
######
"Kursinya kosongkan?"
Secara otomatis, gue langsung mengangkat wajah dan menemukan pria berkulit putih, tinggi, namun agak sipit, dan juga tampan. Sebentar, wajahnya terlihat familiar. Tapi gue lupa, siapa, ya?
Karena tidak berhasil mengingat siapa pria tampan ini, gue hanya mengangguk setelahnya, lalu mempersilahkan pria itu untuk duduk. Kalau dilihat dari penampilannya sih, jabatannya lumayan nih pasti. Kemeja abu-abunya pun terlihat mahal, sudah pasti jabatannya oke ini.
"Boleh saya duduk?"
Gue menatapnya speechless. Buset, masa mau duduk aja sampai minta izin segala, terlalu sopan nggak sih?
"Silahkan! Tidak ada larangan untuk duduk di kursi itu kan?"
Pria itu tersenyum lalu mengangguk, menarik kursi di hadapan gue dan duduk di sana.
"Sendirian?"
Astaga, basa-basinya kaku banget sih.
"Ya," jawab gue seadanya.
Canggung juga rasanya hadap-hadapan sama pria ganteng, tapi tidak gue kenal.
"Saya Luki Atmaja, panggil saja Luki."
Uhuk Uhuk
Gue langsung tersedak. Siapa tadi? Luki?
"Pelan-pelan, saya tidak akan mengambil punya kamu kok. Punya saya masih," ucapnya sambil menyodorkan botol air mineral miliknya, yang tutup botolnya sudah dibuka olehnya.
Gue menerjapkan bulu mata gue shock. Setelah tersadar gue menggeleng, lalu menunjuk es teh manis gue yang masih setengah. Melirik pria yang ada di hadapan gue yang sedang memerkan senyuman mautnya. Astagfirullah, lemah iman gue dikasih pemandangan beginian.
"Sorry, bukannya mau menolak, tapi, gue cuma nggak enak karena lo--" Eh, tunggu! Kok gue sok asik banget sih, pake lo-gue segala lagi. "Maaf, maksud saya--"
"It's okay. Kalau kamu lebih nyaman lo-gue juga tidak masalah."
Gue hanya meringis salah tingkah dan mencoba pura-pura sibuk dengan soto gue. Ck. Kok gue bisa lupa sama cowok yang kemarin sih.
"Kamu tidak nyaman, ya, dengan kehadiran saya?"
Gue justru takut nyaman sama lo, Luki. Jerit gue dalam hati. Astaga, sisi ganjen gue tiba-tiba keluar dengan tidak sopannya.
Ya, Allah, maafkan kekhilafan hamba barusan. Lain kali, diusahakan untuk lebih menahan diri. Aamiin.
"Tidak juga. Santai saja," jawab gue seadanya.
"Boleh saya minta nomor ponsel kamu?"
Ha? Kok tiba-tiba gercep?
######
"Zi," panggil gue pada Vinzi yang saat ini sedang sibuk mencemil snack, sambil menonton Upin Ipin.
Entah apa yang merasukinya. Akhir-akhir ini ini bumil suka sekali menonton kartun. Bagus sih, dari pada nonton sinetron kan? Seenggaknya nonton kartun tidak terlalu mengganggu gue.
"Hmm."
"Nikah itu enak nggak sih?"
"Hah?" respon Vinzi langsung menoleh ke arah gue dengan ekspresi melongonya, "tanya apaan lo barusan?"
Gue menghela napas dan menyandarkan punggungku di sofa. "Akhir-akhir ini Aro ngekode ngajak nikah, Zi. Gue jadi jadi mendadak galau deh."
"Bukannya harusnya lo seneng? Diajak nikah pria seoke Aro, perempuan normal pasti bakalan seneng, Gi."
"Maksud lo gue nggak normal gitu?" tanya gue sewot.
"Ya, sedikit. Menurut gue, lo itu aneh lho, Gi. Cewek itu kalau udah cinta sama cowok, diajakin serius itu tuh, pasti seneng. Lah, lo? Malah galau. Aneh."
Masa iya, gue aneh sih? Menikah itu kan tidak mudah. Gue dan Aro masih belum terlalu kenal juga, masih belajar saling memahami masa udah mau nikah aja. Bukankah itu seperti terlalu buru-buru, lagian kita tidak sedang dikejar apa pun kan?
"Gue... ah, nggak tahu pusing gue," keluh gue frustrasi.
"Ya udah sih, selagi Aro masih mau nunggu. Woles aja!"
"Tapi Aro ada mantan cantik banget, Zi. Udah kayak mantan Putri Indonesia. Cantik, anggun, elegan, smart. Duh, pokoknya keliatan sempurna banget deh."
"Terus?"
"Ya, gue minder dong."
"Sebentar, yang lo pusingin sekarang itu apa sih?"
Gue mengigit bibir bawah gue ragu, lalu melirik Vinzi. Meskipun Aro bilang gue seratus kali lebih baik dibandingkan mantannya kemarin itu, perasaan takut tetap saja menghantuiku. Apa lagi kalau gue lihat dari sorot mata keduanya kemarin, gue yakin mereka sama-sama belum berdamai. Nah, ini lah yang gue takutin. Gue takut, gue ini hanya sekedar pelarian Aro dari mantannya kemarin. Atau yang lebih parahnya lagi, Aro akan lebih memilih mantannya itu karena gue nggak kunjung mau diajak nikah. Kan serem.
"Jawab, Gi! Malah ngelirik-lirik doang," dengkus Vinzi sinis.
"Gue takut Aro balikan sama mantannya itu, karena gue nggak mau diajak Aro nikah."
__ADS_1
"Hah? Kok lo **** sih, Gi?"
Astagfirullah, ini calon Emak-emak ngomong nggak pake filter banget sih. Heran gue. Asal mangap aja mentang-mentang enggak bayar.
"Gi, cowok kalau udah suka sama satu cewek, apa lagi tipe cowoknya itu kayak Aro, ya udah. Maunya cuma sama lo, doi nggak akan peduli sama cewek lain, seberapa cantik itu cewek. Ngerti! Jadi, stop! Berhenti berspekulasi dengan pikiran lo sendiri, kalau lo ragu, tanyain ke orangnya langsung, bukannya malah mikir yang enggak-enggak begini. Nggak capek apa?"
"Namanya perempuan," balas gue tak mau disalahkan.
"Perempuan emansipasi itu harus keren, Gi! Jangan cuma ngandelin perasaan doang, otak juga dipake dong. Ck, payah! Kasian Ibu R.A Kartini yang berjuang pada masanya, kalau pikiran kita masih aja ngandelin feeling."
Gue menatap Vinzi datar. Ini kenapa Ibu R.A Kartini dibawa-bawa sih?
"Udah deh, Gi, nggak usah galau! Kalau lo belum siap nikah, ya, jangan nikah! Nikmati aja dulu yang sekarang, nggak usah terlalu dipusingin. Santuy aja lah, woles, losss!"
"Tapi--"
"Nggak ada tapi-tapian, udah mandi sana! Malam ini Bang Riki ngajak makan di luar."
Gue langsung mendengkus sewot. "Gue udah mandi."
"Ya udah, dandan kek, apa gitu loh."
"Enggak, males gue. Mau tidur," kata gue sambil berdiri.
Saat gue hendak melangkah, Vinzi tiba-tiba menarik tangan gue.
"Ikut dong!" rengeknya dengan wajah memelas.
Gue menggeleng, lalu melepaskan tangaj Vinzi dari tangan gue. "Males. Mending berdua deh, biar romantis."
"Nggak seru!"
"Nggak seru nggak papa, Zi, yang penting kenyang."
"Kok lo gitu sih, nggak asik deh," rajuk Vinzi dengan bibir manyunnya.
"Gue mau maraton drakor."
"Besok-besok kan bisa," balas Vinzi tak ingin menyerah.
Namun, sekali lagi gue menggeleng tegas. Menolak keras tawaran Vinzi. Karena Aro sedang sibuk, katanya, jadi lebih baik gue maraton drama Korea. Setidaknya, lihat oppa-oppa Korea jauh lebih menyenangkan dari pada harus melihat Bang Riki dan juga Vinzi bermesraan di hadapan gue. Ck. Enak saja. Nggak terima gue.
"Nggak bisa! Aro lagi sibuk, jadi minimal gue mau nonton drakor."
"Nggak asik lo jadi adek ipar," seru Vinzi meneriaki gue yang kini sedang berjalan menaiki anak tangga.
Gue melambaikan sebelah tangan gue tidak peduli, tanpa menoleh. "Bodo amat," balas gue tak mau kalah.
####
Ngomongin program wajib militer, gue jadi kangen Lee Jung Shin sama Kang Min Hyuk. Duh, kapan mereka menyelesaikan program wajib militernya sih, kan gue udah kangen CN Blue. Oke, kita lupakan CN Blue sejenak, dan fokus menonton.
"Hiks, hiks, kok udah mewek aja gue. Satu episode belum kelar juga," keluh gue sambil menarik selembar tisu dari meja nakas.
"Kenapa mewek? Berantem sama Aro lagi?" celetuk Bang Riki sambil berdecak dan duduk di tepi ranjang gue.
"Ini lho, Bang, kasian adeknya pemain utama si cewek, tasnya yang dipakai diiket di tiang, tapi gara-gara adeknya ini agak sedikit ada keterbatasan khusus, dia nggak ke mana-mana, masih duduk anteng di situ. Padahal kan, kalau it--"
"Bodo amat," sela Bang Riki memotong kalimat gue, "buruan ganti baju. Gue tunggu di bawah, dandannya nggak usah lama-lama."
"Gue nggak ikut."
"Ikut!" tegas Bang Riki tidak ingin dibantah.
Gue menggeleng tegas. "Enggak," tolak gue mentah-mentah.
"Vinzi ngambek ntar, Gi, lo nggak kasian sama gue?"
"Enggak."
Bang Riki berdecak sambil menatap gue tajam. "Gue jual, ya, laptop lo!" ancamnya galak.
"Terus nanti lo beliin yang baru, Bang?"
"Ya, enggak lah. Buat apaan, disuruh kuliah aja ogah-ogahan gitu, punya laptop cuma buat nonton drama menye-menye. Nggak guna banget, mending lo sodakohin ke yang membutuhkan deh, biar buat nambah-nambah pahala, lumayan tuh."
"Apaan deh, suka-suka gue. Ini laptop punya gue, kok Bang Riki yang sewot."
"Jelas gue sewot, lha wong gue yang beliin."
"Dih, sensi. Inget udah semakin tua, Bang, udah mau jadi Bapak, jangan sensian, nanti gampang darah tinggi, kasian kan anak lo kalau harus jadi yatim di usi--"
"Mulut lo itu lho, Wat, nggak punya filter banget, ya?"
Gue mengangkat kedua bahu gue acuh tak acuh. "Makanya pergi sana! Gue mau nonton ini. Dramanya seru tahu, lama nggak nonton nih gue," balas gue snewen.
"Besok-besok kan bisa," decak Bang Riki masih ngotot membujuk gue, "ayo, buruan, ganti baju! Gue tungguin."
"Ah, lo itu ganggu banget sih, Bang. Nggak bisa banget lihat adeknya seneng," keluh gue sebal.
"Seneng apanya, lo tadi barusan mewek, Ronaldowati!"
__ADS_1
"Tauk ah."
"Kita tunggu di bawah, buruan ganti baju terus dandan yang cantik!"
"Biar apa?"
"Ya, biar cantik lah. Biar sedep dipandang mata, pake segala tanya lagi. Udah buruan! Gue tunggu di bawah."
Gue menendang-nendang kaki gue ke udara. "Iiih, kenapa gue ikut sih?" protes gue kesal.
"Ya, biar seru dong kalau rame-rame," balas Bang Riki.
"Tapi berdua kan lebih romantis," balas gue tak mau kalah
"Vinzi lagi nggak suka diromantisin. Udah buruan dandan! Dari pada makin ngambek itu Kakak ipar lo," suruh Bang Riki sambil menarik lengan gue.
"Ah, lo yang ngehamilin Vinzi, kenapa gue yang repot mulu deh, perasaan," gerutu gue sambil membuka lemari pakaian gue.
"Nggak usah kebanyakan ngeluh, nanti kurang pahalanya," balas Bang Riki sebelum keluar kamar.
Ck, dasar!
#####
"Kita mau makan di mana?" tanya gue setelah masuk ke dalam mobil.
Gue langsung mendengkus samar saat mendapati Vinzi sibuk mencemil biskuit untuk Ibu hamil.
"Jadi ke restoran Koreanya?" tanya Bang Riki sambil menoleh ke arah Vinzi sebentar, sebelum menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya.
Dengan wajah polosnya, Vinzi menggeleng. "Enggak."
"Hah? Lha terus?"
"Restoran seafood aja deh."
Bang Riki melirik gue melalui kaca spion. "Gimana?"
"Ya, terserah kalian lah. Kan gue cuma ngikut."
"Ya udah, berarti restoran seafood, ya? Oke, mau yang di mana?"
"Yang paling deket. Aku udah laper soalnya."
Bang Riki langsung mengacungkan jempolnya, tanpa membantah atau mengimbuhi kalimatnya. Gue yang duduk di bangku penumpang bagian belakang hanya melirik keduanya. Lalu berpikir, apa cuma perasaan gue kalau hubungan mereka tuh, terlihat kaku dan biasa aja? Ah, tahu lah, itu kan urusan mereka. Lagian, siapa tahu mereka sedang mencoba untuk memahami kondisi gue yang sedang dalam masa LDR dengan Aro.
Tak lama setelahnya, kami sampai di salah satu restoran seafood yang ada di Jakarta. Tempatnya tidak terlalu besar, namun tidak terlalu kecil. Gue suka suasananya, terasa lebih homey.
Saat Bang Riki dan Vinzi sibuk memesan, gue sibuk menghubungi Aro. Entah lah, mendadak kepo ingin tahu saja, apa yang sedang dilakukan olehnya.
"Lo apa, Gi?" tanya Vinzi sambil membuka buku menunya.
Gue hanya melirik Vinzi sekilas lalu menjawab, "samain aja lah."
"Minum?" tawar Vinzi.
"Es teh manis deh."
"Anget aja, malem-malem begini juga. Cuacanya kurang bagus, nanti lo gampang flu," sahut Bang Riki sambil menggeleng tidak setuju.
Gue melirik Bang Riki lalu menggeleng di sela dengkusan gue. "Air mineral aja kalau gitu."
"Enggak teh anget?"
"Gue anti minum teh, kalau nggak dingin. Trauma."
"Trauma kenapa?" tanya Vinzi heran.
"Lebay!" cibir Bang Riki sambil melirik gue sinis.
Gue tidak peduli, dan malah menjulurkan lidah.
"Eh, gue ke sana bentar, ya. Kayaknya sinyalnya agak susah deh."
"Makanya pake data tuh, pilih jaringannya yang terkuat, bukan yang termurah," cibir Bang Riki meledek gue.
"Suka-suka gue dong, duit-duit gue ini yang beli. Kok situ yang sewot," balas gue tak terima.
Gue kemudian berjalan keluar dari restoran, mencoba menghubungi Aro namun tidak bisa. Gue coba sekali lagi dan akhirnya kali ini tersambung.
"Kamu di mana, Ar?" tanya gue dengan suara bergetar menahan tangis, saat melihat sesosok pria yang sangat mirip dengan Aro sedang masuk ke dalam restoran sambil menerima telfon, dan perempuan yang bersamanya itu, mirip sekali dengan mantan Ari yang kemarin kita temui saat menjenguk bayi Mas Gani.
"Di apartemen, baru abis mandi."
Aro berbohong? Itu jelas-jelas Aro, dia sedang tidak di apartemennya yang ada di Bandung melainkan sedang bersama mantan pacarnya. Tapi kenapa dia tidak jujur pada gue?
**Tbc,
tidak, Aro!!!!
kenapa kamu tega lakukan ini? kamu bohong sama Anggi? demi apa? demi apa kamu melakukan semua ini? aku kecewa, Ar, kecewa sangat. awas, kau, kalau macem-macem sama Angginya gue. huh, ku bikin hidupmu tidak tenang. haha, ini gue kesambet apaan deh ππ kok ngaco parah begini π€ efek keseringan begadang sampai lupa tidurkah? ππ
__ADS_1
udah, udah, kita akhiri sampai di sini.
see you next part aja deh π€πππππ semoga part ini nggak ngaco-ngaco amat. Aamiin. meski ragu jg klo gk ngaco ππ**