatel banget?" teriak gue emosi.


"Lah, gue nggak bercanda, gue tanya seriusan. Ya, kali aja lo beneran takut pas yang itu, namanya juga anak gadis. Wajar kalau takut yang bagian itu," balas Bang Riki tak kalah emosi.


Gue mendengkus. "Gue lebih takut after-nya."


"Takut sampai nggak bisa jalan abis digarap Aro?"


"Astagfirullah, Bang Riki!"


Dengan gaya sok polosnya, Bang Riki menyengir. "Hehe, imajinasi gue ketinggian, ya?"


"Otak lo terlalu kotor."


"Ya, maklum namanya pria, Gi. Wajar kok, nggak bisa dipisahkan oleh apa pun kecuali maut yang memisahkan kita."


Gue mendengkus sambil melempari Bang Riki menggunakan bantal sofa, dan Bang Riki hanya terkekeh geli setelahnya.


"Oke, oke, serius. Jadi, apa yang bikin lo takut?"


"Gue takut nggak bisa kayak yang lo bilang tadi. Gue takut nanti kalau nggak bisa jadi istri yang baik buat Aro, gue takut jadi menantu bur--"


"Gi, stop! Sini peluk gue?" kata Bang sambil merentangkan kedua tangannya.


Meski agak ragu, gue akhirnya mendekatkan tubuh gue dan memeluk Bang Riki. "Ah, adek kesayangan gue udah gede ternyata. Perasaan baru kemarin deh lo, gue gantiin celananya kalau ngompol. Perasaan juga baru kemarin deh lo nangis sambil lari-lari nyari gue kalau abis digodain temen-temen lo. Eh, sekarang udah mau diambil orang aja."


Tanpa sadar gue tersenyum di dalam pelukan Bang Riki, sambil merasakan tepukan lembut yang Bang Riki berikan di pundakku. Setelah kami sama-sama beranjak dewasa, kami memang jarang-jarang memiliki momen semacam ini.


"Gi, lo tahu enggak, terkadang rasa takut itu menghalangi langkah kita untuk menjadi baik. Sering kali kita harus siap dan berani melawan rasa takut itu."


Gue diam, membiarkan Bang Riki meneruskan kalimatnya.


"Kalau lo takut terus-terusan dan nggak coba ngelawan rasa takut lo, lo selamanya akan stuck pada hubungan itu. Nggak maju atau pun mundur, terus-terusan akan begitu. Sekarang yang paling penting bukan jawaban lo mau nikah sama Aro dalam waktu dekat. Tapi, yang penting lo yakinin hati lo, kalau lo sudah berani melawan rasa takut lo. Ngerti?"


"Tapi, Bang, gimana cara ngelawan rasa takut gue tentang pernikahan?"


"Buka mata lo lebar-lebar! Pernikahan itu nggak semengerikan yang ada di otak lo, Gi. Memang benar, pernikahan sering kali tidak semenyenangkan yang terlihat. Tapi, pernikahan itu indah, Gi, selagi lo tahu bagaimana caranya bersyukur. Tidak perlu membandingkan pernikahan si ini dan si itu, jangan jadikan pernikahan yang sudah-sudah menjadi patokan, lo cuma perlu belajar. Yang baik, ya, diambil, yang jelek buang ke laut."


Gue semakin mengeratkan pelukanku lalu mengangguk.


Bang Riki mengelus puncuk rambutku dan berkata, "Pernikahan itu kesepakatan dua belah pihak, antara lo dan pasangan lo. Mau gimana pernikahan kalian nanti, kalian hanya perlu merundingkannya. Jangan terlalu asik dengan rasa takut lo."


Gue menggangguk setuju. "Gue mau coba."


"Pernikahan bukan coba-coba, Gi. Sembarang!"


Gue berdecak sebal. "Coba melawan rasa takut gue, Bang."


Bang Riki manggut-manggut sambil ber'oh'ria. "Gue kirain. Kata-kata lo ambigu sih, kan gue jadi salah tangkep. Ya, sorry."


"Gue sayang lo, Bang."


Bang Riki mengangguk sambil mengusap rambut gue. "Iya, tapi gue sayangnya sama Vinzi, ya."


Gue langsung melepaskan pelukan gue darinya dan menatap Bang Riki sengit. Bang Riki langsung terbahak dan menarik tubuh gue untuk ia peluk.


"Bercanda, bercanda doang, Wat. Iya, iya, gue juga sayang lo. Kan lo adek gue satu-satunya, masa nggak gue sayang."


"Jadi, kalau gue bukan adek lo satu-satunya? Lo nggak sayang gue, Bang?"


"Ya, tergantung adek gue yang lain. Kalau dia penurut ya, jelas gue lebih milih sayang yang penurut ketimbang lo."


Dengan emosi bercampur gemas, gue meraih bantal sofa dan memekulinya. "Bang Riki!! Nyebelin lo!!"

__ADS_1


"Ampun, Wat, ampun! Lo tetep kesayangan gue kok."


**Tbc,


__ADS_2