
#####
"Jadi, lo beneran pilih Toyota Yaris ketimbang Fortuner?"
Astaga, ini Abang gue, masih belum bosen aja sih bahas beginian. Heran gue.
Karena malas dengan bahasannya, gue memilih mengabaikannya. Masa bodo deh, suka-suka dia.
"Kamu mau beliin Anggi mobil, Bang?" tanya Vinzi sambil menyerahkan sepiring nasi goreng untuk sarapan Bang Riki.
Bang Riki menerima sepiring nasi goreng dengan wajah sumringahnya, tak lupa ia mengucapkan terima kasih setelahnya.
"Bukan, tapi aku lagi nanyain calon suami yang bakal Anggi pilih."
"Terus apa hubungannya Toyota Yaris sama Fortuner?" tanya Vinzi tak paham.
"Karena Aro mobilnya Fortuner dan Luki pake Toyota Yaris. Perumpamaan doang gitu, sayang."
"Sebut namanya langsung kenapa sih, Bang? Kenapa malah sebut kendaraan mereka? Nggak sopan," omel gue kesal.
Bang Riki hanya mangguk-mangguk sambil mengiyakan.
"Luki? Siapa Luki?" tanya Vinzi kebingungan.
Bang Riki kemudian menoleh ke arah gue. "Lo belum cerita ke Vinzi tentang Toyota--Luki maksud gue."
"Biar apa? Gue sama Luki cuma temenan, nggak lebih dan seterusnya begitu," jawab gue.
"Tapi Toyo..." Bang Riki berdecak gemas, karena terus-terusan menyebut nama Luki dengan nama mobil yang dikendarinya, "Luki maksud gue. Iya, Luki, Luki kayaknya naksir lo deh, gue tahu betul. Nggak mungkin--"
PRANGG!!
Gue mengeram tertahan sembari membanting sendok gue. Kedua mata gue lalu melirik Bang Riki tajam.
"Astagfirullah! Kaget gue," decak Bang Riki sambil mengelus dadanya.
Gue menatap Bang Riki galak. "Emang masalah kalau dia beneran naksir gue, Bang? Itu urusan dia, yang penting gue setia sama Aro. Paham?"
"Biasa aja lah, nggak usah ngegas!" balas Bang Riki tak kalah galak.
"Lo bikin sewot, Bang. Heran deh gue, yang naksir kan bukan gue. Kenapa gue yang dipojokin begini, seolah-olah gue ini sejenis wanita lemah yang langsung berpaling cuma gara-gara ada cowok ganteng naksir gue."
"Tapi, Gi, lo kan emang gitu. Agak lemah iman sama kaum cogan," sahut Vinzi tiba-tiba, tanpa perasaan bersalahnya.
Gue berdecak dan langsung memelototinya. "Enak aja, gue nggak gitu, ya!"
"Udah, yang, iya in aja. Kayaknya udah mau waktunya," bisik Bang Riki pada Vinzi, namun gue masih sanggup mendengarnya dengan sangat jelas.
"Maksud lo apa, Bang?" seru gue kesal.
Bang Riki meringis sembari mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Lalu Vinzi mengintruksi kami agar segera menyelesaikan sarapan dan berangkat bekerja.
Gue mendengkus tak percaya, hendak memprotes tapi tidak jadi karena terkejut melihat kehadiran Aro yang secara tiba-tiba.
"Aku tunggu di depan," ucapnya lalu berbelok dan meninggalkan ruang makan.
Gue berdiri dan langsung berlari kecil untuk menyusul Aro. Mengabaikan teriakan Bang Riki yang menyuruh gue untuk menghabiskan sarapan gue.
"Kok nyusul? Habisin dulu sana sarapannya!"
Gue menggeleng. "Udah kenyang."
"Gara-gara liat aku?"
Gue langsung berdecih. "Geer."
Aro hanya ber'oh'ria dan mengangguk. Gue mengernyit sambil memiringkan wajah, menatap Aro curiga.
"Kenapa?" tanyanya heran.
Gue menggeleng. "Nggak papa. Tunggu bentar, ya! Aku naik ke atas dulu, ambil tas," ucapku lalu berlari kecil, menaiki anak tangga dan bergegas ke kamar. Mengambil tas dan juga ponselku, setelahnya gue kembali turun dan menemukan Aro sudah tidak ada di ruang tengah, dan ternyata dia sedang ada di depan rumah.
"Aku pikir nunggu di dalem."
Aro hanya menggeleng sebagai tanda jawaban, lalu kami berjalan beriringan keluar dari rumah menuju halaman depan.
"Habis nganter aku, langsung ke Bandung?" tanya gue sambil memakai seatbelt.
__ADS_1
Lagi-lagi Aro mengangguk sebagai tanda jawaban. Gue mengernyit sesaat, mengingat-ingat apakah gue baru saja melakukan kesalahan? Atau dia masih marah masalah Luki atau lebih parahnya ia marah karena gue tak kunjung mengiyakan ajakan menikahnya?
"Ar," panggil gue kemudian.
"Ya?"
Aro menoleh ke arah gue dengan ekspresi bingungnya.
"Kamu marah?"
"Karena?" Aro malah balik bertanya.
Gue mengangkat kedua bahuku secara bersamaan. "Gara-gara Luki kemarin mungkin."
"Kenapa dengan pria itu memang?"
Gue berdecak gemas. "Kamu ini kenapa sih?"
"Kenapa apanya? Aku nggak paham deh," balas Aro dengan wajah datarnya. Ia sesekali melirikku, membagi pandangan ke arah jalan dan ke arahku.
Gue mendengkus tak percaya. Ini Aro sudah kembali ke sifat cueknya begitu?
"Kenapa ngelihatinnya begitu?" tanya Aro.
"Mikir," jawab gue ketus.
"Mikirin apa?"
"Kamu ngerasa ada yang aneh sama sikap kamu? Aku ngerasa kamu kayak nyuekin aku tahu nggak, Ar. Kamu marah?"
Aro tersenyum lalu menggeleng. "Enggak. Kan, katanya kamu lebih suka aku yang cuek, lebih gemesin kan? Ya, udah. Aku balik ke cuek."
"Ahh, begitu."
Gue hanya mampu meringis canggung setelahnya. Terkadang, gue benar-benar tidak bisa memahami Aro sama sekali. Hal-hal semacam ini yang sering kali membuat gue ragu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Sebut gue pengecut karena terlalu pesimis, tapi, bagaimana, ya, rasa khawatir itu hadir dengan sendirinya, tanpa dapat gue cegah atau dengan mudahnya gue kendalikan. Jujur, ini juga berat untuk gue pribadi. Kalau ditanya, 'emang lo nggak pengen nikah?' jelas gue akan menjawab dengan lantang 'pengenlah.' Gila aja. Siapa sih yang nggak pengen nikah?
Hanya orang-orang yang memiliki trauma tentang pernikahan yang akan menjawab tidak ingin. Orang normal pada umumnya jelas akan menjawab ingin. Tapi masalahnya di sini adalah menikah itu jelas tidak boleh hanya sebatas karena inginkan? Tidak sesederhana itu kan?
By the way, kenapa gue mendadak jadi bahas nikah sih? Apa efek dari muaknya perasaan ini, karena terus-terusan disuruh untuk segera menikah? Ah, gue rasa begitu.
"Ar!"
"Ya?"
"Aku pria berumur 33 tahun, Anggita. Sebentar lagi umurku 34 tahun, menurut kamu masih ingin pacaran ala anak SMA?"
Gue meringis. Perasaan bersalah tiba-tiba hadir tanpa bisa gue cegah. Sesaat gue terdiam dan menatap Aro dalam. Apakah gue seegois itu belum mengiyakan ajakan menikahnya? Pria seumur Aro jelas sudah saatnya menikah dan memikirkan anak, bukannya malah berpacaran dengan gadis labil seperti gue.
"Kenapa? Aku ketuaan buat kamu yang masih dua puluhan?"
"Enggak. Enggak gitu, aku cuma mikir. Aku egois banget nggak sih, Ar?"
Aro menoleh sedetik. "Maksudnya?"
"Ya, karena belum bisa nerima ajakan nikah kamu."
"Enggak."
"Tapi kamu udah seharusnya menikah," cicit gue dengan perasaan bersalah.
Aro tersenyum lalu menghentikan mobilnya karena lampu merah, tangannya meraih jemari gue untuk digenggamnya.
"Jawab jujur! Apa kata-kataku kemarin begitu membebani kamu?"
Gue menunduk dan mengangguk ragu. "Sedikit."
Aro melepaskan genggaman tangan gue karena harus menyetir kembali. "Maaf. Aku tidak bermaksud demikian, kemarin aku hanya terbakar cemburu sesaat. Aku janji hal itu tidak akan--"
"Mama dan Papa kamu pasti sudah sangat menginginkan Cucu kan?"
Tanpa keraguan Aro mengangguk, membenarkan. "Tapi--"
"Aku akan coba pikirin baik-baik soal itu," sahut gue cepat, memotong ucapan Aro.
"Maksudnya?"
"Tentang ajakan nikah kamu, aku akan coba pertimbangkan lebih serius mulai hari ini."
__ADS_1
"Kamu serius?" Kedua mata Aro langsung berubah cerah.
"Ar, jangan terlalu seneng dulu! Aku bilang, aku mulai mempertimbangkannya, bukan langsung menerima ajakan nikah kamu dalam waktu dekat."
"Ahhh, begitu. Aku pikir kamu setuju menikah denganku." Ekspresi wajah Aro berubah kecewa, meski ia berusaha untuk tetap tersenyum, meski terlihat dipaksakan.
"Maaf," ucap gue penuh penyesalan.
"Biar apa? Udah lah, aku masih sabar nungguin kamu kok."
"Maaf, harus membuatmu menunggu."
"Nggak papa, sayang. Aku sabar menunggu kok, asal kamu beneran nikah sama aku, itu yang paling penting. Menikah di waktu yang tepat jauh lebih baik dari pada menikah cepat-cepat."
Gue tersenyum sambil mengangguk. "Makasih untuk pengertiannya."
Aro mengangguk sebagai tanda jawaban. Tak lama setelahnya, gue pun sampai.
"Hati-hati nyetirnya, nanti kalau udah sampai jangan lupa kasih kabar," pesan gue sambil melepas seatbelt-ku.
Aro mengangguk sambil tersenyum, lalu ikut melepas seatbelt-nya.
"Mau ngapain? Ikut turun?"
Aro menggeleng. Di luar dugaan gue, ia tiba-tiba mendekatkan wajah gue dan mencium keningku. Mendadak gue langsung mematung dan menatapnya tanpa berkedip selama sekian detik.
"Aku abis ini pamit langsung ke Bandung, eh, enggak, ke rumah dulu jemput Pak Bambang."
Dahi gue mengkerut. "Siapa Pak Bambang?" gue tidak langsung turun karena penasaran dengan siapa itu Pak Bambang.
"Supir yang Gani sewa."
"Kenapa pas jemput aku, nggak suruh nyupirin beliau aja?"
Aro menggeleng. "Karena aku pengen berdua aja sama kamu, jadi, aku jemput dan anter kamu. Nah, kalau pas balik ke Bandung baru disupirin Pak Bambang."
Gue melongo dan menatap Aro speechless.
"Udah, turun sana! Kerja yang bener, ya? Jangan lupa jaga kesehatan! Kangen dan rindu boleh, tapi telat makan jangan! Dilarang rindu lebih berat ketimbang rasa rindu itu sendiri. Kangen dan rindu itu hak dan kebebasan, aku nggak akan ngelarang."
Gue terkekeh geli. "Apaan sih? Kok gaje lagi?"
"Padahal aku mau ngegombal karena kamu mau mempertimbangkan ajakanku untuk menikah. Nggak bagus, ya? Nggak jelas banget?"
Gue mengangguk dengan ekspresi wajah tak enak. "Iya. Cuma nggak papa, aku hargai kok. Hati-hati, ya, jangan lupa ngabarin nanti!" pesan gue sebelum turun dari mobilnya.
Aro mengangguk dan menjawab dengan dengan deheman. "Hmm."
#####
"Eh, eh, gue ada gosip teranyar. Lo pada udah denger belum?"
Gue dan Mbak Lisa langsung saling bertatapan malas, saat mendengar Wisnu berbicara dengan gaya hebohnya. Wisnu adalah satu-satunya staff front office laki-laki yang memiliki rasa keingin tahuan yang sangat tinggi, rasa ingin tahu seperti apa yang dimilikinya? Rasa ingin tahu dengan urusan orang. Iya, Wisnu ini memang tergolong kaum-kaum ramah, kelewat ramah, khas warga +62. Hobi banget mencampuri urusan orang dan bergosip.
"Gue sama suami gue mau program anak kedua, Nu. Jangan ngajak gue ngeghibah! Mertua gue udah nggak sabaran nambah Cucu. Gue nggak mau nambah dosa, program hamil gue harus segera berhasil," sahut Mbak Lisa dengan wajah juteknya.
Gue terkekeh geli kala mendengarnya. "Emang ada hubungannya ya, Mbak?"
"Males diajak ngegosip dia aja gue, Gi," balas Mbak Lisa sambil menunjuk wajah Wisnu terang-terangan.
"Tapi ini gosip teranyar, Mbak. Gue baru denger tahu, langsung dari sumber terpercaya."
Mbak Lisa berdecak. "Ya udah, buruan kasih tahu!" serunya kemudian, dengan ekspresi kesal tentu saja.
Gue hanya tersenyum dan menggeleng, melihat keduanya. Bagaimana pun, Mbak Lusi dan Wisnu sebenarnya sangat klop kalau urusan beginian.
"Bu Citra sama Pak Lukman putus," ucap Wisnu dengan suara berisik.
Baik gue dan Mbak Lisa sama-sama terkejut. Pasalnya Pak Lukman dan Bu Mega ini termasuk pasangan serasi versi kami para karyawan hotel, karena katanya mereka sudah berpacaran hampir sebelas tahun lebih, selalu terlihat mesra dan jarang terlihat bertengkar. Hotel memang tidak mempermasalahkan adanya hubungan asmara di tempat kerja, toh, mereka juga beda divisi. Pak Lukman Housekeeping Supervisor sedang Bu Citra Accounting Supervisor, gue sempet denger gosip kalau Pak Lukma mau ngelamar tapi kok malah putus?
"Lo serius?" tanya Mbak Lisa kepo dan sedikit heboh.
"Sssst, jangan keras-keras dong, Mbak. Iya, gara-gara Bu Citra yang nggak mau diajak nikah."
"Nggak mau gimana? Nggak waras lo nyebarin gosip, kurangnya Pak Lukman apa? Muka ganteng, ramah, nggak galak, sholeh, pekerjaan juga bagus. Kurangnya apa?"
"Ya, namanya jodoh, maut, itu kan rahasia ilahi. Kita nggak tahu sama siapa jodoh kita dan kapan kita matinya. Mungkin mereka putus gara-gara Pak Lukman udah capek nunggu Bu Citra yang tak kunjung mau diajak nikah?"
__ADS_1
Seketika tubuhku menegang. Gue mendadak panik. Bagaimana kalau nasib gue nanti seperti Bu Citra, diputusin gara-gara gue selalu sewot saat ditanya tentang pernikahan. Apa yang harus gue lakukan?
**Tbc,