Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (34) Shock


__ADS_3

#####


Gue menunggu kedatangan Bang Riki dan Aro dengan perasaan gelisah. Beberapa menit yang lalu, gue dapat telfon dari pihak rumah sakit, yang memberitahu kalau Vinzi tadi sempat pingsan, dan sekarang sedang dirawat di sana. Gue panik, takut kalau Vinzi kenapa-kenapa. Apalagi Vinzi anak kostan, yang jauh dari kedua orangtuanya. Hampir sama, sama gue sih, cuma bedanya gue masih punya Bang Riki seumpama gue sakit. Tapi Vinzi, dia nggak punya saudara atau kerabat yang tinggal di Jakarta, dan itu semakin membuat gue panik.


"Wat, Wat," teriak Bang Riki dari halaman.


Gue langsung berlari keluar rumah.


"Vinzi kenapa?" tanya Bang Riki panik.


Gue menggeleng tanda tidak tahu. "Tadi gue ditelfon pihak rumah sakit, katanya dia pingsan."


"Ya udah, ayo kita berangkat sekarang."


"Eh, tunggu, tunggu!" cegah Aro sembari menahan lengan Bang Riki.


"Kenapa lagi sih, Ar? Vinzi lagi butuh gue dan gue harus segera ke sana. Lo paham nggak sih?"


"Ya, paham. Maksud gue, lo nggak mau ganti baju atau cuci muka dulu gitu?" tanya Aro, sambil melirik Bang Riki dengan pandangan tak yakinnya.


Gue kemudian menoleh ke arah Bang Riki dan meringis. Penampilan Bang Riki masih sama semrawutnya seperti tadi pagi, dan sekarang bertambah semrawut gara-gara panik. Apalagi sekarang Bang Riki hanya mengenakan celana boxer dan kaus tanpa lengan saja. Sangat-sangat tidak cocok kalau diajak pergi, apalagi pergi ke rumah sakit untuk menjenguk, bukannya sembuh, yang ada Vinzi bisa bertambah sakit lihat penampilan Bang Riki yang begini.


"Aro benar. Lo mending ganti baju dan mandi sekalian deh, Bang. Nggak mungkin banget kita ke rumah sakit, tapi penampilan lo begini. Sana, ganti baju dulu!"


"Nggak sempet!" Bang Riki menggeleng tegas dan bersikukuh untuk segera berangkat.


Gue melotot tajam ke arahnya. "Sempet. Kita tungguin!"


"Tapi--"


"Nggak ada tapi-tapian, lo sekarang buruan masuk dan mandi, sana! Biar waktu kita nggak makin terbuang percuma, Bang. Buruan!"


Meski awalnya ragu, Bang Riki akhirnya mau masuk ke dalam. Entah beneran mau mandi atau tidak, gue sendiri pun nggak tahu.


"Jangan panik, semua pasti baik-baik saja. Percaya sama aku!" bisik Aro sambil merengkuh tubuh gue ke dalam pelukannya. "Doain yang terbaik buat Vinzi," imbuhnya kemudian.

__ADS_1


Meski sedikit ragu, gue akhirnya tetap mengangguk sembari berdoa agar tidak terjadi hal serius pada Vinzi.


####


Gue, Aro, dan Bang Riki akhirnya sampai di rumah sakit. Di antara kita bertiga, jelas yang terlihat paling panik Bang Riki, mungkin Abang gue ini merasa bersalah karena telah membiarkan pacarnya sakit sampai jatuh pingsan segala. Jujur, gue juga agak bersalah sih, cuma sebisa mungkin gue nggak akan nyalahin siapa pun, termasuk diri gue sendiri.


"Permisi, Sus, pasien yang dibawa kemari atas nama Vinzi di sebelah mana, ya?"


Begitu sampai di Nurse Stasion, Aro langsung bertanya ke perawat, sedang Bang Riki langsung mencari brankar satu persatu tanpa ada niat bertanya sedikit pun. Emang benar ya, panik tuh, kadang bikin kita jadi bego, kayak Bang Riki sekarang ini.


"Oh, Nn.Vinzi yang tadi dibawa ke sini gara-gara pendarahan, ya, Mas? Itu bed nomor lima. Keadaan pasien sudah mulai stabil, bayinya pun nggak papa. Mungkin si Ibu sedikit stres. Awal kehamilan memang begitu, tapi wajar kok," jelas si perawat dengan rambut sebahu, lalu rekannya menyikut lengannya.


"Itu kan tugas Dokter Anwar yang jelasin, kenapa jadi lo yang jelasin," bisik perawat yang memakai jilbab.


Gue mematung. Apa tadi katanya? Pendarahan. Bayi. Hamil? Maksudnya Vinzi hamil?!


"Sayang," bisik Aro sambil merangkul pundak gue, elusan ringan Aro berikan beberapa detik kemudian. Tapi tidak cukup membuatku tenang. "Tenang dulu," bisiknya kemudian.


Enggak. Mana bisa gue tenang. Vinzi hamil dan kemungkinan besar, pria brengsek yang telah menghamilinya itu Abang gue sendiri.


"Brengsek lo, Bang!" maki gue emosi sambil mendorong tubuhnya penuh emosi.


"Lo apa-apaan sih, Wat?"


"Harusnya gue yang tanya, lo yang apa-apaan? Gimana bisa Vinzi bisa hamil? Lo apain sahabat gue, brengsek!" amuk gue emosi. Tak lama setelahnya, Aro menghampiri dan memeluk gue.


"Anggita, kamu harus tenang dulu! Kita sedang di rumah sakit. Kamu jelas nggak mau diseret oleh pihak keamanan, bukan?" bisik Aro masih berusaha untuk menenangkan gue.


"Gimana aku bisa tenang, sementara..." Gue menjeda kalimat gue dan menoleh ke arah Vinzi. "Zi, maafin Abang gue. Maaf, harusnya lo--" Gue nggak sanggup untuk sekedar meneruskan kalimat gue. Yang bisa gue lakukan setelahnya hanya bersimpuh di samping brankar Vinzi. "Maafin gue, Zi! Maafin Bang Riki!"


"Ta, bangun! Lo nggak salah," isak Vinzi. "Ar, tolong suruh Anggi berdiri!"


"Anggita, ayo berdiri!" Aro kemudian membantuku berdiri, dan mendudukkan gue di tepi brankar Vinzi.


Gue semakin menangis tersendu saat Vinzi berusaha menenangkan gue dengan cara memelukku.

__ADS_1


"Tapi Bang Riki brengsek, Zi. Gue udah bilangkan, Abang gue ini brengsek. Harusnya lo nggak mau sama Bang Riki. Lo kenapa bego banget sampai mau pacaran sama orang model Abang gue. Kenapa, Zi?"


Dengan bibir pucatnya, Vinzi berusaha untuk tetap tersenyum dan mengelap kedua pipi gue yang basah. "Yah, kayak yang lo bilang, Ta. Gue ini emang bego."


"Zi!!"


Vinzi terkekeh lalu mengangguk. "Gue baik, Ta. Seenggaknya, nggak seburuk yang lo pikirin. Gue berani ngelakuin hal yang dilarang agama maupun Tuhan. Jadi, gue harus siap untuk mempertanggung jawabkannya."


Mendengar Vinzi bilang begitu, hati gue semakin terluka. Gue kembali menangis dan Vinzi langsung memeluk gue sekali lagi.


"Wali Ny. Vinzi?"


Gue langsung melepaskan diri dari pelukan Vinzi, lalu menoleh dan menemukan seorang dokter yang terlihat muda dan juga manis. Gue melirik ke arah Bang Riki yang masih mematung, ia baru merespon saat Aro menyenggol lengannya.


"Ya?!" seru Bang Riki spontan. Wajahnya terlihat kebingungan, ia menatap gue, Aro, Vinzi dan juga dokter tadi secara bergantian.


"Anda suami dari Ny. Vinzi?"


Bang Riki terlihat makin kebingungan, namun beberapa detik kemudian ia mengangguk ragu.


"Mari ikut saya, ada beberapa hal yang harus saya jelaskan!"


Bang Riki menatap gue ragu. Gue langsung melototinya dengan tajam. Dan Bang Riki langsung mengekor di belakang dokter muda tadi.


Fokus gue lalu kembali ke Vinzi. "Semua akan baik-baik saja, oke? Gue jamin lo akan segera jadi istrinya Bang Riki. Oke?"


**Tbc,


pendek again?? πŸ˜†


biarlah, lumayan, daripada lu pada manyun gegara saya gk update. πŸ˜‚


habis ini enaknya pake pov siapa? boleh kasih saran???? pov-nya Riki kali, ya πŸ€” atau Vinzi aja???


kasih saran di komen, ya, ini saya agak maksa lho. kalau gk mau kasih saran, saya ngambek dan gk mau update lagi πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜‘πŸ˜΄**

__ADS_1


ohya, yg kemarin nebak Vinzi hamil. Selamat anda benar dan berhak mendapatkan dinner gratis bareng artis idola. tiket dinner bisa diambil via mimpi yak πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


__ADS_2