Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {18} Get Well Soon, Ayah


__ADS_3

#######


Semalam Ayah membuat kami yang menunggunya geger dan juga panik. Di saat sedang asik mengobrol sambil bercanda, Ayah tiba-tiba mengeluh dadanya sesak. Beliau juga terlihat sangat kesakitan semalam, gue takut sekali semalam. Kami semua panik dan menurut dokter jaga yang memeriksa Ayah, sepertinya Ayah terkena serangan jantung ringan. Kata dokter jaga, meski sudah pernah melakukan pemasangan ring jantung, resiko terjadi penyempitan atau penyumbatan darah tetap ada. Apa lagi kalau kadar lemak masih tinggi dalam darah.


Pagi ini beliau akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Gue enggan meniggalkan rumah sakit meski Ibu dan Ayah memaksaku untuk pulang. Gue merasa baik-baik saja, justru kalau gue di rumah gue semakin tidak tenang. Gue sudah menghubungi Bang Riki perihal kondisi terbaru Ayah, dan dia akan menyusul ke Solo pada esok hari.


"Aku takut Ayah kenapa-kenapa, Ar," bisikku sambil memeluk tubuh Aro.


Gue sudah tidak peduli dengan tatapan orang karena sikap lebayku sekarang, yang hanya gue pikirkan saat ini adalah kondisi Ayah.


Aro membelai rambutku dan membalas pelukanku tak kalah erat. Sesekali kecupan ringan ia daratkan.


"Ssst, nggak boleh ngomong gitu. Kita doain aja Ayah nggak papa."


"Tapi aku takut," bisikku sambil menagis.


"Nggak usah takut, kan ada aku," balas Aro, "nunggu di kamar inap Ayah aja, yuk, kamu perlu istirahat," imbuhnya kemudian.


"Iya, mending kamu nunggunya di kamar saja," saran Ibu menyetujuhi ide Aro.


Gue menggeleng tidak setuju lalu berganti memeluk Ibu. Setetes airku kembali jatuh dan semakin deras kali ini.


"Nanti ibu sendirian di sini," bisikku dengan suara bergetar.


Gue tahu dibandingkan gue, Ibu jauh lebih mencemaskan dan juga mengkhawatirkan Ayah. Tapi saat ini beliau mencoba menutupi kekhawatirannya demi gue. Gue tahu itu. Kebetulan saat ini hanya ada gue, Aro dan juga Ibu yang menunggu Ayah. Tidak ada kerabat lain yang menemani.


"Enggak papa, Ibu berani kok."


"Tapi Anggi yang nggak berani," balas gue.


Ibu tersenyum lalu membelai rambut gue. "Kita doa sama-sama, ya, semoga Ayah baik-baik saja."


Gue mengangguk dan mencoba menahan tangisku agar tidak pecah kali ini.


Setelah selesai dengan pemeriksaan lanjutan, Ayah kembali didorong menuju kamar menggunakan kursi roda. Ayah tampak tersenyum seolah sedang tidak merasakan sakit saat keluar dari ruang pemeriksaan, bahkan beliau menggodaku karena kedua mata gue yang membengkak.


"Jeleknya anak Ayah, kalau kayak begitu bisa-bisa Aro ceraiin kamu," ledek beliau.


Gue cemberut, memasang wajah kesal namun bulir air mataku kembali jatuh. "Pokoknya Ayah janji nggak boleh bikin kita khawatir lagi. Anggi takut, Yah, cucu Ayah apa lagi."


"Iya, iya, maafin Ayah. Nggak akan begitu lagi. Maafin Kakung, ya, cucu kesayangan," ujar Ayah sambil tersenyum dan mengelus perutku.


Gue mengangguk lalu kami kembali ke ruangan Ayah.


"Kamu ndak mau pulang? Pulang sana! Dari kemarin di sini terus, kasian cucu Ayah dong." Ayah menatap gue, lalu beralih menatap Aro. "Ar, kamu ajak pulang istrimu. Ndak kasian apa dari kemarin di sini terus? Biar istirahat di rumah saja. Ayah sudah baik-baik saja. Nanti atau besok juga sudah mau pulang."


Gue menggeleng tegas. "Ayah jangan neko-neko deh, dengerin apa kata dokter. Pokoknya Ayah nggak boleh pulang sebelum Ayah beneran sembuh," sahutku cepat.


Ayah terkekeh geli. "Kenapa to? Orang Ayah mau pulang ke rumah sendiri masa nggak dibolehin?"


Gue mengeram tertahan. "Ayah!"


"Iya, iya, Ayah cuma bercanda. Kamu makanya pulang sana!" usir Ayah masih tidak ingin menyerah.


Gue menggeleng tegas, lalu berjalan mendekat ke arah brankar. "Anggi nggak mau ke mana-mana, Anggi bakalan tetep di sini."


Ayah berdecak, pura-pura memasang wajah seolah-olah sedang frustasi, sambil menutupi wajahnya menggunakan lengan kirinya. Beliau kemudian melirik Aro, lalu kembali berdecak.


"Ar, istri kamu ini lho, kok ganjen bener godain suami orang terus, Ayah terganggu ini lho," adu Ayah, "Ibu juga kenapa diam saja sih Ayah digodain begini."


Aro meringis sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Sepertinya ia masih bingung harus merespon bagaimana untuk menanggapi guyonan mertuanya. Dasar Ayah. Di saat begini masih sempat-sempatnya melempar guyonan.


"Udah sana, mending kalian berdua pulang dulu. Baru nanti ke sini saja," kata Ibu menengahi.


Gue menggeleng tidak setuju. Lagian kalau gue dan Aro pulang, Ibu nggak ada yang nemenin jaga Ayah.


"Nanti Ibu sendirian dong, kalau kita pulang."


"Bu Lek-mu bentar lagi ke sini. Kamu pulang dulu sana!"


"Ya udah, kita nunggu Bu Lek sampai sini baru nanti kita langsung pulang."


"Halah, terserah kamu lah," ujar Ayah terdengar malas.


Gue tersenyum sambil mengangguk antusias. "Iya, biar suka-suka Anggi mau gimana. Jadi kalau Anggi pengen di sini--"


"ENGGAK BOLEH!" potong Ayah dengan cepat.


Gue hanya mampu memasang wajah cemberut, sedang Aro dan Ibu hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala.


######


"Nanti kita nggak usah lama-lama nanti di rumahnya ya, Ar," kataku begitu masuk ke dalam mobil. Gue langsung memasang seat belt dan menatap Aro agar menuruti kemauanku.

__ADS_1


Aro menghela napas. Seperti merasa serba salah, antara ingin menurutinya atau menolaknya saja. "Istirahat bentar deh paling enggak. Kasian dedeknya lho, sayang, nanti kalian kecapekan."


Gue menggeleng tegas. "Aku nggak capek kok, aku baik-baik saja. Nggak ngerasa capek sama sekali."


"Tapi kamu keliatannya begitu," balas Aro.


"Enggak ah, perasaan kamu aja. Aku baik-baik aja kok, nggak ngerasa capek sama sekali. Lagian aku kayak abis ngapain aja, orang duduk-duduk aja."


Aro berdecak samar, sepertinya nyaris kehilangan kesabaran. Meski tidak ia katakan, tapi wajahnya seolah sedang berkata 'terserah kamu, dasar ngeyel'. Ya, kurang lebih begitu lah.


"Aku beneran nggak papa, Ar. Anak kamu juga baik-baik aja kok. Aku rasanya nggak tenang kalau di rumah, aku pengen deket sama Ayah terus sampai beliau sembuh. Kamu ngerti kan perasaan aku?"


Aro kembali menghela napas. "Bukannya aku nggak mau ngertiin kamu, sayang. Aku cuma khawatir kalau kamu terlalu mengkhawatirkan Ayah sampai lupa sama kesehatan kamu dan bayi kita. Aku nggak mau begitu, tugas aku sebagai suami kan ngingetin kamu. Kamu juga paham gimana maksud aku kan? Aku bukannya mau ngelarang kamu."


Gue mengangguk paham. Aro hanya mengkhawatirkan kondisi kami, yang sebenarnya menurutku nggak perlu dikhawatirkan sama sekali, karena gue merasa baik-baik saja. Tidak seperti yang Aro khawatirkan.


"Iya, maafin aku. Aku bakal lebih perhatiin kondisi aku dan bayi kita. Aku janji."


Gue kemudian mengacungkan jari kelingkingku dan disambut kekehan ringan dari Aro.


"Apa ini?"


"Janji jari kelingking?"


"Kayak anak kecil, udah tua juga." Aro menggeleng tak habis pikir lalu mulai mengemudikan mobilnya.


######


Saat kami tiba di ruang rawat inap Ayah, hanya Ibu yang menemani Ayah tidak ada kerabat lain seperti yang Ibu bilang tadi. Gue berdecak samar setelah mengucap salam.


"Katanya ada Bu Lek yang mau ke sini, kenapa Ibu sendirian aja?" tanyaku tak bisa menyembunyikan kekesalan.


Ibu merenggangkan ototnya karena baru saja tertidur. Wajah ibu terlihat kelelahan dan juga kurang tidur membuatku tak tega melihatnya.


"Ibu pulang gih, gantian, istirahat di rumah. Biar Anggi yang jaga Ayah."


"Enggak papa, Ibu bisa tidur di sini. Kalian yang jaga Ayah, ya. Tadi Bu Lek Prita ke sini kok, cuma sudah pulang."


Gue menghela napas lalu duduk di salah satu sofa. "Hasil pemeriksaan tadi pagi sudah keluar belum, Bu?"


"Belum. Enggak tahu keluarnya jam berapa. Nanti agak sorean mungkin."


Gue mengangguk paham.


"Abangmu jadi nyusul pulang?"


"Jadi nggak, Ar?"


"Jadi," jawab Aro sambil mengangguk, "katanya sih mau bawa mobil sendiri."


"Nggak naik pesawat saja?" tanya Ibu.


"Kurang tahu, Bu, katanya sih mau naik mobil saja kalau jadi."


"Ya udah, mending Ibu tidur aja, mumpung sepi nggak ada kerabat yang ke sini," kataku menyarankan.


Ibu mengangguk setuju dan mulai memejamkan kedua matanya perlahan.


Aro sibuk dengan ponsel, gue kemudian berdiri dan menghampiri brankar Ayah. Ayah masih terlelap dalam tidur, gue perhatikan raut wajah Ayah yang terlihat sedikit berbeda dari beberapa hari sebelumnya. Gue tidak begitu yakin, tapi memang terlihat sedikit berbeda. Karena bingung mau ngapain, gue akhirnya merebahkan kepalaku di tepi brankar.


"Kalau ngantuk rebahan di sofa sini aja," saran Aro dengan suara rendah, takut membangunkan Ayah dan Ibu.


Gue sedikit mengangkat wajah dan menggeleng. "Enggak ngantuk kok, cuma pengen di sini aja."


"Mau cemilan apa gitu?" tawar Aro.


Gue menggeleng. "Enggak."


"Kamu akhir-akhir ini jarang ngemil lho."


"Ya udah, kamu beli apa gitu deh."


Aro kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berdiri menghampiriku. "Mau dibeliin apa?"


"Enggak tahu. Nggak pengen sesuatu juga."


"Terus aku harus beliin apa?"


"Ya, apa gitu kek. Biskuit-biskut juga boleh, wafer boleh, yang gurih-gurih juga boleh."


"Semuanya?"


"Ya, enggak semuanya. Yang kira-kira enak saja lah."

__ADS_1


"Enak di aku belum tentu enak di kamu. Enggak enak di aku juga belum tentu enggak enak juga lho."


"Apa aja yang kamu beliin aku makan. Gimana?"


"Awas kalau nggak kamu makan, kamu nggak aku kasih izin ke sini lagi," ancam Aro sebelum pamit keluar.


Gue mengangguk, mengiyakan. Lalu mengusir Aro secara lembut agar ia segera berangkat.


Tak lama setelah Aro pergi, Ayah terbangun. Ia mendudukkan tubuhnya dengan bantuanku.


"Ayah mau minum, Nduk."


Dengan gerakan sigap, gue langsung mengambilkan air minum beserta sedotannya untuk Ayah.


"Nggak usah pake sedotan," ujar Ayah.


Gue kemudian mengambil sedotan dari dalam gelas dan meletakkannya di atas meja. Setelah selesai minum, gue mengembalikan air minum ke tempat semula.


"Suamimu mana?" tanya Ayah saat kedua netranya menyadari kalau Aro tidak ada di dalam ruang rawat inap Ayah.


"Keluar. Cari cemilan."


"Oh, kenapa kamu nggak ikut?"


"Kalau Anggi ikut nanti siapa yang nemenin Ayah?" Gue menunjuk Ibu yang kini tengah terlelap, "tuh, Ibu juga tidur."


"Lha kamu pikir Ayah nggak berani?"


"Bukan begitu. Ya, masa Ayah ditinggal gitu aja, kasian dong."


"Ayah itu ndak papa lho, beneran. Kamu kalau mau pulang ke Bandung hari ini juga Ayah bolehin kok."


Mendengar jawaban Ayah, gue tidak bisa menahan diri untuk tidak cemberut. Mengingat kondisi Ayah yang sesak napas seperti semalam, mana mungkin gue dan Aro kembali ke Bandung. Yang ada gue nggak tenang di sana, lebih baik gue di sini. Jangankan ke Bandung, di rumah saja gue rasanya nggak tenang.


"Ayah ngusir Anggi sama Aro, ya?"


Kali ini Ayah tertawa. "Ya, bukannya ngusir. Ayah kan cuma bilang, kalau seumpama kamu mau pulang ke Bandung Ayah kasih izin. Gitu aja kok dibilang ngusir. Kamu ini belum pernah diusir apa gimana to?"


"Iya lah, mana ada yang berani mau ngusir Anggi?"


Ayah berpikir sebentar lalu mengangguk setuju. "Benar juga kamu, kamu kan anak gadisnya Ayah yang paling cantik, mana ada yang berani ngusir. Iya, kan?"


"Tuh, tahu."


Ayah terkekeh sambil mencubit hidungku dan mendesis, "Dasar kamu."


Gue tidak memprotes dan menggenggam tangan Ayah. "Ayah janji sama Anggi buat cepet sembuh, ya. Jangan sakit-sakit lagi. Anggi takut, Yah." Gue merasakan kedua mataku terasa perih.


"Nduk, Ayah sudah ndak muda lagi lho," balas Ayah tidak nyambung.


Gue menggeleng tegas. Kali ini gue tidak bisa menahan tangis gue lagi, satu bulir akhirnya lolos dari kedua pelupuk mata, diikuti tetesan berikutnya.


"Ayah pokoknya harus sembuh. Kehamilan Anggi sebentar lagi masuk empat bulan, Yah. Anggi sama Aro juga sepakat buat ngadain empat bulanan di Solo aja. Nggak jadi di Jakarta kok. Ayah cepet sembuh, ya?"


"Ayah nggak sakit lho sebenernya," balas Ayah.


"Kalau Ayah nggak sakit, mana mungkin dokter nyuruh Ayah dirawat begini?"


"Itu Ibumu yang minta, bukan atas kemauan Ayah lho. Ayah cuma kesleo, bukan sakit parah kenapa sampai kamu tangisi begini. Malu sama calon anakmu to, Nduk. Masa udah mau jadi Ibu masih cengeng," cibir Ayah sambil mengelap sebelah pipiku yang basah.


"Pokoknya Ayah harus janji buat cepet sembuh. Biar kita bisa ngadain empat bulanan Anggi."


"Kurang berapa hari lagi to?"


"Lima harian kayaknya."


"Kalau Ayah nggak bisa, gimana?"


"Ayah nggak boleh ngomong gitu dong," seruku kesal.


"Ssst, jangan keras-keras nanti Ibumu bangun." Ayah menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, kemudian menunjuk ke arah Ibu yang sedang terlelap di sana.


Deru napasku terdengar ngos-ngosan, karena menahan kesal. "Ya, abis ngomongnya aneh-aneh. Ayah itu lho, bikin Anggi sama Cucu Ayah khawatir."


"Ya, kan namanya manusia, Nduk. Nggak tahu rencana Gusti Allah bagaimana."


"Maksud Ayah itu apa sih?"


Gue mendorong kursi yang sempat kududuki dengan keras, menimbulkan deritan cukup keras. Sehingga membangunkan Ibu.


"Ada apa?" tanya Ibu kaget.


Gue tahu ini tidak sopan, tapi gue memilih langsung keluar begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Ibu. Gue terlanjur kesal.

__ADS_1


Tbc,


Maaf kemarin gk sempet up dikarenakan saya K.O🤣🤣🤣 doain ya, hari ini double up. Aamiin. Semogaa bisa. See you next part🤪😍🥰😘


__ADS_2