Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (49) Galau, Galau, Galau


__ADS_3

######


Gue makin gelisah sambil menatap ponsel gue yang tergeletak di atas meja. Dari tadi siang, gue sudah mencoba untuk menghubungi Aro, namun sampai malam pun tiba, Aro masih belum bisa gue hubungi. Entah karena alasan apa. Hati gue semakin gelisah, saat membayangkan tebakan Ika dan juga Wisnu tadi. Bagaimana kalau mereka benar-benar memiliki hubungan? Rasa takut dan juga khawatir yang gue rasakan makin menjadi, dan gue tidak tahu bagaimana cara menyingkirkan rasa khawatir ini. Ingin rasanya percaya kalau Aro tidak mungkin melakukan itu dengan gue.


Tapi, sisi lain gue terus berteriak dan berkata, "Mungkin saja. Toh, Nabila Afsheen cantik. Semua laki-laki normal pasti suka cewek cantik."


Ah, gue galau.


"Kenapa sih? Gue perhatiin dari tadi ngelamun mulu? Mikirin apaan sih?"


Vinzi kemudian ikut bergabung di samping gue, sambil mengunyah biskuit bayinya. Dua hari ini, dia memang sedang doyan-doyannya makan makanan bayi, bahkan anehnya kemarin dia sarapan bubur bayi. Emang aneh ini bumil satu.


"Galau."


Vinzi menghentikan kunyahannya dan menoleh ke arahku dengan kedua alis terangkat. Menerjap beberapa detik dan mendengkus setelahnya.


"Yaelah, baru ditinggal sehari udah galau. Kemarin katanya mulai membiasakan diri. Kok balik lagi?"


Gue menghembuskan napas panjang. "Enggak tahu, gue gelisah, Zi. Menurut lo, ciri-ciri orang selingkuh itu bagaimana?" tanya gue spontan. Gue mungkin belum bisa memastikan kalau Aro selingkuh, tapi rasa-rasanya tidak salah kan kalau gue bertanya...


Bugh!


Sebuah bantal sofa tiba-tiba mendarat di wajah gue. "Mikirnya ini lho. Nggak boleh su'udzon! Hubungan itu, yang paling penting adalah saling percaya, bukan curigaan dan nuduh pasangannya selingkuh, apa lagi LDR. Kali ini lo kelewatan, Gi."


Gue berdecak sebal, karena sikap sok tahu Vinzi saat ini. "Gue nggak nuduh," elak gue tak terima.


"Terus apa namanya kalau nggak nuduh?"


"Gue cuma tanya, ciri-ciri orang selingkuh itu gimana. Gue nggak nuduh."


"Ya, sama aja. Intinya lo curiga sama Aro kan? Lo nggak percaya sama Aro dan menerka-nerka kalau dia sekarang lagi selingkuh makanya nggak bisa lo hubungi. Iya, kan? Gue tahu, ya, isi otak orang macem lo."


Kali ini gue bungkam. Bingung juga rasanya harus merespon bagaimana. Apa yang diucapkan Vinzi mungkin benar, gue curiga dan juga takut Aro lagi selingkuh saat ini. Tapi, setidaknya kecurigaan gue beralaskan, nggak sembarangan nuduh karena dia nggak bisa dihubungi. Menurut kalian, wajar nggak sih ketakutan gue saat ini?


"Kan, diem kan lo? Berarti bener kan tebakan gue."


"Tapi seenggaknya, kecurigaan gue ada alasannya, Zi."


"Apa pun alasan lo, intinya cuma satu, Gi. Lo nggak percaya sama Aro."


Kali ini gue memilih untuk tidak menjawab. Gue kemudian meraih ponsel dan mencari foto yang sempat Nabila Afsheen dan Aro yang berada Instagram.


"Nih," kata gue langsung menyodorkan ponsel gue, "lo lihat sendiri! Kenapa sampai gue mikir yang enggak-enggak."


Dengan dahi mengkerut heran, Vinzi menerima ponsel gue. "Ini Aro?" tanyanya setelah melihat foto yang gue tunjukkan.


"Menurut lo?"


"Kayaknya sih, iya. Apa lagi kalau dilihat dari double breasted jacket chef-nya, emang Aro sih." Vinzi memajukan wajahnya. "tapi, kenapa Aro bisa foto sama Nabila? Mana captionnya begini banget lagi. 'Doain yang terbaik, ya!' apa-apaan dia ini. Masa captionnya begitu banget, ini si Aro tahu?"


Gue menggeleng pasrah. "Kan gue belum bisa hubungi dia, Zi. Ya, mana lah gue tahu."


"****, udah masuk akun berlambean pula."


"Serius lo?"


Vinzi langsung menyodorkan ponsel gue yang kali ini sudah berganti, sudah bukan akun milik Nabila Afsheen yang gue tunjukkan tadi.


"*****, kok gercep banget sih mereka?"


"Selebgram, Gi. Followernya 2,5 juta lebih. Wajar lah. Salah Aro juga."


Gue menoleh ke arah Vinzi. "Maksudnya?"


"Salah sendiri punya wajah ganteng yang kelewatan, jadi inceran para wanita cantik kan?"


Lah, malah bercanda.


Gue memutar kedua bola mataku kesal. "Tidur deh, sana lo!" usir gue kemudian.


Lagi galau beneran juga, malah dibercandain.


"Belum ngantuk, lagi nungguin Bang Riki juga gue. Tiba-tiba pengen mi ayam," balas Vinzi di sela kunyahannya.


"Makan mulu lo, semenjak hamil," cibir gue sambil berdecak.


Vinzi menyengir sambil memainkan kedua alisnya naik-turun. "Yang pengen ponakan lo, nih. Laperan dia." ia lalu mengelus perutnya dan kembali berkata, "mending lo telfon Aro. Dari pada galau."


"Udah gue coba, tapi yang jawab Mbak-mbak operator yang ngeselin itu."


Vinzi mangguk-mangguk paham. "Ya udah, tunggu aja. Nanti juga dia telfon balik."


"Ini juga lagi gue tungguin," balas gue.


"Apaan lagi, ya," guman Vinzi sambil garuk-garuk kepala, "ah, mending lo makan ini, tinggal satu. Mau? Gue bagi dua," tawarnya kemudian.


Gue menggeleng. "Nggak usah, buat lo sama ponakan gue aja." gue kemudian langsung berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

__ADS_1


Saat gue kembali ke ruang tengah, Vinzi sudah tertidur pulas di atas karpet, dan bukannya di atas sofa.


"Lah, katanya belum ngantuk. Ini gue tinggal ke dapur bentar aja udah molor aja," gumanku sambil berdecak dan geleng-geleng kepala.


"Assalamualaikum!" ucap Bang Riki saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam."


"Bini gue mana, Gi?" tanyanya sambil meletakkan bungkusan plastik yang tadi dibawanya.


Gue menunjuk Vinzi yang tergeletak di atas karpet menggunakan dagu gue. "Tuh!"


"Astagfirullah! Kok tidur di situ?"


Bang Riki kemudian menggulung lengan kemeja panjangnya dan menghampiri Vinzi.


"Mana gue tahu, tadi gue suruh tidur di kamar katanya belum ngantuk. Eh, pas gue tinggal ke dapur ambil minum, udah molor di situ."


Bang Riki kemudian menepuk pipi Vinzi pelan. "Yang, kok tidur di sini? Kenapa nggak di sofa atau di kamar sekalian. Ayo, bangun!"


"Karpetnya bagus, bulunya lembut, Bang. Aku suka, terus tiba-tiba pengen rebahan di sini," jawab Vinzi dengan wajah polosnya.


"Astaga!" decak Bang Riki speechless, "ya udah, ini mi ayamnya dimakan dulu. Nanti keburu mie-nya mengembang."


Dengan ekspresi setengah mengantuknya, Vinzi menggeleng sambil mengucek sebelah matanya. "Aku ngantuk, pengen bobo di kamar aja. Biar Anggi aja yang ngehabisin."


"Loh, kok jadi gue?" protes gue kesal.


"Nggak papa, anggep aja rejeki anak sholeh-HAH!" kelakar Vinzi menekankan kata hah-nya.


Bang Riki manggut-manggut pasrah. "Mau jalan sendiri apa gendong?" tawarnya penuh perhatian.


"Jalan sendiri aja. Eh, tapi kalau kamu maksa, digendong juga nggak papa. Lumayan, irit."


Oke, bumil, mah, bebas, ya. Terserah deh mau ngapain mereka. Pokoknya kita mengiyakan saja.


####


"Kenapa nggak dimakan? Nanti keburu mengembang. Sana, ambil piring sama sendok. Sama air dingin sekalian, gue temenin ngehabisinnya," cerocos Bang Riki setelah kembali turun ke bawah.


Tampilannya kini jauh lebih segar, bukan lagi kemeja slimfit-nya. Melainkan sudah berganti celana kolor dan kaos putih bertuliskan i love Bali.


"Heh! Diajak ngobrol Abangnya malah dikacangin. Gue banting juga hape lo lama-lama, ya," ancam Bang Riki dengan wajah snewennya.


Dengan wajah datar gue, gue menyodorkan ponsel gue.


"Apaan nih?"


Bang Riki langsung berdecak dan merebut ponselku, lalu melemparkannya di sofa single, namun hanya membentur dan akhirnya jatuh ke lantai. "Udah kan? Sekarang ambil piring!"


Mampus!


Beneran dilempar. Gue langsung menatap Bang Riki tajam. Namun, yang ditatap hanya memberikan tatapan datarnya.


"Apa?" tantang Bang Riki dengan wajah sengitnya.


"Kejem lo, Bang! Kek temen lo!"


"Salah lo sendiri lah, pake acara nantangin gue. Gue ini penganut 'lo jual gue beli, tapi kalau gue nggak suka nggak gue beli'. Paham?"


"Bodo amat," ketus gue langsung memungut ponsel gue yang tergeletak di atas lantai. Yang untungnya, aman.


"Piring, sendok, air dinginnya, Wat!" seru Bang Riki saat gue hendak mendaratkan bokong di atas sofa.


Gue berdecak sebal. Namun tidak bisa membantah ucapan Bang Riki. Masih mau aman gue, cuy. Nggak mau diusir dari rumah tiba-tiba. Dengan ekspresi cemberut, gue kemudian kembali berdiri dan berjalan menuju dapur. Mengambil sendok, garpu, dan juga air mineral dingin pesanannya Bang Riki.


"Piringnya mana?"


"Itu udah pake styrofoam, kenapa segala pake piring? Udah pake itu aja."


Bang Riki berdecak. "Gue nggak suka makan pake styrofoam, selagi masih ada piring. Sana ambil piring dulu!"


"Ngeselin lo, belagu!"


"Bodo amat," balas Bang Riki tak kalah judes.


Gue semakin cemberut. Kembali ke dapur dan mengambil piring.


"Kenapa sendok sama garpunya cuma satu?"


"Tangan lo cuma dua, Bang. Cukup itu, sebelah kanan pegang sendok, sebelah kiri pegang garpu. Udah, beres. Ribet amat lo, kayak cewek."


"Lo sendiri?"


"Gue nggak laper," ketus gue kembali mencoba menghubungi Aro, namun lagi-lagi belum ada jawaban.


"Kata Vinzi lo belum makan. Makan dulu, menghadapi kenyataan itu butuh banyak tenaga. Biaya BPJS sekarang naik, Wat. Kudu pinter-pinter jaga kesehatan kita, biar nggak usah pake itu."

__ADS_1


"Belum laper," jawab gue lagi-lagi ketus.


Bang Riki kembali berdecak sembari mengaduk mie-nya bersama saos dan sambalnya. "Galau gara-gara Aro lagi? Astaga, drama kalian tuh, norak banget sih, Wat. Berantem hal remeh-temeh, terus nggak mau makan. Baikan, akur. Berantem lagi, terus nggak mau makan lagi. Nggak bosen lo sama alur yang begitu? Hidup kok monoton amat. Kayak gue dong! Keren!"


Gue langsung melirik Bang Riki sinis. Keren apanya, kalau faktanya doi ngehamilin anak orang. Ya, emang nggak monoton, tapi terlalu meregang nyawa. Untung, gue mau pun keluarga gue nggak ada yang punya riwayat penyakit jantung, coba kalau ada. Regang sudah nyawa kami karena mendengar berita mengejutkan itu. Astagfirullah, apakah ini termasuk tanda-tanda akhir zaman. Hal memalukan begini kok dibanggain.


"Kali ini kenapa lagi sih?" tanya Bang Riki pada akhirnya. Ia kemudian menyendok sesuap mie ayamnya, dan mengunyahnya sambil melirik gue.


"Menurut lo, Aro tipekal orang yang punya potensi untuk selingkuh enggak?"


"Semua orang berpotensi untuk selingkuh, Gi, termasuk lo sendiri. Setiap hubungan pasti ada kok godaan untuk selingkuh, dan itu wajar."


Gue langsung melotot tidak setuju.


"Tapi," sambung Bang Riki, "ada tapinya, Gi."


"Apaan?"


"Tidak semua orang mampu menahan godaan untuk berselingkuh. Tapi, tidak sedikit kok yang lebih memilih untuk menekan keinginannya berselingkuh, karena sudah berkomitmen dengan sungguh-sungguh."


Gue memandang Bang Riki dengan ekspresi datar. "Jadi, intinya Aro bisa selingkuh enggak?" tembak gue tak ingin berbasa-basi.


"Bisa," sahut Bang Riki cepat dan tanpa keraguan, "tapi masalahnya, Aro tertarik enggak buat selingkuh. Itu yang jadi pertanyaan."


"Menurut lo, gimana, Bang?"


"Gimana apanya?" tanya Bang Riki kembali menyantap mie ayamnya.


"Tertarik enggak buat selingkuh."


Dengan ekspresi menyebalkannya, Bang Riki terkekeh dan sibuk mengunyah. Sebelum akhirnya berkata, "Ya, tergantung kek apa calon selingkuhannya."


"Nabila Afsheen."


"Maksudnya?"


"Kalau calon selingkuhannya sekelas Nabila Afsheen, Aro tertarik enggak?"


Bang Riki meletakkan sendok dan garpunya. Meraih botol air mineralnya, membuka botol dan menegaknya hingga setengah.


"Gi, lo cemburu gara-gara foto yang Nabila posting? Apa lo merasa nggak percaya dengan diri lo sendiri?"


"Gue..."


"Apa lo mulai meragukan Aro?"


"Gue nggak tahu. Gue gelisah, takut, dan juga cemas, Bang," aku gue jujur.


"Nabila emang cantik sih, cuma, gue percaya Aro bukan tipekal pria yang bertanggung jawab. Dia, begitu-begitu termasuk yang setia, saking setianya, dia sampai pernah diselingkuhi."


Aro pernah diselingkuhi? Aro yang sebaik itu diselingkuhi? Emang kurang bersyukur itu mantan pacarnya. Oh, oke, gue akui gue memang sering mengeluh tentang Aro. Tapi, enggak pernah, tuh, ceritanya gue terinspirasi untuk berselingkuh dari Aro.


"Jadi, lo tenang aja. Aro nggak bakalan selingkuh, percaya sama gue! Nanti kalau seandainya Aro beneran selingkuh, gue beliin lo i-Phone 11 Pro Max."


Segitu percayakah, Bang Riki kalau Aro nggak bakalan selingkuh.


Bang Riki mengangguk yakin. "Iya, gue beliin lo i-Phone bekas sama promag 11 biji."


"Rese lo, Bang!" amuk gue kesal, sedang Bang Riki terbahak setelahnya.


"Gue beneran. Nanti gue beliin. i-Phone nya nggak satu deh, lima pun nggak papa, berarti kalau i-Phone nya lima, promag-nya lima puluh lima."


"Tahu lah, nyebelin lo, Bang!"


"Santuy, Gi! Hidup itu jangan dibawa tegang, lemesin aja. Cukup cowok yang tegang pas--"


BUGH!


Sebuah bantal sofa langsung gue lempar hingga mengenai wajah Bang Riki. "Apa? Mau ngomong jorok kan lo? Udah mau jadi Bapak juga, pikirannya ngeres mulu."


"Lo kali yang pikirannya jorok. Gue tadi mau bilang, cukup cowok yang tegang kalau mau ngucapin ijab qobul. Lo aja yang ngeres, pake nyalahin gue lagi."


"Tahu, ah."


Gue sudah terlanjur kesal. Dengan wajah jutek, gue kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya.


"Woy, ini mie nya dimakan dulu!" teriak Bang Riki namun gue abaikan.


"Bodo amat, kalau sakit tanggung sendiri. Gue nggak mau peduli, ya."


"Iya!!"


"Ngeyel."


"Biarin."


"Serah lo!"

__ADS_1


"Oke."


**Tbc,


__ADS_2