
######
"Ya, halo!" ucapku setelah menerima panggilan Harun.
"Assalamualaikum, ini saya Harun, Ar. Suami Jasmine."
"Iya, Wa'allaikumussalam. Ada yang bisa saya bantu, Run?" tanyaku ragu.
Aku merasa ada yang berbeda dari suara Harun. Perasaan khawatir sekaligus tak enak kian kurasakan, ini sebenarnya ada apa?
"Harun?" panggilku untuk memastikan apakah sambungan telfonnya masih terhubung atau sudah terputus.
"Iya, saya masih di sini, Ar."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Apa kamu masih di Bandung?"
Aku semakin yakin pasti ada yang tidak beres saat ini.
"Tidak. Saya sudah berada di Jakarta, malam ini saya akan melamar kekasih saya. Minta doa dan restunya, ya, Run."
"Pasti. Saya akan mendoakan dari sini, semoga semuanya lancar sampai hari H."
"Tapi kalian semua baik-baik saja kan? Entah kenapa perasaan saya mendadak tidak enak. Tidak terjadi sesuatu kan?"
"Itu... saya menelfon karena ingin memberi kabar sekaligus minta doanya."
"Kenapa? Bukankah operasinya sudah dilakukan? Kondisi Jasmine juga bagus kan kamu bilang?"
"Tapi hari ini Tuhan berkata lain. Istri saya... istri saya pagi tadi menghembuskan napas terakhirnya."
"Apa?!"
"Jasmine meninggal dunia tadi pagi. Mohon dibantu mendoakan ya, Ar, semoga amal ibadahnya diterima di sini Allah, dan segala kesalahan almarhumah di masa lalu tolong dimaafkan."
Tubuhku seketika langsung mematung saat mendengar kabar tersebut. Separuh otakku berusaha mencerna kalimat Harun dengan sedikit lambat. Apa aku tidak sedang bermimpi sekarang ini?
"Kamu jangan bercanda, Run!" seruku spontan.
"Ini menyangkut nyawa, Ar, sekarang yang kita bicarakan istri saya. Menurutmu saya mau begitu bercanda tentang kematian seseorang, terlebih ini istri saya sendiri. Saya tidak segila itu, Ar!" balas Harun ikut berseru keras.
Tubuhku rasanya seperti tersambar petir. Lemas dan tak berdaya. "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Maaf, saya... saya hanya terkejut."
"Saya pun demikian. Ya sudah, saya hanya ingin mengabari dan meminta untuk didoakan. Saya harus mengurusi pemakaman. Saya tutup, assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Tubuhku rasanya lemas dan otakku tidak bisa berpikir jernih. Jasmine meninggal dunia?
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Setelah cukup berpikir, aku akhirnya bangkit berdiri dan bergegas mengganti pakaianku dan turun ke lantai bawah setelah tadi sempat menyambar kunci mobilku terlebih dahulu.
"Mau ke mana, Ar, kok buru-buru banget? Rapi banget lagi."
__ADS_1
"Bandung, Ma."
"Ha? Ngapain ke Bandung, nanti malam acara lamaran kamu loh, ini kenapa malah mau ke Bandung. Kamu jangan bercanda, Ar!" omel Mama, mencegah kepergianku.
"Aro harus ke Bandung, Ma, ada teman Aro yang meninggal. Seengaknya Aro harus ke sana."
"Lalu bagaimana dengan acara lamaran kamu? Nitip aja udah, lah, Ar."
"Ma, ini bukan masalah uang bela sungkawa. Tapi... pokoknya Aro harus ke Bandung."
Mama memandangku curiga. "Memang siapa yang meninggal?"
Aku mendundukkan kepalaku sedih. "Jasmine, Ma," lirihku kemudian.
Kedua mata Mama melotot terkejut. "Apa?! Siapa kamu bilang?"
"Jasmine."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kapan itu, Ar? Ya Allah, itu Jasmine mantan kamu yang pernah selingkuh itu kan?"
Aku mengangguk sedih. "Hmm."
"Terus, bagaimana dengan Anggita?"
"Aku akan ke sana dan berpamitan dengannya dahulu."
"Lalu bagaimana dengan lamaran kalian?"
Kali ini aku diam. Iya, juga, ya bagaimana dengan acara lamaran kami?
####
"Ya, halo? Ada apa, Ar? Kenapa kamu menelfon?"
Aku menghela napas sekali lagi. "Aku ada di luar. Bisa kamu keluar sebentar?"
"Ha? Kamu di depan?"
"Hmm. Aku mau ngomong sesuatu."
"Tunggu sebentar, aku keluar."
"Hmm. Aku tunggu."
Anggita lalu mematikan sambungan telfonnya. Tak lama setelahnya, ia keluar dari gerbang dan masuk ke dalam mobilku.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Anggita," panggilku sambil menggenggam tangannya, "aku mau minta izin."
"Untuk?"
"Aku harus ke Bandung."
Secara spontan, Anggita melepaskan tangannya dari genggamanku. Kedua matanya menyorotku tajam.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Jasmine--"
"Apa?! Kamu ingin membatalkan pertunangan kita demi mantan kamu?! Kamu sebenarnya serius tidak sih, Ar, mau nikahin aku? Kalau kamu berniat main-main, harusnya kamu bilang dari awal," seru Anggita dengan penuh emosi.
Aku menggeleng tegas sebagai tanda jawaban, lalu berusaha meraih telapak tangan Anggita, namun ditepis olehnya.
"Dengerin aku dulu, sayang!"
"Aku harus dengerin apa?! Dengerin kalau kamu ingin kembali bersama mantan kamu itu. Iya?!"
"Tidak. Aku ke Bandung justru ingin melayat karena Jasmine baru saja meninggal dunia!" seruku membalas dengan emosi.
Napasku naik-turun, karena emosi. Kulirik Anggita tampak terkejut. Mungkin ia terkejut dengan suaraku yang tiba-tiba meninggi dan juga terkejut mengenai berita yang ia terima.
"A.apa k.kamu bilang, Ar? Siapa yang meninggal?"
"Jasmine meninggal dunia."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kapan?"
"Tadi pagi."
"Lalu kamu akan ke sana?"
Aku mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Sendiri?" tanya Anggita.
Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Aku ikut," ucap Anggita tiba-tiba.
Aku menatapnya ragu. Namun, Anggita mengangguk tanpa kuduga. "Aku mau ikut. Boleh?"
"Ta...tapi... kamu yakin?"
"Hmm. Masalah pertunangan kita, aku nggak masalah untuk menundanya."
Jawaban Anggita benar-benar di luar dugaanku. Apa yang sempat aku khawatirkan tidak terjadi sama sekali. Memang tidak salah aku memilihnya. Dengan penuh rasa haru, aku kemudian memeluknya.
"Terima kasih," ucapku tulus.
Anggita mengangguk sambil menepuk pundakku. "Setidaknya, kamu perlu bahu nanti kalau kamu mau menangis di sana, ada aku," guraunya membuatku tersenyum.
Ia kemudian mengurai pelukan kami dan berkata, "Aku masuk dan ganti baju dulu, ya. Sekalian pamit dan ngasih tahu orang rumah."
Aku mengangguk. "Apa perlu aku temani?"
Anggita menggeleng. "Enggak usah. Kamu tunggu di sini aja. Aku nggak akan lama kok. Ya, seenggaknya nggak selama pas Bang Riki boker," cengirnya kemudian.
Aku kemudian mencubit hidungnya gemas. "Jorok banget perumpamaannya! Sana masuk! Nanti keburu siang."
"Siap! Tapi, ngomong-ngomong, aku minta maaf, ya karena tadi sempet teriak-teriak. hehe."
__ADS_1
"Hmm. Aku juga," balasku lalu menyuruhnya segera masuk.
**Tbc,