Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (35) Bang Riki & Sisi Lemahnya


__ADS_3

####


Ayah dan Ibu sudah sampai di Jakarta sore tadi. Kemarin gue menelfon Ayah dan meminta beliau untuk datang ke rumah kami. Oke, gue ralat, maksud gue rumah Bang Riki. Jangan tanyakan hubungan gue sama Aro untuk saat ini, karena gue sendiri pun tidak tahu. Iya, gue tidak tahu karena memang belum ingin mengetahui kelanjutan dari hubungan kami. Ya, setidaknya dalam waktu dekat.


Untuk sementara ini, bodo amat. Toh, Aro sendiri tidak mencoba menghubungi gue sejak kemarin, bahkan sampai sekarang tidak ada kabar apapun darinya. Gue pun malas kalau harus menghubungi dulu. Gengsi, cuy!


"Wat, lo yang ngomong, ya."


Gue langsung menoleh ke arah Bang Riki dengan kedua bola melotot tajam.


"Apa lo bilang?!" sewot gue judes.


"Bantuin gue ngomong sama Ayah dan Ibu," pinta Bang Riki dengan wajah sok memelasnya, membuat gue mendengkus sinis ke arahnya.


Enak aja itu mulut, ya, asal mangap aja. Dia yang berbuat gue yang harus nanggung akibatnya? Enggak sudi banget.


"Ogah!" tolak gue tegas dan tidak ingin dibantah.


"Ah, lo kok gitu sih, Wat," rengek Bang Riki.


"Suka-suka gue dong," balas gue tidak peduli.


"Lo kok rese sih, kalau lagi ribut sama Aro, jangan nyemburnya ke gue dong," protes Bang Riki ikut sewot.


"Enggak bisa, lo kan temennya."


"Bangke!" umpat Bang Riki kesal.


"Ingat! Udah mau jadi Bapak, mulutnya difilter dikit," tegur gue sambil melemparinya dengan guling.


"Makanya lo jangan mancing keributan!"


"Dih, orang situ yang salah kok, pake nyalahin orang lain. Situ sehat?"


"Sehat. Cuma kalau lo nggak bantuin ngomong sama Ayah dan Ibu tentang kehamilan Vinzi, gue nggak yakin sih, kalau gue masih bakalan sehat."


Gue mendengkus lalu melirik Bang Riki. "Lo berani gituan sampai anak orang hamil, dan sekarang lo takut buat ngakuinnya?"


"Gue takut kena omel," lirih Bang Riki terlihat putus asa.


Jujur, gue enggak tega juga melihatnya. Sumpah. Kasian juga gue sebenarnya, tapi mau gimana lagi, ini kan emang konsekuensi dari perbuatannya.


"Oke, gue temenin ngomongnya, tapi tetap lo ngomong sendiri," kata gue ada akhirnya.


Bang Riki melirik gue. "Temenin doang? Nggak dibantuin apa gitu?"


"Oke, gue bantuin... bantuin doa, ya?" kelakar gue puas.


Bang Riki melirik gue sambil mendengkus kasar. "Ya udah, ayo!" ajaknya pasrah, sedikit judes.


Ini orang bener-bener, ya, udah minta tolong tapi enggak ada manis-manisnya sama sekali. Gue tolak, kok kasian, gue temenin kok ngeselin.


"Ayo, buruan! Malah ngalamun," gerutu Bang Riki sambil menarik tangan gue kasar.


"Woy, minta tolong tuh yang manis dikit kenapa sih? Lo kata gue ini tali tarik tambang, main lo tarik-tarik sesuka hati lo."


"Berisik, Wat!"

__ADS_1


Dengan tidak sopannya Bang Riki malah membekap mulut gue. Emang sialan, kampret ini Abang gue, ya.


"Bodo amat, Bang, lo--"


"Oke. Nanti gue bantuin biar cepet akur sama Aro," sela Bang Riki memotong kalimat gue dengan tidak sopan.


"Enggak butuh!" tolak gue judes.


Bang Riki terkekeh, lalu merangkul pundak gue saat kami menuruni anak tangga. Namun langsung gue singkirkan dengan lirikan sinis dari gue.


"Kenapa lagi sih kalian itu sebenarnya? Berantem mulu perasaan, kalau akur perasaan nggak manis-manis amat, tapi kalau ribut udah ngalahin ributnya para pendemo."


Gue menghentikan langkah kaki gue dan menoleh ke arah Bang Riki dengan tatapan datar. "Gue lagi males bahas ini, Bang, serius. Jadi, kalau lo nggak pengen gue dorong dari sini mending diem. Oke?"


Dengan ekspresi menahan senyumnya, Bang Riki mengacungkan jempolnya dan kami melanjutkan langkah kaki kami menuju ruang tengah. Di mana Ayah dan Ibu sedang asik menonton acara sinetron kesukaan Ibu.


"Lama banget to rapatnya, Ayah sampai ngantuk nungguinnya lho. Pada mau ngomong apa to?" sambut Ayah saat gue dan Bang Riki tepat mendaratkan bokong kami di sofa.


"Anu..."


Dalam hati, gue mati-matian menahan diri agar tidak menertawakan ekspresi Bang Riki yang, sumpah jelek banget sekarang ini. Keringat dingin dan bibir megap-megap seperti ikan koi.


"Sebelumnya, Riki mau minta maaf dulu sama Ayah dan Ibu."


Ayah dan Ibu saling bertatapan. Sepertinya, mereka sudah mulai curiga kalau akan mendapat berita buruk.


"Kenapa to, kok pake minta maaf segala. Lebaran sudah lewat." Ayah bertanya dengan kerutan di dahinya.


"Iya, kamu ini lho kayak habis ngehamilin anak orang," lanjut Ibu dengan gelengan kepala tak habis pikir.


Ayah yang mendengar gurauan Ibu jelas langsung memprotes, "Ibu ini lho, ngomongnya sembarangan!" tegurnya tak suka.


Gue meringis melihat Ayah dan juga Ibu. Kemudian menyenggol paha Bang Riki dan berbisik, "Bang, buruan ngomong!"


"Gue mendadak takut, Wat," balas Bang Riki ikut berbisik.


Gue langsung berdecak. "Bikinnya aja nggak kenal kata takut, masa giliran udah jadi nggak mau ngakuin. Nggak gentle banget sih lo, Bang!"


"Kok malah pada bisik-bisik begitu, bikin Ibu jadi tambah curiga," celetuk Ibu. Kedua matanya langsung menatap Bang Riki serius. "Ayo, cepet kasih tahu Ibu! Habis ngapain kamu Le?"


"Anu... itu... Riki... Riki mau nikah, Bu."


"Kapan?"


"Secepatnya."


"Kenapa buru-buru?" tanya Ayah mulai ikut curiga.


"Kan, lebih cepat lebih baik, Yah."


Sumpah, demi celana kotaknya SpongeBob yang modelnya itu-itu aja. Gue pengen ngakak, sumpah. Apa tadi katanya? Lebih cepat lebih baik. Kata-katanya sih bener, ya, cuma kan kurang pas aja gitu kalau Bang Riki yang ngucapin.


Gue kemudian melirik Ayah yang senantiasa menunggu Bang Riki melanjutkan kalimatnya. Sepertinya, Ayah memang sudah menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.


"Bang," panggil Ayah kalem, tapi gue yakin seratus persen bikin Bang Riki jiper setengah mampus.


Serius. Lihat aja wajah tegang Bang Riki saat ini, mungkin kalau kita tidak dalam situasi kurang pas begini, gue pasti dengan senang hati menertawakannya.

__ADS_1


"Iya, Riki ngelakuin kesalahan fatal."


"Abang nyesel?"


Dengan wajah tertunduk, Bang Riki mengangguk pelan. Ia bangkit berdiri dan bersimpuh di hadapan Ayah dan Ibu.


"Abang nyesel, Yah, nyesel banget."


Hati gue mendadak terenyuh saat mendengar nada suara Bang Riki yang terdengar bergetar, bahkan kedua bahunya pun ikut bergetar. Selama dua puluh lima tahun gue hidup bareng Bang Riki, ini pertama kalinya gue melihat Bang Riki serapuh ini. Maksud gue, rapuh dalam artian yang kayak nyesel senyesel-nyeselnya gitu loh.


"Jadi, kamu bener udah ngehamilin anak orang, Le?" tanya Ayah dengan nada suara sarat akan kekecewaan.


"Maaf, Yah," isak Bang Riki membuat gue ikut menangis tanpa sadar.


Di samping Ayah, Ibu juga sudah ikut terisak. Gue sampai tidak tahan melihatnya. Ayah dan Ibu terlihat amat sangat terpukul, tapi mereka tidak bisa berkata apa-apa. Marah pun mungkin sudah terasa percuma untuk mereka lakukan saat ini.


"Bangun, Le!"


"Kenakalan Abang kali ini udah kelewatan, Yah, Abang rela dipukul. Abang siap, Yah."


Gue membersit hidung gue memalingkan wajah ke samping. Sumpah demi Tuhan, gue enggak suka adegan ini.


"Benar, kenakalan Abang kali ini emang kelewatan. Ayah nggak akan pukul kamu, tapi, Ayah akan coret nama kamu dari daftar KK."


Apa?! Coret nama dari daftar keluarga? Kok lebih horor dari dari tebakan gue sama Bang Riki, ya.


"Yah, coret nama dari daftar KK bukannya udah kelewatan. Iya, sih, kelakuan Bang Riki kali ini emang udah kelewatan, tapi--"


"Keputusan Ayah sudah bulat. Nama Abang harus dicoret dari daftar KK." tanpa keraguan, Ayah langsung berdiri dan meninggalkan ruang tamu.


"Bu," rengek gue meminta bantuan.


"Enggak papa, Wat," balas Bang Riki sambil mengangguk, menyakinkan gue kalau dia enggak papa. Enggak papa apanya kalau mukanya kusut macem baju yang belum disetrika begini.


Ibu meraih tisu dan menghapus air matanya. Ekspresi sudah kembali biasa saja, seolah hanya seperti habis menonton sinteron sedih, setelah jeda iklan, ya udah, kelar acara sedihnya. Membuat gue gemas saat melihatnya.


"Bu, bujuk Ayah dong," rengekku sekali lagi.


"Bujuk gimana to, nduk? Abangmu memang sudah sepantasnya keluar dari daftar KK to?"


Loh, kok Ibu gitu sih?


"Kok Ibu ngomongnya gitu?" protes gue tidak terima.


"Cah Ayu, sini Ibu kasih tahu, Masmu ini sudah wayahe untuk menikah, membina rumah tangga sendiri. Meski caranya salah, tapi, mungkin ini memang teguran dari Gusti Allah agar Masmu ini sadar. Nah, kalau sudah sampai mau punya anak, sudah pasti Masmu harus menikah to?"


"Tapi masa--"


"Jenenge menikah itu pasti punya KK sendiri, Nduk. Nah, sudah jelas kenapa Ayah pengen coret nama Abang dari daftar KK kita? Ya, karena Abangmu harus bikin KK sendiri to."


Seketika gue melongo.


Hah?


Maksudnya?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2