
#####
Ekspresi gue langsung berbinar cerah saat mendapati panggilan video dari Aro. Dengan semangat membara, gue langsung menggeser tombol kamera ke atas, lalu beberapa detik kemudian muncul wajah Aro yang sedang berada di ruang tamu. Gue enggak tahu sih, itu ruang tamu siapa, karena gue sendiri belum pernah main ke apartementnya.
"Lagi ngapain?" sapa Aro sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Abis maraton--"
"Hah, malam-malam begini?"
"Iya, kan kalau siang aku kerja."
"Tapi nggak malam-malam gini juga, kan nggak bagus buat kesehatan juga lho."
Gue meringis. Antara seneng diperhatiin dan juga kesal, karena Aro tidak bisa memaklumi hobi gue.
"Ya, abis episodenya lagi seru-serunya. Meski agak berbau politik, tapi aku suka pemainnya. Tahu nggak, Ar, pemainnya ini ganteng banget," cerocos gue bercerita dengan antusias.
"Hah? Maksudnya?" Aro menatap gue dengan kerutan di dahinya. "Ini lagi ngomongin apa, Anggita?" tanyanya bingung.
"Maraton drama Korea. Emang kamu mikirnya apa?"
"Lari maraton," ringis Aro sambil mengaruk-garuk kepalanya.
"Astaga! Ngapain juga aku lari malam-malam begini, Ar. Kamu pikir aku sekurang kerjaan itu apa?"
Dengan wajah datarnya, Aro merespon gue dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Mana saya tahu," ucapnya tanpa sadar.
Gila, ya. Pacaran sama kulkas dua pintu kok begini banget.
"Kok diem?"
"Menurut lo?!" sembur gue snewen.
"Kok lo lagi. Bukannya biasanya udah ganti aku-kamu?"
Astaga, susah ya, ngomong sama orang yang enggak peka. Gue enggak sanggup sebenarnya, mau gue kirim ke Mars, tapi takut kangen. Dibiarin tetap di Bumi, tapi kok bikin emosi mulu kerjaannya.
"Aku abis salah ngomong, ya?" tanya Aro masih dengan ekspresi andalannya.
Gue memalingkan wajah. "Enggak!"
"Kok kayaknya iya."
"Perasaan kamu aja kali."
"Oh, iya kali, ya. Riki lagi ngapain?"
Buset. Telfon pacarnya yang ditanyain sohibnya? Astagfirullah! Gini banget ya, punya pacar cuek. Cari obrolannya basi, kelewat nyebelin.
"Kok malah nanyain Bang Riki?" protes gue kesal.
__ADS_1
"Ya, daripada nggak ada bahan obrolan. Aku bingung mau tanya apa."
Sumpah, ya, kalau Aro beneran ada di hadapan gue, rambutnya pasti gue jambak sampai rontok.
"Terus, harus banget nanyain Bang Riki?"
"Loh, emang salah? Bukannya wajar?"
Wajar katanya?
Astagfirullah! Pelaku santet dipenjara tiga tahun, jadi berlaku enggak sih? Kalau enggak, gue mau santet Aro. Gemes banget gue rasanya, ya Allah. Enggak sanggup rasanya, pengen nangis.
"Wajar dari mana?"
"Kalau aku nanyain Vinzi, itu baru namanya nggak wajar, sayang. Aku kan cuma nanyain Riki, Abang kamu sendiri, yang kebetulan juga temen aku. Salahnya di mana, coba kasih tahu aku!"
Eh, bener juga sih.
"Aku benerkan?"
"Iya. Puas?!"
"Biasa aja. Kamu udah makan?"
"Udah," balas gue ogah-ogahan.
"Sama apa?"
"Sendirian aja, soalnya pacarku jauh sih," goda gue, pura-pura memasang wajah jutek.
"Aku tanya kamu makan sama apa, Anggita, bukan sama siapa," gerutu Aro sambil menatap gue serius.
Gue langsung memutar kedua bola mata gue malas. Ngobrol sama orang yang selera humornya nol besar itu cuma bikin naik darah, ya.
"Tau ah, nggak asik!" ketus gue langsung mematikan sambungan.
Dengan emosi gue langsung melempar ponsel gue ke sofa, yang ada di samping gue, dan apesnya bukannya mendarat di sofa, ponsel gue malah menggelinding ke lantai bawah.
Membuat gue langsung menjerit histeris setelahnya. "Hape gue!!!"
"Kenapa sih teriak-teriak? Kayak lagi syuting film bokep Jepang aja lo! Berisik!" decak Bang Riki, yang kebetulan keluar dari dapur.
"Hape gue jatuh."
"Siapa suruh ngelempar? Lo pikir lo atlit lempar hape?" gerutu Bang Riki langsung meninggalkan gue begitu saja.
Sementara gue hanya melongo sambil menatap punggungnya yang kian menjauh. Sepertinya, masih galau roman-romannya.
Drrrt Drrrt Drrrt
Gue agak terlonjak kaget saat merasakan ponsel gue bergetar, dan saat gue intip nama Aro yang tertera. Bukan panggilan video lagi, tapi kini sudah berganti menjadi panggilan suara.
__ADS_1
"Astagfirullah! Ngagetin banget sih, Ar!" omel gue setelah menjawab panggilan Aro.
"Loh, kok bisa?"
"Ya, bisa. Buktinya ini aku kaget."
Terdengar helaan napas pendek dari Aro. "Tadi kenapa dimatiin?"
"Sinyalnya jelek," bohong gue.
"Oh, aku kira kamu matiin."
Emang. Batin gue. Dasar kulkas dua pintu.
"Ya udah, bobo gih! Udah malem."
"Bentar, masih mau liat wajah ganteng Song Seung Heon."
Hening.
"Ar?" panggil gue, lalu mengintip layar ponsel gue. Masih terhubung kok.
"Hmmm."
"Kok diem?"
"Kamu lagi bahas Korea, aku malas."
"Cemburu?" goda gue.
"Iya, lah. Menurut kamu enggak gitu? Aku kebetulan masih normal, ya. Pria mana yang nggak cemburu kalau pacarnya bangga-banggain pria lain? Enggak ada!" ketus Aro judes.
Gue terbahak setelahnya. Duh, jadi nyesel karena sempet kepikiran buat ngirim dia ke Mars. Masa manis-manis begini mau dideportasi dari Bumi. Jangan dong, ya, spesies langka begini. Judes-judes tapi ngegemesin.
"Duh, senengnya."
"Apa kamu bilang?!"
"Seneng."
"Pacar kamu lagi cemburu, Anggita! Harusnya Kamu bujuk aku dong, bukannya malah kesenengan begitu," protes Aro, yang membuat gue semakin terbahak.
Ahhh, jadi pengen peluk. Kangen Aro.
"Aahh, pengen peluk kamu!" jerit gue sebal, "kamu kapan ke sini nya sih, Ar?"
"Nanti ya, kalau udah waktunya. Tahan sebentar lagi, oke? Aku urus kerjaan di sini dulu. Sabar, ya!"
"Iya. Cepet pulang, aku rindu."
Dapat gue dengar suara Aro menertawakan gue. "Jangan rindu, aku males kalau harus copas kata-kata Dilan."
__ADS_1
Dasar kulkas dua pintu.
Tbc,