Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (20) Jadi, Gue Harus Bagaimana?


__ADS_3

\=\=\=\=\=


"Masih ngambek?"


Gue hanya melirik Bang Riki sekilas, lalu memilih sibuk dengan nasi goreng bikinannya. Ya, berhubung semalam kita agak ribut-ribut kecil, Bang Riki tadi rela bangun pagi-pagi dan bikinin gue nasi goreng. Ini laki emang calon suami idaman banget sih sebenarnya, bisa masak, ganteng, banyak duit pula. Cuma sayang, doi punya hobi yang jelek banget, selain suka tebar pesona, Abang gue ini kan hobinya tebar benih. Ckckck. Jadi kalian nggak boleh naksir, ya.


"Gue rela cari pembantu deh buat kita," celetuk Bang Riki tiba-tiba.


Gue menghentikan niatan gue untuk menyendok nasi, lalu mendongak ke arah Bang Riki dengan tatapan heran.


"Maksudnya?" tanya gue dengan ekspresi kebingungan yang tidak bisa gue tutupi.


"Ya, biar lo nggak harus ngurusin PR."


Apaan sih, kok obrolannya makin ngaco?


"Apaan sih PR segala. Public Relations?"


"Pekerjaan rumah."


"Hah? Gue bukan anak sekolahan lagi, Bang. Nggak ngerjain PR, pekerjaan rumah."


Gue geleng-geleng tak percaya, lalu kembali menyendok nasi goreng gue yang masih setengah.


Bang Riki langsung berdecak mendengar jawaban gue. "Maksud gue itu pekerjaan rumah secara harfiah--"


"Kenapa tiba-tiba?" tanya gue memotong kalimatnya.


Meski banyak duit, Bang Riki ini nggak terlalu suka menghamburkan duitnya untuk mempekerjakan kerjaan yang bisa gue kerjaan. Jadi wajar kalau gue tiba-tiba tanya itu.


Sekali lagi Bang Riki berdecak dan bukannya menjawab pertanyaan gue.


"Gue tanya, lo jawab, Bang!" kini giliran gue yang berdecak.


"Masa lo nggak peka?"


"Apaan sih? Kenapa jadi kayak cewek gitu deh, Bang?"


"Itu penawaran."


"Untuk?"


"Yang semalam," seru Bang Riki emosi.


Gue terkekeh geli, lalu menyuapkan sesendok terakhir nasi gue.


"Enggak usah ketawa!"


"Lo lucu deh, Bang," kata gue lalu meraih gelas air minum gue, dan meneguknya hingga setengah. "sorry, Bang. Gue nggak semurahan itu. Cinta gue nggak bisa lo sogok begituan." gue berujar dengan santai, lalu menghabiskan air minum gue.


"Dek," rengek Bang Riki terlihat putus asa. "jangan gitu, ah."

__ADS_1


Apaan sih, panggil-panggil 'dek' pula lagi.


"Bang, lo sadar nggak sih kekhawatiran lo sekarang ini berlebihan?"


"Ya, wajar, gue kenal kalian berdua dengan sangat baik. Dan gue tahu kalian enggak bakalan co--"


"Kok lo kayak mendahului takdir gitu, Bang?" sela gue memotong kalimatnya sekali lagi. Gue kemudian menyandarkan punggung gue di kursi sambil menyilangkan kedua tangan gue.


"Bukan gitu," elak Bang Riki tak terima.


"Terus?"


"Ya, pokoknya--"


"Bang, gue kasih tahu, ya, di sini kan keadaannya gue naksir Aro dan Aro naksir gue. Baru itu lho, gue di Jakarta, Aro di Bandung. Kita belum ketemu dan bahas komitmen buat bareng, tapi lo kok sekhawatir ini. Aneh nggak sih, Bang?"


"Enggak ada yang aneh. Kalau kenyataannya Aro pernah minta izin buat nembak lo," ucap Bang Riki tanpa sadar. Ia kemudian langsung mengerang tertahan karena keceplosan. Sementara gue hanya menatapnya tajam. Setelahnya, Bang Riki hanya mampu berdecak. Ekspresinya terlihat jelas kalau dia baru saja menyesali perbuatannya yang keceplosan barusan.


"A.apa lo bilang, Bang?"


Bang Riki hanya diam saja.


"Bang Riki!"


"Apa?!" sembur Bang Riki terihat kesal.


"Gue nggak nyangka lo sejahat ini sama gue, Bang. Tega lo, Bang!"


"Buat kita? Omong kosong macam apa sih yang lagi lo omongin ini? Enggak paham gue, Bang."


Gue geleng-geleng tak percaya lalu membawa piring dan juga gelas gue ke wastafel lalu mencucinya. Setelah selesai, gue lalu mengibaskan kedua tangan gue yang basah lalu berbalik menatap Bang Riki sambil menghela napas.


"Gue harus gimana sih, Bang?"


"Jangan pacaran sama Aro," jawab Bang Riki cepat, tanpa ragu.


"Gue sama Aro belum tentu akan pacaran, Bang," kata gue gemas.


"Tapi kalau lo naksir juga, ya, kemungkinan besarnya bakal pacaran, Ronaldowati," ujar Bang Bima ikut gemas.


"Tapi kalau doi nggak nembak gue, ya, kita nya nggak mungkin pacaran, Bang."


Bang Riki mendesah, lalu menyandarkan punggungnya, mendongak ke arah gue."Tapi kalau Aro nembak lo, lo-nya jangan mau, ya."


"Gue nggak janji."


"Ah, lo, nggak asik," rajuk Bang Riki sambil menghentakkan kedua kakinya.


"Oke, fine. Gue nggak akan jadian sama Aro. Tapi, bisa lo berhenti dari kebiasaan buruk lo yang suka main sama cewek? Bisa?"


Bang Riki diam. Tidak menjawab. Membuat gue langsung tertawa meremehkannya. "Nggak usah dijawab, udah keliatan dari ekspresi lo," kata gue, tanpa repot-repot menyembunyikan wajah kesal gue.

__ADS_1


"Enggak gitu, Ta, gue mau dan siap berhenti, cuma--"


"Tukang ojek gue udah di depan. Gue duluan," potong gue malas. Tanpa memperdulikan wajah frustasi Bang Riki.


####


"Lo sekarang ngojek, Zi?"


Gue menoleh, terkejut karena tiba-tiba mendengar suara Bang Riki. Gue nggak ngeh kalau ternyata doi ngintilin gue tadi. Pandangan gue kemudian beralih ke Vinzi, dan ekspresi bingungnya.


"Hah?"


Hanya itu respon spontan Vinzi. Ia kemudian menatap gue dan Bang Riki secara bergantian. Namun, beberapa detik kemudian menggeram jengkel saat mulai tersadar. Samar-samar gue mendengar umpatan pelan keluar dari bibirnya yang ia poles menggunakan liptint.


"Sialan! Lo nggak liat penampilan kece gue yang sekarang? Pake sebut gue tukang ojek lagi," gerutu Vinzi, namun ia tetap menyodorkan gue helm dan menyuruh gue untuk segera naik ke atas motornya.


"Sorry," ucap gue langsung memakai helm yang Vinzi sodorkan, lalu naik ke atas motor. "langsung jalan," lanjut gue kemudian.


"Mari, Bang. Kita duluan," teriak Vinzi sebelum menjalankan motornya.


Respon Bang Riki hanya mengangguk, baru kemudian meneraiki kami agar berhati-hati. Yang dibalas Vinzi dengam membunyikan klaksonnya.


"Lagi berantem banget?" tanya Vinzi.


Gue mengangguk. "Sesuai tebakan lo."


"Tebakan gue yang mana?"


"Aro beneran naksir gue, tapi terhalang restu dari Bang Riki."


Cukup lama Vinzi diam, sebelum akhirnya berceletuk, "Berarti gue hebat dong, ya," kekehnya kemudian.


"Enggak lucu, Zi."


Karena kesal, gue pukul kepalanya yang terbungkus helm. Membuat perempuan itu mengaduh kesal, lalu menghentikan motornya tiba-tiba.


"Lo itu cuma nebeng, nggak usah berasa kayak anak Sultan yang bisa bikin lo seenaknya. Udah nebeng gratis, ngatain gue tukang ojek, pake KRDT segala lagi. Minta gue apain lo?"


"Sorry, sorry, gue lagi sensi."


Vinzi mendengkus lalu kembali menjalankan motornya sebelum ditegur pengguna jalan yang lain.


"Sensi sih, sensi, cuma nyemburnya jangan ke gue dong. Kan jadinya miris, gue cuma dapet apesnya doang. Ya, kalau seumpama abis itu gue dapet Abang lo sih, nggak masalah. Cuma kalau te--"


"Enggak usah halu! Lo tahu sendiri modelan Abang gue, Zi. Gue nggak rela, gue sayang sama lo--"


"Nah, kurang lebih begini nih posisi Bang Riki," potong Vinzi tiba-tiba.


Gue mendadak bingung. "Jadi, gue harus bagaimana?"


"Nanti kita pikirin, gue fokus nyetir dulu," kata Vinzi, membuat gue langsung bungkam.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2