
\=\=\=\=\=\=
"Chef, Mas Gani mau ngomong."
Aku sedikit mengerutkan dahiku heran, saat mendengar kalimat yang Dion ucapkan. Ia menyodorkan ponselnya kepadaku, meski sedikit bingung, aku tetap menerimanya.
"Ar, lo ke mana aja sih? Gue telfonin nggak bisa-bisa," teriak Gani terdengar kesal.
Dahiku mengkerut, lalu merogoh ponselku yang berada di kantong celana dan mengeluarkan ponselku dari sana.
"Sorry, hape gue mati. Lupa belum charger. Kenapa?"
"Ini, lo udah beres kerja kan?"
"Hmm."
"Lo ke sini dong, rumah sakit, temenin gue."
"Siapa yang sakit?"
"Anya udah mau lahiran. Gue panik nih sendirian, Mamanya lagi nggak di Indonesia, Mami gue baru besok ke sininya. Lo ke sini, ya? Plis!"
"Oke, nanti gue nyusul. Tapi gue balik du--
"Nggak usah! Langsung ke sini, kelamaan kalau lo balik dulu. Ini gue udah tegang banget rasanya."
Aku menghela napas pendek dan akhirnya mengangguk, meski tahu Gani tidak dapat melihatku. "Iya, gue langsung ke sana abis ini."
"Oke, gue tunggu."
"Hmm."
Gani langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Udah, Chef?" tanya Dion, yang ternyata sedari tadi berada di sampingku, menunggu ponselnya, sepertinya.
"Iya, makasih, ya. Sorry juga kalau lama."
Dion mengangguk tak masalah. "Sama-sama, Chef."
"Saya duluan, ya," pamitku kemudian.
Dion mengangguk lalu mempersilahkan aku pergi. Tanpa perlu berpikir, aku langsung keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil, memacu mobilku menuju rumah sakit.
######
"Gimana keadaan istri sama bayi lo?" tanyaku saat akhirnya berhasil menemukan Gani.
Raut wajah Gani terlihat kacau, meski saat ini tampilan pakaiannya sebenarnya cukup rapi. Aku kemudian menghampiri Gani dan menepuk pundaknya pelan.
"Masih di dalem, gue nggak boleh masuk. Gue takut banget, Ar, sumpah!"
"Percaya aja, istri lo pasti nggak kenapa-kenapa." Jujur, sebenarnya aku sendiri juga bingung harus menasehati Gani seperti apa, untuk menenangkannnya, "dibantu doa aja," imbuhku kemudian.
Gani mengangguk, lalu berdiri. Berjalan mondar-mandir untuk mengusir rasa gelisahnya. Membuatku lama-lama pusing saat memperhatikan.
"Gan," panggilku pelan.
"Ya?" Gani langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatapku.
"Duduk dulu, deh!" kataku kemudian.
"Gue gelisah, Ar," balas Gani.
Mau tak mau aku akhirnya hanya bisa mengangguk, tidak berani menegurnya lagi. Lalu Gani kembali mondar-mandir, aku hanya mampu mendesah pasrah saat melihatnya. Beruntung tak lama setelahnya, suara tangis bayi akhirnya mulai terdengar dari ruang bersalin. Kedua mata Gani langsung berkaca-kaca karena rasa haru.
"Selamat, Gan, jadi Bapak lo sekarang," bisikku sambil menepuk pundak Gani pelan. Memberinya selamat sekaligus mengintruksi Gani agar segera menghapus air matanya.
Dengan gerakan sedikit buru-buru, Gani langsung menghapus air matanya sambil tersenyum.
"Thanks, Ar, udah mau nemenin gue. Gue takut banget sumpah kalau semisal lo tadi nggak dateng."
Aku mengangguk. "Iya, santai," balasku seadanya.
Aku kemudian kembali mengajak Gani untuk duduk, dan beruntung kali ini ia langsung menurut tidak membantah seperti tadi. Mungkin Gani mulai merasa pegal. Namun belum sempat bokongnya bersentuhan dengan kursi tunggu, pintu tiba-tiba terbuka dan muncul seorang suster imut tersenyum ke arah kami.
"Keluarga Ibu Anya?" tanya si suster.
Dengan anggukan semangat Gani mendekat. "Iya, gimana keadaan istri dan anak saya sus?"
"Selamat Bapak, anaknya laki-laki. Tampan seperti Bapaknya. Sekarang sedang dimandikan oleh suster. Dan untuk kondisi Dokter Anya, beliau sedang membersihkan diri juga. Keadaannya pun sehat dan bagus. Kalau semua sudah selesai keduanya akan segera masuk kamar biasa. Kalau begitu saya permisi."
Gani mengangguk sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali baru kemudian mempersilahkan suster tadi kembali masuk.
"Selamat, Gan. Cowok. Jagoan."
Gani tersenyum dan menangis sekali lagi. Dia benar-benar merasa sangat bahagia.
"Gan, hape lo," kataku sambil menyodorkan ponselnya, kebetulan tadi aku sempat meminjamnya karena aku lupa mengunci ruang pendingin setelah aku tadi mengecek bahan makanan, karena terburu-buru.
Gani menerimanya, setelah tadi sempat mengintip siapa nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo, Mi. ***--"
"...."
Gani tiba-tiba berdecak jengkel, membuatku penasaran dan langsung menoleh ke arah Gani dengan ekspresi bingung sekaligus penasaran.
"Gani mau ngucap salam loh, Mi. Kok dipotong?" protesnya kemudian.
"...."
"Gani belum ngucap assalamualaikum, Mi," geram Gani.
Astaga, obrolan macam apa itu barusan?
"...."
"Alhamdulillah, Anya udah lahiran, Mi. Cucu Mami cowok. Sehat. Ganteng juga kata susternya, kayak aku."
Aku hanya duduk diam, memperhatikan Gani mengobrol dengan Maminya melalui telfon.
__ADS_1
"...."
"Enggak. Enggak dibolehin sama dokternya, soalnya terjadi sedikit posisi adeknya sungsang. Takutnya aku panik atau nggak kuat liatnya nanti malah menghampat proses persalinankan malah repot, Mi."
"...."
"Enggak tahu, Mi. Pas awal nyampe posisinya katanya bagus, tapi pas mau keluar dedeknya bingung jadi muter-muter terus sungsang dan aku disuruh keluar. Ah, bener nggak ya," guman Gani sambil berpikir bingung. "Ya, pokoknya intinya gitulah, Mi, kurang lebihnya."
"...."
"Gani juga kurang paham, Mi."
"...."
Aku kemudian berdiri dan langsung menghampiri Gani, menepuk pundaknya.
"Hah? Kenapa, Ar?" tanya Gani sedikit menjauhkan ponselnya.
"Istri lo baru aja keluar," kataku sambil menunjuk brankar yang didorong suster.
"Oh, oke." Gani mengangguk sambil mengacungkan jempolnya lalu kembali mendekatkan ponselnya.
"Mi, Gani tutup ya? Anya udah dibawa ke kamar nih."
"...."
"Loh, kok gitu? Mami lagi enggak di Jakarta?" protes Gani tiba-tiba.
"...."
"Boro-boro di sini, Mi. Mama lagi di Singapure, lagi launching restoran baru apa gitu Gani juga nggak paham."
"...."
"Sama Aro."
"....."
"Iya. Ya udah, Gani tutup. Assalamualaikum."
"...."
"Yuk, langsung ke kamar aja, Ar," ajak Gani, namun kutolak.
"Gue langsung balik aja, ya, Gan. Besok gue ke sini lagi deh."
"Lah, lo nggak mau lihat anak gue dulu gitu?"
Iya, juga, ya. Kenapa tidak kepikiran.
Aku kemudian mengangguk. "Ya udah, ayo." dan mengajak Gani untuk segera masuk ke kamar inap Anya.
Namun saat aku sampai di kamar inap Anya, bayi mereka belum ada di kamar Anya.
"Bayinya mana?" tanyaku pada Anya.
"Masih dipakein popok dan segala macemnya, bentar lagi juga dibawa ke sini."
Aku mengangguk sebagai tanda jawaban. "Kalau gitu, gue balik dulu deh. Besok ke sini lagi."
"Iya, santai, Gan. Kayak sama siapa aja." Aku menepuk pundak Gani, lalu berpamitan pada Anya, "An, gue balik dulu, ya. Cepet pulih biar cepet bisa jagain debaynya."
"Iya, thanks, ya, Ar."
Aku mengangguk lalu mengacungkan jempolku, tanda tidak masalah. Lalu keluar dari kamar rawat inap Anya dan pulang menuju apartemenku.
Sesampainya di apartemen, aku langsung bergegas ke kamar mandi karena sudah sangat gerah. Setelah selesai mandi, aku langsung tidur karena saking lelahnya.
#####
Pagi harinya, aku terbangun dengan keadaan lebih segar. Aku menepuk jidatku saat hendak menyentuh ponselku, ternyata semalam aku lupa menchargernya, sehingga ponselku masih mati. Sambil berdecak, aku kemudian bangun dari ranjangku dan mencari colokan chargerku untuk mengisi daya ponsel. Lalu setelahnya aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Kali ini aku hanya membuat roti bakar dan secangkir kopi, karena aku memang sedang malas memasak. Biasanya kalau sedang rajin, aku lebih suka makan sarapan tumis sayuran dari pada roti begini. Setelah menghabiskan sarapanku aku kemudian langsung mencuci piring dan cangkir kotorku, kemudian berolahraga sebentar. Olahraga yang kupilih pagi ini hanya sekedar berlari di atas treadmill. Bagiku olahraga itu penting, meski hanya sebentar dan sekedar berlari di atas treadmill atau jogging. Setelah semua kegiatan pagiku kurampungkan, baru aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku baru teringat, kalau dari kemarin aku belum menghubungi Anggita. Ck, karena terlalu sibuk di restoran lalu menemani Gani di rumah sakit semalam, aku sampai lupa tidak menelfon Anggita. Ck, bisa-bisa ngamuk dan diseret ke Jakarta nih kalau begini ceritanya. Ah, betapa bodohnya aku kemarin.
Aku kemudian buru-buru menyalakan ponselku, padahal saat ini aku hanya mengenakan handuk saja, belum berganti pakaian.
"Mampus gue!" umpatku saat mendapati puluhan panggilan suara mau pun panggilan video tak terjawab dari Anggita.
Dengan buru-buru, karena panik dan cemas, aku langsung mencoba menghubungi Anggita. Namun tidak dijawab, aku mencobanya sekali lagi, lagi-lagi panggilan suaraku tidak dijawab.
"Ah, sial," umpatku sekali lagi.
Perasaanku berubah geram dan juga gemas. Namun, aku mencoba untuk menghubungi Anggita, namun lagi-lagi tidak dijawab. Aku berdecak kesal, lalu memilih menghubungi Riki.
"Ya, hallo adik ipar. Ada yang perlu gue bujuk?" sambut Riki sambil terkekeh geli, samar-samar aku juga mendengar ia sedang mengunyah.
Aku mendesah pasrah. Anggita pasti sudah cerita dengan Riki ini pasti, alamat harus ke Jakarta nih buat bujuk Anggita yang ngambek.
"Anggita lagi sama lo? Udah berangkat kerja belum dia?"
"Ini di depan gue, lagi melototi gue sambil ngunyah nasi gorengnya. Mau ngomong?" tawar Riki.
"Iya, tolong lo kasih hape lo ke dia dong."
"Oke, sip."
Samar-samar aku mendengar suara ribut-ribut, sepertinya Anggita menolak bicara denganku.
"Masih ngambek dia, nggak mau ngomong. Lagian lo kemarin ke mana sih, dihubungi nggak bisa. Misuh-misuh mulu nih pacar lo dari kemarin."
"Hape gue mati--"
"Rusak?"
"Bukan. Lupa belum ngecas."
"Lupa ngecas apa lupa sama pacar?" tak lama setelahnya, Riki tiba-tiba terbahak, "pacar lo kalau marah serem, Ar. Gue dijadiin sarapan paginya nih bisa-bisa. Lo urus sendiri lah, nggak mau ikut campur gue. Bye!"
"Tap--tut tut tut"
__ADS_1
Astaga, temen macam apa ini sih, si Riki ini. Bukannya bantuin malah memperkeruh keadaan. Kesel banget rasanya.
Me:
Sayang, maafin aku, ya. Kemarin aku lupa ngecas hape, jadi nggak tahu kalau kamu telfon. Soalnya resto kemarin sibuk, jadi nggak sempet ngecek hape masih ada baterainya atau enggak. Abis dari restoran, aku langsung ke RS, nemenin Gani. Istri Gani, si Anya melahirkan. Bayinya udah lahir sekarang, cowok.
Me:
Sayang???
Me:
Kamu marah ya?
Me:
Bales dong!!!
Me:
Anggita, sayang. Jangan begini dong!
Me:
Oke, nanti aku ke Jakarta
Me:
Tapi kalau aku samperin, kamu udahan ya marahnya?
Me:
Sayang?
Me:
Ya udah, jaga kesehatan ya. maafin aku bikin kamu kecewa.
Me:
Nanti aku coba usahain ke Jakarta buat nemuin kamu.
Me:
Sayang!!! Aku udah spam chat dan cuma kamu read doang?
Tak lama setelahnya, Anggita membalas pesanku.
Anggita:
.
Astaga, titik doang? Balasannya cuma setitik doang? Semarah inikah hanya karena aku kemarin tidak menjawab panggilannya. Ck. Tidak mungkin, ini pasti gara-gara Riki. Dia kan hobinya ngomporin orang. Ck. Benar-benar menyebalkan.
Me:
Masa cuma titik doang, sebiji doang lagi. Kmu marah banget ya?
Anggita:
Y
Me:
Astaghfirullah, sayang!!!
Kali ini aku memilih membanting ponselku karena kesal, dan lebih memilih untuk segera berganti pakaian. Aku perlu ke restoran lebih awal, untuk mengecek bahan-bahan yang akan datang pagi ini. Masalah Anggita, aku bisa menahannya sampai nanti malam, paling tidak. Setelah selesai, aku kemudian langsung melajukan mobilku menuju restoran.
"Chef, istinya si bos sudah lahiran, ya?"
Aku mengangguk sebagai tanda jawaban, lalu kembali sibuk dengan mengecek beberapa bahan yang hendak dimasukkan ke dalam.
"Cewek apa cowok, Chef?"
"Cowok," jawabku singkat.
"Normal ap--"
"San, mending ini bahannya kamu bawa masuk ke dalam dulu. Tanya-tanya nanti saja, Bisa?" selaku memotong pertanyaan Sandi dengen sedikit kesal.
Moodku hari ini belum membaik, karena aku dan Anggita belum berbaikkan. Dia masih marah dan aku belum tahu di mana letak kesalahanku. Padahal, menurutku aku tidak habis bertingkah aneh-aneh, tapi kenapa Anggita marah, ya? Huh, aku benar-benar tidak paham.
"Chef sensi banget perasaan, kayak istri saya kalau lagi dateng bulan," celetuk Sandi, yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
Aku langsung mensensor penampilan Sandi. Tampilannya masih terlihat sangat muda, dan setahuku dia ini masih kuliah kalau tidak salah, kenapa aku tadi seperti mendengar kata istri.
"Tadi kamu bilang apa?"
"Hehe," cengir Sandi sambil menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah, "nggak papa, Chef. Saya--"
"Kamu sudah menikah?" tembakku saat mendapati cincin melingkar di jari manis Sandi. Aku yakin betul kalau itu cincin kawin.
"Oh, iya, saya sudah menikah, Chef."
"Bukannya kamu bilang masih kuliah?" tanyaku tidak yakin.
Namun dengan wajah yakinnya, Sandi mengangguk membenarkan.
"Berapa umur kamu?"
"Dua puluh dua tahun, Chef."
"Istri kamu?"
"Dua satu."
Astaga! Anak muda jaman sekarang benar-benar pemberani, ya. Tidak kenal takut.
"Hehe, Chef pasti heran, ya? Masih 22 tahun dan masih kuliah tapi udah berani nikahin anak orang. Nekat banget sih, belum mapan tapi sudah berani menikah. Iya, jelas, terkadang dalam hidup kita tuh perlu nekat, Chef. Kayak saya ini. Rejeki, maut, dan juga jodoh kan sudah ada yang ngantur. Jadi, saya nggak takut nggak bisa nafkahi istri saya, karena rejeki saya sudah diatur sama Allah. Tugas saya hanya tinggal mencarinya. Jadi, saran saya, kalau Chef beneran sayang sama pacar Chef, nikahin dia sesegera mungkin. Karena Allah tidak suka dengan umat yang suka menunda-nunda kebaikan. Menikah itu ibadah loh, Chef, dan ibadah itu sebuah kebaikan."
Aku hanya meringis canggung. Gimana mau segera menikahi pacar kalau, kenyataannya wanita yang sedang kupacari saat ini sedang dalam mode merajuk. Mau mengangkat telfonku saja sudah syukur.
__ADS_1
**Tbc,
Anggi-Aro moment ditahan dulu, ya 😆😆