Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (60) Masakin Aro


__ADS_3

#####


"Kamu laper nggak?" tanya Aro saat kami memasuki apartemennya.


Ia menoleh ke arahku dan hendak bergegas menuju dapur, namun gue tahan.


"Kenapa?" tanyanya dengan ekspresi bingungnya.


"Duduk dulu, yuk!" ajak gue sambil menuntun Aro menuju ruang tengah, dan menyuruhnya untuk duduk di sofa yang ada di sana.


"Tapi ini udah kelewat jam makan siang, dan kamu belum makan. Aku nggak mau kamu sakit, sayang. Aku ma--"


"Aro, lihat aku!" intruksiku sambil memegang kedua pipi Aro agar menatapku.


Aro menurut, ia kemudian menatapku, kedua netra kami saling bertatapan. Menyelami perasaan masing-masing melalui kontak mata, gue tersenyum sambil mengangguk.


Gue kemudian menggenggam kedua telapak tangannya. "Ar, kamu tahu kepergian seseorang mungkin tidak seharusnya kita tangisi. Tapi, terkadang kita perlu menangis untuk benar-benar mengikhlaskan seseorang itu untuk pergi. Tidak ada larangan seorang pria tidak boleh menangis, kalau memang rasanya menyesakkan, keluarin aja! Kamu boleh menangis, aku janji, aku nggak akan cemburu," ucap gue tulus.


Di luar dugaan gue, Aro tiba-tiba terkekeh sembari mencubit sebelah pipi gue dengan gemas. Membuat gue langsung menjerit kesakitan.


"Iih, kok malah dicubit sih," protes gue tidak terima.


Aro terkekeh kecil. "Abis kamu ngegemesin sih. Pengen nyium sih sebenarnya, cuma takut kamu tampar. Jadi, aku cubit aja."


Gue makin merengut.


Lalu Aro tersenyum, sebelah tangannya masih menggenggam tangan gue sedang sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengelus pipiku. "Terima kasih untuk pengertiannya, aku senang kamu seperhatian ini. Tapi, jujur, aku memang tidak ingin menangis, sayang. Aku memang sedih, tapi rasa sedihku tidak sampai membuatku ingin menangis. Bukan karena aku malu untuk menangis. Jadi, bisa kamu berhenti menyuruhku untuk menangis? Karena serius, aku benar-benar tidak ingin menangis."


Eh, gue salah mengira-ngira ternyata?


"Tapi kamu dari tadi diam aja, aku pikir kamu pengen nangis tapi malu sama aku," gerutu gue dengan bibir manyun.


"Sayang, kamu tahu, aku baru sampai di Jakarta kemarin, lalu pagi ini aku harus kembali ke Bandung. Menurut kamu, aku capek nggak?"


Kali ini gue meringis sambil menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. "Hehe, jadi gara-gara kamu capek, ya?"


Aro mengangguk sambil mencubit hidung gue dengan gemas. "Kebanyakan nonton drama ya begini, nih pasti. Makanya dikurang-kurangi dong! Kan sebentar lagi mau jadi nyonya Aaron Aldric."


"Apaan sih, nggak lucu," gerutu gue pura-pura merajuk untuk menyamarkan perasaan gugup gue, "lagian nggak ada hubungannya nonton drama sama yang tadi."


"Ada lah. Kan pikiran kamu jadi berasumsi sok tahu kayak tadi. Kamu pikir, kamu dapet begitu dari mana, kalau bukan karena kamu udah overdosis nonton drama?"


"Insting, mungkin," jawab gue sambil menyengir.


"Ngarang!" dengkus Aro kemudian.


Lalu kami terdiam setelahnya. Tangan Aro masih setia menggenggam telapak tangan gue, sesekali ia memberikan elusan ringan pada punggung tanganku.


"Kamu sedih nggak, Ar, pas dapet kabar Mbak Jasmine meninggal?" tanya gue kemudian.


"Kenapa tiba-tiba panggil, Mbak?" ledek Aro.


"Nggak sopan, ah, kalau panggil nama, kan dia lebih tua. Lagian juga udah nggak ada pula."


Aro menghela napas pendek, lalu menarik tubuh gue ke dalam rangkulannya. Gue, yang kebetulan rindu momen-momen semacam ini pun, dengan sigap langsung menyandarkan kepalaku di dadanya dengan posisi ternyaman dan menikmati usapan lembut di pundakku.


"Kalau ditanya sedih apa enggak, jawabannya jelas sedih. Bagaimana pun juga, kami pernah melewati masa-masa indah maupun sulit secara bersama. Rasanya, sedikit sakit hati karena dia belum melihat kebahagiaan kita. Beberapa hari yang lalu, aku mengunjunginya, karena suaminya menemuiku."


"Oh, udah menikah?"


Aro mengangguk. "Udah punya anak juga. Perempuan."


"Kasian, ya, Ar. Yang cewek pake baju LOL, ya? Yang rewel nyariin Mamanya tadi bukan?" tanya gue penasaran.


"Mungkin. Aku nggak terlalu merhatiin soalnya."


Aro mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, sambil membenarkan posisi duduknya. Mungkin mulai kebas karena gue sandarin kali, ya. Lalu gue berinisiatif untuk bangun, namun ditahan Aro.


"Mau ke mana?"


Gue menggeleng. "Enggak ke mana-mana, takut kamu pegel aja sih."


Aro tidak menjawab apa pun, lalu kembali menyandarkan kepala gue di dadanya. "Capek aku, tuh," ucapnya ngaco. Setidaknya, itu menurut gue.


Gue menaikkan kedua alis tinggi-tinggi, merasa aneh dengan ucapannya barusan. Kalau capek, kenapa malah gue yang disuruh bersandar. Setidaknya, kalau dia yang capek bukankah harusnya dia yang bersandar, ya?


"Kalau capek, yang harusnya bersandar itu kamu, sayang. Bukan aku yang malah nyender di kamu. Iiih, kamu, mah, aneh."


Aro tersenyum. "Kepalaku lagi berat banget ini, kasian pundak kamu nanti kalau aku buat senderan. Mending gini, terus nanti aku serap semua energi kamu."


"Halah, kebanyakan nonton Naruto kamu!"

__ADS_1


"Kok Naruto?"


"Ya, kan di Naruto ada istilah nyerah energi-energi Chakra kan?"


"Kok kamu tahu sih? Gara-gara Riki sering nonton ya, dulu?"


Gue menggeleng. "Enggak juga, meski itu termasuk salah satu alasannya sih. Tapi selain karena itu, aku suka karena emang kartunnya seru. Ada menegangkannya, ada somplaknya juga. Pokoknya seru, kan aku jadi ikutan nonton terus."


Aro berguman sambil mengangguk. "Terus siapa yang paling kamu favoritin dulu?"


"Lupa namanya, itu loh, guru yang pake sebelah matanya ditutup. Ah, sama yang suka kayak ngerapp itu, aku suka tuh sama mereka. Kamu inget enggak?"


"Kakashi kalau yang matanya ketutup, tapi kalau yang suka ngerapp aku juga lupa. Nggak terlalu suka juga."


Gue mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria.


"Lebih suka Naruto apa Sasuke?" tanya Aro tiba-tiba.


"Hmm, mending Naruto lah, seenggaknya kalau Naruto lucu. Tapi dibandingkan keduanya, aku lebih suka sama si Shikamaru sih. Biasa aja tapi cerdas."


Aro mengangguk setuju sambil mengusap pundakku. "Iya, kayak aku, ya?"


"Enggak lah," kata gue sambil menggeleng tegas, tanda tidak setuju.


"Tapi aku juga cerdas padahal," balas Aro dengan wajah sedihnya.


"Tapi kan kamu ganteng," cengir gue mendongak ke arah wajahnya.


"Sssst, nggak boleh mancing, nanti ada setan yang lewat. Bahaya."


Aro menggeleng sambil menggoyangkan jari telunjuknya. Sedangkan gue langsung tersenyum bahagia. Gue sangat suka dengan kemampuan menahan dirinya, karena gue tidak hanya merasa dicintai, tapi dihargai dan juga dilindungi, meski sesekali Aro melakukan skinship, tapi menurut gue masih dalam mode wajar. Bagi pria seusia Aro, menahan hal-hal semacam ini jelas bukan perkara mudah. Pasti butuh tekat dan usaha yang keras. Gue sangat menghargai usahanya itu.


"Kenapa senyam-senyum begitu? Hayo, ngaku abis mikirin apa tadi?"


"Mikirin kamu lah, edan po aku mikir liyane. Hastag edan po," cengir gue sambil memainkan alis gue naik-turun.


Aro memandang gue datar selama beberapa saat, kemudian ia berkata, "Iya, deh, terserah kamu aja."


"Cie, cie, pacarnya aku penganut terserah ternyata. Kayak cewek."


Aro menggeleng dengan wajah datarnya. "Enggak lucu, sayang."


"Ngomong-ngomong, kamu udah laper belum?"


"Belum."


"Oke, aku tidur bentar kalau begitu. Nanti kalau kamu udah laper, bangunin aku, ya."


Gue hanya mengangguk pasrah dan berguman. "Hmm."


"Pint--"


Kruukk Kruukk Kruukk


"Suara apa itu?" tanya Aro dengan wajah kagetnya.


Gue menyengir lalu menutup wajah gue dengan telapak tanganku dan bersembunyi di dada Aro.


"Astagfirullah! Aku malu!! Cacingku kenapa nggak sopan banget sih, Ar," keluh gue kemudian.


Aro terkekeh sambil mengusap punggung gue dan berkata, "Nggak papa, ssst, nggak papa. Di sini cuma ada aku kok, aku nggak akan bilang siapa-siapa."


"Aro!!" jerit gue sambil memukul dadanya, dan bukannya marah atau menyesal, Aro justru malah tertawa terbahak-bahak, "nyebelin kamu!"


"Loh, kalau aku nyebelin harusnya kamu nggak peluk-peluk aku begini, sayang."


Blush! ******! Seketika wajah gue memerah dan terasa agak panas, karena malu. Astagfirullah! Iya, juga, ya. Kenapa gue malah sembunyi di pelukan Aro begini, mentang-mentang pelukannya membuat gue nyaman. Duh, nggak punya malu banget deh gue jadi hamba Allah.


Pelan tapi pasti, gue akhirnya menjauhkan wajah dan juga tubuhku dari pelukannya, lalu meminta maaf dan kembali menjerit, "Kamu emang nyebelin, Ar!"


"Sekaligus ngangenin kan?"


"Iya."


Aro terkekeh sambil mengacak rambut gue, lalu bangkit berdiri. "Kamu istirahat dulu, gih! Aku masak dulu."


"Biar aku aja yang masak," kata gue sambil menahan lengannya.


Aro meringis karena menggeleng tegas. "Nggak usah, biar aku saja."


"Sekali aja, sayang."

__ADS_1


"Sayang, tunangan di rumah sakit itu nggak terdengar bagus lho. Iya, emang sih, agak anti mainstrem, tapi tetap aja nggak seru."


Sontak gue langsung melotot tajam, mendengar ucapannya yang menjurus ke arah ledekan kalau gue payah dalam hal memasak. Meski ini sebuah kebenaran sih. Tapi, tetap saja gue tidak terima.


"Maksud kamu apa? Kamu mau bilang kalau masakan yang aku masak nanti bisa menyebabkan kita keracunan dan sampai harus dirawat di rumah sakit begitu, hah?"


Aro kembali meringis. "Enggak sih, cuma agak was-was aja. Dikit."


"Kamu ngeremehin aku?"


"Ya udah, iya, terserah kamu. Kamu boleh masak, dan aku akan makan nanti. Oke?" Aro kemudian mendekati gue dan memelukku, "udah, jangan ngambek, ah! Katanya ngajak nikah?"


"Tahu, ah, aku ngambek."


Aro menggaruk kepalanya bingung. "Terus, aku harus bagaimana biar kamu nggak ngambek lagi?"


"Bobo--"


"Ha?" respon Aro dengan spontan, "maksudnya? Jangan macem-macem dong, sayang. Kita belum halal. Nggak boleh! Dosa. Nanti dimarahin Allah. Terus--"


"Ar, kejauhan. Aku nyuruh kamu tidur di kamar dan aku masak. Nanti kalau udah selesai aku bangunin. Begitu."


Aro ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk paham. "Kirain kamu ngajak bobo bareng gitu. Kan aku jadi takut, takut khilaf, yang."


"Ngarep!"


"Emang," guman Aro tanpa sadar.


"Apa?!"


"Aku... mandi dan tidur sekarang," ucap Aro di sela ringisannya.


Gue mendengkus. "Gantian. Mandi dulu, baru tidur. Biar seger."


"Iya, sayang. Cium dulu," kata Aro sambil mengecup pelipis gue dan masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan gue langsung bergegas menuju dapur. Mencuci beras lalu menanak nasi, baru setelahnya gue membuka lemari kulkas Aro. Gue cukup terpana saat mendapati berbagai jenis bahan makanan lengkap berada di dalam kulkasnya. Kalau di dalam drama-drama si perempuan bingung mau memasak apa, karena bahan yang minim. Gue tidak demikian, gue justru merasa bingung karena bahan yang Aro punya terlalu lengkap dan sebagain ada beberapa yang tidak gue pahami apa namanya.


****** gue! Mau masak apaan ini coba? Mana gue lumayan payah di bidang mengolah makanan pula, kalau menghabiskan makanan, gue memang juaranya. Tapi kalau memasak, gue sangat payah, serasa ingin mencari letak kamera dan melambaikan tangan setelahnya.


Karena tidak punya ide sama sekali. Akhirnya gue memutuskan untuk mencari resep di internet. Namun, setelah hampir setengah jam lebih, gue berkutat dengan internet, hanya untuk mencari resep masakan yang ingin gue masak, gue tidak menemukan satu pun yang gue rasa mampu, gue masak. Semakin pesimis lah gue.


Gue kemudian melirik ke arah Magic com. Lampu pada alat penanak nasi itu sudah berganti warm, bukan lagi pada lampu cook. Pertanda kalau nasinya sudah matang, lalu gue melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangan kiri gue. Gue yakin sebentar lagi Aro pasti bangun.


Ya, sudah, gue tidak punya pilihan lain, selain membuat lauk tersimple sepanjang sejarah. Iya, iya, kalian boleh membully gue setelah ini. Agar kalian puas.


Setelah selesai menata makanan di atas meja, gue kemudian langsung bergegas menuju kamar Aro, untuk membangunkannya. Saat gue mengintip dari pintu, Aro terlihat masih terlelap dengan posisi agak meringkuk. Membuat gue tersenyum tanpa sadar. Aro kalau tidur terlihat makin tampan. Jadi, nggak sabar segera dihalalkan. Eh?


Gue menggeleng tegas, guna mengusir pikiran ngaco gue barusan. Lalu gue bergegas masuk ke dalam kamar dan membangunkan Aro.


"Ar, bangun! Aku udah laper," seru gue sambil memukul betisnya.


"Hmm."


Aro tidak langsung bangun, ia menggeliat sesaat, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi gue.


Gue berdecak gemas dan langsung memukul pantatnya cukup keras, hingga menimbulkan bunyi nyaring dan Aro mengaduh tak kalah keras.


"Astagfirullah! Kenapa banguninnya gitu banget sih, yang. Nggak ada manis-manis banget."


"Cih, apaan ada manis-manisnya, kamu pikir kamu Le mineral."


Aro berdecak sambil mengepalkan telapak ke udara, karena gemas. Lalu ia berkata, "Hih, bikin galau. Antara ngegemesin sama pengen mites. Huh, aku cium juga kamu."


Gue tertawa puas lalu menepuk lengannya. "Eling! Istigfar! Nyebut, Ar! Nanti ada setan yang lewat."


"Astagfirullah al'adzim! Sana, minggir! Aku mau cuci muka dulu."


"Oke. Aku tunggu di dapur, ya."


Aro mengangguk lalu memakai sandal rumahnya dan masuk ke kamar mandi, untuk mencuci muka. Sedangkan aku keluar dari kamarnya.


Huh, semoga Aro tidak terlalu kecewa dengan hasil masakan gue. Kalau kecewa, bisa-bisa gue batal dilamar besok. ******! Apa perlu gue pesen delevery aja, ya? Tapi, udah telat juga. Ah, kenapa gue baru kepikiran coba. ****!


Tbc,


hmmm, kira-kira si Anggi masakin Aro apa ya? ada yang bisa nebak?


kecil itu, thor. ketebak banget.


iya, dong, kan clue nya jelas banget. jelas ketebak 🙄😒

__ADS_1


__ADS_2