
#####
"Woahhh, makan, makan!"
Gue berseru kegirangan saat Aro baru saja keluar dari dapur, sambil membawa dua piring berisi berbagai macam gorengan. Mulai dari tempe mendoan, tahu isi sampai bakwan jagung. Jadi, begini, tadi gue ingin sekali makan gorengan. Awalnya sih, rencana gue mau nyuruh Bang Riki beli aja, tapi dengan wajah sok galaknya Aro melarang. Katanya kalau makan gorengan di pinggir jalan belum tentu dijamin kebersihan, belum minyaknya yang sudah dipakai berulang-ulang, dan lain sebagainya. Begitu lah Aro, kalau soal makanan dia cukup rewel dan juga ribet. Harus terjamin kebersihannya.
"Hhmm, begini ya, kalau makan makanan yang kena sentuhan tangan Chef. Tahu isi, yang isinya cuma wortel sama kubis dikit aja rasanya bisa seenak ini," celetuk Vinzi setelah mengigit tahu isinya.
Gue langsung tersenyum jumawa. "Iya, dong, kan masaknya spesial pake cinta. Khusus buat gue." Baru kemudian gue meraih tempe mendoan dari juga cabe rawit.
"Cabenya pedes itu," kata Aro mengingatkan, saat gue hendak mengigit cabe rawitku.
"Namanya cabe itu emang pedes, Ar, yang manis itu--"
"Kamu," sahut Aro cepat, lalu mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
Bang Riki dan juga Vinzi langsung kompak ber'cie-cie'ria. Ck. Kompak banget kan ini pengantin baru, bikin ngiri pejuang LDR macem gue aja. Yah, meski sekarang Aro masih di sini sih, tapi tetap saja, besok dia juga kembali ke Bandung. Nasib Ldr-an ya, begini, ya. Sepet-sepet pahit.
"Gi, Aro kan pinter masak, tuh, jadi kemungkinan besar kalau kalian nikah nanti, Aro yang masak. Berarti, lo harus yang cari duit."
Gue langsung melotot tidak terima. "Eh, siapa yang bilang begitu?"
"Gue barusan, Ronaldowati!"
Aro dan Vinzi hanya terkekeh, sedangkan gue cemberut.
"Kok kamu nggak belain aku sih, Ar?" protesku snewen.
"Biar apa? Kan aku tahu sayang, Riki cuma godain kamu. Kamu aja yang baperan," balas Aro tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Astagfirullah! Gue mendadak amnesia apa gimana, kan Aro kulkas dua pintu, ya mana peduli sama yang begituan. Ckckck.
"Gue serius sih, Ar," balas Bang Riki, membuat gue langsung menjerit heboh.
"Abang kamu tuh serius bercandanya, sayang."
Seketika gue langsung manyun. "Tapi kamu nggak akan gitu kan? Gara-gara aku nggak bisa masak, makanya kamu nyuruh aku cari uang."
"Ya, enggak lah. Masa iya aku tega begitu," balas Aro cepat.
"Yakin?"
Aro mengangguk mantap. "Iya, yakin. Asal kamu mau nikahnya besok sih, ya."
"Heh? Maksudnya?!"
Aro terkekeh lalu memencet hidungku. "Bercanda doang, sayang. Besok kan minggu, mana ada kantor KUA yang buka."
"Terus kalau KUA udah buka?"
"Ya, kita ke KUA dong, ijab qobul," ucap Aro dengan wajah santainya.
Bang Riki langsung terbahak. "Noh, udah dikode keras, Wat. Langsung ke KUA, ya, senin nanti."
Gue langsung melempar bantal sofa ke wajah Bang Riki, yang naasnya tidak mengenai wajahnya, justru malah jatuh ke bawah.
"Apaan sih lo, Bang? Nggak usah ngompori deh!" sungut gue kesal.
"Hei, gue udah nikah sama Vinzi. Gani mantan lo juga udah nikah, lah, lo kapan? Niat baik tuh harus disegerakan tahu."
"Bodo amat! Kenapa jadi bahas ginian, sih?" protes gue tidak suka. Gue kemudian menggerutu, "Nikah by accident aja belagu lo!"
"Sialan lo!" umpat Bang Riki tidak terima, "gue udah tobat, ya. Jangan sembarang lo!"
"Eh, tapi Bang Riki bener lho," sahut Vinzi tiba-tiba ikut-ikutan.
Gue langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan ingin protes.
Lah, mentang-mentang jadi istri itu harus menuruti kata-kata suami, Vinzi mendadak langsung satu kubu dan ikut-ikutan mengompori gue untuk segera menikah? Wah, nggak bener nih.
"Matanya biasa aja," seru Bang Riki sambil melemparkan bantal sofanya ke arah gue.
"Apaan sih lo, Bang, sensi banget sama gue!"
__ADS_1
"Wajah-wajah kayak lo, emang pantesnya disensiin."
Vinzi langsung berdecak. "Kenapa pada ribut sendiri sih? Ini gue mau ngomong tahu."
Dengan gaya lebay Bang Riki, ia kemudian merangkul pundak Vinzi dan mencium pelipis istrinya. Saat melihatnya, mendadak gue ingin muntah.
"Kenapa, yang, pengen?" bisik Aro sambil menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.
Gue menerjab kebingungan. Ingin apa maksudnya?
Tanpa gue duga, Aro tiba-tiba ikut mencium pelipisku. Gue kembali menerjab bingung.
"Oh, bukan, ya? Aku pikir kamu pengen dicium gitu kayak Vinzi."
Lah?
"Lo kali yang pengen, Ar," seloroh Bang Riki dengan nada mengejek, "enggak papa sih, paham gue. Seenggaknya, bisa jadi bukti kalau lo normal," sambungnya kemudian, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kali ini gue langsung melempar bantal sofa ke wajah Bang Riki, dan alhamdulillah, kena. Yes!!
"Jadi, tadi kamu mau ngomong apa sayang?"
"Soal sertifikat nikah."
"Hah? Seritifikat nikah?" koor gue, Bang Riki, dan juga Aro secara bersamaan.
Detik berikutnya, baik gue, Aro, dan juga Aro, kami saling berpandangan, merasa aneh dengan kalimat yang Vinzi ucapkan. Apa-apaan deh, pakai sertifikat segala, ini mau nikah loh, bukan mau bekerja. Buset, sertifikat nikah banget?
"Lo kenapa sih, Zi, kenapa bawa-bawa sertifikat nikah?"
"Eh, lo belum tahu juga, Gi? Kemarin sempet heboh loh soal ini. Masa lo nggak tahu?"
Gue menggeleng polos, lalu kembali meraih tempe mendoan dan mengigit.
"Padahal heboh loh, Gi, denger-denger nih, kalau dalam tiga bulan nggak lulus nggak boleh nikah," ucap Vinzi penuh keyakinan.
"Ngaco lo!" respon gue sambil geleng-geleng kepala tanda percaya.
Sekali lagi, gue menggeleng tidak percaya.
Sedang Bang Riki langsung terbahak dan meledek Aro. "Mampus lo, Ar! Kalau kalian nggak lulus, batal kawin kalian."
Aro mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Otak gue encer sih, Rik, jadi nggak usah khawatir kalau kita nggak bakalan lulus."
"Tapi gue tetep nggak percaya sih," ujar gue kemudian.
"Yee, dibilangin nggak percaya. Buruan cek sendiri."
"Oke." Gue mengangguk setuju, lalu menodongkan tangan gue ke arah Aro.
Aro mengernyit heran. "Apa?" tanyanya tidak paham.
Gue langsung berdecak. "Hape."
"Buat?"
"Pinjem. Mau tanya Mas gugle."
Dengan sedikit ogah-ogahan, Aro merogoh kantongnya sambil menggerutu, "Google aja kamu panggil Mas, masa aku, kamu panggil nama. Curang kamu." ia lalu mengeluarkan ponselnya dari sana dan menyodorkannya padaku.
"Ya elah, masa cemburu sama google, nggak keren amat," cibir gue kemudian.
"Dari pada kamu cemburu sama blogger."
"Eh, wajar, ya, cemburu sama blogger, seenggaknya blogger itu manusia. Mana cantik pula."
"Udah, udah, cemburu itu tanda cinta. Puas?" sahut Bang Riki dengan wajah snewennya, "buruan buka google! Gue penasaran sama sertifikat nikah tadi."
Gue mengangguk setuju. Gue memang sudah penasaran juga. Masa iya, mau nikah aja pakai sertifikat segala. Kasian para jomblowers dong, dapat jodohnya susah, mau menikah saja dipersulit. Kalau begini terus-terusan, letak keadilan patut dipertanyakan bukan?
"Passwordnya apa?" Gue menoleh ke arah Aro.
"Kopi nikmat, nyaman di perut nggak bikin perih di lambung."
__ADS_1
"*****, lo kata password kuis iklan, Ar," seloroh Bang Riki sambil melempar kulit kacang, kemudian ia terbahak.
"Lagian adek lo tanya-tanya password. Password apaan sih?" Aro beralih ke arah gue.
"Ya, ini password hape kamu."
"Enggak ada. Makanya cek dulu dong," decak Aro sambil membuka kulit kacang.
"Ya, mana aku tahu," gerutu gue lalu menghidupkan ponsel Aro, yang ternyata benar-benar tidak memakai password, "kok nggak pake password?"
"Biar?"
"Ya, untuk menjaga privasi dong. Iiiish, gimana sih kamu ini. Masa gitu aja nggak tahu."
"Nggak ada yang perlu aku tutup-tutupi dari kamu, sayang. Aku terbuka, nggak ada yang aku sembunyiin dari kamu."
"Taik lo!" umpat Bang Riki sambil melempar bekas kulit kacang ke arah Aro, "kulkas dua pintu, kulkas dua pintu aja. Nggak usah belagak jadi Dilan yang doyan ngegombal."
"Gue nggak ngegombal, lo kali yang ngegombal. Omdo doang pula," balas Aro tak mau kalah.
"Sialan, kampret, lo!" balas Bang Riki dengan umpatan khas miliknya.
Gue tidak memperdulikannya, lebih memilih mengutak-atik ponsel Aro dan mencari tahu tentang sertifikat menikah melalui mesin pencarian.
"Gimana? Gue bener kan?" tanya Vinzi.
"Apaan, hoax lo!" balas gue langsung melirik Vinzi sinis sambil berdecak.
"Nih, gue bacain, ya. Mulai 2020, Pasangan yang Akan Menikah Wajib Miliki Sertifikat Layak Kawin, Begini Cara Dapatkannya. Pemerintah mewajibkan para pasangan yang hendak menikah memiliki sertifikasi layak nikah untuk seluruh wilayah di Indonesia. Termasuk Jakarta. Aturan ini akan mulai diterapkan pada 2020. Beberapa calon pengantin pun mempertanyakan persyaratan soal aturan itu. Pasalnya, masih banyak calon pengantin yang belum mengetahui cara untuk mendapatkan sertifikat layak kawin. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pun telah menyosialisasikan proses dan persyaratan untuk mendapatkan sertifikat layak kawin bagi calon pengantin. Pemerintah Daerah DKI Jakarta memiliki program konseling dan pemeriksaan kesehatan calon pengantin sejak 2017," ucap gue membacakan isi artikel yang gue temukan.
Gue kemudian melirik Vinzi, Aro, dan juga Bang Riki secara bergantian, sebelum akhirnya kembali melanjutkan. "Program ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan calon pengantin, membekali informasi kesehatan fisik dan psikis, serta memastikan calon pengantin siap berumah tangga. Untuk mendapatkan sertifikat layak kawin pun cukup mudah." Gue kembali melirik Vinzi. "Dengerin baik-baik, Zi! Calon pengantin cukup membawa surat pengantar dari kelurahan dan mendaftar di puskesmas terdekat. Caranya cukup mudah. Pertama, calon pengantin melakukan konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan di puskesmas. Kedua, calon pengantin melakukan tes pemeriksaan fisik. Ketiga, calon pengantin akan melakukan tes darah yang dilakukan di laboratorium puskesmas."
Bang Riki garuk-garuk kepala. "Gue nggak paham, sumpah, sama yang diomongin pacar lo, Ar. Abis ngemeng apaan sih, dia?"
"Wajar. Kan otak lo agak kentel tuh, nggak encer macem gue."
"Bangke!" umpat Bang Riki tidak terima. Sedangkan gue hanya terbahak setelahnya.
"Tapi, gue sempet dapat kabar kalau bakalan ada kelas pranikah juga lho, Gi."
"Ya, enggak papa. Bagus dong, biar pada beneran siap nikah, kalau seandainya beneran ada kelas pranikah."
"Tapi kalau lo nggak lulus gimana? Batal nikah gitu?"
"Kok lo mau-maunya sih percaya begituan?Ujian nasional aja mau dihapuskan karena dianggap kurang efisien loh, masa iya, gk lulus kelas pranikah nggak boleh nikah. Kelas pranikah itu isinya pembekalan, bukan terus kayak sekolah atau kursus yang bisa dapet sertifikat. Teori dari mana sih kalau nggak lulus ujian nggak boleh nikah, ngaco! Gue nggak sebego itu sih untuk terkecoh cuma gara-gara berita begituan. Meski pendidikan gue nggak tinggi, tapi gue nggak ****-**** amat sih, mau dibodohin berita nggak jelas begitu. Menurut gue, ya, itu tuh cuma kerjaan oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk memecah belah kita. Terus kita juga harus pinter-pinter dalam menyikapi fenomena yang ada, bukannya ikut misuh-misuh padahal belum tahu kepastian dari berita yang beredar."
"Kok lo bisa seyakin itu, Gi? Tahu dari mana kalau kelas pra-nikah isinya cuma pembekalan dan nggak ada ujian kelulusan layak nikah?"
Gue kembali berdecak gemas. "Dari otak jenius gue," ucap gue asal, "Gini, ya, Zi, kita hidup di dunia ini juga diuji. Banyak ujian. Contoh nih, kita diuji untuk bersabar dalam menghadapi sesuatu, nah, di situ kita gagal tuh, nggak lulus ujian kesabaran itu. Apa lantas kita jadi nggak boleh sabar? Enggak kan?"
"Ya, iya, cuma, nggak terus lo samain sama ujian kesabaran dong, Anggita, adik iparku yang paling cantik."
"Emang harus gue samain sama apa?"
"Ya, apa gitu kek."
"Ya, apa?"
"Terserah lo!"
Perdebatan kita terhenti karena Bang Riki yang tiba-tiba berbisik pada Aro.
"Itu dua perempuan lagi pada ngapain sih, Ar," bisik Bang Riki pada Aro.
Aro mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Nggak tahu, udah diemin aja. Kalau males denger kan bisa cari headset."
"Apa kamu bilang barusan?"
"Enggak ada, jadi mau main ke rumah, enggak?" tanya Aro mengalihkan pembicaraan.
Membuat gue seketika ingat, kalau hari ini gue diundang makan malam di rumah Aro. Mampuslah gue! Gue belum siap!!!!
Tbc,
__ADS_1