
#####
Gue merasakan air liurku terasa seperti mau menetes, saat melihat iklan ice cream di televisi. Dengan cepat, gue langsung menyambar ponsel dan langsung menghubungi Aro.
"Kenapa?" sambut Aro begitu sambungan terhubung.
Aro itu kebiasaan deh, setiap di telfon pasti langsung to the point.
Gue berdecak. "Assalamuallaikum dulu dong, Ar!" omel gue kesal.
"Wa'allaikumussalam. Kenapa?"
Gue menggigit ujung kuku gue sambil memangku bantal sofa. "Pengen es krim," rengek gue hati-hati.
Dan kalian tahu apa responnya? Ya, Aro langsung menolak permintaan gue dengan mentah-mentah.
"Enggak. Kamu kan lagi sakit, jangan aneh-aneh dulu deh!"
"Tapi aku pengen, Ar. Beliin, ya? Kalau enggak mau aku beli sendiri," ancam gue kemudian.
Di seberang, gue dapat mendengar suara Aro berdecak kesal meski secara samar-samar.
"Kamu ini aneh-aneh aja sih, minta ice cream segala. Ngidam?"
"Ho oh, anggep aja begitu. Biar kamu beliin."
"Ya udah, nanti aku beliin. Sama apa lagi!"
"Udah itu aja. Cuma kamu kalau mau beli makanan buat makan malam boleh kok."
Gue hanya mendengar deheman samar-samar, sebelum akhirnya Aro mematikan sambungan telfon begitu saja. Gue yang telfon kok, dia yang ngirit. Takut banget kuotanya abis apa gimana sih. Heran. Gerutu gue kesal.
Gue kemudian kembali menaruh ponsel gue di atas meja lalu fokus pada layar televisi. Masa bodoh dengan kondisi gue yang saat ini belum mandi, gue cuma mau bersantai itu aja.
Gue tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan hawa dingin di pipiku. Dengan gerakan spontan, gue mengubah posisi menjadi duduk. Astaga, gue ketiduran.
"Belum mandi?" tanya Aro sambil meneliti ujung kaki hingga ujung rambut gue. Masih sama dengan apa yang gue pakai tadi pagi, belum berubah sama sekali, "nunggu aku mandiin?" godanya kemudian.
Wajah Aro terlihat santai saat menanyakannya, tidak sedikit pun terlihat seperti sedang menggoda gue. Tapi menurut gue, pertanyaannya itu tetap terkesan seperti sedang menggoda.
Gue melotot tajam, hal ini membuat Aro terkekeh. "Enak aja, enggak ya. Aku masih mampu mandi sendiri."
"Tadi pagi juga sebenernya masih mampu tuh, cuci muka sendiri. Tapi apa? Tetep aku kan yang cuci muka kamu," balas Aro.
Sial. Gue merasa kalah.
Aro kemudian menyerahkan dua kantong plastik kepadaku. Yang satu terdapat tulisan nama mini market yang keberadaannya hampir selalu berdampingan itu, dan yang satu plastik kecil yang tak ada tulisan apa pun. Membuat gue bertanya-tanya apa isinya.
"Yang satu apa?"
"Bonus," balas Aro, "ice cream-nya dimasukin kulkas aja dulu. Makannya abis mandi aja."
Gue mengabaikan pertanyaannya dan langsung membongkar plastik yang kecil. Dan betapa terkejutnya gue saat mengetahui apa isinya.
"Testpack?"
Gue melongo saking terkejutnya. Kepala gue kemudian terangkat dan menatap Aro penuh tanda tanya.
"Ini maksudnya apa?" tanya gue bingung.
"Katanya kamu ngidam, kali aja kapan-kapan butuh. Udah simpen aja, nggak harus langsung dipakai kok," ucap Aro, setelah mengatakan itu baru kemudian ia masuk ke dalam kamar kami. Mengabaikan wajah bingung gue.
Hah, seriusan gue dibeliin testpack?
Karena masih penasaran dengan sikap Aro yang mendadak aneh seharian ini, gue kemudian langsung menyusul Aro ke dalam kamar.
"Ar, ini seriusan kamu beliin aku testpack?"
"Iya." Dengan wajah santainya, Aro mengangguk.
"Tapi kan aku belum ada tanda-tanda hamil, Ar, masa udah kamu beliin testpack aja. Yang bener aja dong."
"Loh, emang nggak boleh?"
"Ya, aneh aja gitu loh, Ar. Masa--"
"Udah deh, simpen aja dulu kalau gitu. Nggak usah dibikin ribet." Aro berdecak kesal, memotong kalimatku sambil membuka kancing kemejanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Karena tidak ingin ambil pusing pada akhirnya, gue kemudian bergegas mendekati laci dan memasukkan testpack ke dalam sana. Baru setelahnya gue kembali keluar kamar untuk menikmati ice cream gue. Kali ini gue memilih untuk menonton drama korea ketimbang menonton acara televisi.
Saat sedang asik-asiknya menghayati drama yang gue tonton, Aro tiba-tiba datang sambil merebut ice cream gue.
"Mandi dulu sana!"
"Bentar lagi," tolak gue, hendak merebut ice cream yang ada di Aro. Bukannya memberikannya, ia malah mengangkat ice cream gue tinggi-tinggi sambil berdecak. "Mandi dulu!" tegasnya terdengar tidak ingin dibantah.
"Bentar lagi," rengek gue memohon.
__ADS_1
Aro menggeleng tegas. "Mandi sekarang atau aku buang ice creamnya?" ancamnya kemudian.
Gue merengut kesal. Aro pun demikian, ia juga terlihat ikut kesal.
"Apa perlu aku juga yang mand--"
"Iya, iya, aku mandi sekarang," potong gue cepat.
Gue manyun. Dengan sangat tidak rela, akhirnya gue berdiri dan masuk ke kamar untuk mandi. Bagaimana ya, kalau suami sudah bertitah apa lagi mengeluarkan jurus andalan bernada ancaman, kita sebagai istri yang baik harus nurut kan? Dari pada jatah uang bulanan mendadak seret, iya kan?
Gue kemudian melaksanakan mandi dengan super singkat. Setelah selesai, gue langsung memakai piyama lengan pendek dan keluar kamar tanpa menyisir rambut dahulu. Aro tampak sedang menikmati ice cream gue. Gue kemudian langsung duduk di sisi kanannya dan merebut ice cream gue kembali.
"Kok cepet?" tanya Aro keheranan, "belum sisiran pula."
"Mager. Takut kalau ice cream-nya kamu abisin juga."
Aro tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menatap gue dengan kedua mata menyipit.
Gue balik menatapnya. "Kenapa ngeliatinnya begitu banget?" tanya gue sedikit was-was.
"Kamu lagi hamil, ya?" celetuk Aro spontan.
Gue melongo. "Hah?"
"Kamu nyadar enggak sih kalau seharian ini kamu agak aneh. Biasanya nggak begini lho."
Gue mendengkus sambil geleng-geleng kepala. "Enggak, cuma perasaan kamu aja tuh. Aku nggak hamil."
Aro terlihat kurang puas dengan jawaban gue. "Selama ini kamu masih minum pill enggak sih?"
Gue menggeleng cepat. "Kan udah dibuang."
Aro terlihat berpikir lalu menatap gue serius. Ia terlihat seperti sedang ingin bertanya sesuatu, namun tidak jadi. Ia hanya menggeleng lalu seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aro.
"Bakmi GM."
Gue meringis saat Aro menatap gue datar. Ia lalu berdecak kesal.
"Kenapa nggak bilang tadi sekalian?"
"Yang pengen barusan. Pesen Go-Food aja deh, aku yang pe--"
Aro tiba-tiba berdiri lalu masuk ke dalam kamar, yang gue tebak pasti sedang mencari ponselnya. Dan benar saja, tak lama setelahnya ia keluar sambil membawa ponsel. Ia kembali duduk di sisi gue.
Gue tersenyum meresponnya, lalu menyandarkan kepalaku pada pundaknya. "Kamu ngarep banget aku hamil, ya, Ar?" tanganku kemudian terulur untuk menyuapi Aro ice cream.
"Bukan gitu, cuma aku ngerasa kamu aneh aja. Nggak kayak biasanya, kan aku jadi curiga. Waktu Anya hamil kelakuan Gani agak mirip sama kelakuan kami seharian ini. Bedanya mualnya Gani lebih parah."
Gue ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk.
"Oh ya, ngomong-ngomong kamu udah sehat belum?"
"Kenapa?"
"Besok Hasan, salah satu staff kitchen mau lamaran gitu. Kita diundang, bisa dateng enggak kira-kira?"
"Oh, bisa lah, gampang tinggal diatur."
"Oke." Aro mangguk-mangguk paham.
#####
Gue baru selesai menunaikan ibadah subuh, ingin kembali tidur tapi tenggorokanku terasa kering. Akhirnya aku memutuskan untuk ke dapur, setelah selesai menghabiskan segelas air putih gue hendak kembali ke kamar. Santai aja lah, masak bisa nanti-nanti, pikir gue. Tapi melihat piring kotor di wastafel yang menggunung, membuat gue urung untuk kembali ke kamar. Baru teringat kalau kemarin memang belum cuci piring.
Tangan gue baru menyalakan kran dan menyentuh spon sabun, baru hendak beralih pada piring kotor. Tapi secara tiba-tiba perut gue terasa seperti diaduk-aduk dan membuat gue mual. Gue nggak tahan, secara reflek gue buang spon pencuci piring begitu saja lalu mematikan kran dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Aro langsung terbangun dan terlihat terkejut melihat gue berlari-lari. "Kenapa?" tanyanya kebingungan.
Gue memilih mengabaikannya. Langsung masuk ke dalam kamar mandi begitu saja. Berusaha mengeluarkan sesuatu yang bergejolak di dalam perutku, namun nihil. Tidak ada apa pun yang keluar selain air ludahku sendiri.
"Abis ngapain tadi?" tanya Aro, tangannya kemudian terulur, memijit leherku.
Gue masih bersusah payah mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku, yang kali ini akhirnya mau keluar dengan bantuan Aro.
"Mau nyuci piring niatnya, tapi nggak tahu kenapa malah mual begini."
"Mau ke dokter aja nanti?" tawar Aro terlihat khawatir.
Gue menggeleng dan membersihkan mulutku. "Lihat nanti deh."
Aro tidak banyak bicara, ia hanya menuntunku keluar kamar mandi dan membawaku ke ranjang.
"Kamu ke dapur dulu deh, Ar, liat krannya udah aku matiin belum." Tubuh gue terasa mendadak lemas.
Aro mengangguk lalu keluar kamar, tak lama setelahnya ia kembali sambil membawa segelas air hangat.
__ADS_1
"Udah," ucapnya sambil menyodorkan gelas itu ke arahku.
Gue menerimanya tak lupa mengucapkan terima kasih. Aro kemudian duduk di sebelahku.
"Udah enakan?" tanya Aro terlihat khawatir.
Gue mengangguk lalu menyerahkan gelas ke Aro lagi.
"Ke dokter aja ya nanti?" bujuk Aro.
"Enggak usah dulu deh, udah lega kok setelah muntah tadi. Nanti kalau mulai mual lagi, baru kita ke dokter."
Aro berdecak samar, terlihat tidak begitu setuju dengan ideku. Namun, meski demikian ia tetap mengangguk pasrah pada akhirnya.
"Mau dimasakin apa yang kira-kira nggak bikin mual?"
"Nanti lah, Ar, baru juga muntah masa udah ditanyain begituan. Otaknya belum bisa ngebayangin makanan enak."
"Ya udah, istirahat sambil bayangin apa yang kira-kira enak. Aku cuci piring dulu."
"Maaf," sesal gue nggak enak.
"Nggak usah aneh-aneh!" Aro kemudian menyuruhku untuk berbaring sedang ia langsung bergegas menuju dapur.
Tak lama setelahnya gue ketiduran, dan tahu-tahu Aro membangunkan gue.
"Mau sarapan apa?" tanyanya lembut.
"Jangan yang berat-berat dulu deh."
"Ya, apa? Kasih contoh, biar aku nggak bingung milihnya."
"Roti bakar sama jus aja deh."
"Itu aja? Atau dikasih telur sosis?"
Gue menggeleng. "Nggak usah, amis nanti. Gitu aja."
"Oke. Kamu bangun, gih! Cuci muka dulu, kuat jalan enggak? Mau aku bantu?"
"Enggak usah, kuat kok. Kamu ke bikin sarapan aja."
Aro tidak memprotes sama sekali, dengan patuh ia segera bergegas ke dapur sedang gue segera turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Mencuci muka dan menggosok gigi. Entah kenapa gue mulai merasa ada yang aneh dari diri gue. Otak gue kemudian mengingat-ingat kapan terakhir periode menstruasiku. Rasanya kok seperti sudah lewat, ya.
Entah dapat dari dorongan mana, gue memberanikan membuka laci dan mengeluarkan testpack yang dibelikan Aro kemarin. Karena penasaran gue pun memutuskan untuk mencobanya, setelah membaca intruksi yang tertulis pada kemasan.
Gue menunggu selama beberapa menit, sesuai petunjuk. Hati gue rasanya campur aduk sekaligus harap-harap cemas. Gue mengintip hasil testpacknya dan shock.
Apa?
Dua garis?
Bisik gue panik.
"Yang."
Secara spontan, gue langsung menyembunyikan testpack di belakang punggung gue saat mendengar suara Aro memanggil.
"Ya, kenapa?"
Aro menatapku curiga selama beberapa saat. "Kenapa? Muntah lagi?" tanyanya kemudian.
Gue menggeleng cepat.
"Mual?"
Gue menggeleng sambil memasang senyum canggung.
"Terus?"
"Nggak papa kok. Kenapa nyari aku?"
"Enggak, cuma mau ngasih tahu kalau sarapannya udah siap."
"Iya, nanti aku nyusul. Kamu duluan aja, aku masih mau cuci muka dulu."
"Oh, oke, nggak usah lama-lama dingin."
Gue mengangguk patuh di sela ringisanku. Gue baru bisa bernapas lega saat Aro keluar dari kamar mandi. Dengan tergesa-gesa, gue langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Astaga, gue belum siap.
Tbc,
Hayoloh, hayoloh, Anggi!!! Kenapa kamu begitu? Itu kan berita bagu? Kenapa Babang Aro-nya malah nggak langsung dikasih tahu begitu. Ah, nanti kalau Babang Aro tahu dari orang lain, dia bisa ngambek atau yang paling parah dia bakalan ngamuk. Astagfirullah, Anggi, apa yang sedang engkau pikirkan?
Oke, oke, segini aja unek-unek yg pengen kusampaikan utk Anggi. Silahkan kalo ada yg mau nambahin, boleh pake banget, dipersilahkan. Gratiss tidak dipungut biaya sepeser pun.
Oh y, mon maap buat semalam karena gk jdi up. Sebenrnya kebangun sekitar jm 9 nan sih, mau nyoba nulis cuma emang ya, begitu, lagi gk manut antara mata dan juga otaknya, jadi tidur lagi deh abis itu. Haha, mon maap. Ya doain aja nanti bisa diganti. Udh kebanyakan cuap²nya kali ini. See you bubay😜🥰😍😘
__ADS_1
semoga typonya kali ini termaafkan ya🤭🤭