
######
"Ar, kamu capek enggak?"
Gue menoleh pada Aro yang kini tampak tidak sabar menunggu lift terbuka. Kami baru sampai gedung apartemen dan sedang menunggu lift terbuka untuk membawa kami naik ke unit kami.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka. Kami lalu masuk ke dalam.
"Kenapa emang?" tanya Aro sambil menekan nomor lantai tujuan kami.
"Aku tiba-tiba pengen ayam teriyaki, kalau aku minta kamu bikinin. Kamu capek enggak?"
"Tapi telur balado kita kan masih. Kalau nggak makan itu dulu nanti mubazir, ditunda sampai besok aja gimana?"
"Ya udah, besok aja kalau gitu." Gue mengangguk, mengiyakan meski agak kecewa.
Aro kemudian menyandarkan kepala gue di bahunya untuk menghiburku. "Tenang, besok kamu libur masak. Biar aku yang masak, aku bilang sama anak-anak dulu deh." Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, mengutak-atiknya sebentar lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah selesai.
Tak lama setelahnya, pintu lift terbuka. Aro kemudian mengajak gue keluar dari lift.
"Bilang apa emang sama mereka?" tanyaku tak paham.
"Kalau aku mungkin dateng ke Resto agak telat, terus biar mereka ngeceknya bahan-bahan sebelum aku dateng."
"Oh." Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk paham. Enak juga punya suami chef, mau apa-apa tinggal bilang. Nggak perlu repot-repot beli, tinggal suruh masakin aja.
Baik gue dan Aro langsung menghentikan langkah kami, saat menemukan seorang pria tinggi jangkung berdiri di depan pintu apartemen kami. Kami saling melempar pandangan sebelum akhirnya kembali menatap pria itu.
"Kamu kenal?" tanya Aro, yang sepertinya juga tidak mengenal pria itu.
Gue menggeleng. Namun beberapa detik kemudian gue teringat siapa pria itu. Tanpa ragu, gue langsung menghampirinya.
"Randu," panggil gue untuk menyapanya.
Randu langsung menoleh dan tersenyum. "Oh, baru pulang? Pantesan dari tadi aku pencet bell nggak ada yang nyautin."
"Iya, baru pulang. Itu kamu bawa apa?"
"Oh, ini tadi Hana aku suruh bikin ayam teriyaki, terus tiba-tiba keinget mangkuk kamu. Ya udah, buat isi balikinnya. Nggak tahu deh rasanya cocok di lidah kamu apa enggak."
Wah, kok bisa pas banget sama yang gue pengenin. Mungkin ini yang disebut dengan jodoh. Eits, jodoh gue sama ayam teriyaki, ya. Bukan sama Randu. Gila aja, kalau Randu masih gue akui sebagai jodoh. Terus Aro mau gue kemanain?
__ADS_1
"Ya, ampun kok sampai repot-repot begini. Harusnya kalau mau balikin ya, tinggal balikin aja."
Meski sebenarnya sedikit sungkan dan nggak enak, gue tetap menerimanya. Karena rejeki nggak boleh ditolak.
"Kata almarhumah ibu saya kalau abis dikasih sesuatu sama tetangga, alangkah lebih baik jika dibalas, meski hanya seadanya," balas Randu.
Duh, almarhumah? Berarti ibunya sudah meninggal dong?
"Iya, deh. Makasih loh, sekali lagi. Kan jadi enak kalau begini. Tapi lain kali nggak--"
Ehem Ehem
Gue langsung menoleh ke arah Aro. Ia terlihat kesal karena kami abaikan, apa lagi kedua tangannya masih menenteng kantung plastik berisi belanjaan kami. Astaga, sampai lupa sama suami sendiri gara-gara liat orang ganteng.
"Astaga, lupa." Gue kemudian menghampiri Aro dan langsung memperkenalkannya pada Randu. "Ran, kenalin ini Aro suami aku. Ar, kenalin ini namanya Randu, tetangga baru kita. Plastiknya ditaruh di bawah aja dulu."
Ekspresi Randu terlihat sedikit terkejut, saat gue memperkenalkan Aro sebagai suami gue. Mungkin ia merasa Aro terlalu ganteng buat gue kali, ya. Ya, ampun gue tersinggung kalau seandainya dia beneran berpikir begitu.
Aro kemudian meletakkan belanjaan kami, sesuai saranku. Baru setelahnya ia menyalami Randu. Entah kenapa ekspresinya terlihat masih agak kesal.
"Saya Aro, suami Anggita." Aro mengulurkan sebelah tangannya, mengajak Randu berjabat tangan.
"Eh, iya, saya Randu. Adik dari tetangga baru kalian. Salam kenal," balas Randu sedikit kikuk.
Lalu Aro membalas seadanya dan bahkan hanya berupa deheman saja.
Buset, kenapa lagi deh ini lagi gue? Kan suasananya jadi terasa canggung begini.
"Kalau gitu saya pamit dulu, ya, kayaknya Hana udah nyariin. Permisi."
"Eh, iya, Ran, thanks buat ayamnya," balas gue mencoba seramah mungkin. Agak merasa bersalah juga gue sama sikap Aro barusan.
"Iya, sama-sama. Thanks juga buat telur baladonya tadi. Mari, Mas."
Aro mangguk-mangguk enggan. "Hmm."
"Iiih, kok kamu begitu banget sih, Ar. Nggak sopan banget, Randu udah ngasih kita ayam teriyaki loh. Harusnya kamu berterima kasih bukannya malah judesin begitu," omel gue kesal.
Dan yang membuat gue bertambah kesal adalah Aro tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan sama sekali. Kan tambah ngeselin, tuh. Astagfirullah, suami siapa sih ini?
"Abis cowok tadi mencurigakan."
Begitu masuk ke apartemen, Aro langsung membawa belanjaannya ke dapur. Otomatis gue langsung mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Mencurigakan gimana?" tanya gue tak paham.
Enggak lihat apa gimana sih, tampangnya aja udah ganteng manis begitu. Keliatannya orang baik kok, nggak ada wajah mencurigakan yang gimana-gimana. Ini Aro kayaknya kebanyakan nonton film detektif apa gimana sih? Perasaan dia nggak suka deh film begituan.
"Kamu nggak liat? Waktu ngobrol sama kamu dia keliatan seneng senyum-senyum begitu, tapi begitu kamu kenalin aku sebagai suami kamu dia kayak nggak suka gitu sama aku. Kamu nggak ngerasa?"
Gue menggeleng dengan polos. Emang gue nggak ngerasa kalau Randu nggak suka sama Aro, justru gue merasa kalau Aro lah yang nggak suka sama Randu.
"Itu berarti kamu yang kurang peka. Dia itu kayak naksir kamu tahu, aku jadi curiga."
Mendengar jawaban Aro, sontak saja gue langsung menertawakannya. Apalagi ekspresi Aro terlihat benar-benar lucu dengan bibir yang sedikit dimajukan. Duh, suami gue ternyata ngegemesin juga kalau begini.
"Astaga, Ar, pikiran kamu kejauhan. Itu semua cuma perasaan kamu aja. Randu nggak begitu kok."
"Tapi kalau aku bener gimana?"
"Ya enggak gimana-gimana. Emangnya mau gimana?"
"Kok jawabannya cuma gitu?" protes Aro terlihat tidak suka.
"Ya, emang kamu pengen jawaban yang kayak gimana?" Gue balik bertanya, "kamu ini lebay. Cemburu kok sama sesuatu yang nggak jelas begitu," imbuh gue menggerutu.
Tapi Aro terlihat tidak setuju. "Tapi cowok tadi keliatan jelas banget kalau suka sama kamu." Ia masih bersikekeuh dengan pendapatnya.
Gue menghela napas. "Enggak, sayang. Itu cuma perasaan kamu. Oke, seumpama itu terjadi, itu nggak akan jadi masalah karena aku sudah jadi istri kamu. Oke?"
Aro terlihat masih tidak puas dengan jawaban gue. Ia kemudian meninggalkan dapur dengan ekspresi yang masih kesal.
"Ayam teriyakinya jangan dimakan," ucap Aro sebelum benar-benar meninggalkan dapur.
Gue melotot terkejut. "Kenapa gitu?"
"Antisipasi. Takut ayam teriyakinya ada peletnya."
"Ha?!"
"Terus ini mau diapain? Masa dibuang?" Gue kemudian menyusul Aro yang kini masuk ke dalam kamar.
"Nanti aku yang makan. Kamu aku bikinin."
Astaga, Aro emang kalau lagi cemburu suka serem. Karena tidak ingin ribut gue akhirnya membiarkan Aro melakukan apapun yang dia suka. Dari pada ngamuk kan? Lebih bahaya tuh.
Tbc,
__ADS_1
Woahhhh, up lagi dong. Jadinya triple up. Haha, enggak sih sebenernya ini cuma aku bagi dua part aja😂 karena pov-nya beda. Jadi anggap aja tetep triple up. Oke? Ya udah, cukup segini aja cuap-cuapnya, karena takut kepanjangan. Doain abis ini gk absen up lagi kek kemarin-kemarin.
See you bubay🤣😋😍😘🥰🤗