Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (36) Sayang Ayah


__ADS_3

####


Gila. Gue merasa bodoh sekali sekarang. Bisa-bisanya gue jadi super lemot hanya untuk mencerna kata 'dicoret dari daftar KK' yang itu artinya Bang Riki harus segera menikah dan membuat kartu keluarga sendiri. Ibu bahkan sempat menertawakan gue setelahnya, padahal kedua mata beliau masih agak terlihat memerah karena habis menangis.


"Makanya, Nduk, kalau dikasih kesempatan sama Gusti Allah untuk sekolah tinggi, jangan kamu sia-siakan. Sekarang berasa nggak pinternya kan?"


Gue langsung cemberut setelahnya, karena sindiran Ibu. Bahkan, Bang Riki pun ikut tertawa setelahnya. Dih, lupa aja si doi tadi abis ngapain gitu?


"Tuh, dengerin!" kata Bang Riki sok menasehati.


"Kamu juga salah, Le, sekolah tinggi-tinggi kok malah ngehamilin anak orang. Nggak malu kamu? Jangan karena kamu sudah mapan dan jabatan tinggi, terus kamu bisa seenaknya sendiri melakukan ini-itu, melanggar norma agama dan hukum. Nggak boleh!"


Ekspresi sok menyesal Bang Riki kembali menghiasi wajahnya. "Iya. Abang janji--"


"Ibu ndak butuh janjimu, Le, tapi butuh bukti. Ibu juga ndak butuh permintaan maaf atau semacamnya, selagi kamu sudah menyesal dan minta ampun sama Gusti Allah dan mau berubah jadi lebih baik. Bagi Ibu itu sudah cukup. Piye, Le, sanggup?"


Bang Riki mengangguk mantap lalu memeluk Ibu. "Riki sayang Ibu. Semoga, ke depannya Abang nggak ngecewain keluarga lagi."


"Aamiin. Uwes dik rampungi pelukane, sinetron kesukaan Ibu sebentar lagi tayang."


Bang Riki terkekeh lalu melepaskan pelukannya. "Ya sudah, kita naik ya, Bu. Yuk, Wat." Bang Riki melirik gue dan menarik tanganku. "Ibu butuh quality time."


Gue mendengkus lalu melepaskan tangannya yang merangkul gue. Dan bergegas naik ke atas untuk mendahuluinya.


####


Tok Tok Tok


Gue beringsut turun dari ranjang dengan sedikit ogah-ogahan, saat mendengar suara pintu gue diketuk. Gue tebak sih, itu pasti bukan Bang Riki. Kalau tidak Ayah pasti Ibu. Dan benar saja, saat gue membuka pintu, langsung menemukan Ayah.


"Eh, Ayah, ada apa, Yah?"


"Boleh Ayah masuk?"


Gue menggangguk dan mempersilahkan Ayah masuk.


"Nduk, kamu ada pacar?"


Gue nyaris saja tersedak ludahku sendiri, saat mendengar pertanyaan Ayah. Bingung saja gitu, mau gue jawab apa. Masalah gue kan sama Aro lagi menjalani hubungan yang tidak jelas, mau gue akuin pacar kok rada-rada enggak rela. Enggak gue akuin pacar, kok jahat amat kedengerannya.


"Nduk!"


"Iya, Yah?"


"Punya endhak?"


"Enggak tahu," aku gue jujur.


"Kok enggak tahu piye to? Seng jelas to!"


Gue menghela napas dan mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan. "Ya, emang nggak tahu, Yah. Nggak jelas."


"Lagi deket sama cowok tapi belum dikasih status?"


Gue menggeleng.


"Lha terus?"

__ADS_1


"Lagi berantem gitu, Yah, aku males deh sama dia."


"Males kenapa to?"


"Dia itu kulkas dua pintu banget, Yah."


"Bagus dong. Apa-apa yang ditaruh di kulkaskan jadi agak tahan lama."


Gue langsung cemberut. "Menurut Ayah, kalau seseorang nggak suka LDR-an itu wajar nggak sih?"


"Wajar dong."


"Kalau minta putus gara-gara nggak mau LDR-an, wajar juga nggak?"


Mendengar pertanyaan gue, sontak membuat Ayah langsung tertawa. "Kamu minta putus gara-gara LDR-an?"


"Baru kepikiran aja, Yah."


"Kenapa bisa kepikiran minta putus cuma gara-gara LDR-an?" tanya Ayah.


Gue hanya diam bergeming, tak menjawab pertanyaan Bapak. Karena memang bingung mau menjawab apa.


"Kenapa?"


"Pacar Anggi cuek, Yah," ulang gue.


"Terus?"


"Anggi nggak suka."


Gue mendadak diam. Iya, juga, ya. Kalau gue enggak suka, kenapa gue mau jadi pacar Aro. Padahal Bang Riki sudah mewanti-wanti gue sebelum kami resmi berpacaran.


"Kamu ini gimana to, Nduk?" Ayah tiba-tiba terkekeh.


"Enggak tahu, Yah. Anggi bingung." Gue menggeleng pasrah.


Ayah kembali terkekeh lalu memelukku secara tidak terduga. "Padahal Ayah tadi sudah sempet khawatir kalau nasib kamu kayak pacar Abangmu. Ayah ke sini mau kasih wejangan loh."


"Boleh, Yah. Anggi memang butuh wejangan kayaknya."


"Wah, Ayah memang sudah tua ya, ternyata. Sudah mau punya Menantu, besan, plus Cucu."


Mendengar gumanan Ayah, mau tak mau gue tertawa kecil. Jujur, gue agak kasian juga sama Ayah. Gue tahu sih, Ayah kecewa berat dengan Bang Riki, tapi beliau berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kecewa kepada kami.


"Yah, maafin kita, ya. Kita belum bisa banggain Ayah, tapi malah bikin Ayah kecewa terus," sesal gue sambil memeluk Ayah erat.


Ayah mengangguk sambil membalas pelukanku dan mengelus kepalaku pelan.


"Sudahlah, sudah terlanjur terjadi kan? Mungkin memang selama ini Ayah kurang tegas dalam mendidik kalian."


Gue menggeleng tidak setuju. Ayah sudah berupaya menjadi orang tua terbaik bagi kami, rasanya tidak adil kalau Ayah masih bilang beliau kurang dalam mendidik kami.


"Ayah nggak boleh ngomong begitu. Ayah itu adalah Ayah terbaik bagi aku dan Bang Riki."


"Nduk," panggil Ayah tiba-tiba.


"Ya, Yah?"

__ADS_1


"Jaga diri kamu baik-baik, ya. Bagaimana pun kamu ini anak gadis, jangan keblabasan dalam menjalin hubungan. Abang mungkin melakukan kesalahan besar, tapi, jangan menghakimi Abangmu. Ambil hikmah dari yang sudah dialami Abangmu, ya. Jadikan pelajaran!"


Aku mengangguk. "Mulai hari ini, Anggi akan lebih jaga diri lagi."


"Jangan ngambek-ngambek nggak jelas juga," celetuk Ayah sambil terkikik geli. "kasian pacarmu to, nduk."


"Ayah nggak kasian sama Anggi?"


"Kasian piye?"


"Anggi ini ditinggal, Yah."


"Ditinggal selingkuh?"


"Ayah!!"


"Cuma kerja to? Cuma ke Bandung lagi, bukan ke Belanda. Kok kamu heboh gitu to, Nduk? Kamu sayang banget, ya, sama pacar kamu. Cinta mati gitu kayak di tv-tv? Apa mau diijab qobul bareng sama Abang saja nanti? Biar--"


"Ayah!! Kok malah godain Anggi?" rajukku dengan ekspresi cemberut dan kedua tangan bersedekap di depan dada.


"Loh, Ayah ngasih penawaran, bukan mau godain. Lagian Ayah mah nggak suka godain pacar orang."


"Terus sukanya godain siapa, istri orang?" sindirku kesal.


Di luar dugaan, Ayah tiba-tiba mengangguk, membuatku melotot terkejut.


"Ayah?!"


"Kenapa?" tanya Ayah dengan wajah bak tak punya dosa.


"Jadi, bener kata Ibu kalau Ayah suka godain istrinya Pakde Agung?"


"Ndak lah, istrinya Agung kurang cantik. Kurang BMW juga. Gosip itu. Kalau kata anak jaman sekarang apa itu namanya hoax, tipu-tipu."


Gue menerjap bingung. "Apa itu bmw?"


"Rahasia."


"Iih, Ayah nggak asik. Anggi aduin ke Ibu loh," ancamku yang tidak cukup membuat Ayah ketakutan. Malah Ayah nantangin gue.


"Aduin aja, Ayah nggak takut. Lha wong Ibu sudah cinta mati sama Ayah."


"Dih, Ayah kepedean," cibirku sambil menggeleng prihatin. Ternyata sifat narsis Ayah belum berkurang.


"Lah, enggak percaya. Ayo, kalau nggak percaya kita tanya langsung sama Ibu-mu."


Aku terkekeh sambil mengangguk pasrah. "Iya, iya, sekarang percaya kok," kataku kemudian.


"Nggak percaya sama Ayah nggak papa, kok, yang penting percaya sama Gusti Allah. Soalnya, takutnya nanti kalau percaya sama Ayah, jadinya musik."


"Musyrik, Yah!" koreksiku dengan nada agak geram.


Ayah terkekeh. "Iya, itu, maksudnya ya itu tadi. Kepleset dikit lidahnya kok, nggak woles banget ngingetinnya. Udah, Ayah mau keluar. Ingat pesen Ayah tadi, jangan keseringan ngambek. Umur segitu harus segera siap nikah kok, masih ngambekan. Sengaja mau kasih peluang buat pelakor kamu?" Ayah geleng-geleng kepala sambil berdecak, sebelum keluar kamar gue.


Gue hanya mangguk-mangguk, mengiyakan setelahnya.


**Tbc,

__ADS_1


__ADS_2