Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (38) Cemburu Itu Tanda Cinta?


__ADS_3

####


Setelah obrolan unfaedah gue dan Bang Riki, yang sampai bawa-bawa kopi serenteng, yang sampai sekarang tidak tahu mau diapakan itu. Gue dan Bang Riki memutuskan untuk menemui Aro, dengan sedikit tidak rela, sejujurnya. Kata Ayah, gue tidak boleh kebanyakan ngambek. Lalu kata Ibu kalau mengalah itu bukan berarti kalah, dan kata Bang Riki, nurunin ego kita sedikit, tidak akan membuat kita mendadak kena serangan jantung atau penyakit mematikan lainnya.


Emang suka enggak pake mikir dulu dia kalau mau ngelawak. Asal mangap aja itu mulut, tanpa perduli sama yang lain. Kalau bukan karena dia penopang hidup gue, selama hidup di ibukota yang keras ini, gue pasti tidak akan sudi untuk mengakuinya sebagai Abang gue. Serius.


"Langsung ke Resto Gani?" tanya Bang Riki sembari memasang seatbelt-nya.


Gue mengangkat bahu gue secara bersamaan dan ikut memasang seatbelt gue. "Gue ngikut lo," jawab gue pendek.


"Kok ikut gue gimana, sih. Kan yang punya urusan lo, Wat. Kenapa jadi ikut gue?"


"Ya, kan lo Abang. Bisa ngasih saran yang terbaik buat adek dong?" balas gue santai.


Bang Riki mendengkus sambil geleng-geleng kepala. Melirik gue sekilas lalu mulai mengemudikan mobilnya.


"Lo nggak mau kasih kabar dulu gitu?" tanyanya tanpa menoleh ke arahku.


Gue menggeleng. "Enggak. Mau kasih kejutan," jawabku asal.


Bang Riki hanya mangguk-mangguk, lalu tidak bertanya lagi. Suasana di dalam mobil hanya terdengar suara radio dengan lagu bahasa Jawa yang entah apa judulnya, gue tidak tahu, tapi lumayan meracuni otak gue.


"Lagu siapa ini, Bang?" tanya gue karena mulai penasaran. Gue menoleh ke arah Bang Riki.


"Medot janji."


Gue berdecak. "Lagu siapa?" ulang gue agak kesal.


"Enggak tahu sih, gue. Tapi anak-anak kantor lumayan sering nyanyi lagu ini, selain lagu 'setan apa yang merasukimu', demenan mereka ya, ini. Kenapa?" Bang Riki balik bertanya.


"Liriknya racun banget. Bikin terngiang-ngiang."


Mendengar jawaban gue, Bang Riki mendadak tertawa.


"Apa yang lo ketawain, Bang?" tanya gue heran.


"Elo. Gue mendadak pengen puter lagu beginian tiap hari, biar otak lo nggak tercemari lagu-lagu Koriyah mulu."


"Bang, itu nama negera orang, Bang. Nggak boleh diplesetin gitu, ah. Lo mau nama negara kita diplesetin juga?"


"Ebuset, kenapa jadi bahas nama negara?"


"Ya, lo nggak bener nyebut nama negara orang."

__ADS_1


"Iya, iya, minta maaf gue. Lain kali nggak lagi," sesal Bang Riki dengan wajah masamnya.


Sontak membuatku terbahak. "****, lo udah tobat beneran ya, Bang? Bener ya, kata Pak Ustadz, kalau di setiap musibah pasti ada hikmahnya. Kayak lo begini, gue suka sih. Meski tamparan yang lo dapet, lumayan nampar banget, ya."


"Iya lah, mau jadi Bapak nih gue, Wat. Harus segera tobat dong," balas Bang Riki dengan percaya diri. "Kalau enggak, mau jadi apa rumah tangga masa depan gue nanti, kalau gue nya masih main-main?"


Gue mangguk-mangguk lalu tersenyum bangga, melihat Abang gue. Di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, mau seburuk apapun kesalahan yang mereka perbuat, kita tidak berhak untuk menghakiminya. Kita sebagai sesama manusia punya hak yang sama, yaitu berubah menjadi lebih baik. Selagi mereka punya niat untuk menjadi lebih baik, tugas kita memang untuk mendukungnya, bukannya malah meremehkan. Jujur, gue agak nyesel karena sempet meremehkan Abang gue sendiri. Tapi, melihat keseriusannya sekarang dan melamar Vinzi kemarin. Gue jadi sadar.


"Oy, malah ngelamun. Udah nyampe ini loh, jadi nemuin Aro enggak?"


Gue tersentak dari lamunan gue. "Eh? Kenapa, Bang?" tanya gue kebingungan.


"Udah sampai," decak Bang Riki sambil melepas seatbelt-nya.


Gue mangguk-mangguk dan ikut melepas seatbelt, baru kemudian ikut turun.


"Ramai, ya. Aahh, sayang banget lo nggak jadi sama Gani. Coba kalau jadi, ah, tajir melintir lo, Wat," seloroh Bang Riki, membuat gue langsung memukul pundaknya kesal.


Bang Riki terbahak setelahnya, lalu kami berjalan masuk ke dalam Restoran Mas Gani. Namun, langkah kaki gue mendadak memberat saat mendapati Aro sedang bersama seorang perempuan cantik dengan tubuh tinggi semampai. Benar-benar tinggi semampai, bukan semeter lima puluh tidak sampai. Mana cantik parah lagi, cantik yang katanya bikin sakit gigi. *****, pantesan gue nggak dihubungi, doi punya cemceman sebening sayur sop bening begini.


"Wat," cicit Bang Riki dengan nada suara sarat akan kekhawatiran.


"Balik aja," ketus gue judes.


Gue berbalik dan menatapnya sewot. "Apa?!" sembur gue galak.


"Kita ke sini mau nemuin Aro, kenapa mau langsung balik--"


"Lo buta, Bang? Dia udah sama cewek lain, ngapain gue masih mau nemuin dia? Biar apa?" Gue kembali menyembur Bang Riki dengan penuh emosi. Kedua mata gue menatapnya dengan pandangan nyalang, kalau gue udah lupa, bunuh orang itu dosa, gue yakin akan langsung mencekek leher Bang Riki untuk melampiaskan emosi gue saat ini juga.


"Cewek apaan sih, Wat? Lo jangan jadi cewek yang suka berasumsi sendiri gitu lah, kita kan nggak tahu siapa itu cewek. Kali--"


"Bodo amat!" potong gue lalu berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya. Setelah terlepas, gue langsung meninggalkan Bang Riki begitu saja dan masuk ke dalam mobil.


Bang Riki tidak menyusul gue, dan malah menghampiri Aro. Membuat gue langsung berdecak sebal. Ck. Emang dasar ya, semua pria di dunia itu kayaknya tidak ada yang peka. Tak lama setelahnya, Aro berjalan ke arahku dan mengetuk kaca mobil.


"Anggita, kita perlu bicara!" tegas Aro.


Gue menurunkan kaca mobil dan menatapnya sengit. "Mau ngomong apa? Mau mutusin gue? Oke!"


"Kamu ini ngomong apa sih?" Aro berdecak tidak suka, dan berseru, "buka pintunya! Kita bicara."


"Males. Urusin aja cewek cantik tadi."

__ADS_1


Aro meraup wajahnya frustrasi, lalu menoleh ke arah Bang Riki. Bang Riki mengacungkan jempolnya, lalu menekan tombol di kunci mobilnya, agar pintu mobilnya tidak terkunci lagi. Setelahnya, Aro kemudian membuka pintu mobil tanpa banyak berpikir.


"Anggita." Aro berjongkok di hadapan gue dan menggenggam sebelah tangan gue, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku sama perempuan tadi nggak ada hubungan apa-apa, dia itu blogger, tadi ke sini cuma mau syuting video reviewnya tentang Resto Gani. Dan aku yang kebetulan menjamunya, karena Gani sedang dalam fase kena sindrom hamil. Kita nggak ada hubungan seperti yang kamu pikir."


Sumpah, demi nyinyiran netizen yang maha benar itu, gue tadinya mau langsung luluh loh, serius. Tapi, setelah mendengar ucapan ngaco Aro, yang bahkan membawa-bawa Mas Gani, membuat gue mendadak kembali kesal.


"Ar, aku masih inget, ya, kalau Mas Gani itu pria. Dan pria itu nggak bisa hamil."


Dengan wajah polosnya Aro berkata, "Memang yang bilang Gani hamil siapa? Yang hamil, tetap Anya, istri Gani kok."


"Terus kenapa kamu tadi sebut-sebut Mas Gani kena sindrom hamil?"


"Soalnya Gani yang muntah-muntah dan ngidam nyeleneh. Sedang istrinya enggak ngerasain keduanya. Mungkin dia nggak ngerasa hamil kalau aja perutnya enggak membuncit."


"Hah? Kok bisa?" tanyaku penasaran.


Gue bahkan mendadak lupa kalau tadi sempat ngambek sama Aro.


"Aku juga kurang paham, yang. Aneh mereka itu." Aro menggeleng tidak paham, masih dengan posisi berjongkok di sampingku. "Udah nggak ngambek?" tanyanya sambil mengelus punggung tanganku.


Gue menggeleng lalu turun dari mobil dan menutup pintu mobil. "Dipending dulu deh ngambeknya, kayaknya aku lebih kangen sama kamu deh." Dan dengan tidak tahu malunya, gue kemudian memeluk tubuh Aro. Dan langsung disambut Aro dengan antusias.


"Aku juga kangen," kata Aro sambil mengecup pucuk rambutku. "Besok-besok kalau kangen, nggak usah pake drama dulu, ya. Aku nggak suka. Bikin deg-degan," imbuhnya kemudian.


"Enak aja, yang tadi itu aku beneran cemburu beneran tahu. Mana ceweknya cantik banget gitu lagi, gimana aku nggak mikir yang enggak-enggak," gerutu gue dengan ekspresi cemberut.


Aro terkekeh. "Oh, jadi beneran cemburu, ya. Aku pikir cuma trik kamu aja, karena udah bikin aku galau berhari-hari ini."


Apa tadi katanya? Dia yang galau, bukannya kebalik?


"Kebalik. Kamu tuh, yang udah bikin aku galau berhari-hari. Enak aja! Kamu ini tukang masak, udah masak aja, nggak usah sok jadi pengarang yang bisa ngarang bebas, sebebas-bebasnya," ketus gue kemudian.


Aro hanya tertawa lalu mencium pucuk rambut gue sekali lagi, dan merangkul pundak gue, lalu mengajak gue untuk masuk ke dalam Resto.


"Masuk, yuk, di sini panas. Kamu nggak akan kuat, biar tukang parkir saja," ajak Aro sambil mengedip genit.


Gue mendadak merinding. "Lo bukan Aro kan?" selidik gue sambil mengacungkan telunjuk gue ke arah wajah Aro.


"Hah?" respon Aro kebingungan.


"Aro itu nggak bisa genit. Kamu pas--"


"Ini aku sayang, nggak usah aneh-aneh deh. Ayo, masuk!" ajak Aro sambil berdecak dan menggenggam tanganku dan mengajakku masuk ke dalam Resto.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2