
#####
"Tidak. Aku ke Bandung justru ingin melayat karena Jasmine baru saja meninggal dunia!" seru Aro membalas dengan emosi.
Gue langsung terdiam karena terkejut. Terkejut karena suara Aro mau pun fakta yang baru saja gue dengar. Meninggal? Jasmine, mantan Aro yang sempat berselingkuh di belakang Aro, meninggal dunia?
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
"A.apa k.kamu bilang, Ar? Siapa yang meninggal?" ulang gue untuk memastikan kalau gue tidak salah dengar.
"Jasmine meninggal dunia," lirih Aro dengan wajah sedihnya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kapan?"
Gue membekap mulut secara spontan, karena terkejut. Ternyata gue tidak salah dengar?
"Tadi pagi."
"Lalu kamu akan ke sana?" tanya gue kemudian.
Aro mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Sendiri?"
Lagi-lagi Aro hanya menjawab dengan anggukan kepala. Raut wajahnya terlihat kacau, membuat gue tidak tega melihatnya begini. Gue tahu, Aro pasti sangat terpukul dengan fakta ini. Ia pasti sangat terguncang.
"Aku ikut," ucap gue mengusulkan diri.
Aro langsung menoleh ke arah gue dengan pandangan tak yakinnya.
Lalu gue mengangguk. "Aku mau ikut. Boleh?"
"Ta...tapi... kamu yakin?"
Gue kembali mengangguk yakin. "Hmm. Masalah pertunangan kita pun, aku nggak masalah untuk menundanya."
Aro menatap gue tanpa berkedip selama beberapa saat. Sebelum akhirnya ia memeluk gue erat. "Terima kasih," ucapnya tulus.
Gue mengangguk. "Setidaknya, kamu perlu bahu nanti kalau kamu mau menangis di sana, kan ada aku," ucap gue kemudian.
Gue mengurai pelukan kami dan berkata, "Aku masuk dan ganti baju dulu, ya. Sekalian pamit dan ngasih tahu orang rumah."
Aro mengangguk. "Apa perlu aku temani?"
Gue menggeleng. "Enggak usah. Kamu tunggu di sini aja. Aku nggak akan lama kok. Ya, seenggaknya nggak selama pas Bang Riki boker," cengirku kemudian.
Aro kemudian mencubit hidungku gemas. "Jorok banget perumpamaannya! Sana masuk! Nanti keburu siang."
"Siap! Tapi, ngomong-ngomong, aku minta maaf, ya karena tadi sempet teriak-teriak. hehe."
"Hmm. Aku juga," balasnya lalu menyuruhnya segera masuk.
#####
"Bu, Anggi mau ngomong."
"Ngomong aja," balas Ibu tanpa menoleh ke arah gue, beliau masih sibuk mencuci ayam.
__ADS_1
"Di ruang tengah aja, yuk! Kan Ayah disana," balas gue menyuruh Ibu menyudahi pekerjaannya sejenak.
"Kenapa to?" tanya Ibu sambil mematikan kran dan menatap gue curiga.
"Pokoknya."
Gue kemudian merangkul lengan Ibu dan menuntun beliau menuju ruang tengah. Ayah sedang menonton televisi, gue kemudian menyuruh Ibu duduk di samping Ayah.
"Anggi mau pamit."
"Maksudnya?"
"Anggi mau nemenin Aro melayat ke Bandung--"
"Ke Bandung? Sekarang?" tanya Ibu langsung menatap gue dengan kedua mata melototnya.
Lalu gue menjawab dengan anggukan kepala.
"Lha terus lamaran kalian?"
"Ditunda dulu, ya, Bu."
"Ditunda? Kemarin kamu sendiri yang minta Ibu sama Ayah buru-buru dateng ke Jakarta, sekarang kamu minta diundur? Lha rumangsamu nikah ki opo dolanan, Nduk?"
"Enggak gitu, Bu, bukan maksud Anggi begitu. Ini kan sedang ada halangan, ditunda sampai besok aja, ya?"
"Memang siapa yang meninggal, Nduk? Kerabat Aro? Ayah sama Ibu apa ikut melayat sekalian?" tanya Ayah lebih kalem.
"Temennya Aro, Yah."
"Ya sudah, sana langsung berangkat. Aro sudah jemput?" tanya Ayah.
"Loh, jadi ini beneran batal acara lamarannya?"
"Bukan batal, Bu, tapi ditunda," jawab Ayah memawakili gue.
Gue tersenyum lalu mengacungkan jempolku. "Ayah pinter. Sayang Ayah deh, peluk dulu," ucapku langsung berhambur ke dalam pelukan Ayah.
"Ibu ndak dipeluk?" rajuk Ibu, membuat gue dan Ayah saling bertatapan dan lalu tertawa setelahnya.
"Bukannya dipeluk kok malah diketawain," gerutu Ibu merajuk.
Gue kembali tertawa, lalu memeluk Ibu. "Uluh uluh, Ibu kesayangan Anggi ngambek. Sini, sini peluk juga."
"Ndak usah lama-lama," ucap Ayah memperingatkan.
"Ayah ini lho, orang Ibu masih mau dipeluk juga."
"Nanti keburu siang, Bu, ke Bandungnya."
"Yakin lamarannya nggak jadi hari ini?" tanya Ibu memastikan sekali lagi.
Gue mengangguk.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Kalau terlalu capek, pulangnya besok saja."
"Iya, Bu. Anggi berangkat, ya, Bu, Yah. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."
####
"Ar!"
Gue menyentuh pundak Aro saat memanggilnya. Ia kemudian menoleh ke arahku dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya gue ingin memastikan.
Pasalnya, sedari tadi Aro banyak diam dan seperti melamun. Dia sedang menyetir dan itu jelas membuat gue semakin khawatir.
Hellow, gue belum nikah, nggak lucu aja gitu lho kalau seandainya nanti ada apa-apa karena Aro keasikan melamun sampai lupa dengan stir kemudinya. Sumpah, itu enggak lucu banget.
"Hmm," respon Aro seadanya.
Jujur, gue rasanya ingin menggantikan Aro menyetir karena Aro seperti tidak konsentrasi begini. Tapi, gue nggak bisa nyetir, pernah belajar memang, tapi tidak sampai mahir karena gue pernah nabrak pager rumah tetangga, dan setelah itu, Bang Riki melarang gue belajar nyetir.
"Maaf, aku nggak bisa nyetir jadi nggak bisa gantiin kamu," ucap gue penuh penyesalan.
Aro mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kalau pun kamu bisa nyetir, aku jelas nggak akan rela ngebiarin kamu yang nyetir. Ngerti?"
"Kenapa?"
"Nggak papa. Lagian aku baik-baik saja dan masih bisa nyetir kok."
Baik-baik saja bagaimana kalau sedari tadi dia, kerjaannya hanya diam dan seperti tidak fokus begitu.
"Kalau langsung balik ke Jakarta, kamu capek enggak?"
"Jangan bercanda deh! Enggak, pulang ke apartement kamu dulu. Aku belum tertarik mati muda. Disetirin sama orang yang lagi nggak bisa fokus Jakarta-Bandung jelas serem, Ar, dan aku nggak tertarik buat coba-coba."
"Tapi aku fokus kok," sanggah Aro tidak terima.
"Fokus ngapain? Mikirin mantan kamu?" gerutu gue tanpa sadar, seketika gue merasa bersalah.
Astaga, mulut gue ngasal banget deh.
"Ar, maaf," lirih gue sambil memandang Aro dengan perasaan bersalah.
Aro tak menjawab apa pun, ia hanya menatap lurus ke arah jalan tanpa menoleh ke arah gue sama sekali.
"Aku nggak maksud be--"
"Sudahlah, Anggita, aku sedang tidak ingin membahasnya. Setidaknya, tidak untuk sekarang."
"Iya, aku minta maaf," sesal gue bersungguh-sungguh.
"Tidak perlu."
"Meminta maaf karena telah melakukan kesalahan itu perlu, Ar."
"Kamu tidak salah. Ini hanya karena aku yang sedang sensitif saja, Anggita. Kamu tidak perlu merasa bersalah."
Gue menggeleng tidak setuju, dan berkata, "Aku bersalah karena tidak menjaga perasaan kamu, Ar."
Aro menghentikan mobilnya karena lampu merah. Ia kemudian berkata tanpa menoleh ke arah gue. "Aku sedang tidak berniat bertengkar, Anggita. Bisa kita sudahi bahasan ini?"
__ADS_1
Mau tidak mau, gue pun akhirnya mengangguk sebagai tanda jawaban. Setidaknya, gue harus menjaga perasaannya untuk beberapa saat.
**Tbc,