Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (61) Aro Kena Zonk


__ADS_3

######


Aro keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih segar. Sambil tersenyum cerah ia berjalan dan menghampiri meja makan.


"Masak apa nih?" tanya Aro dengan antusias, namun beberapa detik kemudian ia terdiam saat mendapati sepiring nasi putih dan telur dadar di atasnya, "cuma ini?" imbuhnya kemudian, dengan ekspresi tak percayanya. Aro bahkan tidak jadi duduk saat mendapati menu yang akan kita makan.


"Bahan yang di kulkas abis?"


Gue menggeleng di sela ringisan gue.


Aro menghela napas pendek lalu meraih tangan gue. Gue awalnya bingung dengan apa yang akan dilakukannya, dan ternyata ia mengecek jam tangan gue.


"Satu setengah jam lebih aku tidur, sayang, dan kamu cuma goreng telur aja? Kamu lagi ngeprank aku, ya?"


"Abis aku bingung mau masak apa," cicit gue takut-takut, dengan kepala tertunduk, karena perasaan bersalah.


Aro kembali menghela napas, lalu bertanya, "Cuma segini kemampuan masak kamu?"


"Aku bisa bikin nasi goreng kok," elak gue membantah.


Aro mangguk-mangguk pasrah, lalu menarik kursi dan duduk di sana. "Ya udah, ayo, makan! Aku udah laper."


"Aku minta maaf," lirih gue pelan.


"Enggak papa. Kayaknya, aku yang salah karena berekspektasi terlalu tinggi, makanya pas tahu realitanya, aku agak... sedikit zonk."


"Maaf, karena tidak bisa memenuhi ekspektasi kamu."


"Udah, nggak usah dibahas, mending sekarang kita makan," ajak Aro sambil meraih sendoknya dan garpunya, namun saat tersadar kalau lauk yang ada di hadapannya hanya telur dadar, ia kemudian meletakkan garpunya.


"Aku kayaknya bikin kamu kecewa banget, ya, Ar?"


"Dikit aja kok."


Kedua mata gue melotot spontan. "Jadi, kamu beneran kecewa?"


"Aku bilang sedikit, sayang."


Gue cemberut, sedang Aro malah terkekeh geli lalu berkata, "Lain kali jangan terlalu murah kalau ngasih garamnya, nggak bagus, bikin darah tinggi."


Ha? Jangan murah garam? Maksudnya keasinan?


Wajah gue berubah panik. "Keasinan ya, Ar?"


Aro mengangguk dengan ekspresi datarnya, namun tetap terus mengunyah. Ekspresinya pun tidak terlihat seperti orang yang makan sesuatu yang keasinan. Namun, tetap saja membuat gue panik. Dengan gerakan buru-buru, gue kemudian mengambil telur goreng Aro dan menggantinya dengan punya gue. Aro terbengong sesaat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan makannya.


"Kalau yang ini agak sedikit kurang asin. Dikit aja, ya, tapi."


Seketika gue melongo. Perasaan tadi pas gue makan nggak kurang asin deh.


"Masa sih?" tanya gue heran, gue kemudian menyendokkan telur yang Aro bilang keasinan tadi, dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya secara perlahan.


Enggak keasinan kok.


Gue kemudian menatap Aro curiga. "Sama aja, Ar. Enggak keasinan, tuh."


"Keasinan, dikit juga tapi."


Seketika gue melongo. Begini, ya, kalau masakan kita yang ngomentarin Head Chef. Udah kayak kaum cowok yang selalu salah di mata cewek.


"Tahu lah, orang aku ngaduknya satu wadah. Gimana ceritanya beda," gerutu gue jutek.


Aro terkekeh. "Nggak kecampur mungkin."


"Lain kali, aku janji nggak akan masak lagi buat kamu, Ar. Kapok."


"Kenapa? Kita hidup itu butuh dikritik juga lho."


Gue hanya meliriknya sebal lalu mendengkus. Setelahnya, gue lebih memilih untuk meneruskan acara makan gue.


"Ngambek?"


"Jelas," jawab gue tanpa ragu.


"Mau dibujuk pakeapa?"


"Tiket ke Korea."


"Huh? Maksud kamu, bulan madu nanti, kamu minta ke Korea? Oke, siap. Asal kita nikahnya besok, ya."


"Sama aja bo'ong lah, kamu pikir nikah segampang itu. Ngurus surat-suratnya juga perlu waktu, Ar."


"Ya, abis bujukannya mahal."


"Halah, emang dasar kamu aja yang pelit. Kamu kan Head Chef, terus anak tunggal Papa kamu. Harusnya uangnya banyak, dan permintaan semacam tadi itu gampang. Kecuali kamu pelit sih," sindir gue sengaja menggodanya.


Aro tidak langsung menimpali sindiran gue, karena mulutnya masih mengunyah. Setelah nasinya tertelan, ia meraih air mineral yang ada di samping piring dan meneguknya hingga setengah.


Baru setelahnya, ia menjawab, "Jadi, bulan madu nanti kamu minta ke Korea?"


"Enggak lah!"


Aro mengangguk sekali lagi, lalu meneguk airnya hingga tandas dan kembali bertanya, "Terus, maunya di mana?"


Gue menerjap kebingungan. "Huh?"


"Bulan madunya nanti kamu minta ke mana, sayang?"

__ADS_1


"Kamu beneran tanya ini?"


Aro mengernyit tak paham. "Maksudnya?"


"Nggak bercanda gitu maksudnya."


Aro ber'oh'ria lalu mengangguk. "Iya, kali ini nanya serius, siap-siap tabungan juga. Jadi, mau nggak ke Korea?"


Gue menyengir. "Mau dong, mana ada yang nggak mau kalau diajak ke Korea?"


Aro mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Nggak tahu juga. Jadi, fix ke Korea?"


Gue masih menerjapkan kedua bulu mata gue tak percaya. Wow, gue mau diajak Aro bulan madu ke Korea? Terdengar seperti mimpi tidak sih?


"Ini beneran?" tanya gue masih tidak percaya.


Aro mengangguk yakin. "Iya, sayang, yakin seyakin-yakinnya. Kamu tenang aja, nanti kita minta Abang kamu buat ngongkosinnya ke Koreanya, terus untuk biaya hidup dan sewa hotel biar mantan kamu yang nanggung."


Lah?


Gue melongo sebagai respon spontanku. Sedangkan Aro malah tersenyum sambil memainkan kedua alisnya naik-turun. Setelah, gue hanya mampu mendengkus tak percaya.


"Katanya mau nyiapin tabungan, kenapa malah minta-minta begitu?"


"Buat kado pernikahan kita, sayang. Mereka kan teman dekat aku, nggak papa. Dua-duanya minta kado pernikahan yang nggak murah kok waktu mereka nikah," ucap Aro kalem.


Mendadak gue penasaran. Gue kemudian memajukan wajahku lalu berbisik, "Mereka minta kado apa?"


"Rahasia antara lelaki, kamu nggak usah tahu."


"Iih, bikin penasaran banget sih," gerutu gue sambil berdecak sebal karena Aro tidak ingin membocorkannya.


Hmm, Aro memang tipekal yang paling jago urusan merahasiakan. Argh! Sungguh menyebalkan.


"Udah buruan itu nasinya diabisin, nanti biar aku cuci piringnya sekalian. Aku mau ke toilet bentar."


Aro kemudian berdiri dan mendorong kursi yang ia duduki tadi ke belakang, baru setelahnya ia keluar dari area meja makan dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Gue mendengkus samar, lalu menghabiskan makanan gue dengan cepat dan kilat, kemudian setelahnya gue mencuci piring dan gelas kotor kami. Aro keluar dari kamarnya sedikit lebih lama dari dugaan gue, bahkan setelah gue hampir menyelesaikan cuci piring gue.


"Kok kamu yang nyuci?"


"Kenapa emang?"


"Kan kamu yang masak, masa kamu juga yang nyuci."


"Ya, enggak papa dong. Emang salahnya di mana? Bukannya biasanya kamu juga begitu? Masak-masak sendiri, nyuci piring pun sendiri, udah kayak bujangan aja. Padahal kamu punya pacar," gerutu gue kesal.


Seperti biasa, bukannya merasa bersalah atau semacamnya, Aro malah tertawa, kali ini ia maju dan mendekati gue, lalu mencubit sebelah pipi gue dengan gemas. Membuat gue langsung memekik keras dan memukulnya.


"Sakit ini lho," amuk gue sambil memelototinya tajam.


"Sakit?"


"Sini aku cium biar cepet sembuh," ucap Aro sambil terkikik geli.


Ia memajukan wajahnya ke arah wajah gue, bersiap mencium pipi gue. Namun, jelas saja langsung gue dorong wajahnya dengan cukup keras. Membuat Aro sedikit tersentak kaget, mengaduh, lalu tertawa setelahnya.


"Iiih, nggak sopan banget sih, kamu, yang. Bener-bener deh, masa dahi aku didorong begitu," protes Aro sambil mengusap-usap dahinya.


"Abis kamu nyebelin sih," balas gue tak mau kalah.


"Terus, kamu maunya aku gimana?"


"Kurang-kurangin tuh, sifat nyebelinnya!"


"Nyebelin versi kamu sama aku beda lho," kata Aro mengingatkan.


"Nah, bagus, tuh."


Aro mengernyit tak paham. "Bagus apanya?"


"Iya, bagus, kan kamu jadi bisa banyak berlatih untuk menjadi peka."


"Hah?!"


######


"Balik ke Jakarta, yuk," ajak Aro sambil membelai rambut gue.


Gue yang tadinya sedang fokus menikmati belaian Aro sambil memejamkan kedua mata gue, secara otomatis langsung membuka kedua mata gue. Aro menunduk, sebelah alisnya terangkat, seolah sedang bertanya 'kenapa?'


"Nggak sekarangkan?"


"Kenapa nggak sekarang aja? Biar kekejar acara lamarannya gitu."


"Kamu udah ngebet banget mau lamar aku, Ar?"tanya gue diiringi dengkusan kecil.


Dengan wajah polosnya, Aro mengangguk tanpa ragu. Membuat gue speechless sesaat. Astagfirullah! Pacar gue itu memang susah, ya, kalau disuruh bohong sedikit. Tapi kalau lagi mau berbohong, ya, gitu, serem.


"Emang kamu enggak?"


"Biasa aja. Nggak ngebet-ngebet amat kok. Cuma yang tetap pengen segera terlaksana, sih, biar lega," balas gue kemudian.


"Nah, kan! Kamu juga sebenarnya udah ngebet, tuh. Balik ke Jakarta, sekarang aja, yuk!" ajak Aro, namun gue tolak dengan gelengan kepala, tanda tidak setuju.


"Kenapa?"


"Capek, Ar, nggak mau pulang sekarang. Besok aja lah," rengek gue.

__ADS_1


"Tapi kita cuma berdua doang loh di sini. Nanti orang ketiganya setan. Terus kalau aku khilaf gimana? Serem lho, yang.  Coba kamu pikir baik-baik dulu deh!"


"Enggak mau!"


"Enggak mau apa?" tanya Aro dengan wajah polosnya, "nggak mau pulang apa nggak mau mikir?"


"Dua-duanya aja. Aku nggak mau mikir untuk pulang hari ini. Besok aja lah, Ar, ya, ya, ya?"


"Sayang!" seru Aro sedikit menaikkan volume suaranya.


Sedangkan gue mengedip genit. "Mas Aro," panggil gue menggoda.


"Astagfirullah! Kan, setannya langsung lewat."


Gue langsung terbahak puas, saat mendapati kedua pipi Aro yang memerah samar. Dengan kedua matanya melotot tajam ke arah gue. Terlihat lucu dan juga menggemaskan, ini pertama kalinya gue melihat wajah panik Aro karena menahan hawa nafsu yang terlihat kian mencuat kepermukaan.


"Aku serius loh, Anggita. Kamu harus tahu, tidak semua pria mampu mengendalikan diri dengan baik, termasuk aku," seru Aro dengan wajah kesalnya, tentu saja.


Gue tersenyum sambil mengangguk setuju. "Ya, aku tahu. Tapi, aku juga tahu kamu sangat baik dalam hal mengendalikan diri. Itu lah kenapa aku suka sama kamu," ucap gue sambil memegang sebelah pipinya.


Aro mendengkus sambil menurunkan telapak tangan gue yang tadi memegang pipinya, lalu berkata dengan tegas, "Kamu salah. Saat ini aku sangat-sangat tidak bisa menahan diri. Jadi, kalau kamu tidak ingin adegan kurang mengenakkan terjadi di esok hari, pilihannya dua. Kita pulang sekarang atau kamu masuk kamar dan kunci pintu dari dalam."


"Kenapa?" tanya gue pura-pura tidak paham. Sengaja masih menggodanya.


Aro berdecak gemas. "Kamu nantangin aku?"


Gue masih belum beranjak dari sofa, hanya saja posisi gue saat ini sudah tiduran di atas pahanya lagi. "Kamunya berani nggak?"


"Semua pria benar-benar akan berubah jadi pria brengsek kalau lagi on fire, sayang. Kamu ini ngerti nggak sih?" omel Aro semakin terlihat kesal.


"Aku lebih ngerti kalau kamu nggak akan melakukan itu, Ar."


Aro kembali membantah. "Aku bilang kamu salah, sayang. Aku nggak sehebat yang ada di pikiran kamu sekarang ini. Paham?"


Gue menggeleng. "Buktinya, sampai detik ini, kamu belum ngapa-ngapain aku."


"Kamu beneran nantangin, ya? Oke, fine. Aku kabul--"


"Kabur!" jerit gue saat Aro hendak memajukan wajahnya, gue kemudian langsung berlari terbirit-birit ke dalam kamar Aro.


Aro berdecak. "Katanya nantangin, baru digituin udah kabur. Lari terbirit-birit, pula. Ah, payah!" cibirnya kemudian.


"Setidaknya, kalau kamu khilaf, aku harus sadar. Makanya aku lari," balas gue dari dalam kamar, namun kepala gue menyembul keluar.


Aro hanya mendengkus tidak percaya sekaligus kesal. "Udah sana kamu kunciin pintunya, mandi! Pakai kemeja aku dulu sana!"


Gue mengangguk setuju. Gue memang mulai terasa gerah saat ini, dan gue butuh mandi.


"Ambilin tas aku dulu!"


"Buat apa?" tanya Aro heran, namun ia jawab sendiri. "Ah, sabun pencuci muka, ya?" gumannya sambil mangguk-mangguk paham dan berdiri sambil mencangklong tas gue.


"Bukan, aku mau ambil daleman. Aku malah lupa bawa sabun pencuci muka," cengir gue sambil menggaruk kepala, karena gatal, "terus aku harus pake baju kamu yang mana?"


"Terserah. Bebas. Tinggal kamu pilih, kira-kira mana yang muat."


"Aku nggak gendut, ya, Ar, ya kali nggak muat," protes gue tidak terima.


"Maksudnya, yang mana, yang nggak terlalu kebesaran, sayang."


"Salah kamu ngomongnya ambigu."


"Padahal sama aja, " guman Aro menggerutu.


"Beda, Ar!" seru gue kemudian.


"Iya, iya, beda. Sana mandi!"


Aro kemudian mendorong kepala gue agar ikut masuk ke dalam kamar. "Iih, jangan didorong-dorong sembarangan! Difitrahin setiap tahun ini lho, Ar," protes gue tidak terima.


Aro kembali mengiyakan. "Iya, iya, tahu. Kan nanti yang bayar fitrahnya aku. Udah sana, mandi!"


"Siap, Mas Aro!" goda gue sambil mencengir.


Aro tersenyum sambil mengangguk. "Aku suka panggilan itu."


"Iyakah?"


Aro mengangguk, membenarkan.


"Hehe, tapi aku nggak suka. Maaf! Geli sendiri pas ngucapinnya, sebenernya."


"Ya udah, terserah kamu lah. Senyamannya aja, nggak usah dipaksain."


Gue kembali mencengir sambil mengacungkan jempolku. "Terima kasih calon imam dan Ayah dari anak-anakku. Aku mencintaimu! Nae maeum soge jeojang." gue kemudian berseru ala-ala Park Ji Hoon mantan member Wanna One. Tak lupa gue juga menggerakkan jari-jemari gue ala-ala Ji Hoon.


Aro terlihat speechless beberapa detik, sebelum akhirnya ia tertawa kecil. "Astagfirullah! Apaan itu barusan?"


"Itu rayuan buat kamu."


"Terus, aku harus bales apaan?"


"Bulan madu dua kali."


"Hah?!"


Gue langsung terbahak puas, saat mendapati mulut Aro yang menganga, karena kembali speechless. Lalu gue menutup pintu setelahnya.

__ADS_1


Tbc,


Haha, selamat buat kalian yang bener nebaknya. Kalian luar biasa. Hehe, langsung kontak aku, ya. Nanti ku bagi-bagi hadiah tahun baru spesial via MIMPI, deh 😆😆🤗😍😙😘 lope-lope deh buat kalian.


__ADS_2