Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {3} Malah Dikerjain


__ADS_3

*****


"Bu, Aro mana?"


Begitu selesai mandi dan berganti pakaian, gue segera turun dari lantai atas dan mencari ke beradaan Aro. Namun, setelah berkeliling seisi rumah gue tetap tidak menemukan keberadaannya. Karena tak menemukan Aro, gue memutuskan untuk bertanya pada Ibu yang sedang sibuk di dapur. Entah apa yang dilakukan beliau, mau membuat cemilan sepertinya.


"Makanya kalau udah siang itu langsung bangun, bukannya tidur terus, biar tahu suaminya ke mana. Istri kok kelakuannya begitu, heran Ibu. Kok mau-maunya Nak Aro nikahin kamu."


Gue berdecak kesal, karena omelannya Ibu secara tidak langsung ini.


"Iiih, Anggi udah bangun kok dari tadi, cuma baru turun aja. Tadi mandi sama nyuci baju dulu," balas gue tak terima.


"Ya, udah sana sarapan dulu. Ada nasi goreng, Abangmu tadi request itu."


"Anggi tanya Aro, Bu, Ibu liat enggak? Kok malah disuruh sarapan."


"Halah, halah, cuma ditinggal sebentar kok yo sampai sebegitunya. Itu ada di depan, lagi main badminton sama Abangmu."


Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. Fokus gue saat ini jatuh pada adonan tepung Ibu.


"Ibu mau bikin apa sih itu?"


"Untir-untir."


"Emang mau buat acara apa?"


"Ya, dimakan to. Itu Kakak iparmu kan suka ngemil."


"Enak bener. Anggi mau juga dong."


"Iya, nanti kalau sudah mateng."


Kedua bola mata gue berbinar senang. "Yang lain dong, Bu, Biji Ketapang, ya? Anggi kangen Biji Ketapang buatan Ibu, nih."


Ibu melirik gue sekilas, lalu kembali sibuk dengan adonannya. "Hamil dulu sana! Nanti Ibu bikinin."


"Astagfirullah!" Tanpa sadar gue mengucap istigfar, karena sedikit kesal.


"Astagfirullah piye to? Ada suaminya, ya, wajar hamil. Kalau belum ada suaminya, baru tuh, astagfirullah. Sembarangan!" omel Ibu dengan wajah galaknya.


Saat mulut beliau hendak kembali terbuka, yang gue tebak pasti ingin menceramahi, gue memilih langsung meninggalkan dapur. Masa bodoh dengan teriakan Ibu yang meminta gue untuk kembali ke dapur.


"Huh, Ibu nyebelin," gerutu gue kesal lalu keluar rumah.


Belum sampai pintu depan, gue sudah mendengar teriakan Vinzi yang memanggil-manggil nama Aro dan memberinya semangat. Lah, bukannya Aro main bareng Bang Riki, ya, suaminya sendiri, kenapa yang dikasih dukungan suami gue.


"Go Aro! Go Aro! Go!" teriak Vinzi semangat.


"Lo ngusir laki gue apa gimana, Zi?" canda gue lalu duduk di sisi kirinya.


Vinzi menoleh ke arah gue sekilas. "Gue dukung suami lo. Ngusir gimana?"


"Lah, suami gue lawan mainnya suami lo sendiri, kenapa yang lo dukung malah suami gue?"


"Abang lo payah, jadi mending gue pilih suami lo," balas Vinzi seenaknya.


Astaga, boleh nggak sih gue dorong itu jidatnya Vinzi sampai dia terjungkal? Eh, enggak boleh, ya? Dia kan lagi mengandung ponakan gue. Oke, oke, sabar, Gi! Sabar! Orang sabar tanahnya lebar.


"Yeay!! Om-nya anak gue menang!" seru Vinzi dengan gaya hebohnya.


Gue lalu memperhatikan Bang Riki dan Aro. Mereka sudah berhenti bermain, sepertinya pertandingan usai dengan skor kemenangan Aro. Wajah mereka terlihat capek dan kehausan, bahkan napas Bang Riki terlihat ngos-ngosan.


"Capek, haus," keluh Bang Riki lalu menegak air dinginnya, "kapok gue, Ar, main sama lo. Nggak ngasih jeda buat napas gue dikit aja."


Raut wajah Aro terlihat lebih santai, meski gurat-gurat kelelahan tetap terlihat di wajahnya yang kali ini penuh keringat.


Dengan santainya, ia kemudian membalas ucapan Bang Riki, "Lo aja yang payah! Makanya sesibuk apa pun kerjaan lo di kantor, sempetin olahraga rutin, meski sebentar."


Benar. Meski sibuk dengan Restoran atau pun kegiatan yang lain, Aro tipekal pria yang tidak bisa hidup tanpa olahraga. Makanya itu perutnya tidak pernah terlihat maju beberapa centi seperti punya Bang Riki. Setelah menikah, perut Bang Riki maju beberapa senti dan terlihat sedikit buncit. Padahal dulu sebelum menikah rata terus.


"Contoh dong suami gue, Bang. Meski udah nikah perutnya belum ke mana-mana, masih tetep sixpack dong," ujar gue membanggakan Aro.


Aro menatap gue sekilas dengan tatapan datarnya, kemudian ia berdiri dan masuk ke dalam rumah begitu saja. Bang Riki yang menyadari perubahan suasana dan ekspresi Aro, langsung menghentikan niatannya untuk menegak air mineralnya.


"Pelet bucinnya Aro udah hilang, Wat?" seloroh Bang Riki, meledek gue. Ia tertawa sebentar lalu menegak air mineralnya.


Lain dengan Vinzi. "Ngambek?" tebaknya tepat sasaran.


Gue mengangguk dengan wajah cemberut gue.


"Gara-gara lo belum mau diajak bikin anak?" celetuk Bang Riki ikut menebak.


Gue meradang. Dengan kesal, gue memukul kepalanya dengan botol bekas minumnya.


Bang Riki terkekeh sambil mengusap-usap kepalanya. "Bercanda. Maksud gue, Aro ngambek gegara lo masih pengen nunda kehamilan?"


"Bukan itu, Bang."


"Terus? tanya Bang Riki kepo.


"Lo nunda kehamilan, Gi?"


Gue menatap Vinzi datar. "Plis, deh, nggak bahas itu dulu bisa?"


Vinzi mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Tapi gue kepo."


"Terus ngambeknya kenapa? Perasaan dulu lo deh yang tukang ngambekan."


"Aro ngajakin balik ke Bandung, tapi gue masih pengen di Jakarta."

__ADS_1


Kali ini Bang Riki dan Vinzi mengangguk dengan kompak. "Oh, pantesan," koornya bersamaan.


"Gimana ya bujuknya?"


"Kasih service terbaik lo," sahut Bang Riki cepat, "tambah dua atau tiga ron--"


"Plis, Bang, ngasih ide selain ke arah sana nggak ada?" potong gue dengan wajah kesal.


Dengan wajah polosnya, Bang Riki menggeleng. "Enggak ada."


"Ikut aja lah, Gi," ucap Vinzi.


Gue hendak memprotes, namun keduluan Bang Riki.


"Tuh, dengerin Kakak ipar lo! Gue sama Vinzi itu emang sehati. Klop banget deh, sehidup semati pokoknya."


"Bukan itu, Bang! Maksud aku, biar Anggi ikut Aro ke Bandung, bukan ikut saran kamu," decak Vinzi kesal.


Bang Riki ber'oh'ria sambil garuk-garuk kepalanya, karena malu. Sedangkan gue, terbahak puas mendengarnya.


"Gue kalau balik ke Bandung tuh males. Kesepian tahu," curhat gue, "rutinitasnya itu-itu aja. Monoton banget."


"Nggak boleh gitu!"


"Tapi kalau di sini kan enak, ada temennya, Zi. Ada lo, Bang Riki, Ibu juga ada. Nah, kalau di sana, sama Aro-nya aja sebentar doang, lama pun kita sama-sama tidur."


"Ya, ini resiko pernikahan yang harus lo tanggung, Gi."


"Tapi gue nggak mau."


"Punya anak makanya, buruan!"


"Bang Riki!"


"Apa?" tantang Bang Riki sambil berkacak pinggang dan menjulurkan lidahnya.


Gue melotot tajam, hendak memukulnya, namun calon Ayah itu justru berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah.


"Rese lo, Bang! Awas aja nanti!" teriak gue emosi.


Di samping gue, Vinzi hanya menggeleng sambil mengelus perut besarnya. Buset, perut Vinzi udah gede banget baru nyadar gue.


*******


Saat gue masuk ke dalam kamar, gue tidak menemukan Aro di sana, namun pintu kamar mandi ditutup, yang gue tebak ia pasti sedang mandi. Karena bingung mau ngapain, gue memilih meraih ponsel gue dan memainkannya, dari pada gabut kan?


Cklek!


Pintu kamar mandi terbuka, Aro keluar dengan wajah segaranya. Gue tersenyum sambil meletakkan ponsel, lalu menyapanya. Ekspresi Aro terlihat sulit gue baca, wajahnya datar, sehingga sulit gue tebak apakah dia masih marah atau sudah tidak.


"Sudah mandi?" tanya Aro sambil mengeringkan rambutnya.


"Sudah makan?"


Kali ini gue menggeleng. "Kamu sudah nggak marah?"


"Aku nggak marah." Aro menghela napas lalu duduk di sisi kanan gue.


"Bete, ya?"


Aro menggeleng. "Agak kecewa," akunya jujur.


"Aku jauh dari ekspektasi kamu banget, ya?" Gue sedikit memiringkan wajah dan menatap wajah Aro.


Kening Aro mengerut bingung. "Maksudnya?"


"Ya, bayangan kamu sebelum nikahin aku dulu nggak gini."


"Oh." Aro hanya ber'oh'ria.


"Iya, ya? Aku payah banget jadi istri, ya? Nggak bisa ngertiin kamu, manja--"


"Ngomong apa sih?" potong Aro dengan wajah datarnya, "dari sebelum kita nikah kan aku tahu emang begitu sifat kamu. Iya, aku emang sempet bayangin kamu mulai belajar dan menyesuaikan diri buat jadi istri baik. Tapi aku juga sadar diri, sayang, semua itu perlu proses. Meski aku emang pengennya kamu lebih cepet nyesuaiin diri."


"Tuh, kan!" Bibir gue merengut kesal. Bukan kesal dengan pengakuan Aro, tapi lebih ke diri sendiri.


Kali ini Aro terkekeh. "Kan nggak semua bisa belajar cepet, sayang."


Bibir gue makin cemberut. "Maksudnya aku telmi gitui? Lemot?"


"Aku sih nggak bilang gitu, ya."


Gue mendengkus sinis. "Tapi maksudnya ke arah sana."


"Udah, lah, sensi amat sih mentang-mentang lagi periode."


Bibir gue manyun, menahan kesal. Gue lirik Aro yang kini tengah menatapku dengan sebelah alis terangkat.


Gue menghela napas. "Ya, udah, aku nanti ikut balik ke Bandung."


"Nggak usah," ucap Aro membuat gue bingung.


Loh, kok jadi enggak usah?


"Terus gimana?" Bulu mataku menerjap bingung.


"Kamu di Jakarta, aku balik ke Bandung sendiri."


"Terus kamu siapa yang ngurusin? Siapa yang nemenin? Enggak usah, aku nggak mau diomelin Ibu."

__ADS_1


"Aku bisa jaga diri di sana. Kamu di sini aja, nemenin Vinzi."


Gue menggaruk kepala, yang mendadak gatal. "Udah ada Bang Riki di sini, ada Ibu juga. Bunda Vinzi juga katanya udah mau ke sini, meski nggak tahu kapan pastinya."


Aro mengangguk, membenarkan. "Iya, tapi HPL-nya sebentar lagi, ibarat kata ini kan tinggal nunggu bayi-nya mau keluar kapan. Jadi, kamu di sini aja, biar nggak usah bolak-balik. Kasian kamu juga nanti, ikut ke Bandung, terus pas nyampe di Bandung malah dapet kabar kalau Vinzi lahiran. Kan musti balik ke Jakarta lagi kitanya. Repot juga," jelasnya sambil mencubit hidung gue.


"Kayak bayi Vinzi mau lahir besok aja."


"Ya, siapa tahu kan." Aro mengangkat kedua bahunya bersamaan, "lagian kalau kamu di sini terus tahu proses lahirannya, bikin kamu terinspirasi dan pengen juga punya dedek." Ia memainkan kedua alisnya naik-turun sambil menyenggol lenganku.


"Ngarang! Bukannya pengen, yang ada aku makin takut, Ar."


Raut wajah Aro berubah serius. Ia menatapku sebentar lalu mengangguk maklum. "Ya, udah, ayo kita sarapan!"


"Kita?" beo gue dengan kening berkerut.


"Iya, kita. Kenapa kamu nggak suka sarapan sama aku? Keberatan?"


"Su'udzon. Emang kamu tadi belum sarapan?"


Dengan wajah polosnya, Aro mengangguk. "Udah. Tapi udah laper lagi."


Astaga!


"Gara-gara Abang kamu ngajakin aku main badminton tadi. Aku baru mandi juga masa diajakin badminton, bener-bener deh Abang kamu itu. Kan jadinya aku harus mandi dua kali, terus sarapan dua kali," keluh Aro sambil mengajak gue keluar kamar.


"Yee, siapa suruh mau. Kalau nggak mau kan tinggal ditolak."


"Nggak enak, gimana pun juga, Riki kan sekarang udah jadi kakak ipar aku."


Mendengar pengakuan Aro, mau tidak mau gue tertawa. Aro mengakui jika Bang Riki Kakak iparnya, tapi tetap saja manggil Bang Riki dengan nama saja. Astaga, ada-ada aja deh suami gue.


"Kalau diakuin Kakak ipar, kenapa manggilnya nama?" tanya gue iseng.


"Iya, juga, ya." Aro meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya, "aneh aja kalau manggil di jadi Bang. Kayaknya Riki bakal ngetawain aku abis-abisan."


"Emang ngapain lo sampai gue ketawain habis-habisan?" celetuk Bang Riki tiba-tiba muncul entah dari mana.


Tahu-tahu nongol aja deh ini Abang gue, bikin kaget aja.


"Kepo lo, Bang."


"Emang. Kalau nggak kepo ngapain gue tanya?"


Gue memutar kedua bola mata gue kesal. Bang Riki menjulurkan lidahnya puas, sedang Aro terdengar menghela napas.


"Mau sarapan apa mau lanjut ribut sama Riki?"


"Sarapan lah," jawab gue cepat.


"Ya udah, ayo!"


Gue mengangguk patuh, lalu merangkul lengan Aro. Saat kaki ini hendak kembali melangkah, Bang Riki tiba-tiba memanggil gue.


"Anggi, sini bentar deh!"


"Mau apa lagi?" Gue melirik Bang Riki sinis.


"Sini bentaran doang."


"Nggak mau," tolak gue mentah-mentah.


Di samping gue Aro menggeleng dan menyuruh gue agar segera menuruti perkataan Bang Riki. Gue ikut menggeleng, enggan menuruti Bang Riki.


"Sana dulu bentaran, yang. Riki nggak bakalan ngapa-ngapain kamu."


"Tuh, denger apa kata suami. Nggak boleh bantah apa kata suami, Gi. Ingat, surganya istri itu ada di suami."


"Enggak papa," ucap Aro kembali mengangguk.


Aro berusaha meyakinkanku. Gue sebenarnya ragu sih, karena perasaan gue enggak enak. Tapi karena Aro bilang enggak papa, akhirnya gue mengalah dan mendekati Bang Riki.


"Kenapa?"


"Kurang deket."


Gue berdecak dengan kedua mata melotot tajam. Namun tetap mendekatinya. Dan seperti yang gue takutin, Bang Riki ngerjain gue. Semua berlangsung dengan sangat cepat, ia mengusap ketiaknya dan menempelkannya di hidung gue.


Gue menjerit marah, sedang Bang Riki langsung berlari menaiki anak tangga dan terbahak puas.


"BANG RIKIIII!! SIALAN LO!" teriak gue emosi. Gue kemudian menoleh ke arah Aro dengan kedua mata memerah, menahan amarah dan juga tangis gue yang nyaris pecah. "Semua ini gara-gara kamu, kalau aja kamu nggak nyuruh aku tadi. Bang Riki nggak bakalan ngerjain aku," jeritku kesal, kali ini tangis gue pecah.


Aro meringis dan mendekati dan memeluk gue. Wajahnya terlihat bersalah, namun tetap terlihat seperti ingin menertawakan juga.


"Cup, cup, cup! Udah, nanti aku omelin Riki-nya. Udah jangan nangis! Nanti aku beliin es krim"


"Enak aja, emangnya aku anak kecil! Aku itu emosi tahu."


"Emosi kan bisa pake marah-marah."


"Huaaa..." tangisku makin pecah, "Bang Riki jahat. Kamu juga."


"Iya, iya, aku sama Bang Riki jahat."


Tbc,


ada gk sih yang senasib kayak Anggi begini, kalau kesel, emosi, pengen marah-marah tapi nggak bisa dan ujung-ujungnya malah mewek?😆🤣🤣🤣 kalau ada, berarti kita senasib🙈 buat yg gk ngerti rasanya kayak apa. sini aku kasih tahu, rasanya tuh ngeselin abis sumpah. mau marah-marah emosi tapi gk bisa dan malah mewek itu malu-maluin, soalnya kesannya jdi cengeng🤣🤣🤣 kan, nyebelin. pengen tahu aku sesekali klo emosi ngamuk gitu, cuma gk bisa, susah. ah, syedihnya aku tuh. udh lah curcolnya. seperti biasa, aku gk suka pake konflik yg harus menghadirkan orang ketiga, aku sukanya konflik internal. ya, kyak antara aku dan kamu aja gitu. dan kenapa sih Anggi gk dewasa padahal udh nikah, nah, ya itu, itu salah satu konfliknya. gk suka? silahkan mundur alon-alon dan gk usah baca. rebes kan? saya senang, anda pun seneng.


see you bubay😍😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2