Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (24) Oke, Ini Cuma Salah Paham


__ADS_3

\=\=!!!!\=\=


"Lo kenal?" tanya Prasta sambil menunjuk mobil, yang gue tebak milik Aro dan kini sudah pergi menjauh.


Gue mengangguk sebagai tanda jawaban. "Itu barusan gebetan gue," lirih gue pasrah.


"Serius?" tanya Prasta seolah tak percaya, namun tak lama setelahnya dia terkekeh. "Wow, saingan gue nggak main-main. Fortuner banget, Gi?"


Gue mendengkus lalu meliriknya tajam. "Semua gara-gara lo, pulang sana lo!" usir gue snewen.


"Sorry, gue nggak maksud, gue--"


"Pulang, Pras! Lo nggak mau ngantor? Gue harus siap-siap kerja nih," potong gue cepat.


"Iya, iya, gue cabut, snewen aja. Tapi kalau yang tadi susah dijinakinnya, telfon gue, ya," kedip Prasta sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Gue hanya mendengkus dan kembali masuk ke dalam rumah. "Bang, Bang Riki!" teriak gue sambil berlari masuk ke dalam rumah.


"Apa sih, Wat?" protes Bang Riki dengan mulut penuh.


"Telfon Aro, Telfon Aro, Bang! Cepet!" perintah gue tidak sabaran.


"Woy, woy, santuy, nggak usah heboh begitu kenapa sih?" gerutu Bang Riki di sela kunyahnnya.


Gue menggeleng tegas lalu duduk di kursi. "Ini tuh gawat, Bang, emergency. Lo kalau nggak bantuin gue sekarang, masa depan gue yang jadi taruhan."


"Apaan deh, kenapa bawa-bawa masa depan segala? Lebay. Udah deh, nanti gue kasih nomornya, terus lo telfon sendiri. Sekarang lo sarapan dulu biar nggak telat."


Sekali lagi gue menggeleng tegas. Ya kali, di saat situasi begini gue masih sempat nelen nasi. Nggak bisa lah, sekarang yang terpenting itu jelasin kalau gue sama Prasta itu nggak ada hubungan spesial, dan nggak akan mulai hubungan spesial tentunya. Pokoknya, jelasin masalah ini ke Aro itu jauh lebih penting ketimbang sarapan.


"Kenapa malah geleng-geleng kepala?" tanya Bang Riki kebingungan.


"Nggak usah kebanyakan tanya deh, Bang, sekarang lo telfon Aro, gue perlu banget ngomong sama dia."


"Ada apa emangnya?" tanya Bang Riki heran, tangannya kembali aktif menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, tanpa melirik gue sama sekali.


"Gue harus jelasin sesuatu sama dia."


"Tentang?"


"Prasta."


"Hah? Kenapa bawa-bawa Prasta segala?" tanya Bang Riki heran.


Gue mengigit bibir gue ragu, lalu meringis. "Tadi Prasta pamit sama gue."


"Terus?"


"Dia meluk gue."


"Lalu?" desak Bang Riki tak sabaran. Ia bahkan kini sudah tidak tertarik dengan nasi gorengnya, yang... eh, ternyata sudah habis deng. Gue pikir masih.


"Aro liat."

__ADS_1


"Kok bisa?" seru Bang Riki heboh.


Gue menggeleng pasrah. Ya, mana gue tahu kalau Aro bakalan tiba-tiba nongol. Karena setahu gue dia itu tinggal di Bandung.


"Terus sekarang gimana? Aro itu payah masalah beginian, kalau lo nggak segera klarifikasi, semua bisa ka--"


"Bang!" sela gue memotong ucapannya. "Telfon Aro, Bang," imbuh gue gemas.


Bang Riki kemudian mangguk-mangguk. Dikeluarkan ponsel dari saku celananya, diutak-atik sebentar, sebelum akhirnya ditempelkan di telinganya.


"Nggak diangkat, Gi," kata Bang Riki.


"Coba lagi," perintah gue tak sabaran.


Bang Riki kembali mengutak-atik ponselnya, lalu menempelkannya di telinganya sekali lagi.


"Masih tetep nggak diangkat."


"Coba sekali lagi," kata gue tak ingin menyerah.


"Ini juga udah gue coba dari tadi, Ta. Tapi emang si Aro nggak mau angkat."


"Terus sekarang gimana?"


"Habisin sarapan. Gue siap-siap dulu. Urusan Aro, nanti gampang, biar gue yang urus."


Bang Riki segera berdiri dari kursinya dan meninggalkan gue menuju kamarnya. Mau tak mau akhirnya gue mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi kalau nggak pasrah? Enggak tahu juga mau ngapain gue.


Setelah menyelesaikan sarapan, gue langsung membereskan piring kotor. Namun, saat gue hendak mencuci piring tersebut, suara Bang Riki menyapa gendang telinga gue.


"Ya udah, gue ke atas ambil--"


"Tas?" potong Bang Riki sambil menunjukkan clutch bag gue.


Gue berdecak gemas, karena sikap sok tahu Bang Riki seperti saat ini. "Gue kerja nggak pake clutch bag, Bang Riki-ku yang ganteng. Itu tas buat kondangan."


"Siapa yang bilang? Emang ada tulisannya gitu, tas ini dilarang dipake kerja. Ada gitu?"


"Ya, enggak dilarang juga, Bang. Cuma kalau dipake kerja, ya kurang cocok gitu loh. Ah, selera fas--"


"Nggak usah ngatain," sela Bang Riki kesal. "Bururan naik, ambil tas yang buat kerja. Gue tunggu di depan, kalau lama gue tinggal," ancam Bang Riki sebelum meninggalkan gue.


Gue hanya mampu mendengkus samar dan langsung berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar untuk mengambil tas. Baru setelah itu gue langsung turun dan keluar rumah, dan langsung masuk ke dalam mobil Bang Riki setelahnya.


"Nanti pulang minta dianterin Vinzi, ya. Terus si Vinzi suruh mampir, jangan boleh pulang sebelum gue pulang."


"Lo yakin sama Vinzi bakal berhasil?"


Tanpa keraguan Bang Riki mengangguk yakin. Dan membut gue langsung tersenyum secara reflek. Kalau Bang Riki sudah seyakin itu, berarti gue nggak boleh raguin mereka lagi. Gue harus percaya kalau mereka pasti bisa, biar mereka juga percaya kalau gue sama Aro juga bisa sama-sama.


####


"Gue mau minta maaf soal yang semalam."

__ADS_1


Gue tersenyum geli saat melihat ekspresi Vinzi sekarang. Serius. Ekspresi lucu parah, kayak orang ketakutan gitu, emang gue senyeremin itu sampai ditakuti sebegitunya?


"Udahlah, nggak usah dibahas, gue sama Bang Riki semalam udah ngobrol dan sepakat."


"Untuk?"


"Saling memberikan restu."


Kedua mata Vinzi langsung melebar secara spontan, sudut bibirnya membentuk senyuman bahagia.


"Lo serius?" tanya Vinzi tak percaya.


Gue mengangguk, meyakinkan.


Vinzi tersenyum tulus lalu memeluk gue. "Thanks, lo emang yang terbaik. Berarti abis ini status kita udah enggak jomblo lagi dong?"


Kali ini ekspresi gue berubah suram, lalu menggeleng miris mengingat sikap Aro tadi pagi yang tiba-tiba ada di depan rumah, dan pergi begitu saja tanpa pamit. Boro-boro pamit, turun buat nyapa gue aja enggak.


"Kalau lo mungkin, nanti malam langsung ganti. Kalau gue...? Enggak yakin deh kapan gantinya."


"Kenapa gitu?" tanya Vinzi heran, "gara-gara Aro yang ada di Bandung?"


Gue menggeleng. "Dia lagi di Jakarta."


"Loh, bukannya itu berita bagus?"


"Tapi Aro kayaknya salah paham."


Vinzi mengernyit. "Salah paham gimana?" tanyanya penasaran.


"Aro nggak sengaja liat gue pelukan sama Prasta."


"Hah?" pekik Vinzi spontan.


Gue berdecak jengkel sambil melotot tajam. "Biasa aja dong!"


"Sorry, sorry, kok si Aro bisa liat lo pelukan sama Prasta?"


"Enggak tahu," jawab gue sambil menggeleng pasrah.


"Kok nggak tahu?"


"Ya, emang nggak tahu, Zi. Tahu-tahu gue liat mobil mirip punya Aro, pas gue intip itu beneran mobil Aro, dan tahu-tahu mobilnya pergi gitu aja."


Vinzi meringis lalu memberikan usapan di pundak gue. "Sabar deh, kan cuma salah paham. Gue yakin Aro pasti nanti paham."


"Kalau enggak?"


"Ya, jangan pesimis dulu dong. Optimis!"


Mau tak mau akhirnya gue mengangguk dan mengucapkan terima kasih untuk Vinzi. Bagaimana pun juga, Vinzi benar. Gue nggak boleh pesimis dan harus optimis. Yakin nggak yakin, yakin aja deh.


**Tbc,

__ADS_1


hehe, begini nih klo maksain update, hasilnya pasti pendek dan maksa, ditambah absurd bin gaje pula ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚ mohon dimaafkan ya saudara2ku tercintah ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ sayang kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ moga masih ada yg nunggu ya ๐Ÿ˜…**


__ADS_2