Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (45) Karena Aku Cinta Kamu Apa Adanya


__ADS_3

#####


"Sarapannya, Mbak."


Gue hanya mengangguk, sebagai tanda jawaban atas sapaan Mbok Ru. Asisten rumah tangga yang Bang Riki pekerjakan setelah menikahi Vinzi. Beliau meletakkan nampan berisi sepiring nasi putih dan juga lauk pauknya. Juga ada air putih dan secangkir teh.


"Makasih, Mbok," ucap gue kemudian, sambil menahan ngilu.


Kaki gue masih membengkak dan terasa nyeri. Gue memang belum ke dokter karena menurut gue tidak perlu, toh, kayaknya nggak terlalu parah. Bang Riki menyarankan agar diurut, namun gue tolak mentah-mentah.


"Kakinya mau dikompres lagi, Mbak?" tawar Mbok Ru, setelah mengecek keadaan kakiku.


Aku menggeleng. "Nanti aja, Mbok. Mbok Ru lanjut kerja aja dulu."


"Itu yakin nggak mau dibawa ke dokter atau saya panggilin tukang urut gitu, Mbak. Kok perasaan kayak makin bengkak."


"Ah, Mbok Ru, jangan nakut-nakutin Anggi, ah," rengekku sambil menahan ngilu.


Mendengar ucapan Mbok Ru yang begitu, gue jadi takut. Rasanya jadi pengen nangis.


"Bukannya nakut-nakutin, Mbak, tapi mengantipasi, takutnya--"


"Jangan diterusin, Mbok!" jerit gue mulai takut.


"Kenapa sih, pagi-pagi teriak-teriak?" Tak lama setelahnya, Bang Riki tiba-tiba muncul sambil mengacingkan lengan manset kemejanya, "itu kaki lo gimana kabarnya? Mendingan belum?"


"Kayaknya tambah bengkak deh, Mas," jawab Mbok Ru.


"Eh, masa sih, Mbok?" Bang Riki langsung mendekati gue, dan mengamati kaki gue. "Eh, iya, deh, kayaknya. Tambah beng--"


"Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumussalam!" koor kami kompak.


Gue kemudian memiringkan kepala, untuk mengintip siapa pemilik suara itu, dan menemukan Aro sedang tersenyum tipis ke arahku.


"Kok kamu di sini?" tanyaku heran. Pandangan gue kemudian beralih pada Bang Riki, "lo ngadu, Bang?!"


Dengan wajah seakan tidak punya dosa, Bang Riki mengangguk. "Salah lo sendiri, diajak ke dokter nggak mau, dipanggilin tukang urut juga nggak mau. Kan gue jadinya stres, Gi. Vinzi juga ikut-ikutan rewel karena merasa bersalah sama kondisi lo. Ya, udah solusinya cuma satu. Gue telfon Aro, biar dia bujukin lo."


Aro kemudian berjalan menghampiri gue. "Gimana keadaan kamu?"


"Aku belum mandi dari kemarin, jangan deket-deket!" jerit gue, menyuruh Aro mundur.


"Mandi, nggak mandi, sama aja lo. Sama-sama bau," ejek Bang Riki sambil terbahak.


"Rik, pacar gue begini gegara lo nggak jadi suami siaga, ya. Jangan godain pacar orang!"


"Apaan deh, gue godain Adek gue sendiri. Sewot aja sih lo," gerutu Bang Riki.


"Tapi adek lo itu pacar gue," balas Aro tidak mau kalah, "udah sana, siap-siap ngantor! Anggi biar gue urusin."


"Enggak!" jerit gue sambil menggeleng tegas.


"Biasa aja kenapa sih, Wat? Aro kan pacar lo, calon suami dan juga Ayah dari anak-anak lo. Ya, itung-itung sambil latihan sih, sekalian lo tes gitu, Aro beneran bisa jadi suami yang baik a--"


"Tapi gue belum mandi, Bang. Gue malu lah," rengek gue, memotong kalimat Bang Riki.


Bang Riki menatap gue datar, lalu menoleh ke arah Aro dan menepuk pundak pria itu. "Bro, yang sabar ngadepin dia. Hati-hati juga, dia suka nyakar, meski udah disuntik--"


"Setan lo, Bang!" umpat gue kesal, langsung melempar bantal ke arahnya, "lo pikir gue ******?!"


Dengan wajah bak tak punya dosa, Bang Riki malah terbahak sebelum berlari keluar dari kamar gue. Sedang Aro, ia langsung berjalan menghampiri gue dan duduk di tepi ranjang.


"Kamu ngapain sih, ke sini?" tanya gue sebal.


"Aku khawatir sama kamu."


"Kapan nyampe?"


"Semalam."


Gue langsung menatap Aro datar. "Kamu nggak ada inisiatif tanya balik?" tanyaku sebal.


"Lagi sakit masih aja sensi," balas Aro sambil tersenyum.


Kali ini senyumannya tidak cukup membuat gue luluh, tapi yang ada, membuat gue semakin kesal.


"Makan dulu, ya. Abis itu nanti aku anter ke dokter."


Aro kemudian meraih piring berisi sarapan gue. Ia kemudian menyendokkan nasi dan juga potongan ayam goreng. "Ayo, aa, buka mulutnya!"


"Yang sakit kaki aku, Ar. Nggak usah disuapin, ah, makan sendiri aja," tolak gue sambil memiringkan sedikit wajah.


Aro menggeleng. "Aku suapin aja, biar lulus tes jadi calon suami yang baik dan juga perhatian. Ayo, buka mulutnya!"


"Makan sendiri aja, Ar."


"Aku suapin."


"Makan sendiri!"


"Aku suapin!"


"Makan sendiri," tegasku tak ingin dibantah.


"Ya udah, ini makan sendiri," rajuk Aro sambil menyodorkan piring sarapan gue. Ia kemudian melirik gue sinis. "Aku nggak peka salah, aku nggak perhatian salah, giliran mau diperhatiin masih aja nggak bener. Terus aku harus gimana?"


Gue tersenyum, sambil membenarkan posisi sandaran bantal gue. Sedikit meringis, menahan rasa nyeri yang tiba-tiba hadir tanpa permisi.


"Jadi diri sendiri, sayang. Karena aku cinta kamu apa adanya, bukan ada apanya." Gue kemudian mengedip genit.


Aro langsung mendengkus, tidak percaya. "Halah, ngomongnya cinta apa adanya, giliran dicuekin dikit misuh-misuh. Terus koar-koar kalau aku nggak peka. Gitu kamu bilang cinta?"


Tanpa ragu, gue langsung mengangguk. "Iya."


Aro berdecak. "Udah lah, buruan abisin sarapannya!"


"Kamu nggak sarapan?"

__ADS_1


"Gampang, nanti."


"Kok gitu? Sana turun! Minta sarapan sama Bang Riki," suruh gue di sela kunyahanku.


"Nanti, gampang, yang penting kamu dulu. Aku mau mastiin makanannya abis dulu."


"Lebay! Yang sakit itu kakiku, Ar, yang lain, mah sehat wal afiat, jadi masih doyan makan kok. Nambah pun masih kuat nih."


"Mau nambah sekarang?" tawar Aro kemudian.


"Cuma perumpamaan, Ar, aku nggak mau nambah beneran."


"Oh, aku kira kode."


Begini, nih, kalau cowok nggak pekaan belagak ingin peka. Selalu salah tempat dan juga waktu yang tidak tepat.


"Abis ini ke rumah sakit, ya," bujuk Aro.


Gue menggeleng tegas. "Aku nggak papa, nggak usah ke rumah sakit segala, ah. Lebay."


"Katanya, cewek kalau bilang nggak papa, itu artinya kenapa-kenapa."


Gue kembali menatap Aro. Ini orang kenapa sih, perasaan maksaan diri biar terlihat peka dari tadi. Apa cuma perasaan gue aja?


"Ke dokter, ya, periksa. Biar tahu keadaannya gimana. Aku takut nanti malah kenapa-kenapa, gimana? Kamu jelas nggak mau kan?"


"Kamu doain aku kenapa-kenapa?" tanyaku sinis.


"Ya, enggak lah, masa iya, doain kamu kenapa-kenapa."


"Terus, kenapa ngomong gitu?"


"Aku khawatir, sayang. Begitu dapet kabar dari Riki, aku langsung nyetir ke sini loh. Padahal aku harusnya kerja."


"Itu berarti kamu orangnya nggak tanggung jawab. Kayak gitu kok, mau jadi suami aku. Mana direstuin kamu," gerutuku sambil menyendok nasi.


"Bukan nggak tanggung jawab, sayang. Tapi, karena saking cinta dan khawatirnya aku sama kamu. Makanya, aku langsung ke sini."


"Aku manusia biasa, Ar. Makannya nasi, nggak kenyang kalau cuma makan cinta dan rasa khawatir doang."


Aro langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar. Terlihat sekali lagi dia sedang menahan kekesalan.


"Kamu lagi PMS, ya?"


Aku mengabaikan pertanyaannya. "Tolong ambilin minum!"


Aro kemudian menyodorkan segelas air putih. Aku menerimanya dengan senang hati, tak lupa mengucapkan terima kasih setelahnya.


"Beneran lagi dapet, ya?"


"Enggak. Belum dapet kok," jawabku sambil menggeleng, "sekarang ambilin tehnya, sama obatnya sekalian."


Meski dengan ekspresi agak cemberut, Aro tetap menyodorkan teh dan juga sebutir obat.


"Obat apaan ini?"


"Pereda nyeri."


"Beli."


Aro langsung berdecak. "Di mana?"


"Apotek."


"Pakai resep dokter?"


Gue mengangkat kedua bahu gue. "Nggak tahu, Bang Riki yang beliin."


Aro tiba-tiba berdiri.


"Mau ke mana?" tanyaku sambil mendongak.


"Tanya Riki."


"Bawain piring kotorku sekalian dong," pintaku sambil mengedipkan bulu mata genit.


Aro tidak mengiyakan mau pun menolak, namun tetap membawa piring kotor dan juga gelas kotorku keluar kamar. Tak lama setelahnya Aro kembali.


"Mandi, gih!" suruhnya kemudian.


Gue menggeleng tidak setuju. "Nanti kamu bawa aku ke dokter."


"Emang kamu nggak risih, dari kemarin nggak mandi?"


"Emang sebau itu, ya, aku?" tanyaku tersinggung.


"Mandi itu kebutuhan, sayang, bukan perkara karena kamu bau atau nggak wangi. Lagian biar seger juga kan?"


"Cerewet. Kaki aku tuh, sakit, Ar, males gerak."


"Aku bantu--"


"Maunya kamu!"


"Astagfirullah, su'udzon aja sih. Aku cuma bantu gendong kamu, terus kamu mandi sendiri. Kan yang sakit cuma kakinya. Yang lain sehat kan?"


Bibir gue manyun tanpa bisa dicegah. "Tapi nanti kalau aku mandi, kamu pasti bawa aku ke rumah sakit."


"Ya, kan biar cepet sembuh."


"Tapi aku takut," rengekku manja.


"Ya udah, terserah kamu deh, kalau begitu. Yang penting aku udah bujuk, ya, nanti gimana-gimana, aku nggak mau tahu."


Lah, kok gitu?


"Ya udah, oke, aku mau ke dokter."


"Nah, gitu dong, masa udah setua ini, diajak ke dokter kayak anak kecil begini, susahnya minta ampun."

__ADS_1


"Tapi temenin."


"Iya, aku temenin. Aku juga nanti yang bayarin."


"Dih, sombong!"


Kedua alis Aro mengkerut, heran. Detik berikutnya ia hanya geleng-geleng kepala dan mengangkat tubuhku. Lalu membawaku masuk ke kamar mandi.


"Perlu aku panggilin Mbok Ru buat bantuin?"


Gue menggeleng. "Masih bisa kok sendiri."


Aro mengangguk paham. "Ya, udah, nanti kalau udah selesai, panggil aku."


Gue mengangguk dan menyuruh Aro agar menutupkan pintu kamar mandi.


#####


Kini gue dan Aro sudah berada di ruang tunggu, di salah satu rumah sakit yang cukup besar yang ada di Jakarta. Sebenarnya, agak berlebihan sih menurut gue, kalau sampai harus ke sini segala. Tapi, berhubung gue ini calon makmum rumah tangga yang baik, ya udah, gue ngikut aja.


Setelah lama menunggu, akhirnya nama gue dipanggil juga. Aro dengan sigapnya langsung membopong tubuh gue. Duh, rasanya agak malu, apa lagi beberapa pasien yang sedang antre langsung menatap kami. Bahkan, kayaknya ada yang sampai fotoin kita. Ya, ampun berasa jadi seleb dadakan gue.


"Langsung dibaringin di ranjang, Mas," intruksi Mbak-mbak perawatnya.


Tak lama setelahnya seorang dokter dengan perawakan tinggi dan juga putih mendekat ke arah kami. Duh, kok ganteng banget sih dokternya, jadi pengen tahu nomor ponselnya. Eh, kok gue ganjen sih?


"Ini kenapa, kok sampai bengkak begini?"


"Sakit, dok."


Gue terpana. Sumpah. Auranya bersinar sejuk gitu loh. Kok bisa sih, wajahnya putih bersih, tapi seger. Kayak Mas-mas yang abis wudhu di mushola.


Apa lagi pas senyum begini. "Maksudnya, kenapa bisa sakit. Apa karena habis jatuh?"


"Iya, habis jatuh, dok."


Ehem ehem


Gue kemudian menoleh ke arah Aro, karena Aro gue yakin suara deheman tadi milik Aro.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Nggak usah ganjen," bisik Aro dengan wajah tidak bersahabatnya. Membuat gue hanya mampu meringis malu.


"Saya periksa, ya," ucap si dokter.


Gue hanya mengangguk pasrah.


"Ini jatuhnya dari kapan? Kok sampai begini bengkaknya?"


"Kemarin, kemarinnya lagi, Dok."


"Dibawa ke tukang urut?"


Gue menggeleng.


"Lalu dibiarin gitu aja?"


"Saya kompres pake es batu, Dok, sama saya minum obat pereda nyeri yang dibeliin Abang saya di apotek."


Dokter ganteng tadi mengangguk. "Di x-ray saja, ya, biar tahu. Takutnya ada Ligamen robek atau putus."


Hah, apanya yang putus tadi?


"Lakukan yang terbaik saja, Dok," sahut Aro cepat.


Dokter ganteng tadi langsung mangguk-mangguk setuju, dan menyuruh si perawat membawa gue ke ruang x-ray.


"Eh, bentar, Dok, tadi maksudnya putus, apanya?"


"Ligamen. Kalau ligamen putus, akan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil. Nyeri dan bengkak akan semakin parah, lalu disertai kerusakan jaringan di sekitarnya."


Seketika gue merinding. "Kok dokter malah nakut-nakutin saya?!"


"Sayang, dokternya ngasih tahu, jelasin. Kan tadi kamu tanya, bukannya nakut-nakutin," ucap Aro mencoba menenangkan gue, lalu diangguki si dokter.


"Nah, betul kata suaminya, Mbak. Saya cuma bantu jelasin, nggak bermaksud nak--"


"Dia belum jadi suami saya."


"Oh, maksudnya, pacar kalau begitu," ralat si dokter.


 


######


Setelah selesai diperiksa, x-ray dan segala keperluan lainnya, gue dan Aro langsung pulang.


"Jalan sendiri aja, deh, bantu--"


"Kenapa tiba-tiba protes? Gara-gara dokter tadi?" potong Aro dengan nada judes. Kedua matanya melirik gue sinis, lalu mendengkus tak suka setelahnya.


"Ya udah deh, terserah kamu," kata gue pasrah.


Lalu setelahnya, gue hanya bisa pasrah digendong Aro. Sumpah, Aro memang selebay ini orangnya, mana kalau lagi cemburu, serem. Ngalah-ngalahin Bang Riki kalau ngamuk. Dia mungkin nggak akan marah-marah ngamuk atau gimana sih, memang, tapi dia akan memilih diam saja. Ya, beda tipis gitu deh, sama cewek kalau lagi ngambek. Kan kerjaan cewek kalau lagi ngambek kebanyakan diam bae, tuh. Ya, persis itu lah Aro kalau ngambek. Pusing gue, tuh, ngandepin Aro ngambek.


"Aku nggak suka, kalau kamu ngeliatin cowok ganteng sampai sebegitunya. Nggak sopan, Anggita. Mana di samping kamu jelas-jelas ada aku lagi."


Buset, dilanjut lagi.


"Iya, iya, kan aku cuma terpana, Ar. Abis dokternya tadi kan emang gan--"


Gue langsung kincep, saat mendapati pelototan mata tajam dari Aro.


"Kamu nggak kalah ganteng kok, Ar. Yakin, deh, suer!" bujukku merayu Aro.


Aro hanya diam saja, tidak merespon gue sama sekali.


"Kan, aku cintanya sama kamu, sayang," bujuk gue kemudian.

__ADS_1


Aro masih diam, tidak menjawab ucapan gue sama sekali. Hanya fokus memperhatikan jalan yang ada di depan kami. Ck. Dasar kulkas dua pintu!


Tbc,


__ADS_2