
####
Gue sedari tadi tidak bisa berhenti untuk mengumpati ponsel gue. Hampir seharian ini, gue merasa seperti ingin makan orang. Kalian tahu karena apa?
Tentu saja karena si kampret Aro.
Emang sialan ya, itu si tukang masak. Ditelfon, di-chat, dua-duanya enggak digubris. Minta diapain itu orang, heran gue. Awas aja kalau beneran ngambek cuma gara-gara lihat Anggi dan Prasta pelukan. Gue sunatin juga anu dia. Muka seganteng dan se-manly itu kok kelakuan, ngambekan kayak cewek. Cewek mah wajar, kaum meraka kan hobinya berspekuasi seenak pantatnya. Lah, kalau cowok? Cowok itu makhluk hidup dengan pikiran paling logis, enggak kebawa perasaan macam kelakuan Aro sekarang ini. Kesel gue lama-lama.
Karena sudah kehabisan akal dan tidak tahu harus bagaimana, gue akhirnya memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. Kesabaran gue mulai habis, dan gue perlu kasih dia pelajaran. Sialan, yang beginian mau jadi adek ipar gue? Dosa apa si Anggi mau dapet yang beginian.
Begitu jam kantor menunjukkan waktu pulang, gue langsung melesat menuju rumah Aro tanpa membuang waktu. Saat gue tiba di rumahnya, Mama Aro yang menyambut gue dengan senang dan sedikit heboh. Bahkan dengan gokilnya beliau minta foto bareng sama gue, dan minta username instagram gue, katanya biar bisa beliau tag gitu. Emang seunik itu sih Emak Aro, enggak berubah dari dulu.
Gue kemudian langsung naik ke lantai atas menuju kamar Aro, setelah dipersilakan. Mengabaikan sopan santun, gue langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa niatan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Kamarnya terlihat sepi, bahkan gue sempat berpikir dia tidak ada di kamarnya. Namun, tanpa sengaja gue melihat kaki panjang Aro berada di balkon. Gue menggeram sesaat lalu mengambil bantal dan langsung menghampiri Aro. Tanpa sedikit keraguan, gue langsung memukul kepalanya menggunakan bantal. Padahal kenyataannya gue ingin sekali menonjok wajahnya langsung.
"Kampret lo!" makiku kesal.
Wajah Aro kebingungan. "Apaan sih lo, Rik? Dateng-dateng main mukul orang," protes Aro dengan wajah kedua matanya yang melotot tajam tanda tidak terima.
Gue mendengkus kasar. "Gue yang harusnya tanya begitu. Lo yang apa-apaan, ditelfon, di-chat, nggak nggubris sama sekali."
"Gue lupa."
Gue kemudian ikut duduk di sampingnya. "Lupa apaan?" tanya gue bingung.
"Lupa naroh hape di mana."
"Orang gila! Kenapa sampai bisa lupa?" tanya gue makin emosi.
"Ya, namanya lupa, ya enggak inget."
"Kampret! Nenek-nenek yang giginya tinggal dua, juga tahu kalau lupa itu nggak ing--"
"Nenek-nenek yang giginya tinggal dua aja tahu, masa lo enggak?" potong Aro cepat.
Sialan. Kenapa dulu gue mau kenal dan juga temenan sama makhluk ciptaan-Mu yang begini Tuhan?
Kenapa?
Apa begitu banyak dosakah gue di kehidupan yang sebelumnya. Bangke, kenapa gue jadi keinget tentang reinkarnasi. Ck, ini pasti gara-gara gue kemarin nemenin Anggi nonton ulang drama Goblin.
"Kenapa diam aja? Malu gara-gara kalah sama Nenek-nenek?" sindir Aro, jelas-jelas sedang meledek gue.
"Sialan. Enggak gitu!" balas gue tidak terima.
__ADS_1
"Terus kenapa?"
"Tiba-tiba keinget Goblin."
"Hah?"
Gue mengibaskan sebelah tangan. "Lupain Goblin! Gue ke sini mau ngomelin lo."
Kening Aro mengernyit tanpa bisa dicegah. "Emang salah gue apa?" tanyanya kebingungan.
"Lo udah bikin gue uring-uringan nggak jelas hampir seharian ini, kampret! Masih tanya salah lo di mana? Gue sunatin beneran, abis burung lo."
"Lo tuh, kenapa sih, Rik, sensi mulu sama gue?"
"Sekarang gue tanya, lo kenapa susah banget dihubungi?"
"Kan tadi gu--"
"Jawab yang bener!" potong gue sedikit membentak.
"Salah gue di mana?"
Sumpah. Gue gemes banget pengen tonjok wajahnya. Coba aja kalau sekarang kita enggak lagi di rumahnya, gue tonjok beneran deh.
"Lo tadi pagi ke rumah gue?"
Aro diam, tak menjawab.
"Ini nih, yang bikin gue kemarin nggak kasih restu buat lo," ujar gue kesal, karena mendapati responnya sekarang ini. "lo tuh..."
"Gue nggak akan minta restu dari lo lagi kok."
"Maksud lo?"
"Anggita udah ada yang punya kan? Jadi buat apa gue--"
"Tahu dari mana lo?" potong gue snewen.
"Gue..."
"Jadi, beneran lo lihat Anggi pelukan sama Prasta?"
Aro langsung menoleh ke arah gue dengan ekspresi penasarannya. "Lo kenal?"
__ADS_1
Gue mengangguk, membenarkan. "Pernah beberapa kali main ke rumah."
Gue langsung diam setelahnya. Menunggu ekspresi Aro selanjutnya. Dan yang gue dapati hanya seulas senyum miris, yang membuat gue ingin tertawa ngakak.
Gila, ya, Aro yang secuek itu bisa berubah menye-menye begini? Kok rada serem, ya, kedengerannya.
"Vinzi malah lebih sering main ke rumah," celetuk gue tiba-tiba, pandangan gue menerawang ke arah langit.
"Itu beda, Rik."
"Jelas beda lah, Vinzi temen baik Anggi sedang Prasta cuma kenalan barunya, yang kebetulan naksir adik gue. Beda bangetkan?"
"Sesuai dugaan gue."
"Posisi lo sama Prasta tuh harusnya sama, Ar. Itu pun kalau lo mau berjuang."
"Mereka belum pacaran?" tanya Aro kepo.
"Gimana mereka mau pacaran kalau adek gue lebih milih kulkas dua pintu macem lo."
"Hah?"
"Berjuang, Ar!" ucap gue tulus sambil menepuk pundaknya.
Aro memandang gue tak yakin. "Lo kasih izin?"
"Kalau Anggi mau-nya sama lo, gue bisa apa sih, Ar?"
Aro tertawa dan memeluk gue. "Thanks, bro! Gue nggak akan kecewain lo!"
"Sembarangan! Yang nggak boleh lo kecewain itu adek gue, kampret!"
"Oke, gue nggak akan kecewain kalian berdua," koreksi Aro.
"Gitu juga boleh."
Lalu kita terbahak setelahnya.
END
πππ
jangan timvuk saya, maksudnya end itu, buat spesial part Riki doang kok. hehe π π abis ini pasti dilanjut, meski nggak tahu kapan yaππ
__ADS_1