
####
Sedih. Kecewa. Kalut. Shock. Bingung. Hancur. Semua itu sedang gue rasain banget sekarang ini. Gue enggak bisa berpikir apa-apa, selain ingin teriak dan juga memaki diri gue sendiri. Bagaimana bisa gue sebodoh ini, membiarkan perempuan yang gue cintai menanggung beban seberat itu sendirian, bahkan sampai hampir membahayakan nyawanya dan juga bayi kita.
Mengingat kata bayi, seketika gue jadi merinding. Sebentar lagi gue mau jadi Ayah? Gue yang masih super blangsak dan gaya hidup bebas begini harus jadi kepala rumah tangga? Harus jadi suami sekaligus calon Ayah dalam waktu dekat?
"Gue cariin dari tadi juga, tahunya nongkrong di sini."
Gue langsung mengangkat wajah dan menemukan Aro sambil menatap gue iba. Ia memalingkan wajahnya ke arah samping sejenak, sebelum akhirnya menyodorkan sebungkus rokok ke arah gue dan duduk di sebelah gue.
"Sejak kapan lo ngerokok?" tanya gue heran.
Dari jaman kita masih sekolah, Aro itu paling anti dengan namanya rokok. Bisa dibilang dia ini sangat perduli dengan kesehatan, makanya body-nya sering kali digilai murid-murid di sekolah kami, dulu. Bahkan dulu gue sempet berpikir, kalau Aro mungkin akan mengambil sekolah kedokteran. Meningat kapasitas otaknya yang sangat cocok sebagai mahasiswa kedokteran.
"Gue beliin lo," ucap Aro dengan kedua mata yang fokus ke jalan raya. Kebetulan saat ini gue dan Aro sedang duduk di sebuah warung tenda yang belum buka.
"Biar?"
Aro berdecak sambil melotot ke arah gue. Ia tidak mengatakan apapun setelahnya.
Gue hanya terkekeh geli setelahnya. Baru kemudian mulai menyalakan rokok yang Aro belikan. Gue menghisap batang rokok--yang sebenarnya bukan rokok yang biasa gue nikmati--penuh penghayatan. Sejenak, gue ingin melupakan masalah yang harus gue hadapi beberapa saat kemudian.
"Kenapa tadi tiba-tiba ninggalin Vinzi gitu aja?"
Sialan. Rokok gue bahkan belum habis setengah, dan Aro sudah mengganggu gue dalam menikmati rokok gue.
"Kasih jeda dulu, kenapa sih, Ar. Rokok gue bahkan masih panjang," decak gue sambil meliriknya sinis.
Hal ini sukses membuat Aro langsung diam bergeming. Emang dasar, ya, kulkas dua pintu, tetep aja kulkas dua pintu. Mana bisa berubah jadi dispenser, yang panas dinginnya bisa gue atur sesuka hati.
"Gue bukannya mau ninggalin Vinzi gitu aja, Ar. Gue cuma ngerasa perlu waktu untuk nenangin diri."
Harus gue akui kalau sikap gue barusan memang tidak gentle, gue akui itu. Tapi, kalau gue tetap memaksakan untuk berada di sana tanpa menenangkan diri terlebih dahulu, gue yakin psikis Vinzi mungkin saja sedikit terganggu, meningat sifat emosional gue yang memang susah untuk dikontrol.
Gue menghela napas sejenak, sebelum akhirnya menghisap rokok gue, lalu menoleh ke arah Aro. Jadi, alasan kenapa Aro dari tadi diam saja, karena dia sedang asik dengan ponselnya. Astaga!
__ADS_1
"Ar, lo dengerin gue ngomong nggak sih tadi?"
Wajah Aro berkerut bingung. "Kenapa?"
"Lo nggak dengerin gue?" tanya gue speechless.
"Bukannya lo minta jeda waktu. Minimal sampai lo habis sebatangkan? Kan rokok lo masih setengah, belum habis juga. Jadi gue pikir lo belum ngomong. Emang udah, ya?"
Gila! Yang model beginian mau jadi adek ipar gue? Apa ya, mungkin sanggup adek gue menghadapi makhluk semacam dia. Astagfirullah! Mana tampang Aro waktu tanya, selow banget lagi, udah kayak sandal swallaw.
"Seriusan udah ngomong? Sorry, sorry, tadi si--"
"Iya. Gue maklum."
"Oke. Jadi, kenapa lo ninggalin Vinzi gitu aja tadi? Gue perhatiin pun, tadi kayaknya kalian kayak berantem gitu?"
Gue tersenyum miris. "Menurut lo, wajar nggak sih kalau gue kecewa dengan sikap Vinzi yang menyembunyikan berita sepenting ini?"
"Wajar. Kalau gue jadi lo, pun, gue juga akan sama kecewanya kayak lo. Marah pun pasti gue rasain. Tapi, gue jelas nggak harus melampiaskan semua rasa marah atau kecewa gue ke orang yang bahkan akan berjuang hidup dan mati demi anak gue. Gue nggak sebego itu, Rik. Lo pun nggak boleh jadi bego. Vinzi sedang mengandung anak lo, Rik, anak kalian. Dan status kalian baru pacaran, belum menikah. Bisa lo bayangin beban yang harus Vinzi tanggung? Dan lo sekarang malah ngambek karena Vinzi nggak kasih tahu lo kemarin-kemarin? Lo ngerasa egois nggak sih, Rik?"
"Udah mulai ngerasa bego?" sindir Aro sambil tersenyum sinis, saat melirik gue.
Meski sedikit tidak rela, gue akhirnya mengangguk. Yah, gimana enggak mau mengakui, kalau kenyataannya gue emang sebego itu.
"Masih mau jadi bego atau udah sampai di sini aja begonya?"
Mau tak mau gue akhirnya tertawa mendengar pertanyaan Aro, yang entah kenapa terdengar sedikit lucu di indera pendengaran gue.
"Udah deh, di sini aja kali ya, begonya gue."
Jujur, gue agak geli sendiri dengan apa yang gue ucapkan barusan.
"Nah, gitu dong! Itu baru calon Kakak ipar yang baik namanya," kekeh Aro sambil merangkul pundak gue.
"Dih! Siapa juga yang mau jadi Kakak ipar lo? Enggak ada! Yuk, masuk. Gue harus segera minta maaf sama Vinzi," ucap gue, sambil membuang putung rokok gue dan menginjak-injaknya.
__ADS_1
Aro mengangguk lalu ikut berdiri dan menepuk-nepuk celananya, untuk membersihkan debu yang menempel. Lalu kami segera masuk ke dalam.
Saat gue dan Aro masuk ke ruang UGD, gue mendapati perawat sedang melepas infus Vinzi. Sedang Anggita, jangan tanyakan apa yang sedang ia lakukan. Karena yang ia lakukan hanya berkecak pinggang sambil menatap gue tajam, yah, seperti yang gue bilang tadi, kalau Anggi ingin mengubur gue hidup-hidup. Mungkin kalau bukan karena Aro yang langsung dengan sikap merangkul Anggita dan menenangkannya, sudah pasti, gue yang akan berbaring di brankar yang sempat Vinzi tiduri tadi. Anggita emang seserem itu kalau lagi emosi, untung sekarang udah ada pawangnya. Coba kalau belum, enggak tahu deh nasib gue.
"Udah selesai ngambeknya?" sindir Anggita dengan wajah judesnya.
"Gue nggak ngambek," kilah gue dengan wajah tidak terima.
Anggita mendengkus tidak percaya. "Terus apaan? Merajuk?"
"Diem deh lo! Gue mau ngomong sama Vinzi. Minggir!"
Meski sambil melirik gue judes, Anggita akhirnya menyingkir, memberi ruang agar gue bisa bicara lebih leluasa dengan Vinzi. Karena kebetulan perawat yang melepas infus Vinzi sudah selesai, jadi gue bisa lebih leluasa ngobrol dengannya.
"Zi, boleh peluk?"
"Dih! Najis," cibir Anggita dengan nada yang sama, judes.
"Sayang! Nggak boleh gitu, ah."
Aro emang panutan gue. Selalu menyerang di saat dibutuhkan. Sip, nanti kalau dia segera ingin melamar Anggita, tanpa perlu banyak mikir, langsung gue iyain. Janji gue.
"Aku mau minta maaf," cicitku dengan nada suara penuh penyesalan.
"It's okay. Aku juga min--"
"Stop!" sela Anggita menyela sesi berbaikan gue dan Vinzi.
Gue berdecak kesal sambil melotot tajam ke arahnya. "Jangan ganggu momen dulu kenapa sih, Wat? Lo kan sekarang udah punya Aro. Nggak usah iri dengan kebahagiaan tetangga."
"Dih, siapa juga yang ngiri. Amit-amit! Gue cuma mau ngingetin kalau lo pihak paling salah, jadi Vinzi nggak usah minta maaf. Minta maafnya nanti kalau udah lebaran. Mending sekarang kita pulang, terus atur rencana ngomong Ayah dan Ibu di kampung tentang kebejatan lo ini. Baru setelah itu, kita atur rencana untuk lamar Vinzi. Jangan terlalu menikmati kebahagian sesaat, kalau kenyataannya, ada bumerang yang sudah menantimu di depan mata."
Sialan. Mulut Anggita kenapa jadi ikutan pedes kayak mulut Aro. Enggak bener nih. Nyesel gue, karena sempet ngasih restu mereka dengan mudah.
Tbc,
__ADS_1