Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (51) Salah Sangka


__ADS_3

#####


"Siapa tadi?" tanya gue penasaran, setelah perempuan cantik tadi pamit dan pergi.


Jadi, benar, mereka saling mengenal. Nama perempuan tadi Jasmine. Oke, Aro memang terlihat biasa saja dan juga cuek saat disapa tadi, tapi sorot Jasmine terlihat seperti, ah, entah lah, gue nggak terlalu yakin. Tapi, menurut gue mereka cukup akrab, dulu.


"Temen," jawab Aro cuek, seakan perempuan tadi memang hanya teman sekolah atau kenalannya dulu. Tapi gue yakin, tidak demikian.


"Yakin cuma temen? Kok aku nggak percaya, ya."


Aro menghela napas. "Mantan," jawabnya seperti enggan untuk mengakui.


Kan, apa gue bilang. Insting perempuan itu nggak pernah salah, kaum kami selalu benar.


"Kenapa putus?" tanya gue kepo, "cantik begitu loh, padahal," guman gue kemudian.


Gue menoleh ke arah Aro yang kini sedang menatap gue datar.


"Percuma cantik kalau hatinya tidak demikian," balas Aro ketus.


Gue mengernyit heran. Kenapa Aro seakan punya dendam dengan perempuan tadi?


"Kenapa sih, kalian putusnya nggak baik-baik, ya?"


"Kalau baik-baik saja, kami tidak akan putus, sayang, dan kita tidak akan pacaran."


Gue mengusap dagu secara spontan, mulai penasaran. Sepertinya cukup serius masalah yang mereka hadapi dulu.


"Udah lah, nggak usah dipikirin begitu," ucap Aro sambil merangkul pundak gue.


Gue manyun. "Tapi aku penasaran, Ar. Mantan kamu tadi cantik banget lho."


Secara tiba-tiba dan tidak gue duga, Aro menghentikan langkah kakinya dan kembali menatapku datar. Ia menghela napas pendek, terlihat jelas kalau ia tidak suka untuk membahas perempuan tadi, dan itu jelas membuat gue semakin penasaran.


"Kamu serius mau lanjut bahas ini?" tanya Aro.


"Kan aku cuma penasaran, kamu kayak dendam kesumat begitu sama perempuan tadi. Kayak orang abis diselingkuhi a--"


Oo, sepertinya gue salah bicara. Aro terlihat tersinggung, rahangnya langsung mengetat keras, membuat gue salah tingkah. Mampus, ini pertama kalinya gue melihat wajah Aro yang marah. Benar-benar membuat lutut gue lemas. Astaga, ini mulut juga kenapa nggak bisa dikontrol banget deh.


"Ar, maaf, aku nggak mak--"


"Jadi jenguk bayinya Gani, nggak?" tanya Aro pada akhirnya.


Kali ini wajahnya berubah datar, tidak terlalu terlihat semarah tadi, tapi gue yakin seratus persen, dalam hati Aro, dia pengen banget marahin gue karena kalimat tidak spontan gue tadi.


Karena bingung dan masih agak-agak takut, gue langsung mengangguk yakin. Aro tidak berkata apa-apa setelahnya, hanya mengajak gue untuk kembali berjalan menuju ruang rawat inap istri Mas Gani.


Asli, gue takut parah. Karena sepanjang perjalanan menuju kamar istri Mas Gani, Aro tidak mengajak gue berbicara sama sekali. Suasananya itu loh, enggak mengenakkan banget.


"Ar," panggil gue pada akhirnya memberanikan diri.


Aro tidak menjawab, hanya menoleh ke arah gue dengan sebelah alis yang terangkat.


"Kamu marah?" tanya gue takut.


Aro memalingkan wajahnya ke depan dan menunjuk pintu kamar. "Itu kamarnya, masuk, yuk!" ajaknya kemudian, mengabaikan pertanyaan gue yang tadi. Ia kemudian menggenggam telapak tanganku dan mengajak gue masuk.


"Assalamualaikum!" sapa kami saat memasuki kamar.


"Wa'allaikumussalam!" koor penghuni ruangan. Ada Mas Gani, istrinya, dan juga Maminya Mas Gani.


"Loh, kok bisa barengan?" tanya Tante Irma terlihat heran saat melihat gue dan juga Aro.


"Mereka pacaran, Mi," jawab Mas Gani sambil terkekeh geli dan berdiri menghampiri kami.


"Eh, pacaran?" tanya Tante Irma masih terlihat heran, "kok bisa," guman beliau kemudian.


"Berdua aja nih?" tanya Mas Gani berbasa-basi, ia kemudian menjabat tangan kami bergantian.


"Sama Riki dan Vinzi," jawab Aro.


"Terus mana mereka?"


"Nanti juga nyusul."


"Kenapa nggak bareng-bareng sih, biar keliatan akurnya gitu lho, Ar."


Kali ini Aro mengabaikan ucapan Mas Gani barusan, lalu menyapa isti Mas Gani. "Sudah sehat, An?"


"Udah, Ar, thanks. Ini cewek lo yang sama Riki waktu di nikahan kita bukan sih? Sorry, agak mirip soalnya."


"Iya, dia adeknya Riki," sahut Mas Gani menjawab pertanyaan sang istri.


"Oh, pantesan mirip." istri Mas Gani ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk.

__ADS_1


Gue hanya mencengir canggung setelahnya.


"Ini bayi kalian mirip siapa, kok nggak ada mirip-miripnya sama kalian?" celetuk Aro saat gue dan Aro sedang menamati bayi Mas Gani sedang tidur pulas di box bayi.


Memang benar sih, menurut gue pun demikian. Wajah Mas Gani dan istri terlihat seperti wajah-wajah Asia, sedang bayi mereka, terlihat seperti orang barat. Bule banget.


"Mirip kakeknya itu," jawab Tante Irma sambil terkekeh.


"Papa Anya maksudnya," kata Mas Gani menjelaskan, "bini gue kan ada darah Inggris, lupa lo? Tapi bibirnya mirip gue."


"Siapa namanya, Mas?"


"Adhlino Gavin Abiputra."


"Kok nggak ada nama lo di belakangnya?" tanya Aro heran.


"Suka-suka gue dong. Anak-anak gue sendiri ini," balas Mas Gani, "ayo, duduk di sofa. Itu ada air sama cemilan," ajaknya kemudian.


Aro kemudian mengajakku untuk duduk di sofa, gue hanya menurut dan mengekor di belakangnya lalu duduk di samping Aro.


"Kalian baru dari Jakarta apa gimana nih?" tanya Mas Gani sambil membawa dua gelas air mineral kemasan, "sorry, ya, adanya cuma air putih."


"Duh, kok malah jadi ngerepotin, Tan. Nggak usah, Tante, nanti kita kalau mau buka sendiri," kata gue saat mendapati Tante Irma heboh membukakan semua tutup toples cemilan yang ada di atas meja.


"Halah, ngerepotin apa to, ayo dimakan, seadanya saja tapi."


"Iya, Tante, makasih."


"Makasih, Tan," kata Aro lalu mencomot salah kue kering dari salah satu toples dan mengunyahnya. Lalu ia mencomot lagi dan memberikan pada gue.


Loh, kok dikasih ke gue?


"Enak kok," ucap Aro sambil menyodorkan kue kering ke mulut gue.


Gue sedikit manyun, namun pada akhirnya membuka mulut dan mengunyah kue kering yang Aro sodorkan.


"Sok sweet amat sih lo, Ar. Serem liatnya," ejek Mas Gani menggoda Aro.


Namun Aro tidak memperdulikannya, ia lebih memilih mencomot kue sekali dan menikmatinya sendiri. Tak lama setelahnya, Bang Riki dan Vinzi masuk.


"Assalamualaikum," sapa keduanya saat memasuki ruangan.


"Wa'allaikumussalam," jawab kami kompak.


"Kenapa kita ditinggalin sih, Ar, mana ditelfon nggak diangkat lagi," keluh Bang Riki setelah bersalaman dengan istri Mas Gani dan Tante Irma.


Bang Riki mendengkus lalu menusuk air mineral kemasan dan langsung meminumnya.


"Minum, yang?" tawar Bang Riki sambil mengarahkan sendotan ke mulut Vinzi.


Vinzi menggeleng. "Enggak haus, kamu minum aja."


Bang Riki mengangguk setuju lalu menghabiskan air mineralnya dan sekejap.


"Haus banget lo, Rik?" ledek Mas Gani sambil menggeleng tak habis pikir.


Bang Riki mengangguk. "Banget. Haus kasih sayang gue, bini gue--Akhh, sakit, sayang," protesnya sambil meringis karena cubitan Vinzi.


"Nggak berubah, ya, lo, Rik. Masih sama aja," komen Mas Gani.


"Ya, mau berubah gimana? Lo kata gue apaan, power ranger gitu?" dengkus Bang Riki kesal.


Mas Gani terkekeh. "Udah berapa bulan?" tanyanya sambil melirik perut Vinzi yang sedikit membuncit.


"Apanya?" tanya Bang Riki tak paham. Ia malah sibuk mencemil kue kering suguhan.


"Kehamilan Vinzi, Bang," sahut gue sewot.


Bang Riki ber'oh'ria lalu menoleh ke arah Vinzi. "Berapa bulan sih, yang?"


"Lah, lo nggak hafal gitu, Rik?" tanya Mas Gani sambil menggeleng tak percaya.


"Lupa, bukannya nggak hafal."


"Apa bedanya?"


Gue tidak terlalu fokus dengan obrolan mereka, fokus gue ke Aro yang sedari tadi diam saja. Memang benar sih, Aro biasanya memang tidak banyak bicara, tapi tetap saja kali ini beda. Entah hanya perasaan gue saja, atau memang Aro sedikit bersikap berbeda saat ini.


######


Bahkan sampai saat ini pun, Aro masih banyak diam. Gue nggak tahan dengan suasana saat ini, tapi gue juga tidak berani untuk bertanya duluan. Bukan perkara gengsi atau semacamnya, tapi gue takut. Takut kalau salah lagi seperti tadi. Gue kemudian memberanikan diri untuk meliriknya, meski sebenarnya sedikit takut.


"Kenapa sih?"


Gue menerjap kaget. "Hah?"

__ADS_1


"Dari tadi kamu aneh, tahu. Ngerasa nggak sih? Lirik-lirik, kayak sama siapa aja. Kenapa sih kamu ini?"


"Kamu marah?"


"Kenapa aku harus marah?" Aro malah balik bertanya. Ia menoleh ke arah gue sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan yang ada di depan kami.


"Yang di rumah sakit tadi."


"Tepatnya?"


"Abis ketemu mantan kamu tadi."


"Masalahnya di mana?"


Kok di mana? Ya, masalahnya itu. Iiih, nyebelin banget sih.


"Tadi kamu kan marah."


"Enggak, tuh, perasaan kamu aja kali ini. Aku nggak marah, ngapain aku harus marah? Aku nggak punya alasan buat marah sama kamu, sayang. Iiih, baperan banget sih kamu ini."


"Tapi tadi kamu keliatan kayak kesel gitu. Kan aku jadi takut."


"Ya, aku memang kesel tadi. Tapi aku nggak kesel sama kamu, dan emang kamu nggak berhak menerima kekesalan yang aku rasain. Harusnya begitu, tapi maaf deh, kalau kamu ngerasanya begitu," cengir Aro sambil mengusap tengkuknya salah tingkah.


Seketika gue manyun. "Aku pikir kamu tuh, marah tahu. Mana dari tadi aku dicuekin lagi. Iiih, nyebelin parah kamu, Ar. Aku mau nangis tahu rasanya."


"Nih," ucap Aro sambil menyodorkan selembar tisu ke depan wajah gue.


Gue menatapnya speechless.


"Katanya mau nangis, ya ini pake tisu."


"Ah, nyebelin kamu, Ar!" amuk gue kesal.


Bahkan saking kesalnya, gue sampai memukulinya.


"Hei, hei, aku lagi nyetir, sayang! Kamu jangan gitu dong, nanti kalau kita kenapa-kenapa gimana? Kita belum nikah lho," seru Aro berusaha menghentikan gue agar tidak memukulinya lagi.


"Kamu itu ngeselin tahu, nggak sih, Ar?" rajuk gue sebal.


"Iya, aku tahu," balas Aro dengan wajah santainya.


"Apa?!" seru gue makin kesal.


"Maksudnya, kan kamu sering bilang kalau aku itu nyebelin. Masa aku nggak tahu juga, aku nggak sebebal itu, sayang."


"Tahu, ah, aku ngambek," rajuk gue makin cemberut.


Aro mendengkus, lalu terkekeh geli. "Dih, ngambek kok bilang-bilang," ejeknya kemudian.


"Iya lah, kamu kan nggak pekaan. Kalau aku nggak bilang nanti kamu nggak tahu dong," balas gue tak mau kalah, dan itu sukses membuat Aro tertawa.


"Emang nggak pekanya aku separah itu, ya?" tanya Aro tiba-tiba penasaran.


"Iya, nggak pekanya kamu itu udah parah banget. Ibarat penyakit udah kronis tahu."


Aro ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Pantesan, ya."


Dahi gue mengkerut heran. Pantesan katanya?


"Pantesan kenapa?" tanya gue heran.


"Yang kamu bilang tadi di rumah sakit," jawab Aro.


Namun gue tidak paham, yang mana, yang Aro maksud.


"Yang mana sih?"


"Abis ketemu yang tadi."


"Mantan kamu, maksudnya?" tanya gue memastikan. Lalu Aro mengangguk sebagai tanda jawaban.


Gue diam. Sebentar, ini maksudnya dulu Aro sempat diselingkuhi perempuan tadi begitu? Gara-gara Aro yang nggak peka? Kok kedengerannya jahat banget, ya, perempuan tadi, nyesel gue udah muji cantik. Bener kata Aro, percuma wajahnya cantik tapi kalau kepribadiannya tidak demikian.


"Aku minta maaf, ya?"


"Untuk?"


"Karena buka luka lama," cicit gue dengan perasaan bersalah.


Meski belum pernah tahu rasanya diselingkuhi, tapi gue tahu, yang namanya dikhianati itu pasti rasanya pasti tidak mengenakkan, dan juga pasti menyakitkan.


"It's okay, sayang, bukan salah kamu juga. Aku tadi cuma agak kaget aja sih, soalnya semenjak tahu fakta itu, kami belum pernah bertemu lagi setelahnya. Yang tadi pertama kalinya, dan aku senang karena sudah punya kamu." Tangan kiri Aro tiba-tiba meraih tangan gue dan menggenggamnya erat, lalu ia menoleh ke arah gue sambil tersenyum manis.


Ugh! Kok gue baru nyadar senyuman Aro bisa semanis ini. Ke mana aja ini gue selama ini?

__ADS_1


**Tbc,


__ADS_2