
#####
Gue langsung terlonjak kaget, saat pintu kamar gue tiba-tiba terbuka. Lalu Vinzi berlari menghampiri gue. Detik berikutnya gue langsung berdecak.
"Zi, lo lagi hamil. Nggak usah lari-lari!" teriak gue gemas.
Vinzi, tuh, begitu, kadang suka lupa diri kalau lagi hamil. Padahal hobi barunya nyemil dan juga tidur, harusnya sudah bisa menjadi pertanda jelas kalau ia sedang hamil.
"Iya, iya, gue inget kok. Ini gue kemari mau ngasih info penting, biar lo siap mental."
"Kenapa?" tanya gue heran.
"Calon mertua lo ada di bawah."
"Hah?! Maksud lo, Mamanya Aro?"
Vinzi langsung mengangguk yakin.
"Demi apa?!"
"Demi celana kotaknya SpongeBob."
Mendengar jawaban spontan Vinzi, membuat gue langsung mendengkus dan menyimpulkan kalau ia sedang tidak serius, alias bercanda.
"Ah, rese lo, Zi, gue pikir beneran."
"Lah, gue serius. Celana SpongeBob kan emang kotak kan?"
"Iya, celana SpongeBob memang bener kotak bentuknya. Tapi yang gue tanyain tentang keseriusan omongan lo tadi."
"Gue serius, Gi."
"Serius apa?"
"Serius emaknya Aro on the way ke sini."
"Demi apa lo?" pekik gue histeris.
Vinzi langsung melotot tajam. "Biasa aja melototnya," decaknya kemudian.
"Ini seriusan eng--
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam," koor gue dan Vinzi dengan kompak.
Mampus, beneran Emaknya Aro. Eh, maksud gue Mamanya Aro.
"Ya ampun, sayang. Gimana keadaan kamu? Ini kok bisa sampai begini itu gimana ceritanya?"
Mama Aro langsung menghampiriku, memeriksa kondisi kaki gue yang tinggal bengkak sedikit.
"Jatuh, Tante."
"Kok masih Tante lagi, Mama, sayang."
Gue meringis canggung, lalu melirik Aro yang ada di belakang Mama Aro. Pria itu mengangguk datar, seolah sedang berkata 'udah, nurut aja!' sehingga mau tak mau, gue langsung mengangguk dan mengiyakan.
"Iya, Mama."
"Ini juga si Aro, kenapa kamu nggak bilang kemarin-kemarin kalau Anggi jatuh sampai begini lagi kakinya."
"Kan Mama nggak tanya."
"Ya, inisiatif dong," balas Mama Aro kembali memarahi Aro.
"Enggak papa, Ma, kan juga Angginya nggak sampai patah tulang atau yang lainnya. Cuma kesleo dikit."
"Enggak papa gimana, orang sampai begini kok."
Lagi-lagi gue hanya mampu meringis. Bingung juga gue harus merespon, masih agak kaget juga gue, dengan kehadiran Aro dan Mamanya yang tiba-tiba barusan. Yah, meski Vinzi tadi sempet ngasih tahu sih, tapi tetep aja. Gue belum siap-siap tadi.
"Tapi sekarang udah mendingan kok, Ma, udah bisa jalan sendiri meski agak pincang dikit. Tapi seenggaknya udah nggak sepincang kemarin-kemarin kok, Ma. Mama mau lihat."
"Apaan sih, nggak usah! Ini Mama juga harus buru-buru pergi. Kamu duduk diem anteng aja," sahut Aro dengan wajah tidak sukanya. Ia menggeleng tegas sebagai tanda penolakan.
Lalu Mama Aro mengangguk. "Iya, Mama juga harus buru-buru, nggak bisa lama-lama, ada acara arisan keluarga. Nanti kalau kamu sama Aro sudah nikah, kamu bisa ikut."
"Enggak! Apaan sih manfaat arisan? Ngerumpi aja agendanya, terus pamer barang-barang branded. Enggak, Aro nggak suka istri Aro begitu. Mama jangan ngajakin yang nggak bener dong."
"Enggak, kamu jangan dengerin Aro. Acara arisan keluarga kita nggak cuma itu kok, banyak agendanya. Kita juga ngadain bakti sosial juga."
Sebentar! Nggak cuma itu? Berarti yang diomongin Aro tadi bener dong, kalau agendanya ngeumpi? Eh, wajar juga sih, namanya perempuan, ya.
"Udah, ayo, buruan, Ma. Jadi arisan nggak sih?"
"Ya, bentar dong, kan Mama lagi jengukin calon menantu. Masa langsung pulang aja, nggak sopan."
"Tadi katanya bentar doang?"
Mama Aro berdecak gemas. "Tapi ini kan Mama juga baru nyampe. Astagfirullah! Anak siapa sih ini."
"Lah, siapa yang mengejan siapa juga yang tanya," balas Aro sambil menaikkan kedua bahunya bersamaan.
Dengan gerakan gemas bercampur emosi, Mama Aro langsung memukul Aro. Membuat Aro langsung mengaduh kesakitan.
"Astaga, kok kamu bisa tahan sih pacaran sama yang beginian? Mama yang mengandung dan juga melahirkan aja udah capek hati banget ngadepin dia. Kamu yakin kuat, sayang? Nggak mau coba pikir-pikir dulu?"
"Mama jangan jatuhin pasaran Aro dong! Aro belum melamar loh ini, masa udah dijatuhin aja. Nanti kalau Anggita kabur, Mama gagal dapet mantu, loh," protes Aro tidak terima.
Gue hanya mampu menggelengkan kepalaku melihat tingkah Ibu dan anak ini. Padahal kata Papa Aro, keduanya kalau lagi akur tuh, sering kali bikin cemburu, tapi kalau lagi nggak cocok, ya, begini nih.
"Ini Mama minta Aro anterin, nggak? Kalau enggak, Mama naik taksi online aja. Aro mau pacaran."
__ADS_1
"Udah tua masih aja mau pacaran. Nikah dong!"
"Yang, Mama ngasih kode tuh. Kamu yakin nggak mau segera aku lamar?" kekeh Aro, "bercanda. Biasa aja matanya. Aku anter Mama dulu, ya, nanti ke sini lagi." ia kemudian mendekat ke arahku dan mencium keningku.
"Aro tunggu di bawah, Ma," ucap Aro berpamitan pada Mamanya, "Zi, duluan, ya!"
"Eh, iya, iya."
"Ya udah, Mama pamit dulu, ya. Besok-besok main lagi. Cepet sembuh, ya, sayang." Mama Aro kemudian memelukku dan mengajakku bercipika-cipiki, "nggak usah dianter. Kamu istirahat aja!" larang beliau saat gue hendak bersiap turun dari ranjang.
"Mama pamit, ya."
"Iya, Ma. Hati-hati!"
"Eh, ini siapa?" tanya Mama Aro kepo.
"Namanya Vinzi, Ma, Kakak ipar aku. Suaminya Bang Riki."
"Eh, Riki udah nikah? Kok Mama nggak diundang?"
"Hehe, acaranya di Bandung, Ma. Kita nggak adain acara di Jakarta," jawab gue kemudian.
Mama Aro mangguk-mangguk maklum, lalu bercipika-cipiki dengan Vinzi dan berpamitan.
"Titip salam buat suami kamu, ya, sayang. Duh, cantik, ya. Mama suka. Cocok sama Riki yang ganteng itu," cerocos Mama Aro sebelum benar-benar meninggalkan kamar gue.
"*****, udah deket banget ya, kalian. Udah sampai manggil Mama segala lagi, *****. Gercep juga, ya. Fix. Bentaran lagi bakalan jadi Nyonya Aaron Aldric lo." Vinzi berdecak tak percaya, sambil geleng-geleng kepala, "tanda-tandanya udah deket pasti. Kapan nih diresmiinnya? Gue juga udah nggak sabar punya adek ipar, apa lagi modelannya kayak Aro."
"Apaan sih? Ngaco!" Gue langsung melempari Vinzi dengan selembar tisu bekas.
"Kok ngaco sih, Gi, tandanya udah jelas banget loh. Ini kalau lo nggak kebanyakan drama, gue yakin, dalam hitungan minggu langsung resmi jadi suami Aro. Fix, gue yakin seribu persen."
"Gue belum mau nikah. Masih jauh, ah, pacaran aja masih belum bener gimana nikah nanti. Enggak!"
Gue menggeleng tegas. Membayangkannya harus menikah dengan Aro dalam waktu dekat, benar-benar terasa mengerikan bagi gue. Maksudnya, begini, gue sama Aro masih dalam tahap saling mengenal, belum terlalu kenal malah. Jadi, gue nggak mau terburu-buru mengambil keputusan. Menikah tidak semudah membeli baju di toko baju, kalau nggak suka bisa beli yang baru.
"Lo belum yakin sama Aro?"
"Untuk?"
Gue menaikkan kedua alis gue.
"Menikah dong."
"Belum. Sebenarnya bukan karena gue meragukan Aro sih, cuma gue masih ragu sama diri gue sendiri aja gitu lho, Zi."
Vinzi menatap gue dalam, beberapa detik kemudian, ia mengangguk, mencoba untuk memahami keputusan gue.
"Iya, juga, sih. Nikah itu nggak mudah, berat."
"Nah, apa lagi gue sama Aro masih baru banget kenal dan pacarannya."
"Ya, nggak ada yang salah sama waktu sih, Gi. Banyak kok, orang yang kenal sama pacaran lama tapi nggak berakhir jadi pasangan di pelaminan. Jadi, lo jangan pesimis sama fakta karena kalian baru kenal dan juga baru jadian. Oke?"
"Oke, bumil. Thanks sarannya, tapi untuk sementara, sarannya gue keep doang dulu, ya."
#####
"Vinzi mana?" tanya Bang Riki saat memasuki rumah, sebelah tangannya tampak membawa bungkusan plastik, lalu sebelah tangannya lagi membawa tas kerjanya.
"Tidur," jawab gue singkat, sambil mengunyah popcorn.
"Jam segini?" Bang Riki kemudian meletakkan bungkusan plastik dan juga tas kerjanya, lalu mengambil posisi duduk tepat di sebelah gue.
Gue tak langsung menjawab pertanyaannya, melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Ini udah termasuk malem buat Vinzi, Bang. Semenjak hamil emang doyan banget tidur istri lo itu."
"Bawaan bayi, ya?"
Gue mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan. "Mungkin."
"Kaki lo, gimana kabar?"
Gue mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolku. "Bisa lah besok gue ajak kerja."
"Nggak usah dipaksain kalau belum kuat, gue masih mampu ngurusin lo, meski sekarang gue udah punya tanggung jawab Vinzi."
"Enggak. Gue juga udah bosen di rumah mulu." Gue menggeleng dan kembali mengunyah.
"Aro, gimana kabarnya? Katanya kapan balik ke Bandung?"
"Belum tahu, belum tanya juga. Kenapa?"
"Enggak papa, tanya aja. Basa-basi gitu. Ya udah sih, gue ke atas deh. Mau mandi, gerah nih badan. Itu kalau lo mau makan aja, isinya martabak."
Gue menggeleng sebagai tanda penolakan, lalu mengangkat toples yang ada di pangkuan gue. "Masih ada ini, itu takut dicariin yang punya. Mending lo taruh kulkas dulu, Bang."
"Nggak papa, makan aja."
"No, thanks," tolak gue mentah-mentah.
Tak lama setelahnya, Bang Riki turun sambil mengosok rambut basahnya dengan handuk kecil dan duduk di samping gue lagi.
"Cepet amat mandinya?"
"Udah malem, Wat, ngapain mandi lama-lama? Dingin, nanti masuk angin."
"Dasar lemah," cibir gue mengejeknya.
"Gue harus jadi suami siaga, nggak boleh sakit. Ngerti?"
Gue hanya mangguk-mangguk acuh setelahnya.
__ADS_1
"Lo kapan dilamar Aro?" tanya Bang Riki tiba-tiba, "Ibu udah nanyain mulu."
"Kenapa sih? Kok jadi pada ngebet banget perasaan," tanya gue sebel.
"Niat baik nggak boleh ditunda-tunda, Wat."
Gue berdecak sebal dengan bahasan Bang Riki saat ini. Gue mulai muak.
"Tapi nikah itu nggak bisa sembarangan, Bang. Nggak cuma sekedar karena kita udah dapet pacar terus langsung nikah gitu aja kan? Nikah nggak bisa diburu-buru, dan gue nggak mau diburu-buru. Ngerti?!"
"Bukan maksud gue buat mburu-buru, Wat, gue cuma--"
"Tahu lah." Gue langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Bang Riki.
"Wat, gue belum selesai ngomongnya," seru Bang Riki meneriaki gue. Namun, gue abaikan.
"Bodo amat!" balas gue ikut berteriak.
######
"Apa?!" sembur gue saat menjawab panggilan video dari Aro.
Sesampainya di kamar, gue memang langsung mendapati ponsel gue berbunyi karena panggilan video dari Aro.
"Judes banget? Aku abis ngapain tadi?"
"Aku lagi bete."
"Sama aku?"
"Bang Riki."
"Loh, kalau betenya sama Riki kenapa yang kena sembur aku?"
"Ya, salah kamu sendiri telfon di saat yang tepat."
"Emang abis diapain Riki kamu?"
"Ditanya kapan kamu lamar aku."
"Cuma gara-gara itu?"
Kedua bola mata gue langsung membulat tidak terima. Cuma katanya? Ngajak ribut pasti.
"Ini itu masalah penting, kok cuma sih?" protes gue kesal.
"Ya, kan cuma ditanya. Emang masalahnya di mana? Kamu maunya aku segera lamar kamu, gitu?"
"Enggak. Enggak begitu, aku belum pengen nikah. Kamu jangan macem-macem, ya?" ancam gue kesal.
"Enggak macem-macem kok. Cuma satu macem, kalau emang udah siap aku lamar. Aku siap."
"Enggak! Apaan sih, kenapa kamu jadi ikut-ikutan?" protes gue kesal.
"Ya udah sih, kalau emang belum siap. Nggak papa juga. Toh, kita juga nggak sedang dikejar apa pun kan? Jalani aja dulu, yang penting sama-sama enjoy. Kamu nyaman kan begini?"
Gue langsung mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Ya udah, santai. Nikmati aja, aku nggak masalah kok begini. Aku senang."
"Tapi Mama kamu?" tanya gue takut-takut.
"Mama masih sehat, Papa juga. Nggak masalah."
Gue mengigit bibir gue ragu, lalu melirik Aro melalui layar ponselku sedikit ragu. "Kamu sendiri?"
Di seberang Aro tertawa. "Kan tadi aku udah bilang nggak masalah, sayang. It's okay. Asal nikahnya sama kamu, aku rela nunggu berapa lama pun."
"Yakin?"
"Diyakin-yakinin dong. Gimana kondisi kaki kamu? Udah sembuh kan?"
Gue mengangguk. "Iya, besok udah bisa kok di ajak masuk kerja."
"Jangan dipaksain kerja dulu lah, istirahat dulu. Nanti aku minta bantuan Papa biar--"
"Apaan sih, kamu ini lebay," sela gue memotong ucapannya.
"Hehe, iya, kalau ngurus liburnya kamu, aku juga bisa sendiri sih."
Seketika kening gue mengkerut tak paham. Itu apa maksudnya barusan?
"Maksud kamu?"
"Tunggu kejutannya. Sana tidur, udah malam!" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Jangan bilang kamu--"
"Tidur, sayang! Udah malem."
"Iiih, motong pembicaraan orang itu nggak sopan, Ar," protes gue kesal.
"Itu berlaku untuk yang muda motong pembicaraan orang yang lebih tua. Nah, ini kan yang motong pembicaraan aku, aku lebih tua dari kamu. Jadi nggak papa. Udah sana tidur! Selamat malem, jangan lupa berdoa sebelum tidur!"
"Tau ah, aku ngambek."
"Iya, aku juga sayang kamu."
"Nggak nyambung, Ar!"
"Apa lagi aku, cinta mati sama kamu."
"Tahu lah, aku matiin."
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan dari Aro, gue langsung mematikan sambungan telfonnya, dari pada Aro makin ngaco dan membuatku semakin emosi.
**Tbc,